[nasional_list] [ppiindia] Sejumlah Profesional Dukung Kenaikan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 28 Feb 2005 00:19:34 +0100
** Mailing List Nasional Indonesia PPI India Forum **
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=4577
Senin, 28 Feb 2005,
Sejumlah Profesional Dukung Kenaikan
Ketika politisi di Senayan memberikan reaksi negatif terhadap kenaikan harga
BBM, sejumlah profesional dan intelektual justru menggalang suara untuk
menyerukan pengurangan subsidi BBM.
Suara kelompok pro pengurangan subsidi -otomatis mendukung harga BBM naik-
digalang oleh Freedom Institute. LSM yang dipimpin Rizal Mallarangeng
tersebut berpendapat, subsidi selama ini tidak mengalir ke sasaran yang
tepat karena jatuh ke tangan orang kaya.
Mereka memobilisasi dukungan dengan cara memasang iklan yang mendukung
pengurangan subsidi BBM di sejumlah media. Dalam iklan itu, selain pengurus
Freedom Institute, sejumlah nama tenar dicantumkan.
Di antara nama itu, terdapat orang-orang yang selama ini dikenal dekat
dengan Presiden SBY. Contohnya, dua juru bicara kepresidenan, Andi
Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Juga ada nama Chatib Bisrie, ekonom muda
UI yang dikenal dekat dengan kelompok Cikeas.
Selain itu, ada nama kawan dekat Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, yakni
pengusaha Sofyan Wanandi dan Ketua Umum Kadin M.S. Hidayat.
Menariknya, sejumlah sosok dari berbagai kalangan juga masuk. Termasuk tokoh
pers Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri, filosof Franz Magnis-Suseno, dosen UI
M. Ikhsan, ekonom senior M. Sadli, tokoh CSIS Hadi Soesastro, tokoh Jaringan
Islam Liberal Ulil Abshar-Abdallah, ekonom LIPI Thee Kian Wee, dan Ketua
Amien Rais Center Jeffrie Geovannie.
Dalam kampanye, mereka memaparkan hasil penelitian Lembaga Pengabdian
Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) tentang dampak penundaan
kenaikan harga BBM terhadap defisit APBN.
Menurut kampanye Freedom Institute, akibat kebijakan pemberian subsidi BBM,
negara harus mengeluarkan anggaran Rp 72 triliun per tahun atau sekitar Rp
200 miliar per hari untuk membiayai konsumsi BBM orang kaya.
... Kampanye itu juga memaparkan dampak kompensasi kenaikan harga BBM
terhadap jumlah penduduk miskin. Dalam kesimpulannya, mereka yakin bahwa
kompensasi kenaikan harga BBM yang disalurkan langsung ke rakyat miskin akan
mengurangi pertumbuhan penduduk miskin akibat kenaikan harga BBM.
Menurut Ketua Freedom Institute Rizal Mallarangeng, sikap mendukung
kebijakan kenaikan harga BBM tersebut didasarkan pada pertimbangan logis.
Yakni, hasil kajian LPEM UI terhadap kondisi keuangan negara serta dampak
sosial kompensasi kenaikan harga BBM terhadap jumlah penduduk miskin.
"Ada sikap pro-kontra menyikapi rencana kenaikan harga BBM. Dan, kami
termasuk yang pro dengan alasan jelas dan sudah kami paparkan di iklan
tersebut," tegasnya.
Rizal membantah bahwa pemaparan hasil kajian LPEM UI tersebut bertujuan
menyelamatkan citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kabinetnya.
Apalagi, beberapa nama personal di Freedom Institute merupakan orang dekat
presiden. "Kakak saya (Andi Mallarangeng) dan Dino (Dino Patti Djalal)
memang all the president?s man. Tapi, mereka kan juga penulis buku dan
intelektual. Ada juga kalangan independen seperti Goenawan Mohamad. Intinya,
paparan itu bukan untuk tujuan personal, tapi dukungan terhadap kebijakan,"
jelasnya.
Ekonom UI Chatib Basri menyatakan bahwa pihaknya hanya mengorganisasi ide
pembuatan iklan dukungan terhadap kenaikan harga BBM. Semua dukungan
terhadap kenaikan harga BBM didasari pada logika yang dimiliki Freedom
Institute serta dirinya.
"Kami sederhana saja kok. Kita pembayar pajak, pajak itu untuk memberikan
subsidi, dan subsidi untuk kelas menengah. Sedangkan penduduk miskin sulit
sekolah," katanya kepada koran ini.
Chatib tidak mau mengomentari secara detail mengenai pilihan Freedom
Institute yang mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Padahal,
kenaikan harga BBM saat ini menjadi kontroversi di masyarakat. Dia mengaku
bahwa namanya memang ada dalam iklan di sebuah koran harian di Jakarta.
"Saya di Freedom di bagian penerbitan buku. Tapi, saya bisa mengomentari itu
secara pribadi," ujarnya.
Dia mengatakan, tidak ada bukti empiris yang mengatakan bahwa kenaikan harga
BBM akan menyengsarakan rakyat dalam waktu lama. Chatib mencontohkan pada
2002, yang menurut dia, sebagai kenaikan BBM tertinggi, yaitu 54 persen.
Akibatnya, pada Januari 2002, terjadi inflasi 1,9 persen dan Februari 2002
inflasi turun menjadi 1,4 persen. "Bulan Maret 2002, malah terjadi deflasi
minus 0,23 persen," katanya.
Chatib membenarkan bahwa kenaikan BBM itu pasti akan menaikkan harga. Hanya,
Chatib menilai selama ini masyarakat Indonesia bias dalam menilai
permasalahan itu. Semua berkaca pada warga kaya atau menengah yang
mengonsumsi barang-barang yang naik harganya. Padahal, masih banyak
masyarakat di desa yang menggunakan kayu bakar. "Mereka (orang desa, Red)
juga hanya menggunakan sepeda," ungkapnya.
Dia menilai selama ini, kenaikan BBM yang diiringi naiknya inflasi terjadi
karena adanya kenaikan harga beras. Seharusnya, kata dia, Bulog melakukan
operasi. Kalau harga beras tidak stabil karena harga BBM naik, keran impor
beras dibuka untuk sementara. "Setelah normal, keran impor harus segera
ditutup," kilahnya.
Chatib kembali memberi data bahwa setiap hari negara memberikan subsidi
untuk BBM Rp 200 miliar. Padahal, subsidi tersebut lebih banyak dimanfaatkan
orang kaya dan para penyelundup. "Bisa dibayangkan jika subsidi setiap
harinya untuk pelayanan puskesmas atau pendidikan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Chatib mengetahui konsekuensi kenaikan BBM tersebut. Dia
menyadari, ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan kenaikan BBM itu.
"Subsidi akan lebih baik dipindahkan ke masalah pendidikan dan kesehatan
untuk masyarakat. Saya membayangkan BBM naik, tapi sekolah gratis," ujarnya.
Sementar itu, menurut Ulil Abshar-Abdalla, dirinya menandatangani petisi
untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM karena menilai pemberian
subsidi merupakan keputusan yang tidak masuk akal. "Kami ingin memberi
pencerahan pada masyarakat bahwa pencabutan subsidi bukan berarti
antirakyat," katanya.
Dia menyampaikan, petisi tersebut bertujuan untuk mengingatkan masyarakat
pada beberapa hal yang kurang populer di balik kebijakan pemberian subsidi
BBM selama ini. Di antaranya, subsidi BBM selama ini salah sasaran karena
lebih banyak dinikmati industri dan kalangan menengah ke atas.
"Selain itu, Indonesia saat ini sudah menjadi negara pengimpor minyak
mentah. Jadi, tidak masuk akal memberi harga murah bagi sumber energi yang
semakin langka. Kebijakan subsidi justru membuat masyatakat boros
menggunakan BBM," katanya.
Ulil juga tak membantah bahwa petisi tersebut diiklankan untuk mendukung
pasangan SBY-Kalla. Menurut dia, keputusan pemerintah tentang pencabutan
subsidi sudah tepat sehingga harus didukung. "Kami dari kalangan intelektual
mendukung secara ide terhadap kebijakan pencabutan subsidi BBM. Saya sendiri
tidak takut dicap mendukung pemerintah. Kalau pemerintah bertindak benar,
mengapa takut dicap mendukung pemerintah," tegasnya. (noe/dja)
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.uni.cc **
- Follow-Ups:
- [nasional_list] [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- From: Satrio Arismunandar
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Sejumlah Profesional Dukung Kenaikan
- [nasional_list] [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- From: Satrio Arismunandar