[nasional_list] [ppiindia] Ketika Singapura Memeluk Batam
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Jun 2006 13:29:10 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarapembaruan.com/News/2006/06/29/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Ketika Singapura Memeluk Batam
Oleh M Sulthan Haq
Pemerintah akhirnya mengajak Singapura membangun zona ekonomi khusus (Special
Economic Zone/SEZ) di Batam, Bintan, dan Karimun. Penandatanganan MoU SEZ
dilakukan antara Presiden Susilo Bambang Yu- dhoyono dan PM Singapura Lee Hsien
Loong (25 Juni 2006) di Batam. Tujuan kerja sama ini adalah untuk membangkitkan
perekonomian Riau Kepulauan dan nantinya akan dijadikan percontohan bagi SEZ
yang akan dibangun di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia
berencana membentuk tujuh zona ekonomi khusus untuk menarik investasi asing.
Ketujuh wilayah tersebut adalah Batam-Bintan, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
Lee Hsien Loong akan membantu Indonesia dengan memberi nasihat yang berkaitan
dengan peningkatan investasi, mempromosikan Batam, Bintan, dan Karimun, sebagai
tujuan investasi manufaktur dan peningkatan kemampuan pekerja serta pejabat.
Bila kita menengok ke belakang, Pulau Batam dibangun berdasarkan Inpres No 74
Tahun 1971. Batam dan sekitarnya dibangun berdasarkan visi bahwa Singapura
dalam kurun waktu tertentu akan bersifat selektif hingga Indonesia harus siap
menerima limpahan industri barang dan jasa. Visi ini menjadi kenyataan. Banyak
hambatan mengapa Batam dan sekitarnya kurang berkembang, padahal sudah memiliki
pelabuhan udara dan laut yang memadai. Beberapa jembatan dibangun untuk
menghubungkan Batam dengan pulau-pulau yang berdekatan. Tenaga kerja juga sudah
melimpah ruah.
Visi pembangunan memang jelas, namun implementasinya sangat tidak rapi. Mereka
yang dekat dengan pusat-pusat kekuasaan menguasai lahan namun cuma buat ajang
spekulasi hingga banyak lahan tidur.
Jika Anda keliling Batam, sejauh mata memandang hanya akan terlihat tumpukan
bangunan. Pembangunan perumahan merambah dataran datar, bukit, dan hutan. Bukit
menjadi gundul dan hutan rusak. Kawasan rumah toko (ruko) pun menjamur.
Ironisnya, masih cukup banyak rumah dan ruko yang tidak berpenghuni sehingga
menjadi aset yang tidak produktif. Di sisi lain, rumah yang dikategorikan
sebagai rumah liar (ruli) yang dibangun penduduk miskin berkembang makin subur.
Terkesan, kebijakan pembangunan di Batam tidak terarah dan memiliki prioritas.
Ada lahan, langsung dibangun. Lingkungan yang rusak menjadi pemandangan atau
hal yang biasa. Siapa yang beli atau setelah dibeli mau diapakan juga tidak
terlalu menjadi persoalan.
Maraknya pembangunan sektor perumahan dapat dilihat dari alokasi lahan Otorita
Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Otorita Batam). Dari luas Pulau Batam
sebesar 41.500 hektar, sampai akhir tahun 2005, Otorita Batam telah
mengalokasikan lahan untuk sektor perumahan 9.646 hektare atau 39,85 persen.
Alokasi ini jauh lebih besar daripada alokasi lahan untuk sektor lain. Sebagai
gambaran, alokasi lahan dari Otorita Batam untuk sektor industri 5.234 ha
(21,62 persen), jasa dan perdagangan 2.415 ha (9,98 persen), pariwisata 3.056
ha (12,63 persen), fasilitas umum 1.738 ha (7,18 persen), pertanian dan
perikanan 696 ha (2,88 persen), dan padang golf 1.420 ha (5,87 persen).
Dengan jumlah rumah yang mencapai 120 ribu unit, itu berarti sudah lebih dari
seperlima dari jumlah penduduk Batam yang mencapai 685 ribu pada tahun 2005.
Persoalannya, tidak semua penduduk Batam dapat membeli rumah di perumahan,
meski rumah sederhana sekalipun. Mengapa? Mayoritas penduduk Batam bekerja
sebagai buruh pabrik dengan pendapatan yang kecil atau bekerja di sektor
informal. Selain itu, daya beli masyarakat juga rendah dan tingkat pengangguran
relatif masih tinggi.
Jauh dari Harapan
Kondisi ini mengindikasikan bahwa misi Otorita Batam untuk mewujudkan Batam
sebagai daerah industri yang kompetitif di Asia Pasifik dengan dukungan sektor
perdagangan, pariwisata, alih kapal (transshipment), perbankan, dan jasa
keuangan internasional masih jauh dari harapan. Hal ini pun masih harus
diperparah oleh adanya kerancuan tentang siapa yang memegang kendali atas pulau
Batam, apakah otorita atau Wali Kota? Dualisme ini terus berlanjut dan belum
terpecahkan sampai sekarang.
Keseretan investasi di Batam dan sekitarnya juga antara lain disebabkan
peraturan perpajakan, pertanahan, dan perizinan investasi yang tidak kondusif.
Dengan demikian, persoalan yang terjadi di Batam disebabkan pemerintah tidak
tegas mengimplementasikan visi. Ketidaktegasan ini yang berujung mengundang
Singapura terlibat lebih mendalam.
Pembentukan SEZ kemudian dipandang sebagai resep mujarab dalam mendongkrak
perekonomian. Investor asing bahkan domestik sangat menyukai SEZ karena
memperoleh kelonggaran besar dalam perpajakan, investasi, imigrasi, keuangan
perbankan, proses ekspor-impor serta pengenaan bea dan cukai.
Dalam bayangan pemerintah, SEZ akan memberi manfaat luar biasa terutama dalam
penyerapan tenaga kerja, peningkatan keahlian dan kecakapan buruh, serta
pembangunan kegiatan bisnis di luar SEZ. Perekonomian pun diangankan akan
tumbuh pesat, dan pemerintah akhirnya juga memperoleh pendapatan dari pengenaan
restribusi dan pajak atas kegiatan bisnis di luar SEZ.
Bahwa Singapura sudah mendirikan SEZ di China, India, dan Vietnam sehingga
Negara Kota tersebut telah diakui kredibilitasnya dalam pengembangan SEZ memang
tak bisa ditampik. Namun ada satu kekhawatiran pula yang tak bisa kita ingkari.
Yakni keterlibatan Singapura di Batam, Bintan, dan Karimun akan jauh lebih
mendalam.
Terlebih, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Indonesia ingin
merestrukturisasi dan mereformasi secara konkret untuk memastikan pelayanan
dapat dilaksanakan dengan baik, murah, dan cepat hingga ekonomi biaya tinggi
dapat dicegah. Dengan demikian, peluang lebih besar untuk sebuah kerja sama
ekonomi dan investasi yang akan datang ke tempat ini akan terbuka lebar.
Mengajak Singapura mungkin bisa mengatasi kebuntuan. Namun sebuah fenomena yang
sangat menyedihkan kembali membayang. Mengapa kita selalu dan selalu minta
tolong kepada orang lain? Ini mirip dengan menjual BUMN dalam upaya mencari
dana dan membenahi manajemennya yang sudah sering kita lakukan selama ini.
Kita sepakat kerja sama amat diperlukan, namun jangan menutup sikap kritis.
Sampai saat ini, perjanjian ekstradisi Singapura-Indonesia belum juga
ditandatangani sebab Singapura memasukkan klausul lain yang jauh dari persoalan
hukum. Belum lagi masalah impor pasir laut yang membuat negara pulau itu mampu
memperluas bandar udara dan pelabuhan lautnya.
Meski Wapres Jusuf Kalla menegaskan Singapura hanya bertindak sebagai perumus
kebijakan (seperti fiskal) dan tidak mempunyai wewenang khusus dalam
pembentukan zona ekonomi di Indonesia, namun bagi Singapura, keikutsertaan pada
SEZ memberinya keuntungan strategis yang tak ternilai. Ia akan punya
keleluasaan dalam mengendalikan situasi di Batam, Bintan dan Karimun. Jika
sudah demikian, bukankah kita jua yang akan dibuat kelimpungan?
Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik, tinggal di Batam
Last modified: 28/6/06
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts: