[nasional_list] [ppiindia] Kecap Nomor Tiga
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Dec 2005 23:08:05 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/30/humaniora/2324571.htm
Kecap Nomor Tiga
Tri Budhi Sastrio
Profesor Budi Darma pernah memberi tugas kepada mahasiswa S-3 Program
Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya, untuk membaca satu
novel terjemahan dan satu novel karya penulis Indonesia yang diterbitkan oleh
Gramedia. Dua novel ini masih fresh from the oven, kata Profesor Budi ketika
itu.
Kemudian para mahasiswa yang kandidat doctor of philosophy itu diminta menelaah
dan mengeksplorasi dua novel tersebut dengan menggunakan teori sastra pilihan
mahasiswa. Novel yang pertama, Sang Alkemis-nya Paulo Coelho, dibedah dengan
menggunakan pendekatan intrinsik. Adapun novel yang kedua, The (Un)Reality Show
tulisan Clara NG menggunakan pendekatan ekstrinsik.
Sampai di sini tidak ada persoalan. Mahasiswa harus membeli novel-novel
tersebut, membaca, menelaah dan mengeksplorasinya, kemudian harus menuangkan
seluruh hasil telaah dan eksplorasi mereka dengan rambu-rambu yang telah
ditetapkan ke dalam karya berbentuk makalah ilmiah. A piece of cake, kata
orang-orang bule.
Persoalan justru muncul dua hari setelah tugas tersebut diberikan. Profesor
Budi Darma, lewat SMS, mengirimkan pesan sekaligus perintah baru bagi para
mahasiswa untuk membeli dan kemudian membaca koran Kompas tanggal 9 Desember
2005, halaman 14. Gunakan artikel tersebut sebagai salah satu pisau analisis
untuk membedah dua novel yang telah diberikan pada Saudara, begitu kurang lebih
bunyi pesan Profesor Budi Darma.
Begitu berita ini menyebar, para mahasiswa bak tawon kena gebah khususnya yang
tidak berlangganan Kompa segera mencari Kompas dan artikel yang dimaksud. Saya
yang berlangganan juga segera membuka Kompas halaman 14: Klaim tulisan Radhar
Panca Dahana pengasuh Humaniora-Teroka dan Sisi Lain Demokrasi; Kecap Nomor
Satu karya L Wilardjo, fisikawan yang tinggal di Salatiga. Dua artikel ini
segera saya baca sampai tuntas dan saya tidak paham isinya. Baru setelah
membaca untuk yang kedua kalinya, meskipun masih samar- samar, apa yang
dimaksud oleh sang pengasuh maupun penulis artikel ini mulai memberikan bentuk
dan bayangannya di kepala saya.
Sulit mengidentifikasi diri
Klaim dibuka dengan sebuah pernyataan bahwa hadiah terbesar yang telah
diberikan oleh bangsa Yunani dan Perancis mungkin ada dalam satu kata:
demokrasi. Kening saya sebenarnya sudah berkerut membaca pernyataan ini.
Perancis? Mengapa Perancis yang disebut setelah Yunani? Yunani sih oke! Tetapi
Perancis? Bukankah orang-orang Romawi lebih pantas untuk disebut alih-alih
Perancis?
Ah, mungkin bung Dahana menganggap jika Yunani telah disebut maka di dalamnya
pasti juga masuk Romawi sehingga tidak perlu disebut lagi. Kalau memang
demikian, bolehlah! Selanjutnya bung Dahana menjelaskan bahwa rahmat demokrasi
yang paling dirasakan oleh manusia di seantero bumi adalah munculnya kebebasan
berbicara, berpendapat, dan didengar.
Bahkan setelah lahirnya apa yang dinamakan postmodernism semua kebenaran
marjinal, lokal dan bahkan personal memperoleh tempat dan hak yang sama. Tapi,
klaim-klaim semacam ini, masih menurut bung Dahana, pada gilirannya nanti
justru memunculkan apa yang dinamakan antidemokrasi, sebuah tindakan yang
menafikan orang lain.
Mungkin karena tidak menyadari bahwa klaim-klaim yang dikejar oleh banyak orang
tersebut tergolong ke dalam ranah antidemokrasi, banyak orang, dengan
menggunakan uang, kekuasaan, perkariban, dan sebagainya, terus mengejar
klaim-klaim semacam ini untuk eksis dan unggul dalam relasi sosial, aksi
eksistensial, maupun pembenaran kultural.
Bahkan, ini mungkin yang menarik, seseorang dapat menjadi politikus, kritikus,
pengamat politik, atau sastrawan sekalipun, semata-mata karena berhasil
memperoleh apa yang dinamakan klaim. Dalam ruang inilah, bung Dahana menutup
tulisannya, dan tulisan Sisi Lain Demokrasi; Kecap Nomor Satu lalu mengambil
ruang. Ruang di mana secara terus-menerus muncul dan mengalami kesulitan
mengidentifikasi, termasuk mengidentifikasi diri sendiri.
Sampai di sini saya berhenti sejenak. Jangan-jangan tokoh- tokoh utama dalam
dua novel yang harus saya baca dan telaah tersebut juga mengalami hal yang
sama. Mereka sulit mengidentifikasi banyak hal, termasuk diri mereka sendiri.
Kalau begini, satu kata kunci penting telah saya dapatkan! Terima kasih, bung
Dahana!
Berikutnya tentang Kecap Nomor Satu. Jargon yang sudah klise ini dipilih
sebagai judul, apalagi ketika didampingkan dengan Sisi Lain Demokrasi, pasti
ada maksudnya. Sayangnya maksud tersebut tetap samar dan berkabut bagi saya.
Hal ini mungkin disebabkan karena ciri lugas, obyektif, denotatif, kuantitatif,
dan matematis, sebagai elemen yang diperlukan agar sesuatu dapat dianggap
ilmiah atau diterima oleh kelompok ilmuwan, tidak berhasil saya tangkap karena
saya memang bukan orang yang pantas dan berhak meng-klaim diri sebagai ilmuwan.
Saya bukan ilmuwan!
Lalu bagaimana jika ciri subyektif dan konotatif yang digunakan untuk memahami
judul-judul ini? Saya juga bukan sastrawan! Lalu bagaimana saya mampu memahami
hal-hal yang menjadi lahan bermain-main para sastrawan itu?
Istilah demokrasi sendiri saja masih terus membingungkan bagi saya. Apalagi
setelah saya berasumsi bahwa apa yang dikatakan bung Dahana benar adanya.
Demokrasi melahirkan antidemokrasi, kata beliau, sementara antidemokrasi
tampaknya hanya mungkin melahirkan antidemokrasi yang lain, dan begitu
seterusnya.
Jadi, kalau begitu, demokrasi sudah tidak ada, dong? Bukankah sekali konsep ini
digunakan, hasilnya adalah antidemokrasi? Apalagi kalau sampai teringat apa
yang dikatakan oleh James Russell Lowell (1819-1891) dalam The Biglow Papers
yang mengatakan bahwa democracy gives everyman the right to be his own
oppressor. Wah, makin susah kalau begini!
Bebas berkomentar, tidak peduli salah atau benar, adalah jaminan yang diberikan
demokrasi. Tetapi, komentar yang bebas namun tidak tepat itu, yang diberi
istilah kecap nomor satu, adalah antidemokrasi. Lalu? Ternyata, menjaga
komentar agar tidak melukai perasaan orang lain itu penting. Tetapi, berani
menyatakan pandangan yang diyakini kebenarannya juga penting. Meskipun
hendaknya benar-benar diingat bahwa apa yang diyakini benar dapat memang
benar-benar benar, dapat setengah benar, dan juga dapat salah sama sekali!
Ha-ha-ha inilah alasannya mengapa jika saya harus menjual kecap maka saya
selalu menawarkannya sebagai kecap nomor tiga, bukan yang nomor dua apalagi
yang nomor satu! Jika rasanya enak, saya dapat mengklaim yang nomor tiga saja
sudah enak, apalagi yang nomor satu. Kalau tidak enak, saya dapat berkelit:
lha, wong nomor tiga kok minta enak! Klaim ini menurut saya sangat demokratis
dalam bentuk analogisnya.
Ketika seorang guru besar kependidikan mewakili para guru (kecil) yang sedang
berulang tahun dengan membacakan puisi, Wakil Presiden republik ini
marah-marah. Gedung-gedung dan kelas-kelas sekolah kita memang tidak mewah,
tetapi seperti kandang ayam, bohong itu! Tidak benar itu, kata Wakil Presiden.
Gaji guru memang belum mencukupi, tetapi dipakai sehari saja sudah habis, dusta
itu, kata Wakil Presiden berang. Kalau bukan para guru yang menghormati dunia
pendidikan di Indonesia ini, lalu siapa?
Persoalannya bukan lagi hormati-menghormati, tetapi bagaimana pernyataan yang
figuratif ditanggapi secara harfiah? Bagaimana (mungkin) pernyataan yang
metaforis ditanggapi secara literer? Jelas tidak nyambung. Jelas tidak pas!
Bukankah analogi semacam ini juga yang terjadi antara L Wilardjo yang terhormat
ketika memberi komentar, menyalahkan, dan tidak membenarkan pernyataan Profesor
Budi Darma yang mengatakan tentang benturan yang dahsyat antara elektron dan
kutub positif dan negatif'? Tidak ada benturan elektron berdasarkan hukum-
hukum fisika yang sejauh ini diketahui dan kebenarannya telah diakui oleh
banyak ilmuwan, kata L Wilardjo. Dalam regatan atau untai regat yang terjadi
hanyalah munculnya arus elektrik melalui lintasan penghantar yang hambatannya
praktis nol, sehingga arus itu sendiri menjadi sangat besar.
Profesor Budi Darma mengungkapkan konsep pemikirannya dengan menggunakan bahasa
figuratif, Pak Wilardjo mengungkapkan pendapat dan sanggahannya dengan bahasa
literer. Wah, jelas tidak nyambung!
Tetapi, kalau kedua-duanya sama-sama menjual dengan label kecap nomor tiga,
maka keadaan dan jagat dunia keilmuan dan kesusastraan di Tanah Air masih boleh
dikata aman dan terkendali. Kebebasan berbicara tetap terjaga, ketersinggungan
banyak pihak tidak terjadi, pemahaman dan pencerahan pun merasuk ke tulang
sumsum sidang pembaca! Bravo Kompas!
Tri Budhi Sastrio Pengajar Fakultas Sastra Universitas Dr Soetomo, Surabaya
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Kecap Nomor Tiga