[nasional_list] [ppiindia] Re: soto
- From: "RM Danardono HADINOTO" <rm_danardono@xxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 26 Oct 2005 21:11:00 -0000
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Sebuah tulisan yang mengesankan, mas Nugroho:
"....Ada yang pragmatis di situ: seandainya sebagian dari kita
bersikap seperti Imam Samudra, tak akan banyak lagi di antara kita
yang hidup, lebih banyak lagi yang dalam ketakutan. Sebab orang
seperti Imam Samudra--yang dengan berapi-api menulis pembelaan atas
perannya dalam mengatur pengeboman di Bali--tak peduli tentang
Indonesia. Ia tak perlu Indonesia.
Ia ingin menegakkan masyarakat Islam yang tak terbatas pada "satu
bangsa dan satu tanah air" ini. Dan ia merasa tahu pasti apa
yang "Islam" itu. Dan dengan klaim itu, ia sah membunuh yang "bukan
Islam"......."
Salam
Danardono
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxx>
wrote:
>
>
> Soto
>
> Tiap 28 Oktober saya teringat soto. Hari itu, pada tahun 1928,
ketika para
> pemuda menyatakan bersumpah untuk memiliki "satu nusa, satu
bangsa, dan
> satu bahasa", tak terdengar ada kesepakatan untuk punya "satu
soto, soto
> Indonesia".
> Demikianlah kini kita masih bisa merasai soto Bandung, soto
Banjar, soto
> Betawi, soto Kudus, soto Pekalongan (yang terakhir ini belum juga
mau
> disebut soto, melainkan "tauto", karena ada unsur tauco di
dalamnya), soto
> Madura, dan seterusnya, sehingga dari barat sampai ke timur
berjajar
> soto-soto--itulah Indonesia.
> Soto agaknya satu hal yang mustahil diatur. Maksud saya, ia sulit
dilebur
> dalam sebuah "kesatuan". Saya tak tahu, sejauh mana kalangan
intelijen
> menganggap soto Bandung, soto Banjar, soto Madura, dan lain-lain
itu
> sebagai ancaman dan menyebarkan informasi: Awas, soto adalah
pendukung
> diam-diam federalisme dan pelawan "NKRI".
> Adapun singkatan ini sekarang dipakai sebagai bahasa resmi untuk
menyebut
> Republik kita--acapkali disebut dengan setengah menggertakkan
geraham,
> khususnya ketika sampai di huruf "K". Tapi kita tahu, lidah kita
tak bisa
> merasakan soto dari mana pun pada saat kita menggertakkan geraham.
> Mungkin karena soto akan senantiasa luput dari bahasa resmi. Ia
bertaut
> erat dengan kelaziman perut dan lidah, yang umumnya terbentuk oleh
> pengalaman sejak masa kanak-kanak. Orang yang sejak berumur enam
tahun
> dihibur ibunya dengan makan soto bersantan gaya Bandung tak akan
dengan
> gampang mencintai soto bening gaya Madura.
> Dengan kata lain: soto berhubungan dengan selera, hasrat,
kenikmatan,
> ingatan, bawah-sadar, banyak hal jasmani yang tersimpan dari masa
lalu,
> yang kadang-kadang muncul, dan agaknya disebut jouissance dalam
> psikoanalisis Lacan. Soto bertautan dengan sesuatu yang mengandung
> hal-ihwal yang tak selamanya dapat dibuat terang dan rapi. Soto
yang tak
> dapat dijadikan bagian dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober itu
menunjukkan
> bahwa dalam hidup memang ada hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh
tata
> simbolik--oleh bahasa, hukum, konvensi bersama, dan agama.
> Yang menarik ialah bahwa 28 Oktober 1928 justru sebuah peristiwa
dalam tata
> simbolik, ketika nama jadi demikian penting. Contoh yang paling
jelas
> adalah dalam salah satu yang disebut dalam Sumpah itu: "satu
bahasa, bahasa
> Indonesia". Bahasa ini bukanlah sesuatu yang baru pada saat ia
disepakati
> untuk dipakai. Bahasa ini telah beredar sekian abad sebelumnya,
umumnya
> disebut sebagai bahasa "Melayu", tapi tak lagi persis seperti yang
> dipergunakan suku Melayu, sebab khazanah dan lidah orang lain--
terutama
> kaum peranakan Cina, yang banyak berperan dalam perdagangan dan
media--ikut
> membentuknya. Maka yang terjadi pada 28 Oktober 1928 itu adalah
mengubah
> nama "Melayu" menjadi "Indonesia".
> Apa arti sebuah nama? Ini pertanyaan yang sering diulangi sejak
Shakespeare
> menulis Romeo and Juliet. Bagi Romeo, nama tak penting; kembang
mawar tetap
> kembang mawar seandainya pun ia disebut "dadap". Romeo mendahului
teori
> linguistik Saussure, jika "nama" kita samakan dengan "kata": arti
sepatah
> kata bukanlah sesuatu yang berdiam atau tersimpan dalam kata itu
sebagai
> satu hakikat. Arti itu selamanya bergantung pada kata lain yang
maknanya
> berbeda. Maka X = mawar, sebab ia bukan Y bila Y = melati, dan Y =
melati,
> sebab Y bukan Z bila Z = alamanda, dan seterusnya. Maka apa
itu "mawar"?
> Kita cuma bisa angkat bahu.
> Tapi tak selamanya kita bisa menyamakan "nama" dengan "kata". Nama
sering
> punya sejarahnya sendiri. Ketika nama "Indonesia" dipilih, yang
simbolik
> tak hanya bunyi netral. Ia digerakkan dan menggerakkan sebuah cita-
cita,
> sebuah harapan, mungkin sebuah rancangan. Jika kita lihat kini,
itulah
> cita-cita tentang sebuah negeri yang baik, tempat orang yang
berbeda-beda
> memutuskan untuk tak saling melempari bom.
> Ada yang pragmatis di situ: seandainya sebagian dari kita bersikap
seperti
> Imam Samudra, tak akan banyak lagi di antara kita yang hidup,
lebih banyak
> lagi yang dalam ketakutan. Sebab orang seperti Imam Samudra--yang
dengan
> berapi-api menulis pembelaan atas perannya dalam mengatur
pengeboman di
> Bali--tak peduli tentang Indonesia. Ia tak perlu Indonesia. Ia
ingin
> menegakkan masyarakat Islam yang tak terbatas pada "satu bangsa
dan satu
> tanah air" ini. Dan ia merasa tahu pasti apa yang "Islam" itu. Dan
dengan
> klaim itu, ia sah membunuh yang "bukan Islam". Islam, dalam
pandangan ini,
> selalu menghunus empat pedang.
> Tapi tak ada sebuah kehidupan bersama yang bakal tahan dalam
ancaman empat
> pedang yang terus-menerus. Ini bukan hanya karena rasa jeri.
Sesuatu yang
> lebih dalam tersimpan dalam pragmatisme itu: "satu nusa, satu
bangsa, satu
> bahasa" adalah ekspresi dari sebuah panggilan ke arah sesuatu yang
universal.
> Setidaknya, dilihat pada tahun 2005, Sumpah Pemuda bukanlah ambisi
> mendapatkan kekuatan politik dan keluasan geografis. Sumpah itu
buah
> kesadaran: tak pernah ada kelompok (agama, suku, gender, dan lain-
lain)
> yang bisa mapan dan selesai dalam mencapai identitasnya. Yang
disebut
> "orang Jawa", juga yang disebut "umat Islam", sebenarnya tak
pernah jelas
> apa artinya--sebab di dalamnya keanekaan berkecamuk, meskipun
sering tak
> diakui.
> Pada saat yang sama, kita tahu sudah takdir kita: meskipun
penghuni 17 ribu
> pulau ini tak hadir serentak di satu ujung jalan, kita tahu bahwa
tiap saat
> kita bersentuhan dengan orang yang lain. Bahkan Imam Samudra harus
mencoba
> meyakinkan orang yang "lain" itu, dan sebab itu ia bicara,
berseru, menulis.
> Dalam tiap seru, tersirat asumsi bahwa ada yang universal dalam
kehidupan
> bersama ini. Ada hal-hal dalam "milik" kita yang khas yang kita
harapkan
> dapat diterima dan dinikmati siapa saja, entah kapan. Setidaknya
begitulah
> kearifan penjual soto: ia tak bermaksud menawarkan soto Kudus
semata-mata
> buat orang di kota di timur Semarang itu. Dan kita bersyukur.
>
> Goenawan Mohamad
> (Catatan Pinggir, TEMPO, 24 Oktober 2005)
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
- References:
- [nasional_list] [ppiindia] soto
- From: Nugroho Dewanto
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Re: soto
- [nasional_list] [ppiindia] soto
- From: Nugroho Dewanto