[nasional_list] [ppiindia] Penyusutan Lahan Pertanian

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/01/opini/2403444.htm

 
Penyusutan Lahan Pertanian 


Ivan A Hadar



Gagalnya usulan hak angket di DPR memuluskan kebijakan impor beras yang oleh 
beberapa pengamat disinyalir bermotif bisnis dan ajang mengejar rente.

Konon, impor satu ton beras menghasilkan fee 20-30 dollar AS. Artinya, jika 
mengimpor 110.000 ton, keuntungan yang diraup Rp 20 miliar-Rp 30 miliar. Cara 
ini jelas merugikan petani karena berpengaruh pada harga jual beras dalam 
negeri.

Survei Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA, 2003) menemukan kenyataan tingkat 
pendapatan petani Indonesia yang memiliki luas sawah 0,5 ha kalah dibandingkan 
dengan upah bulanan buruh industri di kota besar.

Saat ini lebih dari separuh rakyat Indonesia yang miskin atau sekitar 30 juta 
hidup di pedesaan. Sebagian besar dari mereka berstatus petani gurem atau buruh 
tani. Menurut World Food Programme (2004), jumlah mereka yang miskin dan 
kekurangan gizi di Indonesia akan sulit keluar dari belenggu kemiskinan tanpa 
perubahan kebijakan signifikan.

Terkait kebijakan, beberapa hal berikut perlu diperhatikan. Pemenang hadiah 
nobel, Theodore W Schulz, dalam buku Transforming Traditional Agriculture 
menerangkan konsep pertanian subsisten di negara berkembang sebagai sesuatu 
yang "rasional karena meminimalisasi risiko".

Schulz menganjurkan peningkatan produktivitas lewat teknologi baru yang memicu 
high yielding varieties yang menjadi landasan Revolusi Hijau. Dampaknya, di 
Asia tahun 1960-an dan 1970-an, berupa peningkatan produktivitas dan "lompatan 
besar" persediaan pangan yang nyaris seiring pertumbuhan penduduk. Sayang, pada 
saat sama terjadi pemiskinan petani kecil. Tak heran Amartya Sen dalam Poverty 
and Famines (1981) menyimpulkan, persyaratan bagi pengamanan pangan masyarakat, 
bukan pengadaan bahan pangan semata, tetapi aksesibilitas pada pangan bagi 
mereka yang miskin dan lapar (entitlement approach).

Aksesibilitas pada pangan terkait ketersediaan dan pemilikan lahan pertanian. 
Hal yang mensyaratkan Landreform (Busung Lapar dan Reformasi Pertanahan, 
Kompas, 21/6/2005). Selain itu, diperlukan kebijakan mengatasi menyusutnya 
lahan pertanian. Erosi sebagai penyebab hilangnya kandungan gizi tanah, 
pencemaran lingkungan dan perubahan peruntukan dari lahan pertanian ke lahan 
nonpertanian adalah berbagai penyebab rusak atau punahnya lahan subur pertanian.

Padahal, sekali rusak, bumi manusia akan sulit diperbaiki. Tanah yang rusak 
akibat erosi, misalnya, memerlukan waktu hingga 400 tahun agar terbentuk 
kembali satu sentimeter lapisan suburnya. Saat ini, menurut data International 
Soil Reference and Information Centre yang berkedudukan di Belanda, lahan subur 
bumi seluas Eropa Barat (ca 305 juta ha) telah rusak berat. Sementara 910 juta 
ha lainnya seluas Benua Australia dalam keadaan bahaya menjadi tak subur bila 
upaya menahan erosi dilakukan setengah hati. Indonesia sebagai negara tropis 
amat mudah dilanda erosi terutama jika hutannya tidak dilestarikan. Kondisi 
rawan bencana yang melanda berbagai kawasan di Indonesia, terutama Pulau Jawa 
yang berpenduduk amat padat, disebabkan lingkungan yang kian buruk.

Bila hutan dan akar pohon dimusnahkan, lahan subur ikut punah. Menurut data 
FAO, tiap tahun sekitar 18 miliar ha hutan hujan tropis punah, dua pertiganya 
terjadi di Asia dan Amerika Selatan. Indonesia memberi kontribusi besar, 
sekitar 10 persen. Tak jarang, lahan tersubur dikorbankan untuk perluasan kota, 
pembangunan jalan, kawasan industri dan pertambangan.

Penyebab lain punahnya lahan subur adalah pencemaran lingkungan dan penggunaan 
pestisida berlebihan. Bila "sistem-ekologi" tanah terus dibebani, suatu saat 
akan kehilangan daya regenerasinya. Data terakhir kondisi lahan di sebelah 
selatan Sahara menunjukkan hal itu. Sementara itu, sekitar 25 miliar ton 
lapisan subur tanah dari tahun ke tahun terbawa air sungai ke lautan. Sungai 
Huang di China, misalnya, tiap tahun membawa sekitar 1,6 miliar ton lapisan 
subur tanah China ke dasar laut.

Tiada resep dalam membendung punahnya tanah subur pertanian. Tiap negara harus 
mengembangkan strategi penggunaan lahan secara tepat. Tanah dan kualitasnya 
harus didata. Juga perlu diungkap penyebab-ekonomi dan sosial-dari meningkatnya 
erosi. Yang amat mendesak saat ini adalah mengupayakan terlaksananya 
pengelolaan lahan pertanian secara ramah lingkungan. Caranya, menggunakan 
teknologi tepat guna, menanam tanaman yang telah teruji ketahanannya selama 
ratusan tahun, dan menggunakan pupuk secara efisien.

Landreform dan perluasan lapangan kerja di sektor pertanian, seperti peternakan 
lebah madu, pengolahan produk pertanian dan perkebunan, adalah langkah yang 
diperlukan guna melestarikan lahan subur. Selain itu, pengorganisasian secara 
regional yang melibatkan petani, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan 
organisasi terkait bisa memperlancar pertukaran informasi, bantuan teknologi 
maupun transfer metodologi pengelolaan lahan pertanian lebih efisien.

Drama punahnya lahan subur pertanian, yang di beberapa negara berkembang 
berujung kelaparan, meski diwarnai aneka ramalan suram, pada prinsipnya bisa 
diubah skenarionya. Banyak contoh membuktikan, asumsi optimistis itu bukan 
khayalan.

Salah satunya dari Kosta Rika. Dengan metode penanaman ramah lingkungan, tanpa 
pestisida, panen jagung melonjak dari 2.760 menjadi 3.680 kg/ha. Pelajaran yang 
bisa ditarik dari pengalaman ini, saat petani terlibat dan yakin akan 
keberhasilan metode cocok tanam yang ramah lingkungan, hilangnya lahan subur 
pertanian bisa terhindarkan. Pada gilirannya, penghasilan petani pasti 
meningkat.

Ivan A Hadar 
Direktur Eksekutif Indonesian IDE (Institute for Democracy Education


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: