[nasional_list] [ppiindia] Re: Rizal Mallarangeng yang (pernah) saya kenal...

mas Nizami: .....dan pencabutan subsidi oleh kaum Neolib.
> 
Numpang tanya, kalo penyandang dana dari Timteng itu neolib atau old 
lib ato komunis? pendana dari TimTeng pro ngrakyat nggak ya? mohon 
lilinnya mas..




--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, A Nizami <nizaminz@...> wrote:
>
> Ada 2 pilihan:
> 1. Tetap sosialis tapi kantong kering....:)
> 2. Atau berubah jadi Neoliberalis dengan kucuran dana dari sponsor 
neoliberalis meski harus membiarkan rakyat sengsara oleh berbagai 
kenaikan harga dan pencabutan subsidi oleh kaum Neolib.
> 
>  ===
> Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
> Informasi selengkapnya ada di:
> http://www.media-islam.or.id
> 
> 
> Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS
> 
> 
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
> 
> 
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari 
Telkomsel 
> Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@...>
> To: kahmi_pro_network@xxxxxxxxxxxxxxx; news Trans TV <news-
transtv@xxxxxxxxxxxxxxx>; pantau <pantau-komunitas@xxxxxxxxxxxxxxx>; 
jurnalisme <jurnalisme@xxxxxxxxxxxxxxx>; naratama naratama 
<naratamatv@xxxxxxxxxxxxxxx>; warta-lingk 
<wartawanlingkungan@xxxxxxxxxxxxxxx>; technomedia 
<technomedia@xxxxxxxxxxxxxxx>; ppiindia <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>; 
Begundal Salemba <begundal-salemba@xxxxxxxxxxxxxxx>; 
aipi_politik@xxxxxxxxxxxxxxx; ismes@xxxxxxxxxxxxxxx; Kincir Angin 
<KincirAngin@xxxxxxxxxxxxxxx>; student EMBA <student.emba2005@...>
> Sent: Thursday, July 24, 2008 10:04:40 PM
> Subject: [ppiindia] Rizal Mallarangeng yang (pernah) saya kenal...
> 
> 
> Posted by: "ror@suryagroups. com" ror@suryagroups. com 
> Thu Jul 24, 2008 6:57 am (PDT) 
> Salam,
> Saya pengagum Celly (Rizal Mallarangeng) sejak dia masih menjadi 
mahasiswa
> komunikasi Fisipol UGM pertengahan 1980-an. Tapi setelah dia balik 
usai
> merantau 8 tahun di Amerika dia berubah, dia bukan Celly yang dulu 
lagi.
> 
> Mantan dosennya Celly, Ashadi Siregar, termasuk orang 'yang sangat 
kaget'
> oleh perubahan Celly. Mantan mentor Celly lainnya, Arief Budiman, 
lebih
> arif menyikapi perubahan Celly. Ketika diberi penghargaan Bakrie 
Award
> oleh Freedom Institute bikinan Celly, Arief berkata dengan guyon 
bahwa dia
> merasa aneh, karena dia sosialis yang 'mendidik' Celly supaya 
menjadi
> sosialis tapi setelah Celly pinter malah menjadi liberalis dan 
memberi
> penghargaan kepada mantan mentornya yang masih tetap sosialis...
> 
> Meski tidak sampai seperti Ashadi Siregar, saya termasuk yang kaget
> terhadap perubahan Celly. saya tidak tahu dia masih ingat apa 
tidak, tapi
> suatu ketika dia pinjam buku tipis berbahasa Inggris mengenai Mao 
Zedong
> dari saya. Saya lihat dia sangat tertarik oleh ide-ide sejenis Mao. 
Ketika
> dia mengembalikan buku itu, saya silakan dia menyimpannya. 
Kebetulan saya
> punya dua kopi.
> 
> Ide-ide itu yang mendasari Celly ketika kemudian terjun ke gerakan
> mahasiswa. Saya lamat-lamat ingat dalam sebuah diskusi dengan 
seorang
> menteri, Celly mengkritik kebijakan pemerintah dengan sangat tajam.
> Menteri yang agak sewot itu lalu emosional berkata, ''saya akan 
lihat
> bagaimana anda nanti kalau sudah punya jabatan''.
> 
> Setelah Celly pulang dari Amerika saya sering menyaksikannya di 
Metro TV.
> Saya kemudian membaca bukunya 'Mendobrak Sentralisme Ekonomi' hasil
> desertasi doktoralnya. Buku yang bagus sekali, enak dibaca dan 
jernih. Dia
> memaparkan dengan detail jaringan liberal di Indonesia hasil didikan
> Amerika dan pasang surut ide-ide liberalisme di Indonesia. Yang 
menarik
> bagi saya antara lain adalah ketika Celly menulis mengenai Kompas 
dan
> Tempo dalam kaitan dengan dukungan terhadap liberalisasi ekonomi
> Indonesia. Menurut Celly, sebagai pribadi Jakob Oetama dan Goenawan
> Mohammad lebih dekat ke ide-ide sosialisme. Tapi ternyata media 
mereka
> mendukung liberalisme.
> 
> Ketika Celly mendirikan Freedom Institute yang mendapat sokongan
> sepenuhnya dari Kelompok Bakrie saya melihat lebih jelas lagi 
perubahan
> Celly yang baru. Dia pendukung yang sangat bersemangat ide-ide 
ekonomi
> liberal. Keterlibatannya menerbitkan dan membayar iklan di Kompas 
yang
> mendukung kenaikan harga BBM memperkuat posisi Celly sebagai 
liberal muda
> yang menonjol.
> 
> Saya masih menduga-duga seberapa liberal pemikiran Celly, karena 
sampai
> sekarang saya belum pernah baca bukunya yang baru mengenai
> gagasan-gagasannya. Ketika saya mendengar dia mencalonkan diri 
sebagai
> presiden saya sangat senang. Dia tetap punya nyali seperti ketika 
masih
> mahasiswa dulu. Bahwa banyak pro dan kontra itu biasa.
> 
> Saya masih menunggu bagaimana sebenarnya visi Celly mengenai bangsa 
ini.
> Amien Rais sudah menulis risalah pendek 'Selamatkan Indonesia' yang 
marah
> tetapi bertenaga. Buku ini menunjukkan sikap Amien yang tegas 
mengenai
> neoliberalisme yang melanda Indonesia sekarang ini. Saurip Kadi juga
> menulis buku (meski dituliskan orang lain) mengenai pandangan-
pandangan nya
> terhadap berbagai persoalan bangsa Indonesia. Saya bisa sedikit
> membayangkan bagaimana nanti kalau Amien atau Saurip jadi presiden. 
>  
> Tapi
> terhadap Celly saya belum punya bayangan karena dia belum merumuskan
> pemikirannya mengenai kondisi aktual bangsa ini. Membaca
> artikel-artikelnya saja tidak cukup karena hanya sepotong-sepotong 
dan
> tidak utuh. Saya tetap menunggu buku Celly. Saya khawatir karena 
sudah
> menjadi selebriti media dia tidak sempat lagi menulis dan dia akan
> menambah deretan ilmuwan selebritis Indonesia yang tidak punya 
karya yang
> monumental tapi namanya terkenal sebagai selebriti media.
> 
> Saya ingin tahu seberapa liberal Celly sekarang. Bagaimana dia 
menyikapi
> globalisasi yang tidak adil terhadap Indonesia, bagaimana ia 
menanggapi
> isu-isu nasionalisasi, dominasi multinasional seperti exxon dan 
Freeport
> dan isu-isu lain.
> 
> Ketika Obama mencalonkan diri dia sudah menyiapkan bukunya sehingga 
orang
> tahu bagaimana visinya.
> 
> Sebagai ahli komunikasi Celly tahu betul kekuatan media terutama 
televisi.
> Kebetulan juga dia punya akses ke televisi nasional dan 
kelihatannya cukup
> punya uang untuk pasang iklan di televisi nasional. Perusahaannya 
Vox
> Media rupanya cukup menguntungkan karena punya klien besar seperti
> Soetrisno Bachir, dari situ kelihatan bahwa Celly pintar juga 
berbisnis.
> Televisi memang bisa membesar-besarkan realitas menjadi 
hiperrealitas dan
> orang bisa terdongkrak popularitasnya karena televisi. Apa yang
> dinasihatkan Celly kepada Soetrisno dipraktikkan sendiri oleh 
Celly. Tapi
> tentu saja Celly tahu popularitas dari televisi itu tidak nyata 
karena
> hanya hiperrealitas.
> 
> Saya masih menunggu kiprahnya sebagai penerbit melalui media online
> KanalOne. Celly berhasil mengumpulkan wartawan-wartawan bagus 
jebolan
> Tempo seperti Karania, Nezar Patria dan beberapa lainnya untuk 
membuat new
> media yang berkualitas.
> 
> Lebih dari semuanya saya akan menunggu buku Celly yang 
menggambarkan visi
> dan misinya sebagai calon presiden RI. Maju terus Cel!
> 
> Salam
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Other related posts: