[nasional_list] [ppiindia] Lydia kawanku yang hilang..... (8)
- From: Mira Wijaya Kusuma <la_luta@xxxxxxxxx>
- To: Perempuan <perempuan@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 5 Nov 2006 11:55:02 -0800 (PST)
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Lydia kawanku yang hilang..... (8)
?Uuuh....? seketika kudengar suara merintih yang memilukan, lalu aku menoleh
kearah Debi lantas memandang kearah temannya. Kulihat wajah pucat temannya
bahkan badannya mulai doyong mau jatuh kearah Debi, yang sedang berdiri
disampingnya. Tanpa berpikir lagi lalu dengan cepatnya aku menghampiri temannya
itu yang sudah menyandarkan tubuhnya ke badan Debi. Tentu maksudnya supaya aku
bisa segera menahan tubuhnya yang sudah tidak bertenaga lagi. Debi kelihatan
terkejut dan menjadi bingung menghadapi keadaan temannya yang sudah lemas
lunglai tidak berdaya kemudian jatuh dalam pelukannya. Dia semakin bertambah
panik ketika mengetahuinya bahwa temannya juga mengalami sesak nafas.
Dirangkulnya temannya itu erat-erat, dan sementara itu aku mencoba menahan
tubuh temannya itu supaya kedua temanku itu tidak jatuh tersungkur ke bawah.
?Ayo...Kita mesti cepat keluar dari pasar ini!!.? seruku sambil mengisyaratkan
tanganku ke arah keluar pertokoan. Debi berusaha mengembalikan posisi badannya
untuk bisa mengangkat bahu temannya dari sisi kiri, sembari pula melingkarkan
lengan tangan temannya kelehernya, sedangkan aku melakukan yang sama dari
sebelah kanan. Untunglah ada dua orang lainnya, yang langsung menghampiri kami
serta membantu menggotongnya sampai ke pintu keluar pertokoan.
Sebenarnya temannya itu masih menunjukan tanda-tanda setengah siuman tapi aku
tetap mengkhawatirkan keadaannya, yang kuanggap sesak nafasnya itu belum pulih
kembali. Lalu aku menawarkan ke Debi untuk sementara waktu mampir ke salah
satu rumah makan terdekat. Sembari menganggukan kepalanya dia mengarahkan
langkahnya berjalan masuk kedalam tenda warteg (Warung Tegal) tapi bukan untuk
ke rumah makan yang kumaksudkan. Padahal usulku adalah untuk pergi ke rumah
makan atau ke restoran terdekat, yang kupikir akan lebih aman dan nyaman buat
temannya itu yang belum berpengalaman mencicip makananan di warteg. Tentu
warteg yang kami kunjungi itu jaraknya sangat dekat dengan pintu keluar
pasarnya, juga kelihatannya masih baru dan lagi pula terlihat bersih. Sedangkan
untuk ke rumah makan, kita harus berjalan dengan jaraknya lumayan jauh dan kami
pun mesti pula menyeberangi jalan raya. Namun biar bagaimana pun juga, aku
masih tetap terheran-heran dengan perubahan kebiasaan interesnya
Debi. Yang kuanggap dia terakhir ini mempunyai cara hidupnya menjadi lebih
fleksibel dan bisa menerima apa adanya yang ada disekitar lingkungannya.
Sebagai anak tunggal yang dimanja dengan fasilitas kehidupan kemewahan dari
orang tuanya, rupanya dia menjadi jera untuk terus menerus hidup cara
bergengsi. Suatu kali dinyatakannya warteg sudah menjadi tempat makan
favoritnya. Dan menurut ceritanya, warteg itu menjual makanannya
murah-meriah-meledak. Yang tentunya dimaksudkan harga makanannya jauh lebih
murah dari pada harga makanan di restoran, juga porsi makanannya pun dianggap
banyak bahkan rasanya pun dianggap lezat dan sedap. Tapi yang menjadi alasan
utama makan di warteg katanya bisa dibayar dikemudian hari, yang maksudnya
untuk makan di warteg itu si pembeli boleh ngutang. Padahal setahuku dia tak
pernah kekurangan uang. Sehingga aku pun menjadi tidak mengerti, apa sebenarnya
yang ada dalam benaknya. Lain halnya dengan temanku Lydia, yang sepengetahuanku
selalu
memperlihatkan rasa simpatinya terhadap kehidupan orang kecil. Lydia tahu
persis bahwa pedagang kaki lima itu kemampuan untuk menyambung hidupnya jauh
lebih minimal dari standart kehidupan dalam keluarganya. Jadi kalau dia beli
makanan dari warteg selalu membayar kontan. Dan, mudah-mudahan untuk kali ini
alasannya buat Debi memang karena letak wartegnya ada di sekitar trotoar jalan
raya, yang mungkin akan lebih mudah menyetop taksi untuk bisa segera pulang
kerumah.
?Wah...gimana nih gara-garaku dia jadi pingsan begini?? Tiba-tiba tanya Debi
dengan nada suara mengkhawatirkan keadaan temannya. Sementara itu aku
menyibukan diri membantu temannya untuk direbahkan di kursi panjang warung.
Untung saja ketika itu hanya kami bertiga yang berada di tenda warung
tersebut. Sehingga kita bisa lebih leluasa menunggu temannya sadar kembali dari
pingsannya.
?Mungkin karena penyakit astmanya kambuh hingga tak tahan dengan ruangan
tertutup dan pengap di pasar itu. Aku juga dulu pernah pingsan di tempat
bagian penjualan daging-daging di pasar.? Jawabku seadanya, yang sebenarnya
hanya untuk sekedar menghiburnya.
?Ya... mungkin kau betul, lagi pula hari ini kita belum makan siang.? Jawabnya
sambil sibuk membasuh disekitar wajah temannya yang sedang berkeringat basah
kuyup. ?Ooo...alá nak, rupanya belum makan siang?? tanya Ibunya sambil
memandang kami secara bergantian. Sedangkan aku sibuk menggosok temannya Debi
dengan minyak gosok ke bagian dahi, sekitar hidungnya dan lehernya. Tentunya
aku tak pernah luput membawa balsam tersebut karena setiap saát aku selalu
membutuhkannya buat mengurangi rasa pusingku yang selalu menyerangku.
?Ooooh...Ibu, kami engga punya cukup uang buat bayar makanannya, ndak usah saja
lah. Kami masih bisa tahan lapar koq.? jawab Debi cepat sambil menoleh ke
arahku sambil mengedipkan sebelah matanya. Seketika aku merasa khawatir dan
merasa tidak enak hati mendengar jawaban Debi yang kuanggap a-sosial itu. Namun
Ibu penjualnya tidak mereaksinya bahkan seakan-akan tidak peduli dengan jawaban
Debi. Dengan sigapnya si Ibu menyiapkan makanan lalu menyodorkannya piring yang
berisi nasi lengkap dengan sayur lodeh dan ikan teri pedas buat kami bertiga.
Bersamaan waktunya, kulihat temannya Debi mulai menggerakkan badannya sambil
perlahan-lahan membuka matanya. Biarpun pancaran matanya masih kelihatan layu
tapi sepertinya dia bingung tidak mengerti tentang keberadaannya. Secara
perlahan temannya itu menggeliat yang kelihatannya sedang berusaha untuk bangun
dari rebahannya di kursi panjang. Sementara itu Debi membantu mengangkat bahu
badannya lalu di dudukkannya temannya itu supaya bisa
duduk disampingnya di kursi panjang yang sama. Tanpa kutawari lagi, aku
langsung menyodorkan segelas teh panas manis, tentu maksudnya juga untuk supaya
dia bisa menjadi pulih kembali dari rasa lemasnya. Sementara itu kulihat Debi
sedang sibuk melahap dan menikmati makanan dari masakan ibu penjual di warung.
"Mulailah, kau makan itu...!" sapa Debi kemudian sambil tetap terus menyantap
jatah makanannya. Aku menjadi salah tingkah dan kutatap piring yang berisi
makanan enaknya buat jatahku. Lalu aku menoleh ke arah Ibu yang sedang sibuk
dengan gorengannya dibalik tirai samping tendanya.
"Bagaimana aku bisa makan nikmat kalau aku tidak bisa membayarnya?" tanyaku
menggumam sembari memandang temannya itu yang masih belum menyentuh hidangan
makanan untuknya.
Bersambung....
MiRa
Amsterdam, 5 November 2006
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things
done faster.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Lydia kawanku yang hilang..... (8)