[nasional_list] [ppiindia] Subsidi BBM Memanjakan Pengusaha
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 1 Oct 2005 05:12:38 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2516
Subsidi BBM Memanjakan Pengusaha
Oleh Abdullah Yazid
By adminpadek
Sabtu, 01-Oktober-2005, 05:45:45
Bahan Bakar Minyak (BBM) memang merupakan sebuah komoditas yang sangat
sensitif. Ia merupakan sebuah komoditas pembangkit energi yang menggerakkan
sekian banyak sendi kehidupan di masyarakat (price leader).
Tentunya disadari bahwa ketika pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan untuk
menaikkan harga BBM, pasti terjadi reaksi penolakan keras dari berbagai elemen
masyarakat . Sebab, beban yang akan diderita masyarakat tidak hanya beban yang
berkait dengan hal-hal ekonomis, tapi juga beban sosial dan psikologis.
Masyarakat yang sudah resah dengan himpitan ekonomi, bencana alam, banjir,
tanah longsor, dan gempa bumi yang banyak terjadi di berbagai daerah, masih
akan ditambah lagi dengan ancaman kenaikan biaya hidup dengan naiknya harga BBM
ini. Secara psikologi sosial, hal ini jelas akan menjadi masalah baru yang
mengancam perikehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Realitas suksesi kepemimpinan di Indonesia juga tidak pernah "berpihak" pada
aspirasi harga murah BBM ala rakyat. Kenaikan harga BBM selalu saja terjadi di
setiap periode pemerintahan bangsa ini. Semenjak era pemerintahan Abdurrahman
Wahid, kebijakan atas BBM dilanjutkan pemerintahan di bawah Presiden Megawati
Soekaroputri yang menaikkan harga BBM sebesar 30%.
Kini, ternyata pemerintahan SBY juga tidak beda jauh dengan sebelumnya dalam
hal kebijakan harga BBM. Nampaknya BBM tetap saja komoditas negara yang harus
mengalami kelonjakan harga karena tuntutan harga minyak dunia. Harga minyak
dunia memang terus meningkat, bahkan mengatrol kebutuhan subsidi BBM dalam
anggaran.
Hal ini menyebabkan kebutuhan impor minyak dan BBM oleh Pertamina juga ikut
meningkat. Dengan harga USD 67 per barel, kebutuhan subsidi BBM bisa mencapai
angka Rp 163 triliun yang berarti dua kali lipat lebih nilai subsidi dalam
APBNP sebesar Rp 76,5 triliun (Jawa Pos, 16/8/05).
Nampaknya perkara inilah yang membuat rencana pemerintahan sekarang menaikkkan
harga BBM. Presiden SBY yang menjanjikan banyak perubahan dan kesejahteraan
bagi masyarakat, jauh-jauh hari sejak isu kenaikan BBM bergulir bahkan telah
siap untuk dikatakan tidak populer.
Bagi penulis, Presiden SBY kiranya penting menakar ulang bahwa persoalannya
bukan populer atau tidak populer di mata rakyat. Sejak akhir 2004, negeri ini
harus mengembalikan utang 7,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 67,5 triliun) per
tahun berupa cicilan pokok dan bunga. Sementara itu, dari hitung-hitungan
abstrak akibat kenaikan harga minyak dunia yang tidak menentu ini, untuk
subsidi BBM yang dinilai banyak kalangan tidak tepat sasaran itu memerlukan
anggaran negara hampir Rp 100 triliun!
Kalau semuanya dibebankan pada APBN yang nilainya Rp 397,8 triliun pada tahun
2005 (belum termasuk kalkulasi kebijakan dana darurat akibat tsunami), tentunya
akan semakin memperumit kesinambungan anggaran dan memunculkan krisis fiskal.
Artinya, urusan anggaran internal Indonesia yang sudah begitu ruwet, subsidi
BBM yang tidak pernah tepat sasaran, kenaikan BBM yang menuai protes rakyat
kecil, penangguhan pembayaran utang (moratorium) negara-negara kreditor yang
hanya sesaat, suatu saat akan "mencekik leher" bangsa Indonesia.
Lagi-lagi rakyat yang menjadi korban. Padahal, spirit yang mestinya harus
dibangun adalah mencarikan jalan keluar kebutuhan mendasar rakyat, yang
otomatis harus seiring dengan kapasitas kemampuan masyarakat, apapun
kebijakannya!
Namun, bercermin dari pengalaman dan perjalanan pemerintahan kita, nampaknya
kenaikan harga BBM tidak dapat ditahan lagi. Meskipun kenaikan harga BBM bukan
satu-satunya cara yang efektif untuk memberantas penyelundupan BBM, tetapi
itulah pilihan Presiden SBY yang didukung banyak pejabat birokrat.
Maka, dengan tidak mengurangi rasa kritisisme dan kontrol masyarakat atas
setiap kebijakan pemerintah, begitu kenaikan itu mulai berlaku, program-program
kompensasi harus sungguh-sungguh langsung dilaksanakan.
Mekanisme kompensasi kenaikan harga BBM hendaknya bukanlah omong kosong belaka
dan dapat dipertanggungjawabkan mengingat masih demikian banyak orang miskin
yang terkena dampak langsung dari kenaikan harga BBM yang membutuhkan langsung
dari pemerintah.
Masalah pemberian kompensasi memang tak harus dikaitkan dengan kenaikan harga
minyak. Pemberian kompensasi-menyediakan fasilitas kesehatan dan pendidikan,
misalnya-memang sudah menjadi kewajiban pemerintah.
Itulah mengapa adanya dana kompensasi buat sektor-sektor tertentu yang
digembar-gemborkan pemerintah dituntut untuk benar-benar dipertanggungjawabkan;
transparansi penyaluran dana perlu dikontrol secara ketat; serta benar-benar
tepat sasaran.
Sementara itu, adanya pengalihan subsidi BBM ke sektor-sektor lain semisal
pendidikan, kesehatan, beras murah bagi rakyat miskin, pemberdayaan UMKM (Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah), serta mencarikan jalan keluar bagi meledaknya
masalah pengangguran yang cenderung meningkat jangan hanya sekadar retorika.
Selama ini, dana yang dialokasikan untuk pendidikan maupun untuk meningkatkan
kemampuan nasionalnya jauh lebih sedikit dibandingkan dana yang habis hanya
untuk membayar hutang, KKN,, dan untuk subsidi harga BBM.
Dalam menyusun target terhadap obyek dan kebutuhan yang perlu diberi subsidi,
Indonesia setidak-tidaknya bisa meniru Malaysia sebagai negara tetangga yang
mempunyai kedekatan etnis dengan kita, yang mana menggunakan bagian cukup besar
dari hasil minyak dan pertaniannya untuk pendidikan dan pengembangan kemampuan
nasionalnya.
Secara logika dan nalar sehat, sesungguhnya subsidi BBM telah mengakibatkan
pengusaha kita manja dan tidak mandiri. Subsidi BBM menyebabkan ketergantungan
yang berlebihan pada minyak, di samping menyebabkan peningkatan impor BBM serta
mengurangi ekspor migas yang mengurangi devisa dan menyebabkan kurang
berhasilnya program-program diversifikasi energi (pemakaian energi lain) dan
program konservasi energi (penghematan energi).
Para elit-elit legislatif dan eksekutif mestinya mencamkan nasehat Confusius
yang menyatakan: "Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him to
fish and you feed him for lifetime". Dengan menyubsidi harga BBM, Indonesia
memberikan ikan kepada orang miskin yang tidak pernah membuatnya kaya.
Maka, nalar kearifan dan kebijaksanaan untuk lebih menekankan subsidi pada
sektor yang lebih mengena pada masyarakat golongan the haves not (bukan rakyat
golongan atas) haruslah lebih dipertimbangkan.
Akhirnya, kenaikan harga BBM yang memang menjadi logika pemerintah (berbanding
terbalik dengan logika rakyat?) nampaknya sangat sulit diprotes dalam bentuk
dan format apapun. Harapan rakyat tinggal efektivitas, efisiensi, transparansi,
akuntabilitas dana kompensasi, dan rasa "tahu diri" pemerintah terhadap
sektor-sektor prioritas permasalahan bangsa.
Pemerintah mesti menyadari betul, rakyat selalu menjadi pihak yang dikorbankan
dan tidak pernah mampu menuntut hak dan aspirasinya secara utuh. Apakah memang
ini tujuan sebuah bangsa yang berdaulat dengan jargon "demi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat"?
Penulis adalah Pemerhati Sosial Pendidikan FKIP Univ Islam Malang (Unisma),
Pemimpin Umum UKPM "Kanjuruhan" dan Staf Peneliti Pusat Studi dan Pengembangan
Kebudayaan (PUSPeK) Averroes Malang. e-mail
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Subsidi BBM Memanjakan Pengusaha