[nasional_list] [ppiindia] Kemiskinan Tidak Dapat Dituntaskan dengan Pertumbuhan Ekonomi!
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 28 Apr 2006 00:15:41 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=23582
Kemiskinan Tidak Dapat Dituntaskan dengan Pertumbuhan Ekonomi!
Oleh redaksi
Jumat, 21-April-2006, 08:08:1749 Klik
Oleh: Ir H Donny Irawan*
Saya sangat bergembira, ketika tulisan saya ditanggapi oleh saudara Rafki RS,
SE MM melalui Rubrik Opini Harian Batam Pos, edisi 19 April 2006 dengan judul:
Kontroversi Konsep Pertumbuhan Ekonomi. Betapa tidak? Selama ini, tulisan saya
tentang Sistem Ekonomi Islam (baca : Ekonomi Syariah) yang dimuat secara
berkala di Harian Batam Pos ini, rasanya belum pernah ada 'sparing partner'
dalam hal Pemikiran Ekonomi yang saya ulas selain saudara Rafki ini. Sekali
lagi, hal ini merupakan satu "tantangan" dalam bidang pemikiran. Mudah-mudahan
tulisan ini dapat 'lebih meluruskan' hal-hal yang dianggap 'keliru' oleh
Saudara Rafki.
Dalam tulisan saudara Rafki ditulis, saya terlalu memaksakan bahwa konsep
Ekonomi Islam adalah solusi untuk semua permasalahan bangsa yang dihadapi saat
ini. Rasanya hal tersebut satu kesimpulan yang juga "keliru" bahkan
dikatakannya bahwa pertumbuhan ekonomi yang menjadi kebijakan pemerintah adalah
biang keladi kemiskinan! Apakah hal tersebut merupakan kesimpulan saudara
Rifki? Padahal, kita ketahui bahwa ekonomi hanya merupakan "sub-sistem" dari
sistem kehidupan berbangsa dan bernegara secara keseluruhan. Dan tentu saja
ekonomi bukan sistem yang dapat menyelesaikan persoalan bangsa yang sudah
"carut-marut" ini.
Barangkali, karena mungkin saudara Rifki adalah seorang "ekonom", sehingga
menyimpulkan demikian? Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, mungkin perlu
dipertanyakan dahulu sistem ekonomi apa yang diterapkan oleh Pemerintah
Indonesia saat ini? Dari fakta dan data yang ada, saya harus berani mengatakan
bahwa sistem ekonomi yang diterapkan adalah "kapitalis-sekuler-liberal", yang
salah satu instrumen indikatornya adalah "pertumbuhan ekonomi". Hal ini, tentu
saja secara "diametrikal" sangat paradoks dengan sistem ekonomi Islam, yang
sangat memperhatikan faktor "distribusi" daripada aspek "produksi" yang selalu
ditekankan oleh para ekonom penganut sistem ekonomi non-Syariah. Bukankah
kemiskinan muncul karena buruknya "distribusi" bukan minimnya "produksi"?
Untuk lebih menguatkan pendapat dan pemikiran saya ini, mari kita analisis data
yang ada, bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia menurut BPS pada tahun 2002
mencapai 38,5 juta jiwa, atau bertambah sebesar 1,4 juta jiwa dari tahun 2001.
Tetapi data Bank Dunia berdasarkan standar internasional 2 dollar AS per hari
(sekitar Rp17.000) menunjukkan jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 110
juta jiwa atau 53% dari seluruh penduduk.
Menyikapi jumlah kemiskinan tersebut, Menko Perekonomian Dorodjatun Kontjoro
Jakti (waktu itu), dalam sebuah diskusi yang bertajuk "Terbebas dari
Kemiskinan" menyatakan, "Pemerintah perlu melakukan empat langkah untuk
mengurangi tingkat kemiskinan." Keempat langkah tersebut adalah peningkatan
laju pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pemusatan kebijakan sosial
ekonomi, dan penyesuaian kebijakan pengurangan kemiskinan sesuai dengan kondisi
daerah. Dari keempat langkah tersebut, nampak sekali Dorodjatun menitikberatkan
pengentasan kemiskinan pada aspek pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana dikutip
Gatra.
com (17/10/03), menurut Dorodjatun, untuk menyerap pencari kerja pertama (fresh
graduate) sebesar 2,5 juta jiwa dibutuhkan pertumbuhan ekonomi 7 persen.
Memang untuk mengentaskan kemiskinan salah satu prasyaratnya adalah mengurangi
pengangguran dan menyerap angkatan kerja baru dengan membuka lapangan kerja
seluas-luasnya. Hanya saja apakah mungkin penyediaan lapangan kerja dapat
dilakukan dengan mengacu pada pertumbuhan ekonomi? Atau apakah ada korelasi
langsung pengurangan kemiskinan yang disertai distribusi kekayaan dengan
tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi? Dengan kata lain dapatkah pertumbuhan
ekonomi sebagai 'problem solving' untuk masalah perekonomian? Inilah yang
menjadi analisis saya bahwa metode Pertumbuhan Ekonomi tidak menyentuh akar
masalah ekonomi sesungguhnya.
Penempatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak hanya sebagai target utama
yang harus dicapai tetapi juga menjadi tolak ukur utama keberhasilan
pembangunan ekonomi Indonesia. Karenanya kebijakan makro ekonomi Indonesia
dalam konteks fiskal dan moneter selalu menempatkan pertumbuhan ekonomi pada
puncak tujuan yang ingin dicapai. Dengan menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai
dasar kebijakan ekonomi, maka pemerintah telah memilih peningkatan pertumbuhan
produksi nasional sebagai asas pemecahan seluruh permasalahan ekonomi.
Pemecahan masalah kemiskinan dengan metode pertumbuhan ekonomi ini tidak akan
mengenai sasaran, karena kemiskinan yang dipecahkan dengan metode ini adalah
kemiskinan yang menimpa suatu bangsa atau negara secara menyeluruh, bukan
kemiskinan yang menimpa setiap individu di negeri tersebut. ***
*)Ir H Donny Irawan, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) - Batam.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Kemiskinan Tidak Dapat Dituntaskan dengan Pertumbuhan Ekonomi!