[nasional_list] [ppiindia] Menjadi Polisi untuk Polisi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 30 Jun 2006 22:43:07 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **KOMPAS
Sabtu, 01 Juli 2006
Menjadi Polisi untuk Polisi
Satjipto Rahardjo
Sesudah berusia hampir 60 tahun, Kepolisian Indonesia baru memiliki Komisi
Kepolisian atau Kompolnas dengan tugas-tugas yang pada dasarnya menjaga dan
menaikkan martabat kepolisian negeri kita.
Presiden juga telah memutuskan untuk mengangkat sejumlah anggota Kompolnas dari
unsur kepolisian, masyarakat, dan pakar. Apakah komisi itu diperlukan? Apakah
hanya karena telah dibentuk "Komisi Yudisial" dan "Komisi Kejaksaan", maka
perlu ada komisi untuk polisi?
Mengontrol kecenderungan buruk
Kepolisian adalah institusi yang diberi otoritas publik luar biasa karena
diberi kewenangan untuk mengontrol masyarakat secara fisik, seperti menangkap,
menahan, dan menginterogasi, bahkan menggunakan kekerasan bila perlu.
Kewenangan presiden pun tidak sebesar itu, artinya untuk langsung bertindak dan
menindak seseorang secara fisik. Presiden Abdurrahman Wahid dulu pernah
memerintahkan "Tangkap orang itu!" karena dia sendiri tidak berwenang untuk
menangkapnya. Polisi tidak perlu memerintahkan orang lain untuk menangkap
seseorang, karena dia bisa dan boleh melakukannya.
Polisi menahan seseorang karena undang-undang memberi kewenangan dan kekuasaan.
Tetapi apakah tindakan itu berdasar alasan yang dibenarkan hukum? Apakah alasan
seorang polisi untuk menangkap seseorang? Karena ada petunjuk kuat akan
melakukan kejahatan? Betulkah petunjuk itu? Tidak mungkinkah polisi "mengarang"
sendiri suatu alasan?
Ungkapan Lord Acton, power tends to corrupt, juga berlaku untuk polisi yang
diberi kekuasaan istimewa. Sebaiknya Kompolnas menyusun rancangan agar hal
seperti itu tidak terjadi atau setidaknya ditekan sampai titik minimum.
Persekongkolan jahat polisi
Karena memiliki otoritas dan kekuasaan yang besar, maka aneka kemungkinan
negatif bisa terjadi. Demi menjaga citra Polri, ada baiknya Kompolnas ikut
menjaga agar para polisi kita tidak terjatuh ke dalam "kenistaan", seperti
pernah terjadi pada kepolisian negara bagian New South Wales (NSW), Australia.
Sekitar 10 tahun lalu, ditulis kemungkinan polisi melakukan persekongkolan
kejahatan ("Polisi dan Persekongkolan Jahat", Kompas, 29/8/1996). Harian
Kompas, pernah membuat laporan yang bagus sekali tentang persekongkolan jahat
polisi, atau mafia polisi Sidney, NSW (Kompas, 19/3/1996). Laporan itu membuka
mata kita tentang apa yang bisa terjadi di kepolisian manakala kita tidak
waspada mencegahnya sejak dini.
Dilaporkan, ada kelompok kecil polisi dalam kepolisian NSW yang bekerja sama
dengan kelompok mafia heroin, melindungi kejahatan, dan memaksa meminta uang
dari para pelacur (pelacuran dilarang di NSW) dan pemilik toko di daerah lampu
merah King Cross.
Kelompok kecil yang bekerja secara tertutup itu terbongkar berkat kerja gigih
Komisi Wood dan kesediaan seorang polisi anggota komplotan, membongkar
kejahatan yang dilakukan teman-temannya.
Polisi tidak mungkin melakukan hal negatif jika ia tidak diberi kewenangan
untuk mengontrol masyarakat. Tetapi kekuasaan itu diberikan karena tanpa itu
polisi tidak akan bisa menembus dunia kejahatan. Misalnya, dalam kasus yang
dikenal sebagai dropsy cases. Polisi Amerika yang sulit menembus jaringan
komplotan heroin harus menciptakan teknik sendiri guna menangkap basah
pengedar. Itu dilakukan dengan tiba-tiba menangkap seorang yang sudah lama
dicurigai dengan dalih, satu bungkus heroin telah jatuh dari kantongnya,
padahal polisi sendiri yang "memasang" bungkus heroin itu.
Jadi segalanya akan tergantung polisi sendiri, apakah kekuasaan akan digunakan
bagi hal yang "baik" atau "tidak baik". Di sinilah peran penting Kompolnas
untuk menjaga dan mendorong agar polisi menggunakan kekuasaan untuk
sebesar-besar kemanfaatan sosial.
Tradisi yang baik diteruskan
Di tengah cerita-cerita kurang baik tentang Polri, saya masih memiliki
optimisme terhadap polisi Indonesia. Optimisme itu didasarkan pada beberapa
pengalaman selama bergaul dengan polisi kita.
Pertama, polisi Indonesia itu unik. Di tengah atmosfer korup di Indonesia, yang
justru berusaha ditutup-tutupi oleh instansi-instansi yang korup, Polri justru
terus terang membuka borok sendiri dan menunjukkannya kepada masyarakat. Hal
itu terjadi di bawah Kepala Polri Kunarto, yang sekian puluh tahun lalu
mengadakan seminar Suap-menyuap Polisi di Jalan. Dalam seminar di Bandung itu
dibeberkan bagaimana proses itu terjadi dan ke mana saja uang itu mengalir.
Kedua, di bawah Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Farouk
Mohammad, mahasiswa PTIK dikerahkan untuk membuat laporan tentang realitas
pelayanan yang dilakukan Polri. Dari penelitian itu terungkap, alih-alih
memberi pelayanan seperti moto "Melindungi dan Melayani", polisi kita lebih
banyak minta dilayani publik. "Temuan buruk" hasil penelitian itu tidak lalu
disembunyikan dalam laci, tetapi dibeberkan ke masyarakat melalui seminar.
Cerita sukses dari Polda Jawa Tengah, di bawah Kepala Polda Muslihat, dengan
proyek "Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Desa" kurang gaungnya di
masyarakat, padahal banyak surat dari masyarakat ditujukan ke Polda, menuturkan
keberhasilan polisi in blue jeans melayani publik secara memuaskan. Di situ
terungkap, polisi memasangkan antena TV, mencarikan dukun bayi, memimpin rapat
di kelurahan, memberi khotbah Jumat, dan lain-lain. Semua itu dilakukan karena
permintaan masyarakat. Tetapi karena saat itu ada yang lebih berkuasa dari
polisi, proyek itu dihentikan.
Cerita dan pengalaman seperti itulah yang memberi optimisme jika dikelola
dengan baik, Polri bisa mencapai banyak prestasi yang membahagiakan rakyat.
Kini Polri mempunyai mitra kerja, Kompolnas. Maka, menjadi tugas Kompolnas
untuk menjaga, mendorong, dan meneruskan tradisi-tradisi yang baik dan menjadi
pekerjaan rumah Polri menerima kritik dan saran dari mitra barunya. Yang buruk
dirobohkan, yang baik ditegakkan.
Satjipto Rahardjo
Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Menjadi Polisi untuk Polisi