[nasional_list] [ppiindia] Gadis itu Melahap Malam
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, mediacare@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 28 Mar 2006 11:39:25 +0700
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Gadis itu Melahap Malam
Di bawah kepungan gerakan antipornografi, para model tabloid syur mencoba
bertahan. Sisi hanya satu di antaranya.
---------
DENGAN langkah tertahan, seorang gadis 16 tahun memasuki salon kecantikan
di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Juni 2003 lalu. Berbekal uang
tabungan Rp 1,5 juta, ia ke sana untuk memperbesar payudara. Ukuran dadanya
yang "hanya" 32 membuatnya risau. Industri hiburan esek-esek yang
digelutinya mensyaratkan satu hal penting: para gadis model harus berdada
makmur. Jadilah remaja itu mengikhlaskan payudaranya diiris untuk disisipi
silikon. "Awalnya sedikit bengkak dan ruam," kata gadis itu.
Suntik silikon pertama berjalan kurang lancar: bentuk payudara itu belum
bulat berisi. Ia kembali ke salon untuk operasi lanjutan. Setelah itu, ia
bangga dengan organ barunya ini: berukuran 36, pejal membuncah. Orang
tuanya sempat menanyakan perubahan fisik si anak gadis. Tapi ia menjawab
singkat, "Ini karena rajin fitness."
Tiga tahun kemudian, kemolekan itu tetap terjaga. Di sebuah pusat
perbelanjaan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tampak benar ia ingin
semua orang memperhatikan organ kebanggaannya itu: ia mengenakan kaus warna
pink ketat sehingga dadanya seperti hendak meledak. "Nama saya Sisi,"
katanya kenes.
Ia tidak terlalu tinggi, sekitar 160 sentimeter. Rambutnya lurus sebahu dan
dicat kecokelatan. Wajahnya putih berbedak tipis. "Lengkapnya Silvia Eva
Yuliawati," katanya sambil mengeluarkan KTP. Mengisap A Mild hijau mentol,
gadis itu lalu menceritakan kisah hidupnya.
Sejak 14 tahun, Sisi sudah jadi figuran sejumlah sinetron. Ini tak
memberinya banyak uang. Paling banter ia dibayar Rp 30 ribu untuk nongol
sekejap di satu episode. Menjadi pendatang baru ditambah dada yang
kerempeng, kariernya tak berkembang. Memermak payudara adalah jalan pintas.
"Teman-teman saya juga begitu," kata gadis asal Bima, Nusa Tenggara Barat,
ini enteng.
Tapi sambutan dunia layar kaca ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.
Peran-peran besar tidak pernah diberikan kepadanya. Yang datang malah
tawaran untuk tampil di media syur. Hanya dalam tiga bulan, wajah dan tubuh
seksinya terpampang di banyak tabloid esek-esek. Di antaranya adalah Top,
Pop, Lipstik, Lelaki, Eksotika, dan Buah Bibir.
***
DI tabloid ia bukan lagi belia 19 tahun. Wajahnya merekah, menantang. Ia
berdiri menghadap kamera dengan syal hitam menutup sedikit puncak dada.
Celana jins yang membungkus tubuh seperti dibuka paksa: kancing terbuka dan
celana sedikit melorot. Di baliknya menyembul cawat hitam ketat bertali
yang ikut turun.
Itu adalah cover tabloid Lipstik Juli 2005. Lantaran banyak diminati,
gambar ini terpilih menjadi foto dalam kalender 2006 terbitan tabloid yang
sama. "Ini salah satu pose favorit saya," katanya. Kalender itu terpampang
menghiasi dinding kamar kosnya.
Terletak di kawasan padat di Sumur Batu, Senen, Jakarta Pusat, pondokan itu
tak sulit dicari. Sebuah rumah tua yang disulap pemiliknya menjadi tempat
kos berkamar enam, masing-masing sembilan meter persegi. Di tengahnya
terdapat ruang tamu yang menjadi pusat kegiatan.
Memasuki kamar itu, bau apak langsung menyergap hidung. Sebuah ranjang
besar diletakkan di tengah ruangan. Di samping kirinya terletak meja rias.
Lalu ada lemari kayu berwarna cokelat pudar. Sebuah dispenser air mineral
menempel di samping pintu masuk. Ruangan bercahaya temaram ini juga
dilengkapi kamar mandi kecil. Dinding kamar dicat warna pink--warna
kesukaan Sisi. Karena tak ada kursi, Sisi mengajak bercakap di atas ranjang
berseprai kumal warna merah jambu. "Biaya sewa Rp 550 ribu per bulan," kata
Sisi pendek.
Siang itu hujan menghunjam Jakarta. Kamar itu bocor: air menetes dari
langit-langit yang lapuk. Sisi, yang siang itu mengenakan tank-top pink dan
celana pendek sepangkal paha, buru-buru membereskan ranjang--tempat air
tumpah. Selimut, boneka babi, bantal dan guling ia tepikan. "Maaf, ya,
kamarnya berantakan karena jarang saya tinggali," kata Sisi.
Sebentar kemudian Sisi mengeluarkan bungkusan plastik besar dari lemari:
kliping pose-pose panasnya di sejumlah tabloid. Sambil menunjukkan satu per
satu, Sisi mulai bercerita pengalaman pertamanya di depan kamera. "Awalnya
risi karena saya harus tampil nyaris telanjang," katanya. Tapi pada
pemotretan kedua dan selanjutnya, ia malah ketagihan.
Soal bayaran, Sisi mengaku itu sekadar bonus. "Yang saya kejar
popularitas," katanya. Sekali pemotretan, ia mendapat Rp 200 ribu. Jika
fotonya menjadi sampul tabloid, honornya ditambah Rp 600 ribu lagi. Tubuh
moleknya di tabloid panas membuka kariernya. Sejumlah sinetron komedi
dewasa--biasa diputar di televisi lepas tengah malam--menawarinya pekerjaan.
Selain sinetron dewasa, sejumlah agensi mengajaknya bergabung. Salah
satunya adalah Top Model Community (TMC). Lewat bendera TMC, Sisi berkibar
tak hanya menjadi model syur, tapi juga penari erotis. "Bayarannya
berkali-kali lipat dari menjadi model," katanya bangga. Bukan hanya itu,
Sisi juga kerap diundang memeriahkan pesta pribadi. "Asal harganya cocok
dan keamanannya terjamin, saya mau," katanya. Sisi tak menyebut berapa uang
yang dihasilkannya. Tapi, setiap bulan, ia menghabiskan Rp 2,5 juta.
Di luar, hujan masih mengguyur. Sisi beranjak sebentar untuk mengambilkan
air minum. "Maaf, cuma air putih" katanya manja. Tak cuma menjadi model dan
penari telanjang, Sisi akhirnya menjadi perempuan panggilan. Ia enggan
menyebut dirinya sebagai pekerja seks komersial. "Sebagai penari, saya
banyak penggemarnya. Boleh dong saya berkencan dengan mereka," katanya
berkilah. Dari pentas-pentas inilah ia mengepakkan "sayap bisnisnya". Saat
ini, ketika sejumlah tabloid porno diberangus, penghasilannya bersandar
pada tawaran pentas. Dengan cara ini pulalah ia mengenal banyak pria
berkantong tebal.
Biasanya, setiap usai menari, sejumlah pria mendekat dan memberikan nomor
telepon. Dari sinilah kencan lahir. Mulai dari yang mengajak tidur, private
party, hingga foto telanjang. Soal yang terakhir ini, "Saya mau saja, asal
untuk koleksi pribadi," katanya sambil menyemburkan asap A Mild.
Pernah suatu kali Sisi diundang "manggung" oleh seorang anggota DPRD sebuah
daerah di Kalimantan. Seluruh kebutuhan dipenuhi: tiket, uang saku, hotel.
Sampai di kamar penginapan, si pengundang sudah menunggu. Di bawah siraman
pendingin udara, tiga jam lebih Sisi diminta menari bugil. "Saya sampai
menggigil," katanya. Untuk pentas itu, ia dibayar Rp 5 juta.
Hari menjelang sore. Hujan telah lama reda. Tanpa mengganti baju, Sisi
bergegas menuju warung tegal yang hanya 50 meter dari rumah kosnya.
Melempar senyum kepada pemilik warung, Sisi bergegas ke belakang meja saji.
Ia menyendok sepiring balado jengkol dan sedikit nasi. "Jengkol is the
best," katanya.
***
JARUM jam menunjuk pukul setengah dua belas malam. Diskotek Stadium di
kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, sudah penuh pengunjung. Gemuruh suara
musik tribal techno progressive memenuhi ruang. Pengunjung bergetar,
serentak seperti hendak merobohkan bangunan. Sisi terselip di antara
ratusan pengunjung.
Sisi berencana menghabiskan Jumat malamnya di Stadium. Sejak pukul 21.00,
ia bersama dengan lima teman terdekatnya sudah bersiap. Mereka mengenakan
pakaian seksi dan menenggak ekstasi.
Drug memang menjadi sahabat karib gadis itu. Katanya, inex alias ekstasi
membantunya mengusir perasaan bersalah, terutama kepada orang tuanya. "Saya
malu jika pekerjaan saya ini ketahuan orang di rumah," kata anak pertama
dari tiga saudara ini.
Hingga kini, kata Sisi, orang tuanya belum tahu pekerjaannya. Pose panasnya
di tabloid memang pernah diketahui keluarga. Untuk itu, ia didamprat
habis-habisan. Tapi ia tahu bagaimana caranya menyelamatkan situasi: ia
mengaku bersalah dan minta maaf. Soal menari telanjang dan menjadi
perempuan panggilan, menurut dia, tetap jadi rahasia. Apalagi sehari-hari
Sisi adalah mahasiswa universitas swasta di Jakarta. Untuk menghindari
konflik dengan keluarga itulah Sisi indekos. Sesekali, pada Sabtu-Minggu,
ia pulang ke rumah orang tuanya di Depok.
Malam ingar-bingar di Stadium. Lampu remang dan warna-warni. Sisi tak
tampak letih. Matanya terpejam, kepalanya bergoyang-goyang. Gadis 19 tahun
itu tampak pucat, tapi inex dan musik membuatnya lupa. Di Stadium ia
melahap malam.
Cahyo Junaedy
(Majalah Tempo, 20 Maret 2006)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Gadis itu Melahap Malam