[nasional_list] [ppiindia] Sekali Lagi, Siapa Dalang G30S?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 2 Dec 2005 23:39:29 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/03/opini/2257646.htm
Sekali Lagi, Siapa Dalang G30S?
Tjipta Lesmana
Sehubungan peringatan 40 tahun tragedi Gerakan 30 September, telah terbit
beberapa buku yang mencoba menguak kembali peristiwa berdarah itu. Buku-buku
itu antara lain Saksi dan Pelaku GESTAPU, Siapa Dalang G30S? PKI/TNI?, dan
Sukarno File.
Buku terakhir, aslinya, ditulis dalam bahasa Inggris oleh Prof Antonie CA Dake,
ilmuwan Amerika keturunan Belanda. Buku Dake seakan hendak melawan arus kuat di
negeri ini sejak Orde Baru tumbang. Sejak Soeharto lengser Mei 1998, telah
beredar banyak buku tentang G30S; hampir semuanya termasuk sejumlah negara
Barat, khususnya AS dengan CIA-nya menuding Soeharto sebagai dalangnya.
Namun, menurut Prof CA Dake, Presiden Soekarno-lah yang menjadi mastermind,
bukan PKI, bukan pula Soeharto. Dake juga menepis tuduhan banyak pihak bahwa
Amerika berkonspirasi dengan jenderal-jenderal kanan untuk menggulingkan
kekuasaan Soekarno. Negara adidaya itu dikatakan tidak terlibat. Bagaimana
Washington terlibat jika menjelang G30S pecah AS justru mengurangi jumlah staf
kedutaannya di Jakarta.
Hingga kini tragedi G30S masih gelap meski sudah coba diungkap dalam puluhan
buku dan ratusan artikel ilmuwan, politisi, dan wartawan Barat. Tentang dalang,
para penulis umumnya terpecah dalam empat kelompok besar, masing-masing dengan
argumentasinya sendiri.
Kelompok pertama meyakini, Partai Komunis Indonesia ada di belakang G30S.
Selama 30 tahun lebih, pemerintahan Soeharto menyosialisasikan pendapat ini
kepada bangsa Indonesia, termasuk melalui film G30S/PKI yang ditayangkan di
televisi tiap menjelang peringatan G30S.
Kelompok kedua meyakini, G30S adalah karya ulung Soeharto dengan bantuan
sejumlah negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Orang-orang PKI setelah
mengecap kebebasan penuh pasca-Orde Baru dan korban Soeharto lainnya paling
keras menyuarakan pendapat ini. Di kalangan Barat, tidak sedikit yang
berpendapat sama, antara lain Willem Oltman (almarhum), wartawan Belanda yang
gigih menghantam rezim Soeharto serta Prof Scott dari Amerika.
Kelompok ketiga meyakini, Presiden Soekarno adalah dalangnya. Paling tidak,
sejak awal Soekarno tahu tetapi membiarkannya karena sikapnya yang tidak suka
terhadap jenderal-jenderal kanan pimpinan AH Nasution. Banyak perwira tinggi
TNI mempercayai pandangan ini.
Kelompok keempat berpendapat, G30S sepenuhnya masalah internal Angkatan Darat
(AD), yaitu perpecahan antara para Jenderal kanan yang borjuis dan para perwira
revolusioner seperti Brigadir Jenderal Soepardjo, Kolonel Latief, dan Letkol
Untung. PKI hanya korban. Soekarno menganut faham ini.
Versi mana yang mendekati kenyataan, masih diperlukan puluhan tahun lagi.
Kelemahan pokok semua analis, menurut saya, karena (a) analisisnya tidak
dilakukan secara komprehensif/kritis; dan/atau (b) didorong motivasi dendam
sehingga menghilangkan unsur obyektivitas.
Sudah dijawab Soeharto
Tulisan ini bertujuan mengkritisi pendapat ketiga, yakni Soekarno otak G30S.
Pertanyaan apakah Soekarno terlibat atau mendalangi G30S, sebetulnya sudah
dijawab Jenderal Soeharto, Maret 1967, dalam Sidang Istimewa Majelis
Permusyawaratan Rakyat (Sementara). Dalam pidato itu Soeharto selaku pemegang
Supersemar mengemukakan, Bung Karno tidak dapat digolongkan sebagai penggerak
langsung, dalang, atau tokoh G30S/PKI.
Kesimpulan itu didasarkan empat fakta. Pertama, laporan mantan Men/Pangau
Laksamana Madya Omar Dani 29 September 1965 mengenai adanya rasa tidak puas
sejumlah perwira muda anak buah Brigjen Soepardjo terhadap pimpinan AD. Atas
laporan itu, Presiden memerintahkan Omar Dani dan Soepardjo untuk menghadap
lagi pada 3 Oktober 1965.
Kedua, laporan Brigjen Sugandhi kepada Presiden Soekarno pada 30 September 1965
bahwa PKI mungkin akan melakukan coup. Atas laporan itu, Presiden memarahi dan
memperingatkan Sugandhi.
Ketiga, pada 30 September 1965 malam setelah mengunjungi Mubestek (Musyawarah
Besar Teknik) di Istora Senayan, Presiden tidak bermalam di Istana, tetapi di
rumah Ny Sari Dewi di Jalan Gatot Subroto. Pagi harinya, 1 Oktober sekitar
pukul 06.00, Presiden bermaksud kembali ke Istana setelah minta pertimbangan
dari pengawal dan mendapat laporan singkat mengenai peristiwa pagi itu.
Keempat, pada 30 September 1965 Presiden memanggil Jenderal Yani untuk
menghadap pada 1 Oktober 1965. Rencananya akan membahas lagi tentang keberadaan
Dewan Jenderal.
Dake menulis (dalam Sukarno File), penciutan staf Kedubes AS di Jakarta sebagai
salah satu bukti ketidakterlibatan Washington. Itu keliru. Pengurangan staf
Kedubes AS sengaja dilakukan dengan tujuan agar kekuatan antikomunis dan kaum
ekstremis lain di Indonesia free to handle a confrontation, which they believe
will come, without the incubus of being attacked as defenders of the
neo-colonialists and imperialists (surat Dubes AS, Ellsworth Bunker kepada
Presiden Lyndon B Johnson). Meski ada penciutan staf kedubes, Bunker menasihati
Presiden Johnson agar Washington tetap aktif melakukan kontak rahasia dengan
constructive elements of strength in Indonesia.
Lashmar dan Oliver dalam Britain Secret Propaganda War (1987) menulis, pada
1962 Presiden John F Kennedy dan PM Inggris Harold Macmillan mengadakan
kesepakatan rahasia bahwa Soekarno harus dilikuidasi (baca: disingkirkan)
karena dinilai telah mengancam stabilitas Asia Tenggara, selain telah membawa
Indonesia ke gerbang komunisme. Namun, menurut Lashmar dan Oliver, secara fisik
kedua negara Barat itu tidak berperan nyata dalam G30S. Yang digulirkan AS dan
Inggris, bersama Malaysia dan Selandia Baru, adalah perang propaganda untuk
memperlemah kekuasaan Soekarno, memperkuat anasir-anasir kekuatan militer
pro-Barat dan memisahkan rakyat Indonesia dari PKI. Isu-isu Dewan Jenderal,
rencana AD menggulingkan kekuasaan Soekarno, sakitnya Presiden Soekarno serta
Dokumen Gilchrist, semua itu, menurut Lashmar dan Oliver, tidak lebih hasil
gemilang propaganda dan perang urat saraf negara-negara Barat, khususnya dinas
intelijen M-16 dari Inggris.
Artikel singkat Prof Benedict R Anderson dan Ruth McVey, What Happened in
Indonesia? (1978), menarik dicermati. Ia pun menggugat sangkaan keterlibatan
Bung Karno. Semua orang tahu, Aidit Ketua Umum PKI amat dekat dengan Soekarno.
Semua orang tahu jika PKI meyakini AD akan melancarkan kudeta, terutama karena
mengkhawatirkan keadaan negara jika Soekarno wafat.
Dari hasil Mahmilub atas diri Syam diketahui, sekitar pertengahan Agustus 1965
rapat pimpinan PKI menyimpulkan, PKI harus mendahulukan rencana kudeta AD.
Pertanyaannya, tulis Anderson dan McVey, mengapa Aidit tidak mampu meyakinkan
Soekarno bahwa kudeta AD pasti tak terhindarkan? Jika Soekarno terlibat G30S,
mengapa ia tidak menggunakan kekuasaan besarnya atau menggerakkan dukungan
populer rakyat Indonesia?
Hampir pasti, Soekarno tahu bakal ada aksi penculikan jenderal-jenderal oleh
para perwira revolusioner. Tetapi, fakta ini tidak bisa dijadikan bukti
keterlibatan Soekarno, apalagi mendalangi tragedi berdarah. Mengapa? Soekarno
sebenarnya masih tidak yakin tentang keberadaan Dewan Revolusi yang dijadikan
alasan utama PKI dan perwira-perwira revolusioner melancarkan semacam
preemptive strike.
Peristiwa G30S masih diliputi misteri yang belum terungkap, mungkin amat sulit
diungkap sampai kapan pun. Maka, tidaklah bijak juga dalam situasi penuh kabut
diambil satu atau dua konklusi definitif.
Tjipta Lesmana Pengajar Universitas Pelita Harapan
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts: