[nasional_list] [ppiindia] Hutan Kita Gawat dan Nyaris Punah
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Jun 2006 09:53:22 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/29/1101.htm
Hutan Kita Gawat dan Nyaris Punah
Pengantar:
PERSATUAN Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerja sama dengan Departemen
Kehutanan Sabtu 17 Juni 2006 laludi Jakarta menyelenggarakan Dialog Terbuka
"Evaluasi Pemberantasan "Illegal Logging" dan Kebijakan Revitalisasi Departemen
Kehutanan". Rangkuman materi dialog tersebut setelah diperkaya bahan-bahan yang
relevan dari lapangan di daerah Jawa Barat, diturunkan dalam tiga tulisan di
halaman ini. Tulisan digarap bersama Wartawan "PR" Widodo Asmowiyoto dan Kodar
Solihat. Semoga bermanfaat.
AKIBAT illegal loging (penebangan liar) yang telah berlangsung puluhan tahun,
situasi kehutanan Indonesia saat ini sudah mencapai fase yang gawat. Laju
deforestasi (penggundulan hutan) mencapai 2 juta hektare per tahun. Dengan laju
deforestasi seperti itu, menurut M. Yayat Afianto dari Lembaga Swadaya
Masyarakat Telapak (LSM) diperkirakan hutan alam di Sumatra punah pada 2005,
hutan alam di Kalimantan akan punah pada 2010, dan hutan alam di Papua Barat
akan punah pada 2015.
Yayat menyodorkan catatan bahwa pembalakan liar sudah terjadi sejak awal
pengelolaan hutan oleh swasta pada akhir dekade 1960-an (1967). Pada saat itu
nyaris seluruh hutan produksi di Indonesia habis dibagi-bagi kepada
perusahaan-perusahaan besar kehutanan.
"Hutan Indonesia paling menderita di bawah rezim Soeharto," kata Yayat. Mantan
presiden tersebut beserta keluarga terdekatnya dan para kroni menguasai 7,14
juta ha hutan melalui 27 perusahaan kayu dan pengelolaan hutan. "Kerajaan" Bob
Hasan, kroni yang paling dekat dengan Soeharto, menguasai paling tidak 3 juta
ha. Kroni lainnya yaitu Prajogo Pangestu mampu menguasai 3,5 juta ha hutan
melalui kelompoknya Barito Pacific Timber Group.
Direktur V/Tipiter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Drs. SuhartoM.Hum, mencatat
bahwa sejak 1997 ketika krisis perekonomian melanda negara-negara Asia termasuk
Indonesia, kuantitas, kualitas, dan intensitas penebangan liar di Indonesia
meningkat tajam.
Para pelaku pembalakan liar itu melakukan aksinya dengan memanfaatkan
peluang-peluang yang ada. Yaitu, pertama, permintaan kayu di dalam dan di luar
negeri yang melebihi pasokannya secara lestari dan tidak memerhatikan
legalitasnya; kedua, kemiskinan penduduk di sekitar hutan, ketiga, masih belum
baiknya sistem pemerintahan Indonesia.
Menurut data pemetaan kehutanan terbaru, sekurang-kurangnya 2 juta ha ditebang
setiap tahun. Berarti Indonesia kehilangan hutan seluas Pulau Bali setiap tahun.
**
Semua ini tak lepas dari industrialisasi kehutanan yang pesat. Tiap industri
kehutanan memerlukan pasokan bahan baku secara rutin dalam jumlah yang semakin
membengkak jauh melampaui kemampuan sumber kayu remsi. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, dicarilah sumber-sumber lain.
Yayat mengutip perkiraan yang bisa dipercaya bahwa dewasa ini 70% kayu yang
dipasok ke sektor industri kehutanan di Indonesia berasal dari penebangan liar.
Ini berarti 70% dari industri itu menghindar dari pajak dan tarif dan bersamaan
dengan itu telah terjadi penggundulan hutan besar-besaran.
Konsumsi kayu gelondongan di Indonesia saat ini, jauh melebihi persediaan dari
sumber-sumber resmi. Pada tahun 1997, selisih antara konsumsi dan pasokan
adalah 41 juta m3, tetapi pada tahun 1998 selisih tersebut membengkak menjadi
56 juta m3. Bahkan dua tahun terakhir selisihnya menjadi begitu besar yaitu 68
juta m3.
Industri pengolahan kayu bisa membutuhkan hampir 80 juta m3 setiap tahun,
sedangkan suplai resmi hanya mampu menyediakan 12 juta m3 kayu per tahun.
Defisit ini berusaha ditutupi oleh penebangan liar. Sampai-sampai, menurut
Yayat, total kapasitas sawmill kayu liar dan tak berizin adalah dua kali lipat
dibandingkan sawmill kayu resmi. Sebagai contoh, untuk satu perusahaan pulp &
paper di Riau, satu tahunnya membutuhkan 20 juta m3 kayu, lebih besar dibanding
suplai resmi nasional yang hanya 12 juta m3 tadi.
"Sumber-sumber lain mengonfirmasikan kenaikan luar biasa dalam penebangan liar
di Pulau Jawa. Pada 1998, nilai kayu jati yang dicuri di Jawa adalah tujuh kali
lebih besar daripada tahun sebelumnya," katanya.
Dari sejumlah penyebab maraknya pembalakan liar, menurut Yayat, salah satunya
karena permintaan yang tinggi dari negara-negara pengimpor kayu, terutama AS,
Eropa, Cina, dan Jepang. Pelarian kayu liar ke negara tetangga Malaysia dan
Singapura, misalnya, terjadi setiap hari. Dalam sebuah investigasi yang
dilakukan baru-baru ini, ungkap Yayat, hanya dalam waktu 2 jam, minimal 8 truk
trailer sarat kayu gelondongan melewati sebuah perbatasan antara Kalimantan dan
Sarawak dari sebuah taman nasional. Di perbatasan itu terdapat 33 pintu masuk
tidak resmi dan kegiatan ini berlangsung 24 jam.
Senada dengan itu, Barnabas Suebu, S.H., gubernur teripilih Provinsi Papua
mengakui, kayu-kayu dari Papua mengalir ke luar negeri terutama Cina. "Jangan
heran bila di salah satu industri kayu di Shanghai saja terdapat sedikitnya 1
juta m3 kayu merbau asal Papua dan itu saya lihat dengan mata kepala saya
sendiri. Jika penyelundupnya jual 200 dolar AS sampai 250 dolar AS per m3, maka
setelah jadi furniture harganya naik berlipat di atas USD 1.000," ujarnya
(Sinar Harapan, 7/6/2005).
Para pelaku pembalakan liar itu, kata Barnabas tidak pernah menganggap ada
hukum di Indonesia. "Saya punya pengalaman yang sangat menyedihkan ketika saya
berkunjung ke Shanghai, Cina. Saat itu saya bertemu dengan salah seorang
importir kayu ilegal. Saya tanya mengapa mereka mengimpor kayu ilegal meskipun
hal itu sudah dilarang dengan tegas oleh Pemerintah Indonesia. Pengusaha itu
menjawab, yang larang siapa? Di negeri kamu ada polisi, tapi di negara kamu
tidak ada hukum, semua bisa dibeli. Kecil ...! (Barnabas Suebu menjentikkan
ujung kukunya, menirukan pengusah Cina itu). Saya hanya diam membayangkan
sampai sebegitu rendahnya martabat bangsa kita di mata mereka. Masalah ini
adalah masalah etika dan moral," tutur Barnabas dalam wawancara dengan koran
Jakarta tersebut.
Begitulah sekilas kisah di balik kegawatan situasi kehutanan kita, dan yang
akan menderita kerugian bukan hanya generasi yang hidup kini tetapi juga anak
cucu kita kelak. Menurut Yayat, masyarakat lokal yang hidup di dalam dan di
sekitar hutan alam tercatat tidak kurang dari 60 juta orang. Hutan alam adalah
kehidupan bagi masyarakat lokal. Bila sumber kehidupan ini lenyap tidak
terbayangkan akibat langsungnya bagi masyarakat lokal. Masyarakat akan
kehilangan daya dukung jangka panjang mereka dari hutan.
Praktik penebangan liar selama ini juga telah merugikan negara puluhan triliun
rupiah, karena minimal 60 juta m3 kayu ditebang secara liar dan dijual melalui
pasar gelap setiap tahunnya. Artinya negara kehilangan aset dan juga
penghasilan dari pajak setiap tahunnya.
Kerugian lain adalah berupa punahnya keanekaragaman hayati kita. Indonesia
sebetulnya memiliki 17% dari spesies burung di seluruh dunia, 16% reptilia, 12%
mamalia dan 10% tanaman. Namun cepatnya proses deforestasi itu menyebabkan
daftar spesies yang terancam punah akan semakin panjang, yang berarti
keseimbangan ekosistem akan semakin labil. Oleh karena itu jangan kaget kalau
banjir dan longsor telah menjadi langganan di beberapa tempat yang hutannya
sudah semakin terekspolitasi. (Widodo Asmowiyoto/"PR")***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Hutan Kita Gawat dan Nyaris Punah