[nasional_list] [ppiindia] Pil Pahit Kenaikan Harga BBM

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
MEDIA INDONESIA
Kamis, 29 September 2005



Pil Pahit Kenaikan Harga BBM
Rully Chairul Azwar, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar



WAKIL Presiden Jusuf Kalla telah memastikan, harga BBM akan naik pada 1 Oktober 
2005 nanti. Bagaimanakah duduk perkaranya sehingga pemerintah 'terpaksa' 
mengurangi subsidi BBM sehingga harga BBM menjadi naik?

Kini kita semua dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pertama, membiarkan ancaman 
virus tersebut tanpa minum pil pahit dan berharap penyakit akan sembuh dengan 
sendirinya, meskipun hal ini adalah sesuatu yang musykil.

Kedua, dengan berketetapan hati meskipun terasa sangat pahit dan harus muntah 
sekalipun, minum pil pahit adalah pilihannya. Kenaikan harga BBM di pasaran 
internasional yang mencapai US$70/barel mengakibatkan keuangan negara kita 
mengalami tekanan defisit yang sempat membuat kurs rupiah terhadap US$ menjadi 
Rp11.700, melampaui ambang psikologis Rp11.000.

Penyebab naiknya harga BBM tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan 
konsumsi BBM dari negara China dan India, apalagi setelah topan Katrina dan 
badai Rita mengamuk di Negeri Paman Sam. Diperkirakan harga BBM sampai dengan 
akhir tahun ini sulit turun karena konsumsi akan meningkat lagi akibat musim 
dingin akhir tahun ini.

Tingginya harga BBM di pasaran internasional mengakibatkan kebutuhan devisa 
untuk mengimpor BBM meningkat. Indonesia sekarang ini bukan lagi negara 
pengekspor BBM karena konsumsi BBM dalam negeri lebih besar daripada ekspor 
BBM. Produksi BBM kita adalah 1,125 juta barel/hari, sedangkan konsumsi BBM 
diperkirakan 1,5 juta barel/hari. Dengan demikian, pendapatan negara akibat 
naiknya harga BBM dunia sudah tidak memberikan arti lagi dibandingkan 
pengeluaran negara untuk mengimpor BBM.

Tingginya harga BBM dunia adalah faktor eksternal yang tak dapat dikendalikan 
oleh kita. Ibarat wabah virus yang sedang menjangkiti dunia, sehingga yang 
terkena tidak hanya negara Indonesia. Juga negara-negara lain, termasuk 
negara-negara besar seperti China, India, dan Amerika. Virus ini telah 
mengganggu keseimbangan perekonomian negara kita. Kalau boleh dikatakan negara 
kita dalam kondisi demam dengan suhu di atas 39 derajat Celsius, apabila kita 
tak menginginkan kondisi menjadi semakin parah, bahkan dapat menjurus ke hal 
yang fatal.

Tindakan yang cepat dan tepat harus diambil untuk mengatasinya, namun harus 
tetap dengan kehati-hatian yang tinggi untuk mencegah komplikasi yang timbul. 
Pilihan yang dapat dilakukan adalah pertama membiarkan demam ini tetap 
berlanjut tanpa diberikan obat 'pil pahit' untuk menyembuhkannya. Pilihan ini 
bisa terjadi apabila si sakit tak berani minum obat 'pil pahit' atau ragu-ragu 
untuk minum obat 'pil pahit' dan terus menundanya.

Apabila obat 'pil pahit' tersebut terlambat diminum, mungkin tak lagi mujarab 
karena penyakit semakin kronis dan terjadi komplikasi penyakit lain yang 
semakin rumit. Pilihan yang kedua adalah segera minum obat "pil pahit" dengan 
segala konsekuensi yang berat karena mungkin terjadi rasa tidak enak atau 
bahkan muntah. Tetapi peluang untuk sembuh menjadi sangat besar.

***
Pilihan pertama tersebut ibarat subsidi BBM harus dinaikkan untuk mengimbangi 
defisit APBN. Hal ini berakibat terjadinya defisit APBN yang semakin besar 
serta mengurangi kemampuan negara untuk pembangunan, karena apabila subsidi 
mencapai Rp140 triliun berarti sepertiga APBN terserap untuk subsidi BBM. 
Subsidi BBM yang tinggi menyebabkan disparitas harga yang cenderung menimbulkan 
terjadinya penyelundupan BBM, penimbunan BBM dan spekulasi-spekulasi lainnya 
yang sangat merugikan negara.

Padahal subsidi BBM yang besar justru menguntungkan masyarakat golongan 
menengah dan ke atas, karena penggunaan BBM pada umumnya untuk kebutuhan 
transportasi dan listrik sehingga memperbesar ketidakadilan. Kebutuhan 
masyarakat miskin pada umumnya adalah minyak tanah dengan konsumsi hanya 20 
liter /bulan.

Belum lagi akibat melemahnya keuangan negara dan besarnya kebutuhan devisa yang 
menyedot cadangan devisa negara memberi peluang pada spekulasi perdagangan 
dolar yang dapat berakibat fatal karena terjadinya gejolak moneter dan dapat 
menjurus pada krisis moneter jilid dua. Jadi pilihan pertama tersebut sangat 
berisiko karena membuat negara akan menjadi bangkrut.

Pilihan kedua dilakukan dengan segera minum obat 'pil pahit' yang walaupun 
terasa sangat pahit diyakini dapat menyembuhkan penyakit demam tersebut. 
Mungkin si sakit akan merasa tidak nyaman sementara waktu akibat meminum obat 
'pil pahit' tersebut, tapi hal ini dapat membunuh virus sehingga dapat 
menyembuhkan si sakit secara bertahap tetapi pasti. Kondisi sesaat pada waktu 
meminum 'pil pahit' harus dipahami sebagai gejala umum dalam proses 
penyembuhan. Tetapi yang pasti minum 'pil pahit' justru akan menolong si sakit, 
bukan sebaliknya. Mungkin pemahaman ini hanya bisa diterima apabila memakai 
akal sehat.

Keputusan untuk meminum obat 'pil pahit' ibarat kebijakan mengurangi subsidi 
BBM yang berakibat naiknya harga BBM. Perlu diketahui bahwa harga BBM dalam 
negeri selama ini termasuk paling murah di dunia, khususnya harga minyak tanah.

Tentu disadari bahwa naiknya harga BBM menimbulkan beban masyarakat akan 
semakin meningkat, daya beli akan menurun, dan akan terjadi inflasi. Belum lagi 
apabila hal ini dipolitisasi akan menyebabkan terjadinya gejolak sosial yang 
memperberat keadaan. Ibarat rasa mual yang terjadi sehabis menelan 'pil pahit' 
harus dapat diatasi oleh si sakit agar obat tersebut jangan sampai dimuntahkan 
kembali karena obat tersebut akan menjadi sia-sia.

Dikuranginya subsidi BBM yang pasti akan mengurasi defisit APBN, sehingga 
terjadi dana cadangan program untuk pembangunan yang sangat diperlukan oleh 
rakyat seperti untuk pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur. Pada 
hakikatnya dana tersebut selama ini dialokasikan pada subsidi BBM, sehingga 
kemampuan dana pemerintah untuk pembangunan yang diperlukan oleh rakyat menjadi 
berkurang.

Cadangan dana yang biasa disebut kompensasi kenaikan BBM tersebut dalam bentuk 
beasiswa, jaminan kesehatan, serta infrastruktur untuk bulan Maret sampai 
Desember 2005 sebesar Rp13,5 triliun masih tetap berjalan dan dilanjutkan 
hingga tahun 2006.

Efek ganda terhadap dana kompensasi ini adalah meningkatnya sektor padat karya 
yang merupakan Jaring Pengaman Sosial akibat gejolak kenaikan harga BBM. Selain 
itu, harga BBM yang tinggi akan mengurangi terjadinya penyelundupan serta 
mengurangi pemborosan penggunaan BBM. Hal ini jelas menguntungkan bagi negara. 
Untuk mengatasi menurunnya daya beli masyarakat miskin serta inflasi yang 
terjadi, maka akan diberikan subsidi langsung yang besarnya Rp100.000/bulan 
atau Rp1,2 juta/tahun.

Kini, saatnya kita semua harus berpikir rasional dan memahami persoalan ini 
dengan benar. Kita berempati bahwa kita sekarang tengah sakit keras dan 
memerlukan obat untuk menyembuhkannya.

Kenaikan harga BBM adalah obat 'pil pahit' bagi perekonomian nasional yang 
sedang demam akibat tekanan virus harga BBM yang sangat tinggi. Jika kebijakan 
ini terlambat diambil, maka obat tersebut tak mujarab lagi. Apabila kebijakan 
ini tak diambil justru akan menyeret bangsa ini pada krisis moneter kedua.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: