[nasional_list] [ppiindia] Menjadi Polisi untuk Polisi

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **KOMPAS
Sabtu, 01 Juli 2006  

Menjadi Polisi untuk Polisi 


Satjipto Rahardjo 

Sesudah berusia hampir 60 tahun, Kepolisian Indonesia baru memiliki Komisi 
Kepolisian atau Kompolnas dengan tugas-tugas yang pada dasarnya menjaga dan 
menaikkan martabat kepolisian negeri kita. 

Presiden juga telah memutuskan untuk mengangkat sejumlah anggota Kompolnas dari 
unsur kepolisian, masyarakat, dan pakar. Apakah komisi itu diperlukan? Apakah 
hanya karena telah dibentuk "Komisi Yudisial" dan "Komisi Kejaksaan", maka 
perlu ada komisi untuk polisi? 

Mengontrol kecenderungan buruk 

Kepolisian adalah institusi yang diberi otoritas publik luar biasa karena 
diberi kewenangan untuk mengontrol masyarakat secara fisik, seperti menangkap, 
menahan, dan menginterogasi, bahkan menggunakan kekerasan bila perlu. 
Kewenangan presiden pun tidak sebesar itu, artinya untuk langsung bertindak dan 
menindak seseorang secara fisik. Presiden Abdurrahman Wahid dulu pernah 
memerintahkan "Tangkap orang itu!" karena dia sendiri tidak berwenang untuk 
menangkapnya. Polisi tidak perlu memerintahkan orang lain untuk menangkap 
seseorang, karena dia bisa dan boleh melakukannya. 

Polisi menahan seseorang karena undang-undang memberi kewenangan dan kekuasaan. 
Tetapi apakah tindakan itu berdasar alasan yang dibenarkan hukum? Apakah alasan 
seorang polisi untuk menangkap seseorang? Karena ada petunjuk kuat akan 
melakukan kejahatan? Betulkah petunjuk itu? Tidak mungkinkah polisi "mengarang" 
sendiri suatu alasan? 

Ungkapan Lord Acton, power tends to corrupt, juga berlaku untuk polisi yang 
diberi kekuasaan istimewa. Sebaiknya Kompolnas menyusun rancangan agar hal 
seperti itu tidak terjadi atau setidaknya ditekan sampai titik minimum. 

Persekongkolan jahat polisi 

Karena memiliki otoritas dan kekuasaan yang besar, maka aneka kemungkinan 
negatif bisa terjadi. Demi menjaga citra Polri, ada baiknya Kompolnas ikut 
menjaga agar para polisi kita tidak terjatuh ke dalam "kenistaan", seperti 
pernah terjadi pada kepolisian negara bagian New South Wales (NSW), Australia. 

Sekitar 10 tahun lalu, ditulis kemungkinan polisi melakukan persekongkolan 
kejahatan ("Polisi dan Persekongkolan Jahat", Kompas, 29/8/1996). Harian 
Kompas, pernah membuat laporan yang bagus sekali tentang persekongkolan jahat 
polisi, atau mafia polisi Sidney, NSW (Kompas, 19/3/1996). Laporan itu membuka 
mata kita tentang apa yang bisa terjadi di kepolisian manakala kita tidak 
waspada mencegahnya sejak dini. 

Dilaporkan, ada kelompok kecil polisi dalam kepolisian NSW yang bekerja sama 
dengan kelompok mafia heroin, melindungi kejahatan, dan memaksa meminta uang 
dari para pelacur (pelacuran dilarang di NSW) dan pemilik toko di daerah lampu 
merah King Cross. 

Kelompok kecil yang bekerja secara tertutup itu terbongkar berkat kerja gigih 
Komisi Wood dan kesediaan seorang polisi anggota komplotan, membongkar 
kejahatan yang dilakukan teman-temannya. 

Polisi tidak mungkin melakukan hal negatif jika ia tidak diberi kewenangan 
untuk mengontrol masyarakat. Tetapi kekuasaan itu diberikan karena tanpa itu 
polisi tidak akan bisa menembus dunia kejahatan. Misalnya, dalam kasus yang 
dikenal sebagai dropsy cases. Polisi Amerika yang sulit menembus jaringan 
komplotan heroin harus menciptakan teknik sendiri guna menangkap basah 
pengedar. Itu dilakukan dengan tiba-tiba menangkap seorang yang sudah lama 
dicurigai dengan dalih, satu bungkus heroin telah jatuh dari kantongnya, 
padahal polisi sendiri yang "memasang" bungkus heroin itu. 

Jadi segalanya akan tergantung polisi sendiri, apakah kekuasaan akan digunakan 
bagi hal yang "baik" atau "tidak baik". Di sinilah peran penting Kompolnas 
untuk menjaga dan mendorong agar polisi menggunakan kekuasaan untuk 
sebesar-besar kemanfaatan sosial. 

Tradisi yang baik diteruskan 

Di tengah cerita-cerita kurang baik tentang Polri, saya masih memiliki 
optimisme terhadap polisi Indonesia. Optimisme itu didasarkan pada beberapa 
pengalaman selama bergaul dengan polisi kita. 

Pertama, polisi Indonesia itu unik. Di tengah atmosfer korup di Indonesia, yang 
justru berusaha ditutup-tutupi oleh instansi-instansi yang korup, Polri justru 
terus terang membuka borok sendiri dan menunjukkannya kepada masyarakat. Hal 
itu terjadi di bawah Kepala Polri Kunarto, yang sekian puluh tahun lalu 
mengadakan seminar Suap-menyuap Polisi di Jalan. Dalam seminar di Bandung itu 
dibeberkan bagaimana proses itu terjadi dan ke mana saja uang itu mengalir. 

Kedua, di bawah Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Farouk 
Mohammad, mahasiswa PTIK dikerahkan untuk membuat laporan tentang realitas 
pelayanan yang dilakukan Polri. Dari penelitian itu terungkap, alih-alih 
memberi pelayanan seperti moto "Melindungi dan Melayani", polisi kita lebih 
banyak minta dilayani publik. "Temuan buruk" hasil penelitian itu tidak lalu 
disembunyikan dalam laci, tetapi dibeberkan ke masyarakat melalui seminar. 

Cerita sukses dari Polda Jawa Tengah, di bawah Kepala Polda Muslihat, dengan 
proyek "Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Desa" kurang gaungnya di 
masyarakat, padahal banyak surat dari masyarakat ditujukan ke Polda, menuturkan 
keberhasilan polisi in blue jeans melayani publik secara memuaskan. Di situ 
terungkap, polisi memasangkan antena TV, mencarikan dukun bayi, memimpin rapat 
di kelurahan, memberi khotbah Jumat, dan lain-lain. Semua itu dilakukan karena 
permintaan masyarakat. Tetapi karena saat itu ada yang lebih berkuasa dari 
polisi, proyek itu dihentikan. 

Cerita dan pengalaman seperti itulah yang memberi optimisme jika dikelola 
dengan baik, Polri bisa mencapai banyak prestasi yang membahagiakan rakyat. 

Kini Polri mempunyai mitra kerja, Kompolnas. Maka, menjadi tugas Kompolnas 
untuk menjaga, mendorong, dan meneruskan tradisi-tradisi yang baik dan menjadi 
pekerjaan rumah Polri menerima kritik dan saran dari mitra barunya. Yang buruk 
dirobohkan, yang baik ditegakkan. 

Satjipto Rahardjo 
Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: