[nasional_list] [ppiindia] Ragam tanggapan: Warga Indonesia yang diborgol dan masuk sel di Jepang

** Mailing List Nasional Indonesia PPI India Forum **

Ragam tanggapan: Warga Indonesia yang diborgol dan masuk sel di Jepang
 
cc:
Iwan Setiawan - email: iwanterborgol@xxxxxxxxx
Nindja - email: sekjen@xxxxxxxxxx
Deplu - email: ditpen1@xxxxxxxxxxx
KBRI Tokyo - email: protcons@xxxxxxxxxxxxxxxx
 
Dear all,
Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan 
saran, masukan dan tanggapan atas peristiwa yang menimpa rekan Iwan 
Setiawan yang diborgol dan masuk sel di Jepang. Saya ikut sedih. Ia yang baru 
pertama kalinya ke luar negeri, bukannya pengalaman manis yang ia dapatkan, 
malah kejadian buruk harus ia alami. 
 
Kasus seperti ini amat menarik untuk ditelisik lebih jauh, khususnya 
perlakuan petugas imigrasi di bandara terhadap orang-orang kita. Selain Iwan, 
pasti ada
beberapa orang lainnya yang pernah mengalami perlakuan serupa, bahkan 
mungkin lebih buruk, dan lebih mengerikan. Tentang persepsi sebagian 
masyarakat Jepang kepada bangsa kita sudah cukup gamblang 
ditulis oleh rekan Theresia Ametembun.
 
Saya sarankan kepada Iwan untuk melayangkan surat keluhan kepada Duta
Besar Jepang di Jakarta, tembusan ke Konsulat di Surabaya. Namun 
sebelumnya, mas Iwan musti meracik ulang surat yang pernah ia tulis -- ada 
kronologis kejadian secara rinci  (jam, tanggal, bulan, tahun dan sebagainya). 
Dengan 'gugatan' dari mas Iwan, siapa tahu pihak Jepang bisa sedikit bersikap 
'lebih sopan' kepada kita. 
Siapa tahu mereka lalu mengganti segala biaya transportasi plus akomodasi, juga 
mengembalikan uang yang disita oleh oknum di bandara Narita. Soal mau pakai 
pengacara atau tidak, itu terserah Iwan. 
 
Untuk mas Iwan, semoga pengalaman Anda yang amat berharga itu dapat menjadi
pemicu untuk hubungan persahabatan bangsa Indonesia - Jepang yang lebih
baik. Saya yakin, itu hanya perilaku segelintir oknum di bandara Narita. 

Semoga mas Iwan lalu tak mencap semua orang Jepang bersikap buruk seperti itu.
Yang pernah saya alami berteman dengan orang-orang Jepang, mereka cukup
sopan, berperasaan halus, dan 'tidak neko-neko'. Bahkan ada beberapa hal,
misal kedisiplinan dan keuletan, yang kita semua musti belajar dari  mereka.
 
Terima kasih buat Anda semua:
Abdi Purmono - email: abdipurmono@xxxxxxxxx
Ade Kimhook - email: ade_kimhook2002@xxxxxxxxx
Daniel H.T. - email: danielht@xxxxxxxxxx
Elok Dyah Messwati - email: elok@xxxxxxxxxx 
Fakhrurradzie M. Gade - email: fakhrurradzie_mgade@xxxxxxxxx
George Young - email: gyoung@xxxxxxxxxxxxx
Irawan Purwono - email: irawan@xxxxxxxxxxxxx
Hilmy - email: hilmy_jakarta.MHIINTR@xxxxxxxxxxxxxx 
Marcos - email: marcos@xxxxxxxxxxxxxx
Maria Theresia Ametembun - email: essie_ametembun@xxxxxxxxx
Mohamad Toegiono - email: mensa@xxxxxxxxxx
Ratna Puspita - email: ratna.puspita@xxxxxxxxxxxxxxxxxx on
Sirikit Syah - email: sirikitsyah@xxxxxxxxx
Sony Tan - email: sonytan@xxxxxxxxxxxxxx
Tania Nataya - tania@xxxxxxxxxxxxx
Wilson Kusumo - email: pengelola@xxxxxxxxx
Yustam - email: Yustam@xxxxxxxxx
 
Terima kasih juga untuk moderator milis jurnalisme, pantau-komunitas, ppiindia, 
apakabar, binabud, afsyogya, iperhumas, communicationsindonesia, pr-society, 
wolu, mudawijaya, forum-pembaca-kompas,  mediacare, bizzcomm, katy, kagamamuda, 
ugm-club, sastra-pembebasan,  wahana-news, wartawangaul, musyawarahburung, 
proletar, tionghoa-net, 
wartawan, wartawanindonesia, community-gallery, wanita-muslimah, 
hubert-humphrey-indonesia, dan lainnya yang tak dapat saya sebut satu persatu.
 
Salam,

Radityo Djadjoeri
 
-------------------------------------------------
 Berikut tanggapan dari rekan-rekan semua: 
 
Wilson Kusumo
email: pengelola@xxxxxxxxx

Pak Iwan Setiawan yth,
Di situs resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia pada bagian
informasi visanya, http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html , jelas
tertera bahwa pengertian visa menurut pemerintah Jepang adalah:
 
"Visa adalah sebuah rekomendasi yang diberikan kepada warga negara
asing untuk dapat masuk ke negara Jepang dan bukan berarti izin mutlak
atau jaminan untuk dapat masuk ke negara Jepang. Keputusan terakhir
untuk dapat masuk atau tidak ke negara Jepang akan diberikan oleh
pihak Imigrasi Jepang pada saat mendarat di Jepang."
 
Walaupun demikian, pada paspor yg dikeluarkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia kepada seluruh warga negaranya (termasuk Anda, Pak Iwan
Setiawan) juga jelas tertera pada halaman pertama, permohonan resmi
Pemerintah Republik Indonesia kepada Pemerintah Negara tujuan, agar
warga negaranya yg memiliki paspor tersebut diperlakukan dengan layak,
sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:
 
"Pemerintah Republik Indonesia memohon kepada semua pihak yang
berkepentingan untuk mengizinkan kepada pemegang paspor ini berlalu
secara leluasa dan memberi bantuan dan perlindungan kepadanya.
The Government of the Republic of Indonesia requests all whom it may
concern to allow the bearer to pass freely without let or hindrance
and afford him/her such assistance and protection."
 
Dengan demikian, jika hanya berdasarkan kisah yg diX-posting oleh Bung Radityo 
Djadjoeri, tindakan para petugas imigrasi yang terlibat di bandara dimana Pak 
Iwan Setiawan mendarat di Jepang, bukan saja telah mempermalukan Anda secara 
pribadi, tetapi dengan jelas
juga merupakan sebuah penghinaan yang tidak selayaknya kepada Pemerintah
Republik Indonesia yang telah memberikan paspor tersebut secara legal
kepada warga negaranya, Pak Iwan Setiawan.
 
Kami tidak menangani kasus imigrasi, tapi saran saya kepada Pak Iwan Setiawan 
sebagai sesama warga negara Indonesia: langkah awal yang paling tepat (dan 
murah*) adalah menyampaikan keluhan/ketidakpuasan Anda atas penghinaan ini 
secara terbuka kepada Pemerintah Jepang melalui berbagai media yang tersedia. 
Untuk memastikan keluhan kita sampai kepada pihak-pihak yang berwenang dalam 
hal ini, jangan lupa untuk dengan
jelas mencantumkan tembusan-tembusan kepada siapa dan/atau pihak mana saja
surat yang sama juga telah dikirimkan. Saya kira surat tersebut sebaiknya Anda 
tujukan kepada:
Embassy of Japan in Indonesia
Jl. M.H. Thamrin No. 24
Jakarta 10350
Facsimile : (021) 3192-5460
 
dengan metoda pengiriman pos tercatat dan tidak ada salahnya dikirim juga 
melalui fax sesuai dengan nomor diatas. Sementara untuk tembusan, dapat 
ditujukan kepada, antara lain:
1. Departemen Luar Negeri Republik Indonesia
   Jalan Taman Pejambon No. 6, 10th floor
   Jakarta 10110
   Facsimile : (62-21) 3857316
   Email : ditpen1@xxxxxxxxxxx
 
(juga melalui pos tercatat, fax dan email)
 
2. Mass media, baik cetak maupun elektronik.
Silakan cari sendiri (yahoo atau google). Tapi untuk masalah hukum ada baiknya 
tidak lupa mengirimkan tembusan ke majalah: Legal Review, Gatra, Forum, dll.
 
3. Media-media internasional terkemuka, baik cetak maupun elektronik.
Silakan cari sendiri (yahoo atau google). Selain Time (Asia) dan Business Week 
(Asia dan Indonesia) jangan lupa juga media-media promosi wisata mancanegara.
 
4. Tidak ada salahnya juga mengirimkan tembusan kepada kelompok-kelompok
diskusi online seperti di Yahoogroups,  MSN, dan lainnya.
 
Walaupun respons ini sedikit terlambat karena saya baru mengikuti thread ini, 
namun saya berharap semoga informasi yang berupa pendapat pribadi saya ini 
setidaknya dapat membantu meringankan beban mental yang Anda derita akibat 
perlakuan tidak layak dari petugas imigrasi negara lain tersebut.
 
Wassalam,
 
Wilson Kusumo
Kantor Advokat Aswin, SH., MH. & Rekan

* Nothing is free in the real world.
 
---------------------------------------------------
Sirikit Syah
email: sirikitsyah@xxxxxxxxx
  
Cerita di bawah ini mungkin layak dibantu media untuk diungkapkan  kepada 
publik, agar yang menjadi sasaran, yaitu 'pemerintah Jepang',  menjelaskan 
mengapa melakukannya dan kalau perlu minta maaf. 
 
Salam,
Sirikit
---------------------------------------------------
Theresia Ametembun
email: essie_ametembun@xxxxxxxxx
 
Dear Mas Iwan, saya ikut prihatin dengan pengalaman Anda tersebut. 
Saya pribadi banyak menyaksikan "ketidaksopanan" ala Jepang dan pernah juga 
mengalami hal yang merendahkan martabat ketika saya tinggal di negara 
Sakura itu (1993 sampai 1995).
 
Salah satu hal yang akan selalu saya kenang (dalam rangka berdoa dan 
prihatin atas "ketidakadilan" yang dialami oleh ribuan  perempuan Asia 
non Jepang yang bekerja sebagai pekerja entertainer - seksual -  disana).
Penderitaan yang masih mereka rasakan hingga kini. 
 
Suatu malam di musim dingin tahun 1994,  saya dan teman kuliah saya  menutuskan 
untuk mencoba  mandi di Shento (tepat mandi umum). Sebenarnya  teman Philipino 
saya yang "MENYADARKAN " kejadian selama saya bebersih dan masuk kedalam bak 
mandi. Mungkin karena konsentrasi saya ke air  yang panasnya minta ampun itu 
maka saya tidak tahu kalau semua wanita  Jepang berhenti bebersih dan 
menyingkir dari area dimana teman saya dan
saya berada.  Bahkan saya sempat berkata pada teman itu, "This is very nice, 
such as 
private shento". Sayangnya dia tidak meengganggap itu sebagai joke dan
berkata bahwa ia merasa seperi perempuan berpenyakit kusta.  
 
Maka, kami melakukan "in depth interview" dengan para guru/dosen di Sekolah 
Bahasa
Jepang dan Sophia Uiversity, tempat kami belajar. Lalu kami mengambil
kesimpulan bahwa: alasan mereka menyingkir adalah ketakutan tertular 
HIV/AIDS. Di Jepang, wanita Asia non Jepang (terutama Filipina, Thailand, 
dan Korea) identik dengan penyebar virus HIV.  Memang, fakta menyatakan
keberadaan ribuan wanita muda (cantik) yang masuk dalam bisnis 'sexual 
entertainment' di Jepang. Tentu saja semua diatur dengan rapih oleh Yakuza. 
 
Well...after that, kami berdua memutuskan untuk mandi saja di rumah. 
Diwaktu senggang, kami mengunjugi sebuah rumah detensi para wanita (asing)  
yang sedang menunggu persidangan. Kebanyakan wanita Philipino yang 
melakukan kriminal (terutama membunuh) "suami" Jepang mereka (kayaknya
para  mucikari mereka sih). 
 
Mendengan pengalaman mas Iwan, saya tidak kaget karena memang kondisi 
penjara (termasuk Detention Centers) sangat menjatuhkan martabat perempuan 
(manusia). Para tahanan wanita itu harus mandi di dalam bilik  tembus 
pandang. Para pengawal pria akan menikmati acara mandi tawanan dengan 
mengatasnamakan keamanan tawanan dan menghindari bunuh diri. 
 
Sedangkan salah satu penjara yang pernah saya kunjungi (dalam rangka 
merayakan Natal Bersama 1993 dengan tawanan asing), membuat saya bergidik 
dan enggan untuk kembali. Di musim dingin yang dinginnya minta ampun
itu mereka hanya memakai sendal jepit dan setiap saat diteriaki kata-kata 
kasar (tentu saja semua kata itu saya catat dan saya tanyakan pada guru bahasa 
Jepang
saya, yang sangat segan menterjemahkannya). 
 
Well... cerita ini sebagai solidaritas saya dengan Anda dan banyak 
"korban" lainnya.  Txs for Mbak Sirikit. Semoga membuat media untuk
berkisah.
 
Salam,

Maria Theresia Ametembun 
HHH Johns Hopkins University 2002/2003 
email: essie_ametembun@xxxxxxxxx
 
-------------------------------------------
Irawan Purwono 
email: irawan@xxxxxxxxxxxxx
 
Pak Iwan Setiawan,
Saya anjurkan bapak menyewa pengacara & menuntut Pemerintah Jepang 
untuk (paling tidak) minta maaf secara terbuka di koran. Orang Jepang 
konon amat menghargai kejujuran dan nurani. 
 
Saya pernah membaca sebuah buku manajemen, dimana diceritakan dalam kejadian 
tersebut 
seorang pembeli mengklaim barang yang ia beli di supermarket rusak.  
Pemilik/manager supermarket tersebut lalu mengirimkan  barang pengganti yang 
sama ke rumah pembeli dan minta maaf.
 
-------------------------------------------
Sony Tan
email: sonytan@xxxxxxxxxxxxxx
(menanggapi saran rekan Irawan Purwono)
 
Bung Radityo, tolong kasih tahu ke pak Iwan, sebelum  menyewa pengacara untuk 
menuntut pemerintah Jepang, tanya dulu berapa biaya honor pengacaranya.  Jangan 
nanti malah kehabisan nafas gara-gara bayar pengacara. Kirim surat  terbuka 
lewat media massa mungkin lebih efisien. Nggak perlu gembar gembor  kan? Yang 
penting pemerintah Jepang bisa tahu dan (kalau bersedia) minta  maaf kepada pak 
Iwan. Duit bayar pengacara mending dipake buat modal usaha aja deh...

-------------------------------------------
Daniel H.T. 
email: danielht@xxxxxxxxxx
(setuju dengan komentar rekan Sony Tan)
 
Betul, Bung Sony. Jangan belum apa-apa mau basmi tikus dengan membakar 
gudangnya. Menyelesaikan suatu masalah sebaiknya yang proporsional saja
lah. Belum apa-apa kok sewa pengacara? Emangnya murah bayar pengacara? 
Bagaimana kalau Bapak yang memberi advis sewa pengacara itu mau berbaik 
hati membantu dalam bentuk dana pribadi untuk bayar pengacaranya? :-)
 
---------------------------------------------
Abdi Purmono
email: abdipurmono@xxxxxxxxx
 
Buat rekan Iwan Setiawan...
Kejadian yang Anda alami hampir sama dengan yang dialami 3 orang tukang
asal Malang. Ceritanya, sekitar 28 Januari 2005 lalu, atas ajakan anak 
pemilik perusahaan di Malang, mereka ke Jepang. 
 
Perusahaan di Malang ini mendapatkan order dari jaringan hotel langganan 
dia di Osaka. Mereka ini sudah berhubungan bisnis selama 8 tahun. 
Singkat cerita, barang dikirim tapi tidak dalam bentuk jadi sehingga diperlukan 
3 tukang khusus interior--batu onyx dan furnitur. Visa diurus. Biasanya selesai 
dalam 3-7 hari. Kalau ditolak, tak diberitahukan alasannya. Sudah begini, 
prosedur dan aturan di hampir semua kantor  Kedubes dan konjen negara asing. 
 
Tapi untuk mendapatkan visa ini susahnya minta ampun, sampai akhirnya 
si bos Jepang mengontak kenalan dia di Deplu Jepang. Atas "rekomendasi"
Deplu Jepang ini, visa pun keluar. Anak si pemilik perusahaan dan 3
pekerjanya jadi berangkat dengan visa turis. Tiket mereka untuk 
pulang-pergi.
 
Tiba di Bandara Kansai, Osaka, ketiga tukang itu diinterogasi. Anak si 
bos selamat. Namun ketiga pekerjanya terlanjur omong kalau mau kerja 
memasang perabotan yang dipesan pemilik hotel. Nah, atas jawaban ini, 
ketiga tukang Malang ini diberi surat deportasi. 
 
Mereka pun diberi kesempatan untuk melapor ke Departemen Kehakiman 
(kalau tak salah) jika merasa keberatan atas perlakuan dan tuduhan yang
mereka dapat. Surat deportasinya memakai 2 bahasa: Jepang dan
Indonesia. Aku lihat isinya. Administrasi di Jepang itu amat tertib -- 
semuanya ada tanda bukti -- entah yang Anda alami. POKOK masalahnya adalah 
ketiga tukang itu dicurigai hendak menjadi pekerja ilegal. Sementara si bos 
Jepang tak bisa berbuat apa-apa karena mereka sendiri  akhirnya juga 
ikut-ikutan repot karena diperiksa instansi terkait di sana, dengan tuduhan 
mempekerjakan pekerja ilegal. 
 
Bung Iwan, sekarang ini pemerintah Jepang sedang galak-galaknya merazia
pekerja ilegal. Apalagi keamanan makin diperketat pasca tragedi 11 September. 
Pada tahun 2002 misalnya, jumlah orang Indonesia di Perfektur Hamamatsu 
melebihi 10 ribu. Kebanyakan sudah over stay. Sayangnya, di Indonesia 
pekerja ilegal di Indonesia yang ditangkap, ditahan, dan kemudian
dipulangkan pemerintah Jepang tidak segencar pemberitaan TKI ilegal di Malaysia.
 
Harap diketahui pula, bersama Korea, Jepang tidak membenarkan ada 
pekerja seperti di Malaysia. Pekerja Indonesia yang ke sana adalah pekerja 
resmi berkat kerja sama antarpemerintah lewat program IMM. Magang (arbuito) ini 
berlangsung selama 3 tahun. Tak bisa diperpanjang, tapi kenyataannya banyak 
sekali orang Indonesia yang kabur. 
 
Kebanyakan mereka yang memilih tinggal di Jepang adalah standar gaji 
yang gede. Walau magang, gaji yang mereka terima hampir 3 kali lipat gaji 
pekerja di
Malaysia. Kebanyakan bekerja di pelabuhan. Rata-rata mereka digaji antara 
130.000 sampai 150.000 yen atau setara Rp 10.400.000 dan 12.000.000 (dengan 
kurs Rp 80 per 1 yen) per 
bulan. Sebenarnya para pekerja ilegal itu juga merasa tak nyaman, tapi majikan 
yang
mempekerjakan mereka itu juga bandel. Sudah lama pemerintah Jepang ingin 
menangkap mereka, tapi masih bisa ditahan karena lobi pemerintah kita. 
 
Soal Anda dipenjara dan diborgol dan dimintai uang 24.000 yen, jelas aku tak 
tahu untuk apa. Aku cuma menduga itu uang denda. Hanya saja Anda tak 
menyebutkan apa isi di lembar "tanda terima" itu. Anda juga tak menyebutkan 
jenis Visa yang Anda dapat. Mungkin visa turis ya?
 
Begitu pun, seketat-ketatnya prosedur administrasi Jepang, toh tetap  saja ada 
celah untuk ber-KKN, tapi tentu kadarnya amat, amat, amat kecil. 
Tidak seperti di Indonesia. Banyak orang Jepang yang mengaku diperas di Bandara 
Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, dengan cara dimintai "uang masuk" antara 
1.000-2.000 yen. Repotnya, sekali saja  kita bermasalah, maka hampir dapat 
dipastikan kita takkan bisa masuk ke Jepang. 
 
Ada beberapa tips jika ingin melenggang masuk ke Jepang walau penjagaan 
begitu ketat. Pertama, tentu saja kita harus melengkapi dokumen yang 
diperlukan. Bagi orang yang baru pertama masuk Jepang, salah
satunya adalah melampirkan surat dari pengundang/pengajak, surat dari tempat 
kita bekerja,
dan rekening bank. Yang lain-lain standar: KTP, KK.
 
Jika tujuannya seperti Bung Iwan, maka sebaiknyalah menyesuaikan busana 
yang dipakai -- buat kamuflase. Misalnya memakai baju hangat dan tebal jika 
lagi musim
dingin di sana. Bila perlu Anda memakai dasi dan jas. Dan bawa koper. 
Jika tidak, Anda patut dicurigai. Inilah yang dialami ketiga tukang itu--MAAF, 
MAAF,
BUKAN BERMAKSUD MENGHINA -- wajah mereka yang ndeso sama dengan cara berpakaian 
yang mereka pakai. Kesan bagi orang Jepang itu penting, sama pentingnya kita 
lihai berbasa basi.
 
Perlu juga membawa buku untuk dibaca -- kalau bisa yang berbau Jepang seperti 
buku Musashi yang tebal itu atau tentang kebudayaan Jepang. Ini untuk 
menimbulkan kesan Anda bukan untuk bekerja tapi Anda seorang pelajar. Dalam 
alam pikiran orang-orang Jepang, mahasiswa di mata pemerintah Jepang itu lebih 
berguna daripada
seorang pekerja. Dan bersikaplah wajar dan tenang.
 
Pernah, sekitar Oktober 2002, di Bandara Narita, 2 orang Australia dan  Amerika 
diperiksa sampai sepatunya dicopot dan kaosnya diminta diangkat ke atas. Ya 
persis lah perlakuan Imigrasi AS dan Australia terhadap orang-orang  Indonesia, 
walau yang diperiksa sudah mengantongi surat diplomatik. Pemeriksaan ketat 
seperti ini berlaku bagi pendatang asing lainnya, kecuali warga Jepang  
sendiri. Pemeriksaan superketat juga terjadi di Kuala Lumpur International 
Airport. 
 
Ada dua kebiasaan positif yang patut ditiru orang-orang kita soal etos. 
Dalam kesempatan apa pun dan di mana pun, orang Jepang itu punya kebiasaan
tidur atau membaca buku walau sedang antre berdiri menunggu kereta api dan bus. 
Nah kebiasaan membaca ini yang dijadikan trik.
 
Bung Iwan, sebaiknya Anda segera melapor ke Kedutaan Jepang di Jakarta. 
Alamatnya di Jl. M.H. Thamrin No
24, JAKARTA 10350 ; Telp. : (021) 324308; Fax.: (021) 325460 . Tapi harus Anda 
melampirkan kronologis kejadian beserta dokumen-dokumen perjalanan. Semoga 
beruntung.
 
Semoga bermanfaat...
 
Abel
 
-----------------------------------------------------
Elok Dyah Messwati
email: elok@xxxxxxxxxx
 
Petugas di Kedubes Jepang seperti Hamada San itu baik. Tidak  mempersulit 
pengurusan visa. Saat pertemuan GAM dan RI di Tokyo Mei 2003 lalu,  walau 
tanggal merah Kedubes di Jakarta tetap buka karena situasi darurat  buat yang 
mau berangkat ke Jepang, dan saya bisa mendapatkan visa dalam  setengah jam.
 
Yang menjadi masalah  besar adalah cewek-cewek petugas imigrasi di  Narita. 
Merekalah yang bertugas memberi stempel di paspor kita dan sering  curiga pada 
yang berpaspor Indonesia. Teman saya wartawan Asahi Shinbun  yang asli Aceh 
berwajah Arab/India bernama seperti pemeluk kristen padahal  muslim juga 
mengalami kesulitan. 
Tiba di counter imigrasi ia dicegat dengan pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa 
Inggris tidak jelas bercampur  logat Jepang. Teman saya yang lulusan sastra 
Jepang UI dan pernah studi 
master dua tahun di Tokyo itupun menjawabnya dengan bahasa Jepang yang 
fasih...membuat si cewek imigrasi Narita tidak berkutik. Malah balik dikasih 
nasihat: kalau curiga sama orang Indonesia jangan kebangetan.....

Mendengar jawaban dalam bahasa Jepang yang fasih, alhasil paspor 
distempel. Abis perkara! Percuma juga diajak ngomong Inggris, jarang yang 
ngerti.... Jadi belajar bahasa Jepang praktis saja kalau mau ke sana, supaya 
tidak kesasar dan mendapatkan kesulitan..

------------------------------------------
Yustam
email: Yustam@xxxxxxxxx
 
Pengalaman ini sebenarnya pernah menimpa  teman saya waktu ke Jepang.  Tapi 
untung  dia dapat menghubungi pihak Jepang yang akan dikunjunginya. Waktu itu 
belum ada kejadian 911.
 
Cuma yang mengherankan: "Mengapa  visa bisa keluar kok di Narita tidak diakui?"
 
---------------------------------------------
M.Toegiono Mensa Desu
email: mensa@xxxxxxxxxx
 
Mungkin sebelum kita meneruskan dan men complaint kedubes Jepang, ada baiknya 
kasus ini di telusuri dengan baik dan jelas duduk  permasalahannya.
Dari laporan sdr. Iwan ini banyak hal2 yg kurang jelas dari kedua belah 
pihak, pihak sdr.Iwan bersama Boss nya dan pihak Jepang dalam hal ini 
Imigrasi Jepang. Ada kemungkinan besar terjadi kesalah pahaman dari kedua belah 
pihak yg 
notabane "miss comunication".
 
Jepang sejak dulu, untuk mengeluarkan visa tidaklah mudah, bahkan warga 
US yg mana secara politik kedua negara mempunyai hubungan yg kental 
saja  untuk ke jepang memerlukan Visa. Apalagi Indonesia :-)
Ditambah setelah kasus 9/11 pemerintahan Jepang sangat peka dan 
sensitif  untuk melindungi dari bahaya teroris dan tidak enaknya lagi adalah 
pemerintah Jepang memang agak punya prasangka buruk pada warga 
Indonesia  yang berkunjung ke Jepang dengan tujuan yang kurang jelas (bagi 
versi 
mereka).
 
Ketambahan sekarang ini banyak kasus2 WNI yang tinggal di sana secara 
ilegal dengan beratus ratus kasus, tidak seperti di tahun 80an yang masih 
bisa dihitung kasus WNI gelap. Ini sedikit masukan yang mungkin berguna bagi 
orang Indonesia yang kelak  ingin ke Jepang untuk kunjungan bisinis maupun 
bekerja.
 
Untuk mengunjungi Jepang dalam rangka bisinis, HARUS ada "surat 
jaminan"  atau "surat undangan" dari mitra bisinisnya di Jepang.
Surat ini sangat diperlukan bagi kedutaan besar Jepang di Indonesia 
maupun pihak imigrasi di Jepang. Tanpa adanya tujuan yang jelas, maka 
pihak pemerintah Jepang TIDAK akan mengeluarkan visa tersebut.
Pihak pemerintah Jepang tidak akan mau tahu dengan urusan-urusan "intern" 
pihak pengundang atau pun yang diundang, walaupun yang mengundang warga 
Jepang sekalipun, kalau tidak "genah", tak ada  perkecualian.
 
Dari cerita Sdr. Iwan, saya bisa menangkap beberapa hal yg di 
khawatirkan Imigrasi Jepang:
1. Tujuan Sdr. Iwan kurang jelas (mungkin ketika di loket imigrasi 
Narita, ada hal-hal penting yang tidak bisa dijawab)
2. Sdr. Iwan pertama kali berkunjung ke Jepang.
3. Komunikasi sdr.Iwan dengan pejabat imigrasi di kantor Imigrasi 
tersendat sendat dikarenakan sdr. Iwan tidak menguasai bahasa Jepang dan 
Inggris, ditambah tidak memiliki alamat yang bisa di kontak selama di 
Jepang karena sdr. Iwan tidak ingat dan tidak bisa menunjukkan alamat 
tersebut ke pihak imigrasi, sehingga timbul praduga bahwa, bagaimana 
mungkin dengan kondisi seperti ini sdr. Iwan akan melakukan kunjungan 
bisinis.
 
Dari point2 tersebut, Imigrasi Jepang tidak mau ambil resiko selain di 
deportasikan, kecuali pihak KBRI Tokyo mau menjamin keberadaan sdr.Iwan 
di Jepang itu.
 
Dikeluarkannya Visa oleh kedubes Jepang di Indonesia bukan merupakan 
suatu jaminan 100% bahwa kita bisa memasuki Jepang. Loket Imigrasi di 
airport merupakan "interogasi" terakhir untuk memasuki negara Jepang.
Hanya gara2 sepele mungkin kita bisa ter "eleminasi".
 
Mungkin bisa disetarakan kalau ada warga dari salah satu negara Afrika 
berkunjung ke Indonesia dan di tanya ini itu oleh imigrasi Indonesia, 
kemudian tidak bisa menjawab dan meyakinkan pihak imigrasi Indonesia, 
tentunya akan berprasangka buruk, setelah itu entah akan diapakan oleh 
pihak Imigrasi Indonesia, mungkin akan diperlakukan buruk juga.
 
Soal diborgol atau ditahan memang sangat menjatuhkan martabat rasanya. Tapi 
jangankan yang seperti ini. Kita yg sudah berada di tengah2 kota Jepang dengan 
memiliki visa kunjungan saja, kalau sampai lupa membawa pasport dan terkena 
razia, tidak ada jalan lain akan dibawa ke ruangan tahanan sementara di pos 
polisi terdekat, sampai ada orang yang bisa 
menunjukkan pasport orang itu.
 
Untuk Visa bekerja di Jepang, akan lebih ruwet dan akan memakan 
waktu yg panjang, sekalipun yg menjamin adalah perusahaan konglomerat 
terkenal di Jepang (Sogo Shosha). Bisa memakan waktu minimum 6 Bulan
plus 6 bulan lagi kalau mau membawa keluarga!
 
Terakhir, jangan terkecoh dengan sindikat2 penyalur tenaga kerja yang di 
Indonesia  maupun yang di Jepang sekalipun. Kalau untuk niat bekerja di Jepang. 
 Mereka akan lepas tangan setelah apa yg mereka dapatkan di dapat...

-------------------------------------------------
Ratna Puspita
email: ratna.puspita@xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hilmy - email: hilmy_jakarta.MHIINTR@xxxxxxxxxxxxxx  
 
Hil,
Minta orang ini datang ke Konsulat Jepang di Surabaya (Jalan Sumatra)  dan 
nanya kenapa kok bisa ada kejadian seperti itu? Soal minta visa Jepang, memang 
susah kalau tidak ada sponsor yang kuat  atau 'invitation letter'. Orangnya 
harus menghadap sendiri dan lain-lain.
Travel agent saja kadang mengeluh soal ini...
 
---------------------------------------------
Tania Nataya
email: tania@xxxxxxxxxxxxx
 
Oom Radit, jadi tergerak dikit nih buat komen kasus Iwan. Pengalaman gw 
beberapa 
waktu lalu ke sana, hampir gak ada masalah kecuali komunikasi dengan 
masyarakat setempat. Dari mulai bikin Visa langsung ke Kedutaan Jepang
di Jakarta, prosesnya gak lama cuma 1 minggu. Semua dokumen lengkap dan
dipatuhin. Makanya gw bingung kok Iwan kena perlakuan 'mengerikan' itu
padahal dia udah bisa  jalan, which means, Visa bisa keluar karena 
dokumen lengkap, kan?
 
Oh iya, Iwan udah coba cek kategori paspor & visa belum? Kan suka ada 
tuh golongannya....mungkin ada kategori dengan tanda tertentu yang kita
kadang suka missed dengan hal-hal kecil, padahal itu kode yang bisa dibaca
oleh petugas imigrasi.
 
Tapi gw juga sempet ketahan 1 jam kok di imigrasi Narita. Tapi gw jadi 
ngeri baca kisah Iwan. Setahu gw, orang Jepang itu baik, yang di sini maupun 
yang di negerinya, nggak rese ah...
 
Tapi coba hubungin Kedutaan Besar Jepang di Jakarta aja ya....
 
---------------------------------------------
Ade Kimhook
email: ade_kimhook2002@xxxxxxxxx
 
Cerita dari rekan Iwan itu mengenaskan tapi penuh tabir. Dengan nama 
berkonsonan "Iwan 
Setiawan" tidaklah begitu mengundang kesialan dibandingkan dengan  nama 
berkonsonan misalnya "Abdul Ridzak" dan sejenisnya di bandara. Benar, bandara 
dan imigrasi di Narita itu ketat, tapi ini pasti ada kesalah pahaman yang 
malangnya tidak terelakkan. 
 
Seandainya saja  Anda bisa berbahasa Inggris, bisa meminta kepada petugas untuk 
berhubungan dengan KBRI Tokyo. Bisa jadi tak akan sedrastis itu.
 
http://indonews.free.fr
 
--------------------------------------------
George Young
email: gyoung@xxxxxxxxxxxxx
 
Coba hubungi Bidang Protokoler dan Konsuler KBRI Tokyo. Emailnya:
protcons@xxxxxxxxxxxxxxxx
 
-------------------------------------------
Fakhrurradzie M. Gade
email: fakhrurradzie_mgade@xxxxxxxxx
 
Anda bisa minta tolong kepada aktivis Nindja di Jepang. Emailnya:
sekjen@xxxxxxxxxx
Mungkin mereka bisa membantu. Saleum.....
 
------------------------------------------
Marcos
email: marcos@xxxxxxxxxxxxxx
 
Kirimkan ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta saja. Cari websitenya di 
Google.
 
-----------------------------------------



Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.uni.cc **

Other related posts:

  • » [nasional_list] [ppiindia] Ragam tanggapan: Warga Indonesia yang diborgol dan masuk sel di Jepang