[nasional_list] [ppiindia] Re: Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!!
- From: "RM Danardono HADINOTO" <rm_danardono@xxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 27 Sep 2006 20:20:27 -0000
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Great mas Bud's. Go on, cool but wise..
Salam
Danardono
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "BUD'S" <bsugih@...> wrote:
>
> Bung, Mulyadi
>
> Sebetulnya arah diskusi anda ini mau kemana sih, ( sebelum kami
masuk ke kasus Poso, dan masalah ini sudah pernah kami Posting di
sini, kalau anda mau silakan baca dengan suber dari HRW dan
Tempointeraktif.com )
>
> Pertama-tama, Komentar anda " Kl tidak ada pen-jihad itu, muslim
di yg minoritas wilayah timur tentu sdh habis.... sementara kresten
di wilayah barat hidup aman, tentram, dan damai di wilayah barat
yang mayoritas muslim....."
> Terus kami menyajikan data dari Depag dan Tempo,
>
> Anda menjawab " Oh, ya setidaknya di wilayah barat tidak ada tuh
yang berbuat keji seperti tibo CS, trus kemudian dielu-elukan jadi
pahlawan..." Terus kami sajikan contoh kasus2 di wilayah Barat,
misalnya Tasik, Situbondo ( beserta Kronologis lengkapnya untuk
kasus Tasik ) dll
>
> Anda membalasnya " Bos, wilayah timur itu paling rawan dan sering
bergolak, ya Ambon, Poso, NTT. Soal bom-bom bbrp tahun lalu, itu
terjadi merata di Indonesia, termasuk di Jakarta. Yang berbeda
adalah saya tidak membela pelakunya. Saya sangat sangat setuju
pelakunya dihukum mati. Saya tidak peduli kalo dia muslim sekali
pun....
> Tidak ada yg se-seram2 seperti yang juga pernah terjadi di
Maluku..., dan kami sajikan secara lengkap, kasus Ambon,
>
> Anda membalas lagi dengan Kasus Poso, Jadi kasus mana yang anda
Mau Diskusikan ???
>
> Setelah kami baca komplit plit plit plit plit plit ( he he he )
atas Rujukan anda dari Tripod.com, ada hal yang ingin kami
tanyakan :
>
> Anda berkesimpulan : Muslim= 49.25%, Kristen = 0.75%, beragama
lainnya = 0.45%, sedangkan dari Tabel 1 dengan sumber yang sama,
kalau angka2 tersebut dijumlahkan maka : Islam sekitar 52 %, dengan
8 Kecamatan mayoritas Islam dan 7 Kecamatan Mayoritas Kristen. Jadi
data Depag boleh dikatakan benar dong, masak anda tidak percaya sama
Depag he he he
>
> Disamping itu dari Sumber yang anda Kutip ( Tripod ), kami sarikan
sbb :
>
> Silakan lihat tabel 2, didalam Kerusuhan Jilid 1 ini, Tempat
Ibadah masing2 agama tidak ada yang rusak, tapi kalau Rumah tinggal
kerugian dari kedua Pihak.
>
> Silakan lihat Tabel 3, didalam Kerusuhan Jilid 2, 4 Gereja dibakar
dan dirusak Masa, Lebih dari 130 Rumah Kristen dibakar, dirusak dan
dijarah , Lembaga Pendidikan Kristen = 1 SMA, 1 SMP dan 1 SD Kristen
dibakar , sedangkan di Pihak Muslim, baik itu rumah, temapt Ibadah
dan Pendidikan TIDAK ADA SATUPUN YANG RUSAK.
>
> Kerusuhan Jilid 3, Lihat Tabel 4. Kedua belah pihak mengalami
kerugian.
>
> Apa yang dapat kita simpulkan dari Kerusakan2 ini ????
>
>
> Mhoel =Soal janin yg dibelah, barangkali anda mencampuradukan
kerusuhan Poso dengan
> kerusuhan Sampit... Dayak versus Madura....
>
> Bud's = Anda tidak baca balasan e-mail saya sebelum ini ????,
siapa yang bilang Poso ??? itu kasus Ambon Bung, makanya lain kali
jangan Muter2 akhirnya anda Bingung sendiri, didalam kupasan saya
sebelumnya jelas kok. Ini saya Kutip ulang tulisan saya dan JANGAN
SALAH BACA LAGI YA " Untuk semua rangkaian kejadian di Ambon, bisa
dilihat di : ( http://www.fica.org/hr/Ambon.html ) Termasuk Foto2
dan ada juga Bp. Maakewe Yang Perut Isterinya yang lagi Hamil
dibelek ama Mayoritas untuk dikeluarkan Jamin anaknya .)
>
> Satu catatan : sebagai sambungan dari Kasus Tasik, anda mau tau
bagaimana Komentar orang2 Nasrani /
> http://www.parokinet.org/bandung/tasik/bara.htm TASIK BERGOLAK,
API BERKOBAR Oleh: Team Keuskupan Bandung
> ( tidak seperti kelompok Mayoritas ) adakah mereka menyuruh
JIHAD??? walaupun jelas yang membuat kerusuhan tersebut adalah
kelompok Mayoritas ??? . ini lanjutannya yang sengaja kami tidak
lampirkan waktu itu :
>
> Selain kerusakan materi, kerusuhan Tasikmalaya menelan korban
jiwa. Sampai sekarang diketahui sudah lima orang yang meninggal
dunia dalam peristiwa tersebut (3 orang dari korban kerusuhan dan 2
orang dari perusuh).
>
> Kita mungkin bertanya mengapa peristiwa sederhana yang terjadi
pada 19 Desember itu dapat menyulut kerusuhan yang menurut berbagai
sumber dilukiskan lebih dasyat dari apa yang terjadi di Situbondo.
Boleh jadi peristiwa ini merupakan cerminan dari kenyataan bahwa
masyarakat kita sedang sakit. Tidaklah mudah untuk menentukan causa
primanya. Lebih mudah untuk berharap bahwa kerusuhan berbau SARA
seperti ini tidak lagi terulang di masa depan.
>
> Kompleksitas Permasalahan
> Menanggapi kerusuhan Tasikmalaya, Mgr. Anicetus B. Sinaga,
menandaskan bahwa apa yang terjadi di Tasik hanyalah salah satu
dimensi dari kompleksitas permasalahan kemasyarakatan yang besar.
Melihat kemiripan antara peristiwa Tasikmalaya dan peristiwa
Situbondo, ia mengajak kita untuk belajar dan menyimaknya dengan
arif dan kepala dingin. Menurutnya dari peristiwa-peristiwa ini
diberi kesan bahwa terdapat ketidakpuasan pada bidang sosialisasi
demokrasi, di mana kelompok yang lebih sadar dari masyarakat,
seperti mahasiswa tidak mendapat akses tampungan aspirasi dengan
semestinya. Ada sejenis trombosi aspirasi di mana pihak pamong tidak
dapat lagi melihat unsur baik dan sumbangsih ikhlas dari generasi
muda dalam bahasa mereka sendiri. Dan unsur generasi muda/sadar
tidak dapat menghargai secara proporsional jasa dari generasi
terdahulu. Karena itu, menurut beliau 'gap' generasi ini perlu
disehatkan dengan asas musyawarah, dialog timbal-balik, suatu
wawancara hati yang ikhlas dari semua pihak.
>
> Ketua Komisi Hubungan antar-Agama dan Kepercayaan (HAK) KWI ini
lebih lanjut mengatakan bukan pekerjaan mudah membangun ekonomi
nasional yang tangguh dan merata. Tetapi kiranya tekanan harus
dialihkan dari pembangunan ekonomi menjadi pembangunan rakyat
Indonesia yang berkemampuan ekonomi. Justru di sini masalah etnis,
animositas terutama terhadap etnis Cina, menjadi sangat rawan. Hal
ini diperburuk lagi karena pada waktu yang bersamaan, moralitas
kejujuran, suri-panutan dan kesetiakawanan sebangsa dicabik-cabik
oleh berbagai jenis keserakahan, seperti korupsi, kolusi, monopoli,
nepotisme ditambah praktik-praktik kongkokongan, dalam selubung kata
dan jalan pintas. Budaya keramahtamahan dan kelemahlembutan serta
merta diganti oleh tindak kekerasan, baik dalam bentuk tawuran
pelajar, perampokan, penganiayaan, dan bahkan orang tahanan, yang
dititipkan di tangan aparat keamanan bersyaratkan praduga tak-
bersalah, tidak terjamin keselamatannya.
>
> Bidang hukum dan keadilan sangat mengenaskan. Banyak contoh yang
mencuat secara gamblang, di mana rakyat sangat dibri kesan bahwa
hukum di negeri kita ini tak layak lagi disebut dewi keadilan yang
murni. Cukup sering terjadi ialah bahwa hukum diabdikan kepada
kekuasaan atau kewibawaan sehingga dalam kenyataan yang kasat mata
sekalipun, masih dibutuhkan kambing hitam dan rekayasa. Kebenaran
dan nilai-nilai yang telah kita bangun dan sepakati dalam konsensus
nasional seperti terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945, sering
melenceng dari tujuan dasarnya. Kita membutuhkan panutan dan idola
kebangsaan dan kenegarawanan, tetapi kebenaran yang murni saja pun
telah terlalu sering menjadi komoditi langka yang sukar didapat
lewat surat kabar atau media massa. Pahlawan keadilan, seperti Adi
Handojo dengan gampang disepelekan dan disingkirkan. Rakyat
kebanyakan sangat kecewa dan terpaksa gigit jari. Penduduk
kebanyakan sering menjadi peserta penonton atau menjadi penanggung
pembangunan. Dalam pembangunan ekonomi, mereka sering digusur,
ditipu, dan dipreteli dari hak-haknya sebagai warga negara yang sama
hak dan kewajibannya.
>
> Pekerjaan Rumah
> Menyinggung bidang pembangunan keagamaan dan pembangunan kerukunan
umat beragama Uskup Sibolga ini mengatakan bidang ini masih
menyisakan PR yang sangat besar. Sejarah membuktikan bahwa kegagalan
dalam pembinaan kerukunan umat beragama telah menimbulkan konflik
dan perang yang berkepanjangan. Bandingkan konflik di Lebanon,
Irlandia, dan mantan negara Yugoslavia. Dengan tepat, masalah
kerukunan termasuk unsur SARA. Kita menjadi saksi, betapa gampang
dan dalam waktu yang singkat, hasil-hasil pembangunan diruntuhkan
dan dihanguskan dalam peristiwa pengrusakan di Surabaya, Situbondo,
dan Tasikmalaya.
>
> Beliau melihat tiga musuh besar bagi umat beragama dalam kerangka
membina kerukunan yang langgeng dan lestari. Dan ini sangat
berkaitan dengan kemanusiaan seluruhnya, tidak murni keagamaan.
Musuh pertama adalah semangat euforisme yang terluka. Dari keyakinan
bahwa agamaku yang paling benar dan terbaik (ini baik), secara tak
sadar hendak dicapai ialah agar agamaku harus memiliki akses
terbesar kepada kekuasaan dan peranan penentu dalam masyarakat.
Karena itu, segala usaha akan dikerahkan untuk mengkatrol orang-
orangnya memasuki posisi dan peranan penentu dalam masyrakat.
Tetapi, karena motifnya adalah kekuasaan, maka tersedia baginya
kegagalan dan frustrasi.
>
> Musuh kedua dari kelompok agama ialah semangat membentengi diri
dan melindungi kelompoknya dari kemungkinan infiltrasi luar. Sangat
kuat diusahakan agar jangan ada penganut agama lain menjadi
tetanggaku. Janganlah rumah ibadat orang lain dibangun dekat
kediamanku. Semuanya ini hanya menunggu saat untuk digusur oleh
waktu dan masa. Komunikasi kita telah membawa globalisasi yang
sangat deras sehingga bukan saja manusia sekampung menjadi pergaulan
hidup kita, bahkan orang di bulan atau perang di Bosnia dihadirkan
secara nyata di hadapan kita lewat TV, radio, surat kabar. Mobilitas
penduduk telah dipacu sehingga kita tidak tahu siapa besok yang akan
menjadi tetangga kita.
>
> Musuh ketiga ialah yang mungkin dapat disebut industrialisme dan
hedonisme sebagai buah-hasil dari pengembangan pembangunan teknologi
dan industrialisasi. Sengaja dipakai kata "isme" untuk memberi
distingsi bahwa dalam dirinya sasaran itu baik. Kesalahan dan yang
membuatnya "evil" ialah semangat pencapaiannya. Dahulu peranan
pemuka agama mendekati peranan "dewa". Sekarang, peranan itu
hanyalah salah satu dari sekian banyak pusat minat manusia.
Perhatian terbanyak diberikan pada hal-hal materi dan serba
menyenangkan. Mengatasi masalah ini dan mengupayakan "renaisans"
agama dalam dunia industri modern, diharapkan bahwa kelompok umat
beragama tidak lagi bertengkar antar mereka sendiri mengenai hal-hal
yang mungkin tidak relevan lagi. Seyogyanya, mereka saling
menghampiri dan saling belajar serta saling bekerja sama menemukan
cara-cara penghayatan dan pengamalan kaidah agama terbaru.
>
> Sikap Kita
> Anggota tarekat Capusin ini mengajak kita untuk pertama-tama
menerima musibah ini dengan jiwa besar, bahkan dengan rasa syukur.
Lewat peristiwa-peristiwa seperti ini, bukan hanya terasa tetapi
terbukti bahwa iman kita semakin murni dan kuat. Dalam keadaan
seperti itu, kita semakin terpanggil untuk mendoakan, bersambung
rasa dengan saudara-saudara kita yang kena musibah. Adalah panggilan
kita untuk mendoakan mereka, juga yang mungkin secara tak sadar
telah berbuat kesalahan, padahal disangkanya berbuat keutamaan.
>
> Selanjutnya, marilah kita mengamalkan anjuran para pemimpin agama
kita lewat Surat Gembala Natal bersama. Kita dihimbau untuk
bersikukuh dalam Yesus sebagai Raja Cinta dan Raja Damai. Cinta
sejati seperti ditunjukkan oleh Tuhan Yesus tidak berhenti berbuat
baik kepada semua orang, kendati Dia telah menjadi objek penyesahan
dan penyaliban: "Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang
diperbuatnya." Dan Kristus adalah Raja Damai, Penasihat Agung dan
Emanuel, Allah beserta kita. Kita kuat di dalam Dia yang menguatkan
kita. Dalam hal inilah, kita diingatkan oleh para uskup Indonesia
dalam Surat Gembala 1992, Persaudaraan Sejati. Kita memandang sesama
warganegara bahkan semua umat manusia sebagai saudara sejati, yang
membutuhkan cinta kasih dan asuh-asih kita.
>
> Berbicara dari dalam...
> Sementara itu, Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djajasiswaja dalam
Surat Gembalanya, yang dibacakan di semua Gereja Katolik dalam
Keuskupan Bandung menyatakan rasa prihatinnya atas peristiwa yang
terjadi di Tasikmalaya dan mengungkap rasa sepenanggungannya dengan
umat Katolik di Tasikmalaya. Selanjutnya ia menggarisbawahi kembali
apa yang telah dikatakannya dalam buku Panduan Umat Katolik
Keuskupan Bandung. "Pertama-tama kita sadar bahwa kita adalaaah
warga masyarakat Jawa Barat". Konsekwensi dari kenyataaan ini,
demikian uskup, kita tidak hanya bangga atas segala yang baik dan
indah. Kita pun perlu sadar akan kekurangan, bahkan penyakit gawat
yang menghinggapi bangsa kita. Uskup menyebut dua hal yang merupakan
penyakit gawat yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, yaitu: makin
lebarnya 'gap' antara kaya dan miskin dan soal ketidakpastian
hukum "Perlulah sekarang ini kita menerobos suatu yang mungkin
sekali kita belum biasa. Karena kebiasaan kita umumnya hanya
berbicara dari luar. Perlu bicara dari dalam. Maksudnya perlu
terlibat di dalamnya. Kita perlu terlibat didalam bangsa ini secara
nyata, termasuk dengan segala kekurangan bahkan dengan penyakitnya
pula. Kita bicara dari dalam, kita menyembuhkannya dari dalam: kita
ingin memikul dan menanggung penyakit bangsa kita. Ini sebenarnya
prinsip inkarnasi, yang intinya kita rayakan baru-baru saja,
kelahiran, kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus," tandas Uskup.
>
> Kini, sembari menatap puing-puing kehancuran, beranikah kita untuk
menyatakan terima kasih kita kepada Yesus karena kita boleh ikut
memanggul salib bersama Dia?
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Mhoel
> To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
> Sent: Wednesday, September 27, 2006 8:12 PM
> Subject: Re: [ppiindia] Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!!
>
>
>
> Silahkan anda baca laporan komplit plit di bawah, sebagai
jawaban atas
> pertanyaan sederhana anda.
> Berikut kronologis awalnya.
>
> Komposisi penduduk KABUPATEN POSO juga ada di bawah, lebih
detail dari DATA
> DEPAG or Tempo yang anda sodorkan.
>
> Dari Tabel di bawah diperoleh KOMPOSISI JML PENDUDUK KABUPATEN
POSO sebagai
> berikut :
> Muslim= 49.25%,
> Kristen = 50.75%,
> beragama lainnya = 0.45%
>
> Soal janin yg dibelah, barangkali anda mencampuradukan kerusuhan
Poso dengan
> kerusuhan Sampit... Dayak versus Madura....
>
> Selamat membaca....
>
> Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik
Sosial di Poso,
> Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November
2000, h. 92
>
> http://ristek.tripod.com/rubrik/dep_2/poso_1.htm#tabel_1
>
> SERIAL KONFLIK SOSIAL DI POSO:
> LUBANG MENUJU DISINTEGRASI BANGSA?
>
> I. PENDAHULUAN
>
> Kabupaten Poso mencakup wilayah dari arah tenggara ke barat daya
dan melebar
> dari arah barat ke timur dan sebagian besar berada di daratan
seluas
> 29.923,88 km2 atau 43,98% dari luas daratan Provinsi Sulawesi
Tengah.
> Wilayah lainnya mencakup laut dan sebanyak kurang lebih 81 pulau
yang sudah
> bernama, 40 pulau di antaranya berpenghuni. Tidak heran bila
dibadingkan
> dengan luas kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah, Poso mempunyai
kawasan
> paling luas.
>
> Alam yang menghampar di kota Poso-240 km arah timur dari kota
Palu (ibukota
> Provinsi Sulawesi Tengah) niscaya merupakan salah satu dari yang
terindah di
> sepanjang garis katulistiwa di Indonesia. Di kota ini terdapat
danau di
> Tentena yang memukau, Kepulauan Togean yang fantastik dan Teluk
Tomini yang
> merupakan kawasan spesifik dalam gugusan garis edar matahari.
Kekayaan
> sumberdaya alam Poso baik di dalam laut di kawasan Teluk Tomini,
Sungai dan
> Danau Poso maupun kesuburan lahan serta hasil hutan dan
tambangnya sungguh
> tidak ternilai. Salah satu dari kekayaan hasil hutan yang sangat
dibanggakan
> dan penghasil terbesar di Indonesia adalah kayu hitam (ebony),
selain kayu
> besi, kayu agathis, meranti, damar dan rotan.
>
> Lambang daerah Kabupaten Poso menggambarkan sebuah rumah yang
disinari oleh
> bintang (semangat keagamaan yang tinggi) dan dikelilingi oleh
padi dan kapas
> (lambang kemakmuran) di atas daratan yang bergelombang, lautan
yang tenang
> dan pegunungan yang damai. Di bawah lambang ini tertulis sintuwu
maroso
> (artinya: persatuan yang kuat). Di dalam kehidupan sehari-hari,
semangat
> yang ingin ditampilkan dalam lambang itu dirasakan kurang
lebihnya sesuai
> dengan realitas kehidupan masyarakat Poso ketika itu dalam waktu
yang lama.
> Ini berlangsung hingga tibanya era reformasi. Malang tak dapat
ditolak,
> untung tak dapat diraih. Kerusuhan yang melanda berbagai wilayah
bumi
> Nusantara tampaknya tak luput pula menghampiri Poso.
>
> Kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Poso
diduga lebih
> bernuansa suku dan agama. Selain itu, suasana politik setempat
saat itu
> sangat mempengaruhi polarisasi antar kelompok yang bermuara pada
kepentingan
> para elit politik setempat selain peranan militer. Lambannya
penanganan oleh
> aparat memungkinkan konflik yang sebenarnya bisa diredam lebih
dini menjadi
> berkembang semakin luas. Implikasinya adalah hilangnya jiwa dan
harta benda
> dalam jumlah besar.
>
> Kerusuhan sosial di Poso terjadi secara berkesinambungan.
Kerusuhan pertama
> (pengamat, peneliti, pers dan masyarakat setempat populer
menyebutnya dengan
> Jilid I) berlangsung 24 Desember 1998, kerusuhan sosial kedua
(Jilid II)
> berlangsung pada 16 April 2000, dan kerusuhan ketiga (Jilid III)
terjadi
> hanya selang sebulan kemudian, yaitu pada 16 Mei 2000.
>
> II. KEANEKARAGAMAN: BERKAH ATAU ANCAMAN?
>
> Kabupaten Poso mempunyai penduduk yang sangat beragam. Beberapa
suku asli
> mendiami kawasan ini, antara lain suku Pamona, Lore, Mori,
Bungku dan
> Tojo/Una-una. Suku-suku pendatang dalam jumlah yang besar
berasal dari
> Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar dan Toraja) dan Sulawesi Utara
(Gorontalo
> dan Minahasa), di samping puluhan ribu pendatang yang secara
terencana
> didatangkan Pemerintah melalui program transmigrasi dari Jawa,
Bali dan Nusa
> Tenggara.
>
> Suku asli Pamona merupakan penduduk mayoritas di Kecamatan
Pamona Utara,
> Kecamatan Pamona Selatan dan Kecamatan Lage. Suku Lore adalah
suku mayoritas
> di Kecamatan Lembo dan Kecamatan Mori Atas. Suku Ampana
merupakan suku
> mayoritas di Kecamatan Ampana Kota, Kecamatan Ampana Tete dan
Una-una. Suku
> Tojo merupakan suku mayoritas di Kecamatan Tojo. Suku Tojo dan
Ampana banyak
> juga yang tinggal di Kecamatan Ulubongka. Di Kecamatan Poso Kota
dan
> Kecamatan Poso Pesisir komposisi penduduk atas dasar suku jauh
lebih
> beragam, baik penduduk asli maupun pendatang dari luar kabupaten
dan
> provinsi.
>
> Di kalangan suku-suku asli, orang Pamona, Lore dan Mori dikenal
sebagai
> penganut agama Kristen (umumnya Protestan). Sementara orang
Ampana dan
> Tojo/Una-una dikenal sebagai penganut Islam. Kaum pendatang
Bugis/Makassar
> dan Gorontalo dan transmigran dari Jawa dan sebagian Nusa
Tenggara adalah
> penganut Islam. Sementara penganut Kristen di kalangan pendatang
berasal
> dari Toraja dan Minahasa, dan di kalangan transmigran berasal
dari sebagian
> Nusa Tenggara dan Jawa. Orang-orang Bali di manapun adalah
penganut Hindu,
> demikian pula di Poso. Komposisi penduduk menurut kecamatan
selengkapnya
> dapat dilihat pada Tabel 1 (Lampiran).
>
> Perbedaan-perbedaan ini selama kurun waktu yang lama tidak
mempunyai masalah
> apapun. Dalam suasana seperti ini, persaingan antar etnik atau
antar agama
> dapat dikatakan hampir tidak ada. Penduduk asli dan pendatang
hidup
> berdampingan secara damai hingga kurang lebih tahun 1990an.
>
> III. KRONOLOGI KONFLIK
>
> 1. Konflik Sosial Jilid I
>
> Kerusuhan pertama (populer dengan sebutan Jilid I) bermula pada
24 Desember
> 1998. Secara harfiah, kerusuhan dipicu oleh pembacokan Ahmad
Ridwan oleh Roy
> Runtu Bisalembah, seorang pemuda Kristen di kampung Lambogia.
>
> Namun, jauh sebelum peristiwa ini terjadi, ada beberapa fakta
yang perlu
> diungkap karena merupakan bibit-bibit permusuhan antara pihak-
pihak yang
> bertikai. Pada tahun 1992, masyarakat muslim resah karena salah
seorang
> penginjil, Rusli Labolo (semula beragama Islam, kemudian masuk
Kristen dan
> menjadi pendeta) menghujat Muhammad s.a.w., nabinya orang Islam.
Pada 15
> Februari 1995, sekelompok pemuda Kristen di Madale yang telah
dilatih
> beladiri selama 4-6 bulan melempari masjid dan madrasah di
Tegalrejo.
> Sebagai akibatnya, sebanyak lebih kurang 3000an pemuda Islam
dari Tegalrejo
> dan Lawanga melakukan pembalasan dengan merusak 3 rumah di
Madale.
>
> Pada 24 Desember 1998 sekelompok pemuda Kristen Lambogia yang
mabuk
> mendatangi kelompok muslim di masjid Pondok Pesantren Darussalam
di
> Kelurahan Sayo. Seorang jemaah, Ahmad Ridwan (21 tahun) yang
sedang tidur di
> masjid, dibacok lengannya oleh Roy Runtu Bisalembah. Sebagai
akibatnya,
> warga Poso menjadi tegang. Masalahnya, suasana keagamaan pada
saat itu
> justru membutuhkan ketenangan. Di satu pihak, umat muslim sedang
puasa di
> bulan Ramadhan, di lain pihak umat Kristiani sedang menjelang
Natal.
>
> Pada 25 Desember 1998, seusai sembahyang Jum'at massa Islam yang
marah
> karena peristiwa pembacokan ini melakukan aksi pelemparan Toko
Lima yang
> diduga sebagai tempat persembuyian pelaku pembacokan. Massa
kemudian
> bergerak untuk merampas minuman keras dan menghancurkan tempat-
tempat
> hiburan seperti bilyar, panti pijat, toko minuman keras dan
hotel, yang
> dipandang mengganggu suasana ibadah bulan Ramadhan.
>
> Pada 26 Desember 1998, suasana semakin mencekam dan memanas.
Pada hari ini
> terjadi tawuran massal yang berlangsung hingga esok harinya.
>
> Pada 27 Desember 1998 diadakan pertemuan antara para pemuka
agama dan tokoh
> masyarakat yang bersangkutan untuk mendamaikan kedua kelompok
massa yang
> bertikai. Namun pada hari yang sama, massa Kristen pimpinan
Herman Parimo
> memasuki kota Poso yang menyulut pertikaian sehingga berkobar
lagi. Sebanyak
> 81 buah rumah -sebagian besar milik orang Islam dibakar.
>
> Pada 28 Desember 1998 pasukan Kelompok Merah pimpinan Herman
Parimo kembali
> memasuki Poso dan berhasil melewati blokade aparat kepolisian.
Masyarakat
> Kelompok Putih Poso, terutama warga Bonesompe, Kaimanya dan
Lawanga dan dari
> Parigi dengan ribuan massa, sebagian di antaranya dengan
menumpang 27 mobil
> truk, pick-up dan perahu motor, berhasil menghalau pasukan
Kelompok Merah
> dari Poso.
>
> Pada 29 Desember 1998 situasi Poso berangsur-angsur aman,
meskipun di setiap
> kelurahan tetap dilakukan penjagaan oleh aparat keamanan dan
masyarakat
> setempat. Di beberapa lokasi pembakaran, api masih terlihat
menyala.
>
> Pada 30 Desember 1998 aktivitas perekonomian Poso mulai
menggeliat yang
> ditandai dengan semakin ramainya Pasar Sentral Poso dengan
pedagang dan
> angkutan kota. Sebagian warga Poso, meskipun demikian, masih
tinggal di
> pengungsian, di Tentena, Parigi dan Ampana. Konon, dikemudian
hari, Herman
> Parimo ditangkap di Makassar ketika berupaya menemui Pangdam
untuk
> mendapatkan jaminan atas penyerahan dirinya. Setelah melalui
proses hukum,
> Herman Parimo divonis 14 tahun penjara dan diisukan meninggal.
>
> Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid I Lihat: Tabel 2 Lampiran.
>
> 2. Konflik Sosial Jilid II
>
> Jauh sebelum terjadi konflik, proses penjaringan bakal calon
Bupati Poso
> dimulai. Hingga Maret 1999, sejumlah nama masuk dalam nominasi
seperti Akram
> Kamaludin, Abdul Malik Syahadat, Abdul Muin Pusadan, Damsyik
Ladjalani,
> Ismail Kasim. Sementara proses ini berlangsung, terjadi
pertemuan antara
> Yahya Patiro-seorang tokoh Kelompok Merah yang diisukan sebagai
salah satu
> penggerak kerusuhan pertama-dan 50 orang remaja masjid Poso.
Usai pertemuan,
> segerombolan pemuda dengan menggunakan truk mencari Yahya Patiro
dan
> memporakporandakan Hotel Wisata Poso-tempat berlangsungnya
pertemuan. Tokoh
> yang dicari sudah meloloskan diri.
>
> Pada April 1999, dilakukan penentuan Bupati Poso. Salah seorang
figur
> terkuat, Abdul Malik Syahadat terlempar dari pencalonan karena
tidak ada
> fraksi yang mencalonkan. Pada minggu kedua Mei 1999 muncul Abdul
Muin
> Pusadan (konon didukung Gubernur Sulsel) dan Eddy Bungkundapu
(konon
> didukung Baramuli) sebagai calon-calon unggulan. Namun salah
seorang anggota
> DPRD Provinsi Sulteng, Chaelani Umar (FPP) mengatakan, jika
aspirasi yang
> menghendaki Damsyik Ladjalani menjadi Sekwilda Poso diabaikan,
Poso yang
> pernah diguncang kerusuhan bernuansa etnis-agama akan rusuh lagi.
>
> Malamnya, terjadi insiden antara dua pemuda Lambogia dan pihak
lain di
> terminal Poso. Ini memicu warga asal Lawanga mendatangi warga
Lambogia di
> depan gereja Pniel menginformasikan akan ada massa dari
Kalamanya dan
> Lawanga. Massa langsung melempari rumah-rumah penduduk Kristen
di sekitar
> gereja. Setelah sempat dikendalikan aparat keamanan, pada
keesokan harinya
> massa datang ke Lambogia lagi meskipun tidak terjadi insiden
apapun.
>
> Juni 1999, Arief Patanga diberhentikan Gubernur Sulsel dari
jabatannya
> sebagai bupati dan digantikan Haryono, seorang dari kalangan
militer,
> sebagai caretaker, untuk mempersiapkan pemilihan Bupati Poso yang
> dilaksanakan 30 Oktober 1999. Pemilihan yang demokratis
menghasilkan Abdul
> Muin Pusadan (16 suara) terpilih sebagai Bupati yang baru,
sementara Mashud
> Kasim memperoleh 13 suara dan Eddy Bungkundapu 10 suara.
>
> Pada 16 April 2000 sebanyak 25 massa Islam dengan menggunakan
truk menuju
> tengah kota dan menumpahkan minuman keras (yang dirampas dari
salah satu
> rumah di dekat Gereja Sidang Jemaat Allah) ke jalan sambil
berteriak-teriak.
> Malam harinya, terjadi pemusatan massa Islam dan terjadi
pembakaran
> rumah-rumah penduduk Kristen (di Kelurahan Pantoan), kios
(setelah isinya
> dijarah) di Kelurahan Pangajouw Lumenta. Massa Kristen akhirnya
terpancing
> untuk melakukan pembalasan. Terjadi bentrokan antar kedua massa
yang
> berlangsung hinggi esok hari.
>
> Kerusuhan ini berlangsung lagi esok harinya, 17 April 2000.
Dalam massa
> Kristen terdapat beberapa orang dengan memakai seragam ala Ninja
sambil
> menantang dengan parang ke arah massa Islam di perempatan
terminal Poso.
> Massa Islam terpancing dan berusaha menyerang. Kedua kelompok
saling serang.
> Upaya peredaan situasi kota Poso dan pencegahan keterlibatan
massa dari luar
> Poso dilakukan. Namun pada siang hari, massa Islam mulai
menjarah, membakar
> rumah penduduk Kristen dan Gereja Pniel, Gedung Serba Guna
Jemaat Pniel,
> Pastori Jemaat Pniel Poso, Bengkel Honda dan pertokoan di
sekitar perempatan
> Tentena. Brimob kewalahan mengendalikan massa. Mereka menembak 2
orang dari
> massa Islam hingga tewas. Setelah penguburan, massa Islam menuju
ke Lambogia
> dan membakar rumah hunian sebanyak 127 rumah, 2 gereja, gedung
SD, SMP, SMU
> Kristen, Gedung Bayangkari dan sebagian asrama Polres.
Pengungsian terjadi
> secara besar-besaran penduduk Kristen Poso ke arah Madale,
Kampompa, Lage,
> Pamona Utara, Bukit Bambu, wilayah Poso Pesisir dan sebagainya.
Sore hari
> aksi brutal ini berhenti. Terjadi hujan lebat.
>
> Esok harinya, 18 April 2000 terjadi aksi pembakaran rumah
penduduk di
> wilayah Kelurahan Lambogia dan Kasintuvu termasuk Gereja Advent
Kasintuvu
> dan pelemparan dan perusakan gereja di Jl. Gatot Subroto.
Gubernur Sulsel
> berupaya untuk meredakan pihak-pihak yang betikai dengan
mengunjungi para
> pengungsi. Ini diikuti dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat
setempat.
>
> Pada 19 April 2000 ditemukan mayat seorang muslim di Lambogia di
puing-puing
> rumah keluarga Kristen. Massa Islam kembali marah dan berlanjut
dengan
> pembakaran sisa-sisa rumah penduduk warga Kristen di Lambogia
dan Kelurahan
> Kasintivu dan gereja Pantekosta dan gereja di Jalan Sam
Ratulangi. Pada
> tengah hari, terjadi pembunuhan 2 orang Kristen, satu di depan
bengkel Honda
> dan satu lagi di perempatan Tentena. Polisi berhasil memukul
mundur massa
> Islam yang beringas hingga ke masjid Darussalam. Selesai solat
Bupati Abdul
> Muin Pusadan berusaha menenangkan massa dan menghimbau
dihentikannya
> pertikaian. Bahkan seorang ulama kharismatik, H. Amin Lasawedi,
ternyata
> masih dianggap sebagai tokoh baik oleh ummat Islam maupun
Kristen dan
> memohon sang ulama untuk mendo'akan agar Poso kembali aman
seperti semula.
>
> Namun, 20 April 2000 sebagian massa Islam masih melakukan
pemburuan warga
> Lambogia dan perusakan rumah penduduk dan gereja di Bukit Bambu.
Esok
> harinya, Pangdam Wirabuana tiba di Poso dan melakukan pembersihan
> palang-palang dan pos-pos di beberapa desa yang dibuat massa
Islam. Situasi
> keamanan dapat dikendalikan hingga dilaksanakannya pertemuan-
pertemuan antar
> berbagai kelompok, tokoh masyarakat maupun pemerintahan, lembaga-
lembaga
> keagamaan terkait di satu pihak dan aparat keamanan di lain
pihak.
>
> Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid II lihat: Tabel 3 Lampiran.
>
> 3. Konflik Sosial Jilid III
>
> Dua minggu setelah aksi damai dilakukan, pada bulan Mei 2000
masyarakat Poso
> dikejutkan dengan beredarnya isu akan adanya penyerangan balik
dari Tentena
> yang merupakan basis Kelompok Merah (Kristen). Arus pengungsi
masyarakat
> Kristen di Poso menuju Tentena, Lembah Napu, Palu dan Manado
dari hari
> semakin deras.
>
> Hasil investigasi seorang wartawan selama 9 hari atas kebenaran
isu
> menunjukkan bahwa ternyata terdapat tanda-tanda pengerahan massa
Kristen di
> Bungku Barat, Beteleme, Kolonedale, Tentena, Kelei, Betue,
Sanginora dan
> Poso Pesisir. Laporan bahkan menyatakan di desa Kelei terdapat
pelatihan
> bela diri pasukan Merah dan di Sanginora terdapat penggalian
lubang-lubang
> besar sebanyak tiga buah dengan menggunakan alat-alat berat
milik seorang
> pengusaha Poso.
>
> Pada 16 Mei 2000 pecahlah Kerusuhan Sosial Jilid III. Ini
dtandai dengan
> terbunuhnya seorang warga muslim di Taripa dan rencana
pembunuhan terrhadap
> seorang petugas penyuluhan Kecamatan Pamona Utara beserta
keluarganya dan
> terhadap pemilik warung surabaya di Taripa pada 18 Mei 2000.
Pada 19 Mei
> 2000 massa Kelompok Merah (Kristen) mulai melakukan
> penghadangan-penghadangan terhadap kendaraan umum yang lewat
gereja di
> Taripa. Aparat keamanan berhasil menggagalkan kegiatan ini.
Pengungsian
> warga Kristen semakin gencar, antara 15 dan 20 truk setiap
harinya dari kota
> Poso menuju pusat-pusat konsentrasi Kelompok Merah.
>
> Pada 20 Mei 2000, seorang penyusup yang mengikuti latihan bela
diri di desa
> Kelei berhasil lolos dan menyebarkan informasi di terminal bus
kota Poso
> akan adanya penyerangan Kelompok Merah dari arah Tentena.
Informasi ini
> dengan segera menyebar dan meluas di kalangan masyarakat yang
menimbulkan
> keresahan dan kecemasan. Masyarakat mulai menghubungkan akan
adanya
> pengungsian besar-besaran di satu pihak dan adanya rencana
penyerangan
> Kelompok Merah di lain pihak. Masyarakat Islam di Sintuvulembah,
Pondok
> Pesantren Walisongo, Tagolu, Sepe, Silanca dan Toyado mulai
diintimidasi
> oleh oknum-oknum masyarakat Kelompok Merah.
>
> Pada 23 Mei 2000 malam, Kapolres Poso melakukan pertemuan dengan
semua
> komponen masyarakat dan pemerintah daerah. Tiba-tiba diketahui
informasi
> bahwa pemuda Islam di Kalamanya sudah turun ke jalan karena
malam itu akan
> ada penyerangan Kelompok Merah. Peserta rapat berusaha
mengkonfirmasikan
> informasi ini kepada Tripika (Camat, Koramil, Kapolsek) di
Pamona Utara.
> Jawabannya, tidak benar ada pemusatan massa di Tentena dan tidak
benar akan
> ada penyerangan dari arah Tentena. Berdasarkan informasi ini,
Kapolres
> meminta Pemda membuat pengumuman kepada masyarakat. Mobil
penerangan yang
> berkeliling ke seluruh penjuru kota pada malam itu
menginformasikan tidak
> benarnya rencana penyerangan terhadap kota Poso. Masyarakat kota
Poso
> percaya informasi itu karena Pemda sendiri yang mengumumkan.
Masyarakat
> kembali tenang.
>
> Namun pada 24 Mei 2000 dinihari muncul pasukan penyerang
sebanyak 12 orang
> dengan seragam ala Ninja dari depan Pasar Sentral menuju
Kelurahan
> Kalamanya. Pasukan ini kemudian dikenal sebagai Pasukan
Kelelawar atau
> Pejuang Pemulihan Keamanan Poso di bawah pimpinan Fabianus Tibo
(55 tahun)
> melewati 7 pos penjagaan siskamling (sistem keamanan
lingkungan). Tidak
> satupun petugas ronda yang dilukai, karena pasukan ini mencari
para
> provokator pada kerusuhan Jilid II. Salah seorang polisi yang
berusaha
> menghentikan laju pasukan Ninja langsung ditebas. Demikian pula
dua warga
> dewasa muslim lainnya menemui ajalnya karena ditebas secara
biadab. Pada
> saat itu, massa Islam mulai berkumpul sehingga Pasukan Kelelawar
melarikan
> diri menuju sekolah Katholik. Pimpinan pasukan diminta
menyerahkan diri,
> namun aparat kepolisian tidak langsung menangkap Tibo cs,
sehingga mereka
> kabur. Tiga (3) anggota pasukan -semuanya berasal dari suku
Flores,
> transmigran asal desa Kamba--berhasil ditangkap. Massa Islam
yang marah
> langsung mengamuk dan membakar komplek sekolah dan rumah ibadah
di sekitar
> komplek.
>
> Pada 25 Mei 2000 bantuan massa Islam dari Ampana Kota
berkekuatan 7 truk
> menuju Poso. Pada saat memasuki Toyado, Kecamatan Tojo pasukan
ini bentrok
> dengan massa Kristen dari Silanca, Sepe, Tagolu, Batugencu dan
Toyado yang
> memang siap melakukan penghadangan-penghadangan. Kelompok Putih
dipukul
> mundur. Desa Toyado kemudian dibakar oleh Kelompok Merah dengan
meninggalkan
> sebuah masjid. Dua (2) orang tewas dan 16 orang luka-luka dari
Kelompok
> Putih. Kelompok Putih dari Parigi berusaha membantu memulihkan
keamanan dan
> menawarkan kemungkinan pemindahan ibukota ke Parigi untuk
sementara. Pemda
> Poso menolak tawaran ini dan menyatakan masih sanggup memulihkan
keamanan
> dan melindungi kaum muslimin Poso. Pada hari yang sama, di desa
> Sintivulembah, Tagolu mulai terjadi penculikan dan pembunuhan
masyarakat
> minoritas muslim.
>
> Pada 26 Mei 2000, pasukan Kelompok Merah dari arah Sanginora
mencoba
> memasuki Poso dari arah barat (Poso Pesisir). Pasukan Merah
minta agar
> pos-pos penjagaan dikosongkan karena mereka akan lewat secara
damai. Rapat
> Tripika menyetujui permintaan ini. Kediaman Bupati sendiri,
karena kondisi
> keamanan yang semakin gawat dipindahkan ke Kodim Poso. Sementara
itu di
> desa-desa Toyado dan Tongko pembakaran rumah-rumah muslim oleh
pasukan
> Kelompok Merah dari Tagolu masih berlangsung.
>
> Pada 27 Mei 2000 terjadilah bentrokan besar secara frontal
antara pasukan
> Merah dari Sanginora yang melintasi Poso Pesisir. Pasukan Merah
telah
> melanggar perjanjian dengan Tripika setempat karena melakukan
penyerangan
> lebih dulu di Mapane yang dilanjutkan dengan pembakaran tiga (3)
rumah
> penduduk muslim. Pasukan Merah gagal memasuki kota Poso karena
dipukul
> mundur Pasukan Putih. Mereka melampiaskan kemarahannya dengan
membakar
> rumah-rumah penduduk muslim di sepanjang poros jalan Trans
Sulawesi.
>
> Pada 28 Mei 2000 sejumlah pengungsi Poso Pesisir yang datang ke
Pondok
> Pesantren Al Chairat sangat marah mendengar penuturan tentang
ulah Kelompok
> Merah yang membakar seluruh rumah di desa-desa Tabalu, Bega,
Tiwaa,
> Tambarana, Kasiguncu, Mapane. Siangnya, pengurus Pondok
Pesantren (Ponpes)
> Walisongo mempertanyakan kepada Pasukan Merah di Tagolu, mengapa
mereka
> diteror dan tidak diizinkan aparat untuk mengungsi ke Kompi 711
Kawua. Massa
> Islam yang akan mengungsi dicegah Camat dan Kapolsek Lage.
Pimpinan Pasukan
> Merah, Tibo, mengizinkan mereka mengungsi. Namun tak lama
kemudian Pasukan
> Merah menyerang desa Sintivulembah, menyandera kaum perempuan
dan anak-anak,
> dan mulai melakukan pembantaian terhadap kaum pria muslim.
Demikian pula di
> Ponpes Walisongo, sebanyak 70 orang pengurus dan santrinya
dibantai di dalam
> masjid oleh Kelompok Merah. Wanita dan anak-anak yang belum
sempat
> menyingkir mengalami perkosaan dan pelecehan seksual. Di
beberapa tempat di
> poros jalan Poso-Pendolo Mangkutana terjadi penghadangan dan
penyanderaan
> warga muslim yang menggunakan kendaraan pribadi dan umum. Atas
peristiwa
> yang mengerikan dan menggegerkan ini, sebanyak 12 organisasi
muslim mengutuk
> tindakan Pasukan Merah, meminta aparat keamanan untuk menindak
para perusuh
> dan meminta bantuan Pangdam Wirabuana untuk segera mengirim
pasukan ke Poso.
>
> Pada 29 Mei 2000 terjadi pertempuran yang sengit di Tokorondo
antara Pasukan
> Merah dan Pasukan Putih dari Parigi dan Ponpes Al Chairat Palu.
Sebanyak dua
> (2) orang muslim tewas. Pertempuran masih berlangsung hingga 30
Mei 2000 di
> Poso Pesisir. Berdasarkan saksi-saksi mata, Pasukan Merah
menggunakan
> senjata organik M-16 dan Thomson, 2 buah helikopter warna putih
yang
> menembaki Pasukan Putih dari pesawat. Pada hari ini pula kota
Poso dikepung
> dari empat penjuru, yaitu Tegalrejo, Sayo, Kayamanya dan kawasan
BTN/PDAM.
> Kota Poso sangat mencekam. Terjadi eksodus besar-besaran warga
Poso ke
> Ampana Kota, Kepulauan Togean, Parigi dan Gorontalo lewat laut
dengan
> menggunakan perahu Katinting, kapal barang dan kapal
tradisional. Konon,
> bala bantuan Brimob dari Makassar tertahan di Tentena.
>
> Pada 31 Mei 2000 kota Poso semakin mencemaskan karena diserbu
sebanyak
> 7.000 - 8.000 orang Pasukan Merah. Massa Kelompok Putih yang
masih tersisa
> sekitar 100 orang bersama pasukan dari Kodim dan Polres mencoba
melawan.
>
> Pada 1 Juni 2000, ditemukan sebanyak 28 mayat tanpa kepala dan
tanpa kaki
> yang sudah membusuk di dalam masjid di Tagolu desa Sintuvulembah.
> Pertempuran masih terjadi di Kalora. Permukiman penduduk muslim
dibakar
> hingga penghuninya mengungsi ke Parigi. Kelompok Merah seolah-
olah sudah
> hampir menaklukkan kota Poso. Aparat mulai menerapkan siaga
tertinggi dengan
> perintah tembak di tempat terhadap pelaku kerusuhan.
>
> Pada 2 Juni 2000 Pasukan Merah berkekuatan 9 truk memasuki Poso
dipimpin
> tokoh Pejuang Pemulihan Kota Poso, Ir. AL Lateka. Pasukan Putih
dipimpin
> Habib Saleh Al Idrus melawan sekuat tenaga. Ketika kedua
pimpinan pasukan
> berhadapan, Habib berhasil memukul Lateka dengan rotan pada
tengkuknya
> sehingga mati. Ini menyebabkan moral Pasukan Merah jatuh dan
mundur kembali.
> Kota Poso kembali dikuasai Pasukan Putih. Penyerangan Pasukan
Merah sejak
> peristiwa itu hanya bersifat sporadis, terutama di Kecamatan
Lage, Desa
> Toini dan Sayo, Meko, Boe, Toinasa di Pendolo.
>
> Upaya-upaya pemulihan keamanan dilakukan oleh Pasukan Brimob
dari Kelapa Dua
> Jakarta (menggunakan sandi Operasi Sadar Maleo) dan bantuan
Pasukan TNI
> Zipur dan Zeni dari Makassar (menggunakan sandi Operasi Cinta
Damai). Daerah
> operasi mencakup seluruh kota dan sekitarnya, seperti Poso,
Parigi dan
> Ampana Kota, Tentena, desa Kelei dan Beteleme. Selama 2 bulan
operasi,
> Pasukan Merah berhasil dilumpuhkan.
>
> Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid III lihat Tabel 4 Lampiran.
>
> IV. ANATOMI KONFLIK
>
> Konflik sosial yang berkesinambungan di kota Poso dapat
dianalisis dengan
> kerangka teori "anatomi 4 faktor". Keempat faktor tersebut
adalah sebagai
> berikut:
>
> Faktor yang memungkinkan terjadinya konflik (facilitating
factor), yaitu
> sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli di
satu pihak
> dan kaum pendatang di lain pihak;
> Faktor penyebab utama (core of the problem) yaitu
termarginalisasikannya
> secara sosial-ekonomi-politik kelompok masyarakat yang merasa
pentingnya
> keseimbangan antara kelompok Islam dan Kristen;
> Faktor yang berfungsi sebagai penyulut konflik sosial (fuse
factor) yaitu
> pertarungan elit politik setempat; dan
> Faktor yang membuat penumpukan kejengkelan (grudges factor),
yaitu
> keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga.
>
> 1. Sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli
di satu
> pihak dan kaum pendatang di lain pihak
>
> Sentimen atas dasar suku dan agama antara penduduk asli dan
pendatang sangat
> mudah tersulut karena beberapa fakta berikut ini sangat
dirasakan oleh
> pihak-pihak terkait, terutama masyarakat Poso: (a) adanya
pembacokan seorang
> muslim di dalam masjid oleh seorang Kristen yang menyulut
Kerusuhan Jilid I;
> (b) pemusnahan dan pengusiran suku-suku pendatang seperti Bugis,
Jawa,
> Gorontalo dan Kaili yang beragama Islam pada waktu Kerusuhan
Jilid III
> terjadi; (c) praktek-praktek pemaksaan agama Kristen pada
masyarakat muslim
> di daerah-daerah pedalaman, terutama di Tentena, Dusun III Lena,
Sangira,
> Toinasa, Boe dan Meko mengindikasikan bahwa upaya-upaya dari
agama tertentu
> dilakukan secara sistematis; (d) penyerangan Kelompok Merah
dengan
> menggunakan sandi simbol-simbol perjuangan agama Kristiani pada
Kerusuhan
> Jilid III; (e) pembakaran rumah-rumah penduduk muslim oleh
Kelompok Merah
> pada Kerusuhan Jilid III, sementara pada Kerusuhan Jilid I dan
Jilid II
> terjadi pembakaran rumah penduduk baik oleh Kelompok Putih
maupun Kelompok
> Merah di kota Poso; (f) terjadinya pembakaran rumah-rumah ibadah
(gereja dan
> masjid), sarana pendidikan (milik umat kristiani maupun milik
pesantren);
> (g) pembakaran rumah-rumah penduduk asli Poso di Lambogia, Sayo,
Kasintuvu;
> (h) pengerahan massa Pasukan Merah yang berasal dari suku
Flores, Toraja dan
> Manado/Minahasa; (i) terpecahnya warga Poso menjadi Kelompok
Putih (ummat
> Islam) dan Kelompok Merah (ummat Kristen); (j) adanya pelatihan
milisi di
> desa Kelei yang telah berlangsung lama sebelum meledaknya
Kerusuhan Jilid
> III.
>
> 2. Termarginalisasikannya secara sosial ekonomi politik kelompok
masyarakat
> yang merasa pentingnya keseimbangan antara kelompok Islam dan
Kristen
>
> Banyak orang Pamona, orang Bungku, orang Mori, orang Tojo/Una-
una punya
> akses luas terhadap pendidikan modern dan leluasa memasuki
berbagai
> lembaga -lembaga politik, ekonomi dan pemerintahan. Banyak di
antara mereka
> menjadi elit birokrasi pemerintahan, elit politik di Poso maupun
di Palu.
> Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang dari Gorontalo,
Minahasa,
> Toraja, Bugis, Makassar dan Jawa.
>
> Namun, tidak demikian halnya dengan penduduk di daerah-daerah
perdesaan.
> Secara kuantitatif, jumlah orang-orang ini jauh lebih banyak
dibandingkan
> dengan orang-orang yang diuraikan di atas. Secara ekonomi mereka
ini
> tersegregasi ke dalam sektor informal yang tertinggal, tersisih
dan
> terkebelakang, baik secara harizontal karena persaingan yang
dipandang
> kurang "fair" dengan para pendatang di perkotaan, maupun secara
vertikal
> dengan dicaploknya lahan-lahan mereka atas dasar konsesi Hak
Penguasaan
> Hutan (HPH), perkebunan besar (seperti kelapa sawit), usaha-
usaha eksplorasi
> dan pertambangan, program transmigrasi dan penetapan kawasan
konservasi
> untuk pelestarian lingkungan. Kelompok masyarakat ini harus
tertekan dalam
> masa yang panjang tanpa dapat menyuarakan hati nurani mereka
karena berbagai
> tekanan. Menjadi kenyataan yang menyakitkan bahwa orang-orang
Pamona,
> Ampana, Bungku, Mori, Lore dan Tojo Una-una sebagai pewaris sah
tanah
> leluhur mereka justru hidup dalam kesusahan. Mereka ini sebagian
besar
> berlatar belakang pendidikan rendah, dengan pekerjaan pada
sektor agraris
> dengan teknologi yang apa adanya, untuk tidak mengatakan tanpa
mengenal
> teknologi. Migran dari Gorontalo, Bugis/Makassar, Toraja, dan
transmigran
> dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
juga mengalami
> hal yang kurang lebih sama.
>
> Sejak 1998an rakyat mulai berani memprotes ketika tanah mereka
diambil alih
> untuk proyek-proyek pembangunan. Di Bungku (sejak tahun 2000
sudah
> dimekarkan menjadi Kabupaten Morowali) ribuan petani mengadakan
perlawanan
> terhadap perkebunan kelapa sawit PT Tamako Graha Krida karena
tanah mereka
> dicaplok untuk perkebunan kelapa sawit. PT Inco, juga di Bungku,
perusahaan
> tambang nickel yang saham mayoritasnya dimiliki Inco Ltd. dari
Kanada
> menghadapi perlawanan dari penduduk asli di desa Bahumatefe,
karena lahan
> mereka diaku sebagai bagian dari areal konsesi PT Inco.
Perlawanan penduduk
> asli Bahumatefe juga diikuti oleh perlawanan transmigran dari
Jawa, Bali dan
> Lombok, yang menolak rencana pemindahan dari permukiman mereka
di Desa One
> Pute Jaya, karena permukiman yang didirikan sejak tahun 1991 itu
masuk ke
> dalam areal konsesi PT Inco. Di Kecamatan Lore Utara, orang Katu
berhasil
> berjuang memperoleh kembali pengakuan atas wilayah tradisional
mereka yang
> diambil alih oleh Pemerintah untuk dijadikan Taman Nasional Lore
Lindu, di
> mana selama lebih dari 20 tahun terakhir Pemerintah memaksa untuk
> memindahkan mereka.
>
> 3. Pertarungan elit politik setempat yang memperebutkan posisi-
posisi
> strategis
>
> Sejak 1998, pertarungan elit politik setempat kerap
terpolarisasi ke dalam
> kutub-kutub berdasarkan sentimen agama. Ini mengindikasikan
telah terjadinya
> perebutan jabatan-jabatan strategis di dalam birokrasi
pemerintahan seperti
> Bupati dan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda), Kepala Dinas,
Camat, dan
> sebagainya pada Pemerintah Kabupaten Poso. Mobilisasi dukungan
rakyat
> terhadap pencalonan Bupati dan Sekwilda selalu di dasarkan atas
sentimen
> agama, baik dari pihak-pihak yang mengatasnamakan ummat Islam
(Kelompok
> Putih) maupun ummat Nasrani (Kelompok Merah). Mobilisasi
dukungan dilakukan
> berlangsung sangat intensif dari sejak di kota hingga ke desa-
desa dan
> kampung-kampung.
>
> Secara sadar atau tidak, mobilisasi dukungan politik semacam ini
ikut andil
> dalam mengkristalnya sentimen-sentimen keagamaan secara dangkal.
Seolah-olah
> pertarungan politik lokal adalah pertentangan antara pemeluk-
pemeluk agama
> yang berbeda.
>
> Ancaman salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulteng dari Fraksi
PP misalnya
> menunjukkan hal itu. Waktu itu anggota yang bersangkutan
mengancam bila
> Damsyik Ladjalani tidak dipromosikan sebagai Sekwilda Kabupaten
Poso akan
> terjadi kerusuhan. Apakah ada korelasi keduanya, tidak ada yang
tahu, namun,
> kenyataannya Poso mengalami kerusuhan pada 15 April 2000. Dan
Damsyik waktu
> itu memang tidak dipromosikan, karena diangkat menjadi Wakil
Ketua Bappeda
> Provinsi Sulteng di Palu.
>
> 4. Keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga
>
> Sejauh ini, telah sebanyak 29 orang anggota TNI/Polri menjalani
pemeriksaan
> yang intensif oleh Polisi Militer sehubungan dengan Kerusuhan
Poso yang
> terakhir. Di antara 7 (tujuh) orang yang teridentifikasi kuat
> keterlibatannya dalam kerusuhan tersebut, 2 (dua) orang
merupakan perwira
> berpangkat kapten TNI. Keterlibatan anggota TNI/Polri perlu
dicermati karena
> sangat berbeda dengan dua kerusuhan sebelumnya.
>
> Pada kerusuhan ketiga, skala, metode dan korban kerusuhan
meningkat sangat
> tajam. Ini antara lain tercermin dari adanya kenyataan-kenyataan
sebagai
> berikut: Pertama, dibandingkan dengan kerusuhan-kerusuhan
sebelumnya,
> kerusuhan ketiga berlangsung dalam skala kekerasan yang jauh
lebih sadis dan
> biadab, dalam kurun waktu yang jauh lebih lama, dan dengan
cakupan daerah
> yang jauh lebih luas.
>
> Kedua, pada kerusuhan ketiga metode kekerasan ketiga yang
digunakan jauh
> lebih canggih dengan persiapan-persiapan yang jauh lebih
terencana. Pada
> kerusuhan pertama dan kedua, kekerasan yang terjadi semata-mata
ditandai
> dengan penggunaan senjata tajam, rakitan, benda-benda keras dan
> pembakaran-pembakaran. Pada kerusuhan ketiga, selain alat-alat
untuk
> kekerasan seperti tersebut di atas, juga digunakan senjata api,
penculikan
> disertai pembunuhan, pembuangan mayat di Sungai Poso,
penyanderaan dan
> penguburan massal. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pasukan
Kelompok
> Merah diperkirakan sebanyak 7.000 orang, sebagian di antaranya
menggunakan
> senjata organik standar militer, seperti jenis M 16 dan Thomson.
Juga
> dilaporkan terjadinya perkosaan dan pelecehan seksual terhadap
kaum
> perempuan.
>
> Ketiga, korban kerusuhan ketiga sangat, sangat banyak. Korban
yang
> teridentifikasi menyebut lebih dari 2.000 orang, 400 orang di
antaranya
> mengapung di sungai tanpa kepala atau anggota tubuh lainnya.
Rumah yang
> dibakarpun jauh melebihi jumlah korban pada kerusuhan pertama
dan kedua.
>
> Ketidak netralan militer juga tampak dari menjelang Kerusuhan
Jilid III di
> mana ketika diminta konfirmasi kepada Tripika Kecamatan Pamona
Utara tentang
> adanya rencana penyerangan Kelompok Merah ke kota Poso dibantah.
Informasi
> yang disampaikan kepada masyarakat Poso ini baru saja dilakukan,
ketika
> beberapa jam kemudian ternyata terjadi penyerangan Pasukan
Kelelawar
> pimpinan Fabianus Tibo. Kalau pihak militer pada tingkat
kecamatan jujur dan
> netral, kenyataan semacam ini pasti tidak terjadi.
>
> Indikasi lainnya adalah ditemukannya peluru jenis M 16
bertuliskan Yonif 711
> dari tas anggota masyarakat, diketahuinya anggota Kompi B 711
membiarkan
> kelompok Pasukan Merah melakukan penyiksaan warga desa,
keterlibatan
> Kapolsek Pamona Utara waktu itu dalam penganiayaan H. Dawi dan
pimpinan
> Muhammadiyah Abdullah Sutari dan pembantaian warga Pondok
Pesantren
> Walisongo dan masyarakat Sintuvulembah karena tidak adanya upaya-
upaya
> pencegahan ketika pembunuhan massal diketahui.
>
> V. PENUTUP
>
> Keberagaman sebenarnya ibarat pisau yang bermata dua. Di satu
sisi merupakan
> suatu alat yang dapat memberikan kemudahan dan bahkan
menyelesaikan
> masalah-masalah nyata. Di lain pihak, pisau dapat dipakai untuk
membunuh
> siapapun. Keberagaman di negara-negara maju telah menjadi suatu
kekuatan
> yang luar biasa karena adanya kesamaan visi dan tujuan ke depan
mengenai
> masyarakat seperti apa yang ingin dicapai dan adanya kesepakatan
mengenai
> cara-cara untuk merealisasikan visi dan mencapai tujuan.
Terdapat suatu
> keengganan untuk mengakui tentang keberagaman atas suku dan
agama di
> Indonesia di masa lalu. Seolah-olah dengan semboyan Bhineka
Tunggal Ika dan
> sedikit penataran, semua masalah keanekaragaman suku dan agama
ini selesai.
>
> Masyarakat Poso yang menggunakan sintuvu maroso (secara harfiah
artinya
> persatuan yang kuat) sebagai tali pengikat menyadari
keanekaragaman ini.
> Secara sosial, mereka selalu mengatakan kita sei sakompo (kami
semua
> bersaudara). Namun, konflik yang berkesinambungan telah
menjelaskan pada
> semua pihak bahwa konsep untuk bersatu saja ternyata tidaklah
memadai.
>
> Kerusuhan Poso merupakan malapetaka bagi semua pihak. Sentimen
keagamaan
> sejak itu bukannya hilang, melainkan justru semakin membara,
ketika berbagai
> kenyataan selama serial kerusuhan diceritakan dari satu pihak ke
pihak lain.
> Tokoh-tokoh agama mengeluarkan pernyataan keras mengenai
kerusuhan Poso,
> terutama Kerusuhan Poso Jilid III. Bahkan seorang dosen Fakultas
Hukum
> Universitas Tadulako yang juga Koordinator Front Solidaritas
Islam
> Revolusioner menyatakannya sebagai moslem cleansing (pembasmian
orang
> Islam). Beberapa pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan,
karena
> kebiadaban dan kesadisannya yang luar biasa.
>
> Dikawatirkan, tragedi kemanusiaan ini akan berlanjut. Bila ini
terjadi,
> kekhawatiran akan terciptanya malapetaka akbar di kemudian hari
bukanlah
> tanpa alasan. Ini mengingat kurang memadainya perhatian berbagai
pihak baik
> pada tingkat kabupaten, provinsi dan apalagi nasional terhadap
kerusuhan
> berantai yang hingga saat ini belum juga berakhir.
>
> Beberapa pelaku kerusuhan sudah ditangkap dan bahkan sudah
divonis hukuman
> mulai dari 1-2 tahun hingga hukuman mati, terutama terhadap tiga
pelaku
> utama Pasukan Kelelawar. Bara dendam pihak-pihak yang tidak rela
atas
> putusan ini bukan tidak mungkin menjadi api yang sewaktu-waktu
berkobar
> lagi. Bila ini terjadi, serial kerusuhan Poso akan merupakan
bibit-bibit
> menuju disintegrasi sosial yang berkepanjangan, yang pada
gilirannya akan
> menciptakan disintegrasi bangsa.
>
> Daftar Pustaka:
>
> Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di Poso, 26
Juli 2000.
> Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Respon Militer
Terhadap
> Konflik
> Sosial di Poso, November 2000.
> Kabupaten Poso Dalam Angka 1998, Pemerintah Daerah Kabupaten
Poso, 1998.
> Klipping Surat Kabar Mercusuar terbitan Palu dari 1998 - 2001.
> Klipping Tabloid MAL terbitan 2000-2001.
>
> LAMPIRAN
>
> Tabel 1. Komposisi Penduduk Kabupaten Poso
>
> No.
>
> Kecamatan
> Jumlah Penduduk
> AgamaMayoritas
>
> Suku
>
> 1.
> Poso Kota
> 41.875
> Islam (55%)
>
> Kristen (42%)
> Pamona, Mori, Lore, Bungku, Tojo, Una-una, Ampana, Minahasa,
Toraja, Bugis,
> Makassar, Gorontalo,dll.
>
> 2.
> Poso Pesisir
> 31.505
> Islam (45%) Kristen (42%)
> Pamona, Mori, Lore, Bugis, Jawa, Bali
>
> 3.
> Pamona Selatan
> 24.608
> Kristen (70%)
> Pamona, Bugis, Jawa, Bali
>
> 4.
> Pamona Utara
> 30.793
> Kristen (90%)
> Pamona, Bugis, Jawa
>
> 5.
> Lembo
> 15.479
> Kristen (79,47%)
> Mori, Jawa, Bugis
>
> 6.
> Mori Atas
> 12.305
> Kristen (87%)
> Mori, Pamona, Bugis, Jawa
>
> 7.
> Lage
> 15.841
> Kristen (72%)
> Pamona, Bada, Ampana
>
> 8.
> Lore Utara
> 13.017
> Kristen (79,65%)
> Lore, Toraja, Jawa, Bugis
>
> 9.
> Lore Selatan
> 7.521
> Kristen (96,45%)
> Bada, Bugis
>
> 10.
> Ampane Tete
> 15.841
> Islam (95%)
> Ampana, Pamona, Gorontalo, Luwuk, Bugis
>
> 11.
> Ampana Kota
> 25.704
> Islam (95%)
> Ampana, Tojo, Una-una, Pamona, Mori, Minahasa, Bugis, Gorontalo
>
> 12.
> Tojo
> 13.017
> Islam (80,63%)
> Tojo, Mori, Pamona, Bugis, Jawa, Gorontalo
>
> 13.
> Ulubongka
> 11.648
> Islam (71,47%)
> Taa, Gorontalo, Ampana, Tojo, Bugis, Pamona, Mori
>
> 14.
> Una-una
> 17.730
> Islam (99,5%)
> Una-una, Ampana, Gorontalo, Bugis, Bajo
>
> 15.
> Walea Kepulauan
> 12.215
> Islam (97,48%)
> Ampana, Bugis, Kaili, Gorontalo
>
> Sumber: Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di
Poso, 2000, h.
> 2.
>
> Tabel 2. Korban Kerusuhan Poso Jilid I
>
> No.
>
> Kategori Korban
>
> Keterangan
>
> I.
> Korban Jiwa
>
> a.
> Luka Berat
>
> 1. Anngota Polri
> Tidak ada
>
> 2. Anggota TNI AD
> Tidak ada
>
> 3. Anggota Masyarakat
> 7 orang
>
> b.
> Luka Ringan
>
> 1. Anggota Polri
> 17 orang
>
> 2. Anggota TNI AD
> Ada (data tidak jelas)
>
> 3. Anggota Masyarakat
> 101 orang
>
> II.
> Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial
>
> a.
> Rumah Ibadah
>
> 1. Gereja
> Tidak ada
>
> 2. Mesjid
> Tidak ada
>
> b.
> Pemukiman Penduduk
> 81 Rumah (muslim-kristen) dibakar dan dirusak *
>
> c.
> Kendaraan Bermotor
> 10 mobil - 3 motor dibakar
>
> d.
> Toko-Bengkel-Hotel-Wartel-Terminal
> 7 Toko dirusak dan dibakar, 5 hotel dibakar dan 3 dirusak,
Terminal
> dibakar, 2 Diskotek dibakar dan 2 rumah makan
>
> * Data riel kerusakan kedua belah pihak sulit didapatkan.
Sementara kerugian
> materiil secara umum diperkirakan Rp 6 milyar.
>
> Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik
Sosial di Poso,
> Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November
2000, h. 90.
> Tabel 3. Korban Kerusuhan Poso Jilid II
>
> No.
>
> Kategori Korban
>
> Keterangan
>
> I.
> Korban Jiwa
>
> a.
> Luka Berat
>
> 1. Anngota Polri
> Tidak ada
>
> 2. Anggota TNI AD
> Tidak ada
>
> 3. Anggota Masyarakat
> 32 orang
>
> II.
> Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial
>
> a.
> Rumah Ibadah
>
> 1. Gereja
> 4 Gereja dibakar dan dirusak (Pniel, Katolik, Pantekosta dan
Advent)
>
> 2. Mesjid
> Tidak ada
>
> b.
> Pemukiman Penduduk
> Lebih dari 130 Rumah Kristen dibakar, dirusak dan dijarah
>
> c.
> Kendaraan Bermotor
> 1 Mobil dibakar
>
> d.
> Toko-Bengkel-Hotel-Wartel
> Tidak ada
>
> III.
> Sarana Pendidikan
>
> a. Pondok Pesantren/Madrasah
> Tidak ada
>
> b. Lembaga Pendidikan Kristen
> 1 SMA, 1 SMP dan 1 SD Kristen dibakar
>
> c. Sarana Pendidikan Umum
> Tidak ada
>
> Kantor Pemerintah
> 1 Fasilitas Pemda
>
> Sarana Pemukiman dan Fasos Polri
>
> a. Asrama
> Sebagian asrama Polres Poso dibakar
>
> b. Aula Bhayangkara
> 1 buah dibakar
>
> c. Rumah Tinggal
> Tidak ada
>
> d. Posyandu/Poliklinik
> Tidak ada
>
> Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik
Sosial di Poso,
> Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November
2000, h. 91.
>
> Tabel 4. Korban Kerusuhan Poso Jilid III
>
> No.
>
> Kategori Korban
>
> Keterangan
>
> I.
> Korban Jiwa
>
> a.
> Meninggal dunia
>
> 1. Anggota Polri
> 1 orang
>
> 2. Anggota TNI AD
> 1 orang
>
> 3. Anggota Masyarakat
> ± 2.000 orang
>
> b.
> Luka Berat
>
> 1. Anggota Polri
> 2 orang
>
> 2. Anggota TNI AD
> Tidak ada
>
> 3. Anggota Masyarakat
> 88 orang
>
> c.
> Luka Ringan
>
> 1. Anggota Polri
> 2 orang
>
> 2. Anggota TNI AD
> Tidak ada
>
> 3. Anggota Masyarakat
> 95 orang
>
> d.
> Pemerkosaan dan Pelecehan seksual
> 6 wanita diperkosa dan 14 wanita mengalami pelecehan seksual
>
> II.
> Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial
>
> a.
> Rumah Ibadah
>
> 1. Gereja
> 7 Gereja dibakar dan 3 dirusak
>
> 2. Mesjid
> 6 Masjid dan 1 Mushalla dibakar
>
> b.
> Pemukiman Penduduk
> 3.492 rumah dibakar dan 635 rumah dirusak-sebagian besar milik
orang Islam
>
> c.
> Kendaraan Bermotor
> 10 Mobil dan 10 Motor dibakar
>
> d.
> Toko-Bengkel-Hotel-Wartel
> 17 toko, 3 rumah makan dan 14 bengkel dibakar
>
> e.
> Sarana Pendidikan
>
> a. Pondok Pesantren/Madrasah
> 2 Pondok Pesantren dibakar
>
> b. Lembaga Pendidikan Kristen
> Tidak ada
>
> c. Sarana Pendidikan Umum
> 2 bangunan SD dibakar
>
> f.
> Kantor Pemerintah
> 3 bangunan Balai Desa dan 3 Polindes dibakar
>
> g.
> Sarana Pemukiman dan Fasos Polri
>
> a. Asrama
> 3 bangunan Asrama dibakar dan 3 Asrama dirusak
>
> e. Posyandu/Poliklinik
> 1 bangunan dirusak
>
> ----- Original Message -----
> From: "BUD'S" <bsugih@...>
> To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
> Sent: Wednesday, September 27, 2006 4:20 PM
> Subject: Re: [ppiindia] Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!!
>
> >Lho, dari awal anda kan mengatakan bahwa daerah timur itu
sering rusuh
> karena disana Mayoritasnya non-Muslim, tapi dari >data2 Depag,
ternyata
> disana Mayoritanya Muslim, satu pertanyaan sederhana yang belum
anda jawab :
> DATA ANDA >DARI MANA ??? ".
>
> Disclaimer: Although this message has been checked for all known
viruses
> using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin
> accept no liability for any loss or damage arising
> from the use of this E-Mail or attachments.
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts: