[nasional_list] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING:PAMERAN SALIM DI KOTAPRAJA PARIS Vème.
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 27 Feb 2005 17:05:06 +0100
** Mailing List Nasional Indonesia PPI India Forum **
Surat Kembang Kemuning:
PAMERAN SALIM DI KOTAPRAJA PARIS Vème.
Untuk memahami bagaimana Salim bisa sampai pada sikap ini, saya kira, ada
baiknya kita menelusuri kelanjutan pertemuannya dengan Sjahrir dan Hatta.Dampak
pertemuan ini meninggalkan tanda tersendiri dalam hidup dan karya-karya Salim
sampai sekarang.
Menurut Ajip Rosidi, pada tahun 1930an, Salim dalam dunia kesenian adalah
"penganut dengan penuh keyakinan l'art pour l'art, seni untuk seni, seni di
atas segala aliran politik" [lihat: Ajip Rosidi, "Salim Pelukis Indonesia Di
Paris", Pustaka Jaya, Jakarta, September 2003, hlm. 39]. Selanjutnya dalam buku
ini, Ajip juga menunjukkan bahwa dengan sikap demikian, membuat Salim yang
sikap dasarnya menjunjung kemanusiaan, nilai-nilai manusiawi dan memandang
kebebasan sebagai hak dasar manusia, menjadi anti penjajahan, anti Nazi Hitler
dengan "über alles"nya, berpihak pada perjuangan rakyat Palestina, sikap yang
sesungguhnya juga merupakan suatu sikap politik. Apakah pemihakan begini ini
bukan sikap politik? Sikap politik yang langsung tidak langsung memperoleh
pantulan balik ke dalam karya-karya Salim. Dengan sikap politik ini, untuk
menunjukkan ketidaksenangannya pada usaha Belanda untuk kembali menduduki
Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdakaannya pada 17 Agustus 1945,
melalui NICA [Netherlands India Civil Administration], Salim kembali
meninggalkan Negeri Belanda menuju Paris. Ia merasa tidak layak hidup di negeri
yang menjajah dan merampas hak-hak azasi. Dengan nilai-nilai ini pula, Salim
memprotes pelarangan karya-karya Pram oleh rezim Orba Soeharto. L'art pour
l'art bagi Salim yang dididik di negeri Belanda dan Perancis agaknya identik
dengan nilai-nilai manusiawi, kebebasan berpikir dan bersikap serta menilai.
Dari sikap Salim yang demikian pada diri saya lalu timbul pertanyaan:Secara
filosofis,apa gerangan masalah mendasar yang memisahkan l'art pour l'art dengan
seni untuk rakayat atau sastra-seni enggagé yang pernah pada kurun tahun 1960an
kongkretnya antara pengikut Manifes Kebudayaan dan anggota-anggota Lekra?
Apakah beda l'art pour l'art Salim dengan sikap seorang warga "republik
berdaulat sastra-seni"? Jika demikian, pertanyaan lebih lanjut: Mengapa ada
polemik demikian sengit tentang masalah tersebut di negeri kita? Tidakkah ia
disebabkan karena kita mengabaikan masalah hakiki ataukah sastra-seni sudah
dipolitisir oleh para politisi ataukah pempolitisir sastra-seni? Sedangkan
para sastrawan-seniman mau melepaskan posisinya sebagai warga "republik
berdaulat"?
Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, saya makin merasa ada perlunya kita
menyimpulkan pengalaman dari sejarah sastra seni kita, terutama dengan
menggunakan metode perbandingan. Membandingkan polemik periode Poedjangga Baroe
dengan polemik Lekra-Manifes serta yang terjadi di negeri-negeri lain, sebab
ternyata pengalaman dan praktek Salim sebagai pelukis yang "penganut dengan
penuh keyakinan l'art pour l'art, seni untuk seni, seni di atas segala aliran
politik", penganut penuh keyakinan l'art pour l'art" seperti Salim, ternyata
bukan seniman tanpa sikap politik sekali pun tidak perlu menjadi kader dan
partisan partai politik atau apalagi menjadi politisi praktis [les
politiciens]. Dalam masalah nilai-nilai manusiawi untuk memanusiawikan manusia
yang diperjuangkan oleh para warga "republik berdaulat sastra-seni", apakah ada
hal besar yang patut dipolemikkan? Barangkali dalam soal ini "l'art pour l'art"
berbeda dengan sikap "humanisme universil" yang dalam pengertian suatu ketika
ditafsirkan sebagai tidak membedakan yang menjajah dan yang terjajah, yang adil
dan tidak adil, yang benar dan salah.
Saya masih mengkhawatiri bahwa para sastrawan-seniman kita masih belum
mengkhayati benar arti sastra-seni sebagai "republik berdaulat" sehingga
misalnya antara mereka yang dahulu pernah berpolemik sengit masih sulit duduk
bersama menyimpulkan pengalaman sejarah mereka, bahkan yang lebih parah masih
mengandung dendam. Artinya kita masih belum membebaskan diri, pikiran dan
perasaan. Daki-daki prasangka serta keterbatasan pemahaman masih mengotori raga
pikiran dan perasaan manusia kita. Bagi yang merasa seniman, daki-daki itu
masih mengotori jiwa kesenimanan mereka sebagai warga "republik berdaulat
sastra-seni". Jika kekhawatiran saya ini benar maka barangkali "there is
something wrong in the state of Danemark' jika menggunakan ungkapan Shakespeare
dalam drama Hamlet-nya. Sekedar beberapa pertanyaan dalam konteks melihat
pameran Salim dan membaca pengalaman serta sikap Salim.
Bagaimana Salim sampai pada sikap begini?
Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI
Catatan:
Foto-foto lukisan Salim yang terlampir berjudul: "ambiance","ambiance-1", "anak
minangkabau (3)", "anak minangkabau-1" [Dari dokumentasi Jelitheng & JJK].
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING:PAMERAN SALIM DI KOTAPRAJA PARIS Vème.