[nasional_list] [ppiindia] Re: Syafii Maarif: Demi Keutuhan Bangsa
- From: "RM Danardono HADINOTO" <rm_danardono@xxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sun, 23 Jul 2006 20:31:55 -0000
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Hallo mas Muhkito, walau banyak yang
mencak mencak, saya kagum akan
tulisan beliau, terutama yang berikut ini:
"..> Dalam perspektif di atas, adalah sikap gegabah yang sia-sia
bila orang dengan gampang menuduh orang lain sekuler jika tidak
mendukung gagasan negara Islam, seperti yang kita alami tahun 1950-
an.
Pengalaman Indonesia menjelang dan pascaproklamasi tentang masalah
dasar negara cukup kaya untuk kita buka kembali. Janganlah energi
bangsa yang sudah hampir habis terkuras ini digunakan dengan
serampangan, semata-mata karena kebahlulan kita dalam membaca
masyarakat Indonesia yang plural, heterogen, dan rentan ini. "Maka,
ambillah pelajaran (secara sunguh-sungguh), wahai kamu yang diberi
penglihatan tajam," seru Alquran dalam surat al-Hasyr (59): 2.."
Mas, bahwa manusia girang sekali, melakukan kesalahan yang pernah
dilakukan orang sebelumnya, ini rupanya sangat lazim. Mungkin hanya
Nzr ed Din Hodja yang pernah belajar dari keledainya, bahwa keledai
yang sekali kesandung, akan menghindari batu sandungan..
Tapi manusia?
Salam hangat
danardono
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Muhkito Afiff" <muhkito_a@...>
wrote:
>
> Berikut tulisan Buya Syafii Maarif di Republika yang membuat
Islamis
> mencak-mencak seperti diforward oleh Pak Satrio di:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/59818
>
> Demi Keutuhan Bangsa
>
> Oleh : Ahmad Syafii Maarif
>
> Republika, Selasa, 11 Juli 2006
>
>
> Ternyata apa yang dikenal dengan konsep integrasi nasional masih
> labil. Proses nation and character building sama sekali jauh dari
> selesai. Kita semua, terutama para pemimpin formal, sejak
proklamasi
> telah lengah dan lalai dalam merawat dan memelihara rasa kekitaan
> anak bangsa ini karena berasumsi bahwa Indonesia adalah sebuah
bangsa
> yang sudah mapan, kokoh, dan pasti tahan banting. Perkiraan ini
jelas
> ahistoris, tidak berpijak atas fakta sejarah.
>
> Mengapa? Alasannya sangat gamblang. Indonesia sebagai bangsa, bukan
> kumpulan suku bangsa, baru muncul awal 1920-an. Sebab itu,
pendapat
> yang mengatakan bahwa Indonesia sudah muncul sejak zaman Kerajaan
> Kutai yang Hindu awal abad ke-5 atau sejak kerajaan maritim
Sriwijaya
> yang Budis akhir abad ke-7, jelas mengada-ada. Tetapi, bahwa bekas
> kedua kerajaan itu kemudian menjadi bagian Indonesia modern,
> sepenuhnya didukung fakta sejarah.
>
> Sebagai bangsa muda, kita harus ekstra hati-hati merawat Indonesia
> ini. Kecerobohan sentralistik selama empat dasawarsa yang lalu
jangan
> diulang lagi pada masa depan, sebab risikonya adalah bahwa doktrin
> bhinneka tunggal ika bisa berantakan, dan bangsa muda ini dapat
> berkeping-keping, sesuatu yang harus dicegah. Kegagalan kita dalam
> upaya pencegahan proses disintegrasi ini pastilah akan berujung
> dengan malapetaka: musnahnya Indonesia dari peta sejarah. Suatu
> tragedi bukan, jika itu terjadi?
>
> Sebab itu, pendekatan yang serba politik-legalistik dalam
> memperjuangkan suatu kehendak atau aspirasi politik hendaklah
> mempertimbangkan kondisi bangsa yang masih muda dan rentan ini.
> Keinginanan untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam perda,
> mengapa tidak diintegrasikan saja dalam perda biasa, tidak dalam
> format Perda Syariah yang dapat melemahkan pilar-pilar integrasi
> masyarakat dan bangsa, dan ini berbahaya sekali. Bukankah
perjuangan
> antimaksiat pada hakikatnya adalah perjuangan semua golongan? Dan
itu
> semua dapat dilakukan di bawah payung Pancasila, khususnya sila
> pertama.
>
> Selain itu, perlu pula dipertimbangkan kenyataan yang berlaku
selama
> ini. Berapa banyak undang-undang yang bertujuan melawan maksiat
tetapi
> kandas dalam proses eksekusinya karena sebagian aparat penegak
hukum
> merupakan bagian dari dunia gelap itu. Sebutlah misalnya masalah
> perjudian dan pelacuran. Sudah menjadi rahasia umum di mana-mana
bahwa
> tempat-tempat maksiat itu pasti ada yang melindungi. Lingkaran
setan
> semacam inilah yang harus dikaji betul secara sosiologis dengan
kepala
> dingin melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang. Cara-cara
> emosional, demo dengan teriakan 'Allahu Akbar' segala, apalagi
> ditunggangi oleh kepentingan politik jangka pendek, pastilah akan
> bermuara pada kegagalan yang melelahkan.
>
> Ujungnya Perda Syariah akan menjadi bumerang. Jika kenyataan ini
> berlaku, dari sisi dakwah, sungguh merupakan malapetaka. Orang akan
> mencibir: ternyata produk yang serba syariah itu tidak membuahkan
> kenyamanan dan ketenteraman. Masalah ini jauh dari sederhana. Maka,
> otak-otak sederhana harus mau bertanya kepada ahl al-dzikr (para
> pakar) dari berbagai latar keilmuan melalui pendekatan
interdisiplin.
> Tengoklah ia dari berbagai sudut pandang. Libatkan para pakar yang
> berkualitas dari UIN/IAIN di samping pakar dari perguruan tinggi
> umum. Hendaklah disadari benar bahwa proyek legalisasi syariah
adalah
> sesuatu yang sangat serius. Saya tidak mau menyaksikan sebuah
Islam
> yang gagal memperbaiki akhlak bangsa yang sedang rapuh ini, gara-
gara
> kedunguan kita.
>
> Secara umum, bukankah isi syariah yang diwarisi sekarang ini
sebagian
> besar adalah hasil ijtihad abad pertengahan yang pasti terikat
dengan
> ruang dan waktu? Bukankah kegagalan proyek negara Islam Pakistan
yang
> sarat dengan korupsi itu adalah karena kegagalan ulama konservatif
> untuk berurusan dengan perkembangan zaman yang bergulir tanpa
henti?
> Mereka mengharamkan kaum perempuan jadi pemimpin, sedangkan kaum
> lelakinya juga tidak becus mendaratkan pesan Alquran berupa rahmat
> bagi seluruh alam pada proyek negara Islam yang semula didukung
oleh
> seluruh energi bangsa baru itu.
>
> Dalam perspektif di atas, adalah sikap gegabah yang sia-sia bila
orang
> dengan gampang menuduh orang lain sekuler jika tidak mendukung
gagasan
> negara Islam, seperti yang kita alami tahun 1950-an. Pengalaman
> Indonesia menjelang dan pascaproklamasi tentang masalah dasar
negara
> cukup kaya untuk kita buka kembali. Janganlah energi bangsa yang
sudah
> hampir habis terkuras ini digunakan dengan serampangan, semata-mata
> karena kebahlulan kita dalam membaca masyarakat Indonesia yang
plural,
> heterogen, dan rentan ini. "Maka, ambillah pelajaran (secara
> sunguh-sungguh), wahai kamu yang diberi penglihatan tajam," seru
> Alquran dalam surat al-Hasyr (59): 2
>
> Sumber http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?
id=255993&kat_id=19
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Re: Syafii Maarif: Demi Keutuhan Bangsa