[nasional_list] Re: [ppiindia] Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 26 Oct 2005 21:48:05 +0700
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Grand Canyon
Bisakah agama menjawab semua hal? Bisakah ilmu?
Pada akhir musim panas 2005, sebuah rombongan datang ke Grand Canyon, di
timur-laut Arizona, Amerika Serikat: sebuah ceruk sedalam 1,5 kilometer,
terbentang garang bagai samudra yang disihir membeku. Di permukaannya,
seperti armada jung negeri hantu, ribuan bukit keras menjulang dari karang
sembilan lapis.
Di ngarai akbar ini, sinar surya akan membuka warna yang kasar: bentangan
biru batu-kapur purba, merah lempung kedap yang jadi karang penebal tebing,
dan di sana-sini, hijau perdu juniperus, daun-daun agave gurun?.
Apa gerangan yang terbit dalam pikiran Garcia Lopez de Cordeñas ketika ia
pertama kali menyaksikan tamasya seluas 450 kilometer x 29 kilometer itu?
Di tengah abad ke-16 itu belum ada yang berbicara tentang batu-kapur
Kaibab, lapisan Coconino, fosil hewan laut, dan bekas lahar yang menggaris.
Belum ditulis orang bahwa ngarai itu palung laut yang dangkal, dulu, 500
sampai 1.000 juta tahun yang lalu. De Cordeñas tak mengenal teori apa pun.
Mungkin ia hanya takjub di atas kudanya, berbisik: ?Padre nuestro?.?
Tuhan yang ada di surga, ?Padre nuestro que estás en los cielos?, memang
satu-satunya sumber penjelasan saat itu. Tapi bukan hanya pada abad ke-16.
Ketika pada akhir musim panas 2005 ini rombongan yang saya sebut
tadi--yakni 30 orang Kristen yang saleh--turun ke Sungai Colorado yang
mengalir di dasar ceruk, mereka ingin meneguhkan keyakinan bahwa hanya
Tuhan yang bisa menjelaskan Grand Canyon. Hanya Alkitab, The Good Book,
kata mereka, yang benar. Yang lain ?hanya teori?.
Dengan khidmat seseorang menyentuhkan telapaknya ke dasar ngarai.
?Disebutkan dalam Kitab Kejadian,? katanya, sebagaimana dikutip The New
York Times 6 Oktober 2005, ?Tuhan berjalan di muka bumi. Mungkin jejak
kaki-Nya di sini.?
Tampak, kata ?berjalan? itu baginya bukan kiasan. Sama halnya ia yakin
bahwa bumi diciptakan dalam enam hari (atau 6x24 jam). Bahkan bagi Tom
Vail, sang pemimpin rombongan yang menulis buku The Grand Canyon: A
Different View, ngarai yang mereka jelajahi itu bekas banjir Nabi Nuh yang
disebut Kitab Kejadian.
Vail dan rombongannya memang menolak kesimpulan para ilmuwan bahwa bumi
berumur 4,5 triliun tahun dan lapisan Grand Canyon sekitar 20 juta abad.
Dan orang-orang Kristen di Sungai Colorado itu tak sendirian. The New York
Times menulis, sebuah poll pada November 2004 menunjukkan sepertiga orang
Amerika percaya Alkitab adalah sabda Tuhan yang harus diartikan secara
harfiah, dan 45 percaya Tuhan menciptakan manusia
?seperti-keadaannya-sekarang?--tak berubah--sejak 10 ribu tahun yang lalu.
Syahdan, hari-hari ini di pelbagai kota di 20 negara bagian Amerika, para
pengajar teori Evolusi sedang didesak minggir para ?Kreasionis? dan
pendukung teori ?Desain Cerdas?, dua kelompok yang ogah menerima pembuktian
Darwin bahwa bumi dan seisinya berkembang karena adanya ?seleksi alam?,
ketika pelbagai organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
berubah.
Bagi para pendukung ?Desain Cerdas?, alam adalah hasil sebuah rancangan
yang sempurna. Yang Maha Pandai tak sekadar mencoba-coba.
Tentu saja para ilmuwan memandang mereka dengan cemooh. Pada akhir musim
panas yang sama, seperti dilaporkan Jodi Wilgoren dalam The New York Times,
ke Grand Canyon datang pula serombongan lain: 24 orang yang seraya naik
rakit bermotor di Sungai Colorado membahas bentukan karang dengan dasar
teori evolusi dalam geologi--sebuah perjalanan seminar di alam terbuka.
Mereka disponsori Pusat Nasional Pendidikan Ilmu. Separuh dari mereka
bergelar doktor di bidang ilmu pengetahuan alam.
Salah seorang dari mereka, Webb, seorang dokter di Rumah Sakit Colorado
Springs, punya alasan. ?Evolusi itu basis biologi,? katanya, ?dan biologi
itu basis ilmu kedokteran. Kita mengacau sesuatu yang penting jika kita
mengacau evolusi?.
Tapi bisakah ilmu menjawab semua? Para ilmuwan yang menyusuri karang-karang
Grand Canyon itu memang bisa mengklaim bahwa teori evolusi disusun
berdasarkan pembuktian empiris, dan kesimpulannya selalu diuji kembali.
Darwin bukan kebenaran terakhir; semangat ilmu bisa menggugat kepastian
lama--sesuatu yang mustahil dilakukan mereka yang bertolak dari The Good
Book kaum yang beriman.
Maka paham ?Desain Cerdas? ditampik; terutama karena di sana tak ada
kebebasan menelaah, bertanya, dan membantah. Apa jadinya perkembangan ilmu
dan pemikiran bila pintu tanya sudah dikunci?
Di situ para ilmuwan benar--meskipun mereka juga sebenarnya berhenti
bertanya di satu titik. Heidegger akan mengatakan, mereka tak memasuki
?pertanyaan tentang Ada?, Seinsfrage. Sebelum mempersoalkan perilaku alam
dan membangun teori tentangnya, sebetulnya ada pertanyaan: mengapa di balik
alam-benda yang ?ada?, tersirat ?Ada??
Misteri ini menggetarkan sebenarnya. Ia tak bisa dijawab dengan satu causa
efficiens, satu sebab yang dapat menentukan akibatnya dan/atau ditentukan
oleh hasil akhirnya. Sayangnya, ilmu telah jatuh ke dalam godaan causa
efficiens ini. Bahkan sejak masih berupa teori murni, fisika, kata
Heidegger, ?memasang alam agar menampakkan diri sebagai sebuah paduan
kekuatan yang dapat diperhitungkan sebelumnya?.
Tapi apa lacur: godaan causa efficiens juga mendorong para pendukung
?Desain Cerdas?--bahkan umumnya agama dalam tradisi Ibrahimi--untuk melihat
Sebab Yang Awal sebagai sebab yang dianggap menguasai hal-hal yang
disebabkannya. Bahkan dianggap bisa menguasai Kata yang konon berasal
darinya: Kata pun jadi seakan-akan bisa bak sinar laser: senantiasa terang,
lurus, meskipun sempit.
Di situ agama ternyata sama dengan ilmu: meringkus misteri jadi problem,
memberi jawab tapi sebenarnya tak bertanya. Ketika Tuhan dibayangkan
berjalan di Grand Canyon, apa yang terjadi? Ia jadi bagian dari hal ihwal
yang ?ada?. Ia bisa diarahkan, Ia bisa diperhitungkan.
Goenawan Mohamad
(Catatan Pinggir, TEMPO 10 Oktober 2005)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] Re: [ppiindia] Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)