[nasional_list] [ppiindia] Mengapa Pemimpin Ingkar Janji?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 3 Mar 2006 23:09:12 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **RIAU POS
Mengapa Pemimpin Ingkar Janji?
Jumat, 03 Maret 2006
Berawal dari krisis ekonomi kemudian diikuti pula oleh krisis moral dan
budaya, yaitu semakin menipisnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai
moral dan budaya yang mereka miliki. Terakhir kita pun saat ini tengah dilanda
oleh suatu krisis yang tak kalah hebatnya yaitu krisis kepemimpinan, yakni
suatu krisis dimana masyarakat tidak lagi mampu memberikan kepercayaan terhadap
pemimpin-pemimpin yang terpilih, walaupun pemimpin itu dipilih oleh rakyat
secara aklamasi, namun pada saat yang sama, justru tidak lagi mendapat dukungan
dari rakyatnya.
Kalau kita ikuti perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa selama beberapa
dekade, sulit rasanya untuk menemukan pemimpin yang nota bene memiliki
prioritas serta intensitas yang tinggi terhadap kepentingan rakyat. Padahal
jika dilihat individu dari pemimpin itu sendiri, sebagian besar di antara
mereka adalah para ulama, karena mereka memiliki pengetahuan yang tinggi
tentang masalah keagamaan, didukung lagi dengan sertifikasi pendidikan yang
merupakan jebolan perguruan tinggi agama, tidak saja sekadar itu merekapun
barani mengeluarkan "fatwa" dihadapan para jema'ah mereka tentang
persoalan-persoalan keagamaan.
Namun tatkala status mereka bertambah menjadi umara' (pemimpin),
seolah-olah ada kecenderungan untuk meninggalkan fungsi mereka sebagai ulama.
Betapa banyak para nabi dan rasul serta orang-orang zaman dahulu kala yang
menerapkan prinsip penyatuan ini, Baginda Rasulullah SAW disamping seorang nabi
dan rasul ia juga sebagai khalifah (pemimpin), Umar ibn Khattab disamping
seorang khalifah ia pun seorang ulama, dan banyak lagi contoh lain dalam
sejarah perkembangan peradaban Islam yang menerapkan prinsip penyatuan ini dalm
menjalankan roda pemerintah. Akibatnya karena mereka lupa dengan fungsinya
sebagai ulama.
Persoalannya adalah mengapa mental seperti ini menggoroti sebagian besar
para pemimpin kita, apakah kita sebagai rakyat yang salah dalam menentukan
pilihan ataukah mungkin mereka itu tidak lagi komitmen dengan janji-janji
mereka sehingga rakyat terkesan dilupakan bahkan tidak jarang rakyat dijadikan
sebagai onjek penderita akibat kebijakan yang tidak bijaksana.
Menyikapi fenomena ril di atas penulis ingin mengingatkan kita semua,
sebagai rakyat agar kita tidak salah dalam menentukan sikap, serta keliru dalam
menentukan pilihan setidaknya ada tiga paradigma utama yang harus kita jadikan
acuan dalam menentukan seorang pemimpin, di antaranya. Pertama, memiliki
komitmen untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar artinya seorang pemimpin
harus memiliki nyali dan keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar itu
salah, dengan siapapun ia berhadapan dan apapun yang ia hadapi, ia akan
mengatakan ''ya'' terhadap yang benar dan ''tidak'' terhadap yang salah.
Kedua, pemimpin yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran dan keadilan.
Artinya, seorang pemimpin yang adil itu adalah pemimpin yang menempatkan hukum
di atas segala-galanya. Siapapun yang bersalah maka di saat itu ia harus
mendapatkan hukuman, dan sebaliknya siapa saja yang tidak terbukti bersalah
maka ia berhak untuk mendapatkan kebebasan. Prinsip ini pula yang menjiwai
kepribadian Rasulullah SAW, tatkala ia menjadi seorang rasul dan khalifah,
dalam sebuah kesempatan ia pernah mengeluarkan statement yang berbunyi
''Kalaulah seandainya Fathimah anakku yang mencuri, maka sungguh akan kupotong
tangannya.'' Ini adalah ungkapan yang sarat dengan komitmen untuk menjunjung
tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
Ketiga, pemimpin yang memiliki azas kebersamaan. Artinya adalah pemimpin
yang memiliki pandangan bahwa jabatan bukan segala-galanya, dan jabatan adalah
sebuah amanah yang diberikan rakyat kepada dirinya karena ia dianggap mampu
untuk memimpin, dan ia sadar sebelum menjadi pemimpin diapun adalah rakyat,
maka dari pemahaman seperti ini, akan muncullah sikap kebersamaan antara
pemimpin dengan rakyatnya. Implikasi berikutnya adalah memperkecil jarak antara
ia dengan rakyatnya, bahkan ia tidak akan segan-segan untuk melakukan sesuatu
perbuatan yang munurut pandangan sebagian orang ''tidak pantas dilakukan oleh
seorang pejabat''. Prinsip inilah ynag kemudian mewarnai pola pemerintahan yang
diterapkan oleh Umar ibn Khattab tatkala ia menjadi khalifah, setiap kebijakan
yang dikeluarkannya senantiasa mendapatkan dukungan dari rakyatnya dan nyaris
tidak pernah ada rakyat yang kecewa dan dirugikan akibat keputusannya, karena
demikian dekatnya umar dan rakyatnya sehingga rakyat mer
asakan betapa mereka berada dalam naungan sang khalifah yang memiliki jiwa
kerakyatan yang tinggi.
Sebuah riwayat mengisahkan. ''Tatkala Umar ibn khattab malakukan inspeksi
ke lapangan, dan didapatinya sebuah rumah seorang perempuan tua yang sedang
memeluk anaknya, sedangkan anaknya itu tak henti-hentinya menangis sambil
mengatakan ''lapar,lapar, dan lapar.'' Sedangkan dihadapannya terdapat sebuah
tungku yang dinyalakan api, di atasnya terdapat periuk, suatu petanda ada
sesuatu yang sedang dimasak. Lama sekali Umar memperhatikan peristiwa tersebut,
namun perempuan tua itu tidak kunjung memberikan makanan yang ia masak kepada
anaknya, sehingga pada akhirnya anaknya itupun tertidur. Kemudian Umar segera
masuk ke dalam rumah itu dan menanyakan kepada perempuan tua tersebut. Kenapa
anakmu menangis? Perempuan tua itu menjawab. Ia menagis karena lapar. Lalu umar
kembali bertanya kenapa engkau tidak menghidangkan apa yang sedang engkau masak
itu pada anakmu? Ia menjawab, aku meletakkan periuk di atas tungku, dan
memasukkan air ke dalam periuk, kemudian memasukkan batu ke da
lam air itu, supaya anakku menyangka bahwa periuk itu ada makanan yang sedang
dimasak, kemudian ia menunggu dan menunggu sampai pada akhirnya ia tertidur.
Inilah yang sering saya lakukan ketika anak saya menangis meminta makanan
karena lapar. Umar kemudian bertanya lagi kenapa semua ini engkau lakukan?
Perempuan itu menjawab, karena kami adalah orang miskin yang tidak mampu untuk
mencukupi keperluan hidup sehari-hari, sedangkan penguasa kami adalah orang
yang zalim, yang tidak pernah tahu bagaiman penderitaan rakyatnya. Mendengar
ungkapan itu secara spontan umar keluar dari rumah perempuan tua itu dan segera
menuju ke Baitulmal, kemudian beliau kembali dengan memikul dipundaknya sendiri
satu karung gandum dan diserahkannya pada perempuan tua tersebut seraya
berkata. Wahai perempuan tua aku adalah Umar, penguasa zalim yang engkau
maksudkan, mendengar ucapan tersebut perempuan tua itu gemetar dan langsung
bersujud dihadapan umar, seraya minta maaf atas segala ucapan yang telah
dikeluarkannya. Ternyata penguasa yang ia anggap zalim itu adalah seorang
yang mulia dan penuh perhatian pada rakyatnya, kemudian Umar duduk dan
melanjutkan pembicaraannya, aku sangat berterima kasih karena engkau
membangunkan aku dari kelalaianku, aku tidak tahu sebesar apa azab yang akan
aku pikul diakhirat nanti, jika seandainya aku melalaikan tugas yang
diamanahkan rakyat kepadaku.''
Demikianlah ungkapan seorang penguasa yang menjunjung tinggi prinsip
kebersamaan. Prinsip inilah yang harus dijadikan moral dasar seorang pemimpin,
jika ia ingin mendapatkan simpatik dan dukungan dari rakyatnya, sebaliknya jika
ada pemimpin yang memegang jabatan tanpa dilandasi oleh prinsip tersebut, maka
sesungguhnya ia telah zalim pada dirinya dan kepada rakyat yang dipimpinnya. ***
Khairul Akbar El Islami, pegawai SMP IT Al Ittihad Rumbai
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Mengapa Pemimpin Ingkar Janji?