[nasional_list] [ppiindia] Sekali Lagi, Siapa Dalang G30S?
- From: Mira Wijaya Kusuma <la_luta@xxxxxxxxx>
- To: sastra pembebasan <sastra-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx>, info@xxxxxxxxxxx, baraya_sunda-owner@xxxxxxxxxxxxxxx, rsyaifoel@xxxxxxxxx
- Date: Fri, 30 Dec 2005 18:50:39 -0800 (PST)
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** Catatan Laluta:
"...Pertanyaan apakah Soekarno terlibat atau mendalangi G30S, sebetulnya
sudah dijawab Jenderal Soeharto, Maret 1967, dalam Sidang Istimewa Majelis
Permusyawaratan Rakyat (Sementara)..." [Selanjutnya, silahkan baca karya
ekspresi diri dari Tjipta Lesmana Pengajar Universitas Pelita Harapan berjudul
"Sekali Lagi, Siapa Dalang G30S?"]
Kulampirkan pula mengenai protes keras dari keluarga Mantan Presiden I
Soekarno terhadap pengarang buku Soekarno File karya ilmuwan Belanda, Prof
Antonie C.A. Dake, yang dimuat http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=13070
berjudul "Dalang G30S/PKI ?"
La Luta Continua!
***
Sumber:
http://www.mail-archive.com/baraya_sunda@xxxxxxxxxxxxxxx/msg02525.html
Subject: [Baraya_Sunda] G30S; saha dalang na?
From: Rahman
Date: Fri, 02 Dec 2005 11:26:01 -0800
Sekali Lagi, Siapa Dalang G30S?
Oleh Tjipta Lesmana
Sehubungan peringatan 40 tahun tragedi Gerakan 30 September, telah terbit
beberapa buku yang mencoba menguak kembali peristiwa berdarah itu.
Buku-buku itu antara lain Saksi dan Pelaku GESTAPU, Siapa Dalang G30S?
PKI/TNI?, dan Sukarno File. Buku terakhir, aslinya, ditulis dalam bahasa
Inggris oleh Prof Antonie CA Dake, ilmuwan Amerika keturunan Belanda. Buku
Dake seakan hendak melawan arus kuat di negeri ini sejak Orde Baru tumbang.
Sejak Soeharto lengser Mei 1998, telah beredar banyak buku tentang G30S;
hampir semuanya termasuk sejumlah negara Barat, khususnya AS dengan CIA-nya
menuding Soeharto sebagai dalangnya.
Namun, menurut Prof CA Dake, Presiden Soekarno-lah yang menjadi mastermind,
bukan PKI, bukan pula Soeharto. Dake juga menepis tuduhan banyak pihak bahwa
Amerika berkonspirasi dengan jenderal-jenderal kanan untuk menggulingkan
kekuasaan Soekarno. Negara adidaya itu dikatakan tidak terlibat. Bagaimana
Washington terlibat jika menjelang G30S pecah AS justru mengurangi jumlah staf
kedutaannya di Jakarta.
Hingga kini tragedi G30S masih gelap meski sudah coba diungkap dalam puluhan
buku dan ratusan artikel ilmuwan, politisi, dan wartawan Barat. Tentang dalang,
para penulis umumnya terpecah dalam empat kelompok besar, masing-masing dengan
argumentasinya sendiri.
Kelompok pertama meyakini, Partai Komunis Indonesia ada di belakang G30S.
Selama 30 tahun lebih, pemerintahan Soeharto menyosialisasikan pendapat ini
kepada bangsa Indonesia, termasuk melalui film G30S/PKI yang ditayangkan di
televisi tiap menjelang peringatan G30S.
Kelompok kedua meyakini, G30S adalah karya ulung Soeharto dengan bantuan
sejumlah negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Orang-orang PKI setelah
mengecap kebebasan penuh pasca-Orde Baru dan korban Soeharto lainnya paling
keras menyuarakan pendapat ini. Di kalangan Barat, tidak sedikit yang
berpendapat sama, antara lain Willem Oltman (almarhum), wartawan Belanda yang
gigih menghantam rezim Soeharto serta Prof Scott dari Amerika.
Kelompok ketiga meyakini, Presiden Soekarno adalah dalangnya. Paling tidak,
sejak awal Soekarno tahu tetapi membiarkannya karena sikapnya yang tidak suka
terhadap jenderal-jenderal kanan pimpinan AH Nasution. Banyak perwira tinggi
TNI mempercayai pandangan ini.
Kelompok keempat berpendapat, G30S sepenuhnya masalah internal Angkatan
Darat (AD), yaitu perpecahan antara para Jenderal kanan yang borjuis dan para
perwira revolusioner seperti Brigadir Jenderal Soepardjo, Kolonel Latief, dan
Letkol Untung. PKI hanya korban. Soekarno menganut faham ini.
Versi mana yang mendekati kenyataan, masih diperlukan puluhan tahun lagi.
Kelemahan pokok semua analis, menurut saya, karena (a) analisisnya tidak
dilakukan secara komprehensif/kritis; dan/atau (b) didorong motivasi dendam
sehingga menghilangkan unsur obyektivitas.
Sudah dijawab Soeharto
Tulisan ini bertujuan mengkritisi pendapat ketiga, yakni Soekarno otak G30S.
Pertanyaan apakah Soekarno terlibat atau mendalangi G30S, sebetulnya sudah
dijawab Jenderal Soeharto, Maret 1967, dalam Sidang Istimewa Majelis
Permusyawaratan Rakyat (Sementara).
Dalam pidato itu Soeharto selaku pemegang Supersemar mengemukakan, Bung
Karno tidak dapat digolongkan sebagai penggerak langsung, dalang, atau tokoh
G30S/PKI. Kesimpulan itu didasarkan empat fakta.
Pertama, laporan mantan Men/Pangau Laksamana Madya Omar Dani 29 September
1965 mengenai adanya rasa tidak puas sejumlah perwira muda anak buah Brigjen
Soepardjo terhadap pimpinan AD. Atas laporan itu, Presiden memerintahkan Omar
Dani dan Soepardjo untuk menghadap lagi pada 3 Oktober 1965.
Kedua, laporan Brigjen Sugandhi kepada Presiden Soekarno pada 30 September
1965 bahwa PKI mungkin akan melakukan coup. Atas laporan itu, Presiden
memarahi dan memperingatkan Sugandhi.
Ketiga, pada 30 September 1965 malam setelah mengunjungi Mubestek
(Musyawarah Besar Teknik) di Istora Senayan, Presiden tidak bermalam di
Istana, tetapi di rumah Ny Sari Dewi di Jalan Gatot Subroto. Pagi harinya, 1
Oktober sekitar pukul 06.00, Presiden bermaksud kembali ke Istana setelah
minta pertimbangan dari pengawal dan mendapat laporan singkat mengenai
peristiwa pagi itu.
Keempat, pada 30 September 1965 Presiden memanggil Jenderal Yani untuk
menghadap pada 1 Oktober 1965. Rencananya akan membahas lagi tentang
keberadaan Dewan Jenderal.
Dake menulis (dalam Sukarno File), penciutan staf Kedubes AS di Jakarta
sebagai salah satu bukti ketidak terlibatan Washington. Itu keliru.
Pengurangan staf Kedubes AS sengaja dilakukan dengan tujuan agar kekuatan
antikomunis dan kaum ekstremis lain di Indonesia free to handle a
confrontation, which they believe will come, without the incubus of being
attacked as defenders of the neo-colonialists and imperialists (surat Dubes
AS, Ellsworth Bunker kepada Presiden Lyndon B Johnson). Meski ada penciutan
staf kedubes, Bunker menasihati Presiden Johnson agar Washington tetap aktif
melakukan kontak rahasia dengan constructive elements of strength in
Indonesia.
Lashmar dan Oliver dalam Britain Secret Propaganda War (1987) menulis, pada
1962 Presiden John F Kennedy dan PM Inggris Harold Macmillan mengadakan
kesepakatan rahasia bahwa Soekarno harus dilikuidasi (baca: disingkirkan)
karena dinilai telah mengancam stabilitas Asia Tenggara, selain telah membawa
Indonesia ke gerbang komunisme. Namun, menurut Lashmar dan Oliver, secara
fisik kedua negara Barat itu tidak berperan nyata dalam G30S.
Yang digulirkan AS dan Inggris, bersama Malaysia dan Selandia Baru, adalah
perang propaganda untuk memperlemah kekuasaan Soekarno, memperkuat
anasir-anasir kekuatan militer pro-Barat dan memisahkan rakyat Indonesia dari
PKI.
Isu-isu Dewan Jenderal, rencana AD menggulingkan kekuasaan Soekarno,
sakitnya Presiden Soekarno serta Dokumen Gilchrist, semua itu, menurut Lashmar
dan Oliver, tidak lebih hasil gemilang propaganda dan perang urat saraf
negara-negara Barat, khususnya dinas intelijen M-16 dari Inggris.
Artikel singkat Prof Benedict R Anderson dan Ruth McVey, What Happened in
Indonesia? (1978), menarik dicermati. Ia pun menggugat sangkaan keterlibatan
Bung Karno. Semua orang tahu, Aidit Ketua Umum PKI amat dekat dengan Soekarno.
Semua orang tahu jika PKI meyakini AD akan melancarkan kudeta, terutama karena
mengkhawatirkan keadaan negara jika Soekarno wafat.
Dari hasil Mahmilub atas diri Syam diketahui, sekitar pertengahan Agustus
1965 rapat pimpinan PKI menyimpulkan, PKI harus mendahulukan rencana kudeta
AD. Pertanyaannya, tulis Anderson dan McVey, mengapa Aidit tidak mampu
meyakinkan Soekarno bahwa kudeta AD pasti tak terhindarkan?
Jika Soekarno terlibat G30S, mengapa ia tidak menggunakan kekuasaan besarnya
atau menggerakkan dukungan populer rakyat Indonesia? Hampir pasti, Soekarno
tahu bakal ada aksi penculikan jenderal-jenderal oleh para perwira
revolusioner.
Tetapi, fakta ini tidak bisa dijadikan bukti keterlibatan Soekarno, apalagi
mendalangi tragedi berdarah. Mengapa? Soekarno sebenarnya masih tidak yakin
tentang keberadaan Dewan Revolusi yang dijadikan alasan utama PKI dan
perwira-perwira revolusioner melancarkan semacam preemptive strike.
Peristiwa G30S masih diliputi misteri yang belum terungkap, mungkin amat
sulit diungkap sampai kapan pun. Maka, tidaklah bijak juga dalam situasi penuh
kabut diambil satu atau dua konklusi definitif.
Tjipta Lesmana, Pengajar Universitas Pelita Harapan
***
http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=13070
Dalang G30S/PKI ?
( 22 Nov 2005, 127 x , cetak, Komentar)
Kontroversi di balik kudeta berdarah Gerakan 30 September 1965 ternyata belum
juga pupus. Setidaknya, hal itu tergambar pada acara peluncuran buku Soekarno
File karya ilmuwan Belanda, Prof Antonie C.A. Dake, di Wisma Kodel, Kuningan,
Kamis.
Setidaknya, protes keras itu berasal dari keluarga mantan persiden pertama
Indonesia itu. Adalah Sukmawati Soekarnoputri dan Megawati Soekarnoputri yang
tidak bisa menerima perlakukan ini.
"Ini sangat-sangat surprise. Tidak mungkin, Bung Karno sebagai mastermind-nya,"
protes Sukma. Selain bersuara cukup lantang, Sukma menyampaikan protes itu
dengan berdiri.
Sukma memang ikut hadir dalam acara yang digelar di Restoran Enoki itu. Selain
membawa pengarangnya, Prof Antonie C.A. Dake, acara tersebut dihadiri mantan
Ketua DPR RI Ir Akbar Tandjung, Budiman Sudjatmiko, Fachri Ali, Soekamdani
Gitosardjono, dan lain-lain.
Sumber protes itu ialah kesimpulan sang penulis bahwa yang memprakarsai "Kudeta
Untung" 1 Oktober 1965 tersebut adalah mantan Presiden Soekarno sendiri. Dalam
buku yang diterbitkan Aksara Karunia itu, Dake menulis bahwa Soekarno-lah orang
yang mengadu domba AD dengan PKI serta antar pimpinan AD sendiri. "Penolakan
pembentukan ?Angkatan Kelima? oleh petinggi-petinggi AD membuat presiden
pertama Indonesia ini berkeinginan menyingkirkannya," kata Dake.
Penulis yang lahir di Amsterdam, Belanda, itu menguraikan, Soekarno-lah orang
yang minta pengawalnya, Letkol Untung, untuk mempersiapkan tindakan terhadap
para jenderal tersebut. Dibantu seorang agen rahasia, Walujo dan Syam
Kamaruzzaman, informasi itu sampai kepada pimpinan PKI.
D.N. Aidit sebagai pimpinan PKI mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya
dengan membentuk Dewan Rahasia PKI yang kemudian bekerja sama dengan anggota
militer kelompok Untung. Mereka itulah yang kemudian merencanakan serta
mempersiapkan kudeta sehingga terjadi peristiwa kelam 30 September.
Sukmawati yang dikonfirmasi seusai peluncuran buku itu mengakui, sejak awal dia
sangat terkejut terhadap apa yang diuraikan dalam buku Soekarno File tersebut.
"Banyak sumber, buku, dokumen, yang saya baca tentang peristiwa kudeta sebagai
momen sejarah Indonesia yang terpahit. Tapi, Prof Antonie Dake justru
memberikan cerita yang sumbernya tidak benar," tukasnya.
Putri Bung Karno itu menegaskan, ada beberapa cerita dalam buku tersebut yang
sumbernya tidak benar. Terutama konteks peran Soekarno bersama Untung. Menurut
dia, Bung Karno sama sekali tidak mengenal Untung. Bapaknya memang kenal dekat
dengan komandan Cakrabirawa pada waktu itu. Tapi, Untung bukan komandan
Cakrabirawa.
"Sebagai putri Bung Karno yang juga berkewajiban meluruskan sejarah itu, saya
berkewajiban untuk menjelaskan ketidakbenaran apa yang dijelaskan di buku
Profesor Antonie Dake ini," ucap Sukma.
Saat ditanya apa usaha yang akan dilakukan, Sukma menegaskan, untuk sekarang,
dirinya hanya berargumentasi dan protes. "Tetapi secara ilmiah, saya juga
mungkin sewaktu-waktu membuat sebuah buku mengenai konteks sejarah tersedih di
Indonesia ini," ungkap ketua DPP PNI Marhaenisme itu.
Sukmawati mengaku kecewa bahwa seorang profesor ternama dari Belanda menulis
buku 549 halaman yang memuat analisis yang tidak benar. "Jangan lupa, saya
waktu itu sudah remaja sehingga menjadi saksi sejarah walaupun tidak langsung,"
ujarnya.
Buku Soekarno File yang memosisikan Bung Karno bukan sebagai korban, tetapi
mastermind kudeta, kata Sukma, adalah sesuatu yang tidak logis. "Tidak mungkin
seorang presiden yang berkuasa, kemudian mengudeta dirinya sendiri," tukas adik
mantan Presiden Megawati itu. Sumber : (silahuddin genda)
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Yahoo! for Good - Make a difference this year.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Clean water saves lives. Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts: