[nasional_list] [ppiindia] Subsidi BBM dan 'Wrong Signaling'

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
MEDIA INDONESIA
Kamis, 29 September 2005


Subsidi BBM dan 'Wrong Signaling'
Estelita Hidayat, CEO BIDS Consultant, Jakarta



RENCANA kenaikan harga BBM memicu kontroversi yang luar biasa. Di satu sisi 
nilai tukar rupiah menguat karena pasar menganggap bahwa kesulitan ekonomi 
Indonesia akan teratasi, tapi di sisi lain banyak pihak berteriak akan dampak 
sosial yang ditimbulkannya karena rakyat akan menjadi semakin miskin serta 
hidup akan bertambah sulit.
Namun, yang agaknya hampir terluput dari perhatian adalah dampak terhadap 
perilaku masyarakat pascakenaikan BBM, ketika sepenuhnya tidak ada lagi subsidi 
terhadap harga BBM (spot price).

Selama ini, sejak Indonesia masih menjadi negara net-exporter minyak sampai 
dengan sekarang ketika telah menjadi negara net-importer minyak, rakyat 
Indonesia praktis 'termanjakan' oleh adanya subsidi terhadap harga BBM. Sebagai 
akibatnya telah terjadi banyak sekali pemborosan yang tidak perlu sebagaimana 
tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia secara umum.

Di cukup banyak desa dan perkampungan Indonesia di mana line telepon (bahkan 
sambungan listrik) saja belum tersedia, hampir semua penduduknya memiliki 
motor. Di kota-kota besar, fakta bahwa satu rumah tangga memiliki lebih dari 
satu mobil bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dijumpai, sementara para sopir 
bisa saja memiliki lebih dari satu motor.

Bukan hal yang aneh pula jika anggota keluarga yang memiliki tujuan yang searah 
cenderung menggunakan kendaraan yang berbeda, padahal akan lebih efisien jika 
bergabung dalam satu kendaraan saja. Dengan pola konsumsi seperti itu, tidak 
heran bahwa target penjualan motor tahun 2005 adalah sebesar 5.000.000 unit, 
sementara untuk mobil sebesar 450.000 unit. Akibatnya di hampir semua kota 
besar Indonesia terjadi kemacetan jalan raya sedemikian rupa sehingga 
pemborosan BBM menjadi tidak terhindarkan.

Keadaan ini sungguh berbeda dengan beberapa negara lain di mana harga BBM-nya 
dilepas sesuai dengan spot price. Sebagai bahan perbandingan, harga BBM leaded 
di Singapura adalah US$0,89/liter (sekitar Rp8.900), sementara BBM unleaded 
US$1,13/liter (sekitar Rp11.300). Harga unleaded di Thailand US$0,658 
(Rp6.580), di India US$1,02 (Rp10.200), di Jepang US$1,18 (Rp11.800), di China 
US$0,48 (Rp4.800), sementara di Amerika Serikat US$0,79 (Rp7.900).

Di negara-negara tersebut tiap produsen bersaing menawarkan harga terbaik 
sehingga dapat dipastikan mereka akan berusaha keras untuk menekan biaya (dan 
tentunya tidak bisa melakukan korupsi), sementara konsumen memiliki pilihan. 
Pada akhirnya rakyat secara rasional akan lebih senang untuk menggunakan 
kendaraan umum demi menghemat biaya, sedangkan bagi mereka yang menggunakan 
kendaraan pribadi akan cenderung melakukan sharing kendaraan.

Selain menyebabkan terjadinya perilaku boros, subsidi BBM juga lazim diketahui 
telah memicu maraknya penyelundupan. Siapa yang tidak 'ngiler' melihat harga 
BBM yang demikian rendah di negara kita? Wajar sekali kalau selama 
bertahun-tahun telah terjadi penyelundupan BBM, baik dari dalam ke luar negeri 
maupun dari sektor rumah tangga ke sektor industri. Sebagai akibat dari adanya 
disparitas harga BBM (antara non-industri dengan industri, serta antara harga 
lokal dan harga internasional), maka nelayan beralih 'profesi' dengan menjual 
BBM di tengah laut, tukang ojek memilih jadi pengecer solar, sementara sopir 
truk menjual BBM ke pihak industri.

'Wrong signaling'

Dalam ilmu ekonomi, kondisi pasar yang paling optimum adalah kondisi 'pasar 
bebas', di mana tidak ada subsidi, monopoli, kuota, atau bentuk-bentuk distorsi 
pasar lainnya. Dalam keadaan 'pasar bebas' itulah semua pihak atau pelaku 
ekonomi akan berusaha meminimalkan biaya, sehingga masing-masing pelaku ekonomi 
tersebut akan dapat berada pada suatu kondisi pareto optimal.

Adanya distorsi pasar, dengan demikian mengakibatkan terjadinya suatu wrong 
signaling sehingga pada akhirnya pasti akan ada pihak yang dirugikan. Dalam hal 
subsidi BBM, pihak yang dirugikan adalah negara Indonesia, yang pada gilirannya 
akan merugikan seluruh rakyat Indonesia karena kapal yang bocor akan 
menenggelamkan seluruh penumpangnya.

Analogi yang paling tepat untuk wrong signaling ini adalah apa yang dialami 
oleh seorang teman saya yang mengalami cedera lutut. Tuhan menciptakan rasa 
sakit supaya manusia mengerti ada yang tidak beres pada tubuhnya. Rasa sakit 
adalah suatu alarm system, yakni bentuk dari tanda bahaya yang merupakan suatu 
sistem peringatan dini.

Reaksi yang diharapkan oleh Tuhan tentunya adalah manusia tersebut berobat, 
atau beristirahat, supaya ketidakberesan pada tubuhnya dapat diperbaiki. Namun, 
karena pada saat itu teman saya memiliki kesibukan yang luar biasa banyaknya 
(karena harus menyelenggarakan launching untuk produk terbaru di perusahaannya) 
maka dia tidak memiliki waktu untuk memeriksakan lututnya ke dokter, apalagi 
untuk beristirahat.

Sebaliknya, teman saya itu justru memilih untuk menggunakan obat penghilang 
rasa sakit, dan lebih jauh lagi bahkan melakukan aktivitas di luar batas 
kewajaran (bahkan orang sehat pun rasanya tidak akan sanggup melakukan 
aktivitas tersebut) tidak hanya yang bersifat pikiran, tetapi terutama justru 
kegiatan fisik.

Karena lupa akan rasa sakitnya, dia naik turun tangga dan berlari ke sana ke 
mari, melebihi atlet mana pun. Ketika seluruh aktivitas tersebut selesai, 
barulah dia mencoba untuk beristirahat. Tentu saja, pada saat itu cedera 
lututnya sudah menjadi sangat parah. Untunglah dokter masih dapat menolongnya 
walaupun proses penyembuhannya memakan waktu hampir 6 bulan (dan selama itu dia 
harus menggunakan tongkat). Obat penghilang rasa sakit tersebut, bagaimanapun 
nikmatnya, telah memberikan wrong signaling terhadap tubuh teman saya.

Subsidi BBM jelas memberikan wrong signaling terhadap masyarakat. Seolah-olah 
BBM itu mudah diperoleh, dapat dihambur-hamburkan. Tentu saja hal ini tidak 
sesuai dengan kenyataan, sehingga cepat atau lambat kita harus menghadapi 
kenyataan: tenggelam bersama-sama.

Perubahan perilaku

Saya memiliki harapan akan adanya suatu dampak positif berupa perubahan 
perilaku masyarakat apabila harga BBM dilepas sesuai dengan spot price. 
Pertama, rakyat akan berhemat. Apabila mereka memiliki tujuan yang sama, maka 
mereka akan memilih untuk berangkat dan pulang dengan satu kendaraan saja. 
Rakyat juga akan lebih banyak menggunakan kendaraan umum, atau bahkan sepeda. 
Di samping akan terjadi suatu langkah penghematan penggunaan BBM secara 
signifikan, udara akan menjadi lebih bersih dan segar, serta secara umum 
masyarakat menjadi lebih sehat.

Kedua, para ilmuwan akan bekerja keras untuk menemukan alternatif energi-energi 
yang terbaharui, yang biayanya lebih terjangkau daripada BBM. Sifat manusia 
pada umumnya adalah antiperubahan (why change if it is not broken), sehingga 
selama masyarakat merasa nyaman dengan BBM yang 'murah' maka mereka tidak 
dipaksa untuk berubah. Namun, saat mereka menghadapi kenyataan bahwa harga BBM 
itu ternyata mahal, maka inovasi-inovasi akan muncul. Ketiga, akan terjadi 
pergeseran industri, misalnya dari industri motor menjadi sepeda, dari mobil 
menjadi golf car (mobil yang menggunakan tenaga batere). Di jalan-jalan raya 
akan banyak sepeda dan golf car berlalu lalang. Struktur pembiayaan pun akan 
berubah; kredit akan disalurkan ke industri-industri yang hemat BBM karena akan 
lebih diminati rakyat.

Dengan demikian, seandainya rakyat dapat diberi pengertian, subsidi BBM memang 
sudah seharusnya dikurangi, bahkan dihapuskan dari bumi Indonesia. Mudaratnya 
lebih besar daripada manfaatnya. Tetapi manusia mana yang mau berkorban demi 
negara?

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: