[nasional_list] [ppiindia] Penyusutan Lahan Pertanian
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 1 Feb 2006 01:10:51 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/01/opini/2403444.htm
Penyusutan Lahan Pertanian
Ivan A Hadar
Gagalnya usulan hak angket di DPR memuluskan kebijakan impor beras yang oleh
beberapa pengamat disinyalir bermotif bisnis dan ajang mengejar rente.
Konon, impor satu ton beras menghasilkan fee 20-30 dollar AS. Artinya, jika
mengimpor 110.000 ton, keuntungan yang diraup Rp 20 miliar-Rp 30 miliar. Cara
ini jelas merugikan petani karena berpengaruh pada harga jual beras dalam
negeri.
Survei Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA, 2003) menemukan kenyataan tingkat
pendapatan petani Indonesia yang memiliki luas sawah 0,5 ha kalah dibandingkan
dengan upah bulanan buruh industri di kota besar.
Saat ini lebih dari separuh rakyat Indonesia yang miskin atau sekitar 30 juta
hidup di pedesaan. Sebagian besar dari mereka berstatus petani gurem atau buruh
tani. Menurut World Food Programme (2004), jumlah mereka yang miskin dan
kekurangan gizi di Indonesia akan sulit keluar dari belenggu kemiskinan tanpa
perubahan kebijakan signifikan.
Terkait kebijakan, beberapa hal berikut perlu diperhatikan. Pemenang hadiah
nobel, Theodore W Schulz, dalam buku Transforming Traditional Agriculture
menerangkan konsep pertanian subsisten di negara berkembang sebagai sesuatu
yang "rasional karena meminimalisasi risiko".
Schulz menganjurkan peningkatan produktivitas lewat teknologi baru yang memicu
high yielding varieties yang menjadi landasan Revolusi Hijau. Dampaknya, di
Asia tahun 1960-an dan 1970-an, berupa peningkatan produktivitas dan "lompatan
besar" persediaan pangan yang nyaris seiring pertumbuhan penduduk. Sayang, pada
saat sama terjadi pemiskinan petani kecil. Tak heran Amartya Sen dalam Poverty
and Famines (1981) menyimpulkan, persyaratan bagi pengamanan pangan masyarakat,
bukan pengadaan bahan pangan semata, tetapi aksesibilitas pada pangan bagi
mereka yang miskin dan lapar (entitlement approach).
Aksesibilitas pada pangan terkait ketersediaan dan pemilikan lahan pertanian.
Hal yang mensyaratkan Landreform (Busung Lapar dan Reformasi Pertanahan,
Kompas, 21/6/2005). Selain itu, diperlukan kebijakan mengatasi menyusutnya
lahan pertanian. Erosi sebagai penyebab hilangnya kandungan gizi tanah,
pencemaran lingkungan dan perubahan peruntukan dari lahan pertanian ke lahan
nonpertanian adalah berbagai penyebab rusak atau punahnya lahan subur pertanian.
Padahal, sekali rusak, bumi manusia akan sulit diperbaiki. Tanah yang rusak
akibat erosi, misalnya, memerlukan waktu hingga 400 tahun agar terbentuk
kembali satu sentimeter lapisan suburnya. Saat ini, menurut data International
Soil Reference and Information Centre yang berkedudukan di Belanda, lahan subur
bumi seluas Eropa Barat (ca 305 juta ha) telah rusak berat. Sementara 910 juta
ha lainnya seluas Benua Australia dalam keadaan bahaya menjadi tak subur bila
upaya menahan erosi dilakukan setengah hati. Indonesia sebagai negara tropis
amat mudah dilanda erosi terutama jika hutannya tidak dilestarikan. Kondisi
rawan bencana yang melanda berbagai kawasan di Indonesia, terutama Pulau Jawa
yang berpenduduk amat padat, disebabkan lingkungan yang kian buruk.
Bila hutan dan akar pohon dimusnahkan, lahan subur ikut punah. Menurut data
FAO, tiap tahun sekitar 18 miliar ha hutan hujan tropis punah, dua pertiganya
terjadi di Asia dan Amerika Selatan. Indonesia memberi kontribusi besar,
sekitar 10 persen. Tak jarang, lahan tersubur dikorbankan untuk perluasan kota,
pembangunan jalan, kawasan industri dan pertambangan.
Penyebab lain punahnya lahan subur adalah pencemaran lingkungan dan penggunaan
pestisida berlebihan. Bila "sistem-ekologi" tanah terus dibebani, suatu saat
akan kehilangan daya regenerasinya. Data terakhir kondisi lahan di sebelah
selatan Sahara menunjukkan hal itu. Sementara itu, sekitar 25 miliar ton
lapisan subur tanah dari tahun ke tahun terbawa air sungai ke lautan. Sungai
Huang di China, misalnya, tiap tahun membawa sekitar 1,6 miliar ton lapisan
subur tanah China ke dasar laut.
Tiada resep dalam membendung punahnya tanah subur pertanian. Tiap negara harus
mengembangkan strategi penggunaan lahan secara tepat. Tanah dan kualitasnya
harus didata. Juga perlu diungkap penyebab-ekonomi dan sosial-dari meningkatnya
erosi. Yang amat mendesak saat ini adalah mengupayakan terlaksananya
pengelolaan lahan pertanian secara ramah lingkungan. Caranya, menggunakan
teknologi tepat guna, menanam tanaman yang telah teruji ketahanannya selama
ratusan tahun, dan menggunakan pupuk secara efisien.
Landreform dan perluasan lapangan kerja di sektor pertanian, seperti peternakan
lebah madu, pengolahan produk pertanian dan perkebunan, adalah langkah yang
diperlukan guna melestarikan lahan subur. Selain itu, pengorganisasian secara
regional yang melibatkan petani, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan
organisasi terkait bisa memperlancar pertukaran informasi, bantuan teknologi
maupun transfer metodologi pengelolaan lahan pertanian lebih efisien.
Drama punahnya lahan subur pertanian, yang di beberapa negara berkembang
berujung kelaparan, meski diwarnai aneka ramalan suram, pada prinsipnya bisa
diubah skenarionya. Banyak contoh membuktikan, asumsi optimistis itu bukan
khayalan.
Salah satunya dari Kosta Rika. Dengan metode penanaman ramah lingkungan, tanpa
pestisida, panen jagung melonjak dari 2.760 menjadi 3.680 kg/ha. Pelajaran yang
bisa ditarik dari pengalaman ini, saat petani terlibat dan yakin akan
keberhasilan metode cocok tanam yang ramah lingkungan, hilangnya lahan subur
pertanian bisa terhindarkan. Pada gilirannya, penghasilan petani pasti
meningkat.
Ivan A Hadar
Direktur Eksekutif Indonesian IDE (Institute for Democracy Education
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Penyusutan Lahan Pertanian