[nasional_list] [ppiindia] Fwd: Wawancara Cok Sawitri: Sikap Bali terhadap RUU APP
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx,ajisaja@xxxxxxxxxxxxxxx, mediacare@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Thu, 29 Jun 2006 14:07:40 +0700
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
>
>
><http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=232618>http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=232618
>
>
>
>Jumat, 23 Juni 2006,
>Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga
>
>RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (APP) yang telah mengalami revisi
>menurut rencana akan disahkan bulan Juni ini. Salah satu yang bersuara
>lantang menolak pengesahan RUU itu adalah Komponen Rakyat Bali (KRB), yang
>bahkan sempat mengancam akan keluar dari NKRI. Berikut perbincangan Nong
>Darol Mahmada dan M. Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Cok
>Sawitri, seniman yang menjadi salah satu penggerak KRB, pada 15 Juni 2006
>lalu.
>
>Mbak Cok Sawitri, bagaimana kondisi sekarang ini di masyarakat Bali
>setelah pro-kontra RUU APP?
>Kondisi di Bali baik, jadi kalau akhir pekan mau liburan silakan. Semua
>bentuk penyikapan kami adalah dalam proses aksi budaya. Kami tidak punya
>tradisi kontroversi, tapi selalu dengan jenana, berdasarkan dialog yang
>panjang antara orang tua dan komponen masyarakat. Sampai sekarang sikap
>masyarakat Bali masih menolak total terhadap draf RUU APP, yang direvisi
>sekalipun.
>
>Yang kami sebut komponen rakyat Bali adalah forum cair yang terdiri dari
>berbagai lapisan masyarakat, dan tidak berstruktur, sekalipun ada tim
>intinya. Aksi budaya ini sebenarnya adalah sebuah penyadaran bahwa dalam
>demokrasi itu--masyarakat Bali dididik dalam rwa-bhineda namanya-- yang
>hitam itu belum tentu hitam benar, yang putih itu belum tentu putih benar,
>pasti ada abu-abu. Tidak harus marah ketika ada perbedaan pendapat, tidak
>harus berprasangka, harus didialogkan.
>
>Sebenarnya masyarakat Indonesia belum paham masyarakat Bali itu seperti
>apa, karena kan yang dikenal daerah objek wisata, masyarakatnya ramah,
>suka menari, suka senyum. Kami kan berdasarkan Siwa-Budha yang kemudian
>disebut Hindu Bali itu, kemudian Prof. Mandra yang memberikan nama Hindu
>Dharma. Sebenarnya Hindu di Bali berdasarkan konsep Siwa-Budha itu.
>
>Di situ jelas sekali sifat toleransinya pun berbeda. Kalau dalam konsep
>toleransi Barat misalnya kalau kamu mau dikasih empat kamu akan kasih
>empat. Tapi kalau orang Bali itu ngasih empat bisa nggak dapat apa-apa,
>yang penting untuk kepentingan (bersama). Makanya orang Bali itu terkenal
>malas ngomong, penurut, apa saja program dari pusat Bali pasti nomer satu.
>Posyandu, Adipura, macam-macam..
>
>Jadi selalu ada proses dialog. Dan kami menyadari pasti ada rwa-bhineda.
>Bali punya konsep demokrasi lokal yang bagus, yang disebut dengan desa
>kala patra. Desa itu wilayah, kala itu waktu dan patra itu cara pandang.
>Nah, di cara pandang ini seorang sarjana pasti berbeda bicaranya dengan
>seseorang yang pengalamannya tidak dalam pendidikan akademik. Atau dia
>seorang petani akan beda kepentingannya. Di situ yang harus didialogkan
>dan mayoritas itu bukan kebenaran. Di situ akan ada selalu patra keputusan
>tafsir bersama, kebijakan, imbauan, belum tentu bagus berlaku di daerah
>lain di Bali. Bali itu terdiri dari 9 kabupaten dengan 3.400 desa adat.
>
>Itu berarti dari bawah ke atas prosesnya itu?
>Ya, sama dengan penolakan terhadap RUU APP, inisiatifnya selalu dari
>masyarakat dan tidak dalam bentuk hura-hura atau polemik dulu. Kami duduk
>bersama dulu, ada diskusi panjang, mempelajarinya, bahkan mengundang ahli.
>
>Apa alasan utama penolakan itu?
>Kami menolak karena sosial religius, spirit yang berbeda. Karena kalau
>diperhatikan dengan serius, draf RUU APP itu paradoks sekali dan akan
>menjebak ketika pelaksanaannya. Kalaupun diperbaiki, ia memerlukan kajian
>akademis yang serius dan itu memerlukan waktu. Dan dari segi hukum,
>bukankah kita punya KUHP, UU Pokok Pers, Dewan Pers, dan kita tahu ada
>konsekuensi ketika kita bicara pornografi. Tentang pornoaksi yang saya
>rasa secara leksikal kata baru, dan perlu definisi. Sebuah definisi itu
>bukan hanya mengartikan pemikiran kita aja, tapi perlu kajian yang panjang
>juga.
>
>Dan kita tahu secara sejarah pun pornografi selalu mengalami kontroversi.
>Tidak bisa juga dikatakan bahwa Bali kemudian pro-pornografi, tidak
>seperti itu. Karena di dalam draf RUU APP itu kan justru mengizinkan
>secara legal meskipun dengan alasan pendidikan dan kesehatan. Ada pasal
>yang justru mengizinkan pemerintah menunjuk badan tertentu.
>
>Masyarakat Bali memiliki tarian yang dinilai sangat erotis. Mungkin Anda
>bisa menjelaskan posisi tarian-tarian yang seperti itu?
>Jangan melihat dulu ke Bali. Kalau Anda tahu, tari Asia secara umum memang
>berbeda pakemnya dengan tari Eropa. Pada dasarnya dari Sabang sampai
>Merauke, dasar dari komposisi gerak kita adalah berpijak di kaki dan
>mengembangkan tangan, hanya Bali punya kelebihan di gerak mata. Begitu
>konsekuensi berpijak di kaki badan bergerak, tangan berkembang itu pasti
>bergoyang. Erotika dalam tari itu yang mana? Nah, katakan Tari Serimpi,
>barisan itu bahkan dari gerakan pencak silat misalnya, karena itu
>konsekuensi berpijak tangan bergoyang mengembangkan tangan itu.
>
>Nah, kalau misalnya berbicara tentang porno pasti beda. Porno dalam
>pengertiannya itu kan eksplorasi dalam konteks pelacuran, ini saya ambil
>dari leksikologi yang berlaku. Erotika itu kan sebetulnya yang negatif,
>karena kalau di dalam dunia lukis, dunia seni erotika kadang-kadang
>menjadi poses pencarian dari teman-teman seniman, bukan untuk mengundang
>birahi. Erotika dalam pengertian yang lain itu mungkin bisa diartikan
>sebagai yang mengundang birahi. Kita harus terbuka kalau ada yang
>mengartikan seperti itu, karena tidak ada kesepakatan untuk itu.
>
>Persoalannya kan kita itu mempersoalkan sebuah tubuh, kapan tubuh ini
>menjadi perangsang dan kapan tidak. Nah, ketika dia dalam aktivitas yang
>berkaitan dengan obyek seni, menjadi aneh karena bahasa erotika dalam
>bahasa seni beda. Ini yang sebetulnya menurut saya memerlukan penjelasan.
>Karena, mohon maaf saja, di Bali dari pagi hingga malam berkesenian. Dan
>peristiwa tari itu tidak hanya di gedung tarian tapi juga di halaman
>rumah, di gedung. Semua ekspresi kami itu kesenian, jadi kalau misalnya
>nanti tanpa suatu pengertian yang dalam proses kreatif seni, tanpa
>mengerti bagaimana dunia tari, bagaimana mengerti dunia lukis dan sebagainya.
>
>Yang menjadi dasar pengertian masyarakat Bali, RUU APP ini bukan
>menghalangi proses kesenian sebetulnya, tetapi proses kreatif. Ada yang
>gila-gilaan, ada yang eksentrik dan sebagainya, tapi itu kasuistis. Tapi
>pada umumnya kreativitas pasti memerlukan jiwa merdeka itu, kemerdekaan
>berpikir, kemerdekaan rasa. Bukan tanpa batas, tapi pasti memerlukan jenana.
>
>Indonesia punya banyak tarian. Ada Jaipongan, Tokek, dan sebagainya.
>Sementara pemda menghidupkan supaya budaya itu tidak lenyap, tapi satu
>sisi itu mau "dimusnahkan" karena dianggap porno. Apa pandangan Anda?
>Kami menolak RUU APP dengan sebuah kesadaran sejarah. Kita bisa punah
>ketika kebudayaan kita hilang. Prof Bandem bersama Wayan Juniarta dan
>Marlo sempat melakukan riset soal itu. Karena itu sungguh benar apa yang
>dibilang: kita jangan main-main untuk penghilangan kebudayaan-kebudayaan,
>ekspresi-ekspresi masyarakat.
>
>Bagi kami, moralitas itu kan sebetulnya kesepakatan sosial. Moralitas itu
>nggak bisa disamain dari satu daerah ke daerah yang lain. Kalau di Bali
>hanya ibu saja lho yang boleh memaki anaknya, yang paling kasar. Kalau
>(yang melakukan) orang lain itu akan menjadi komunal dan marah, dia siapa?
>Sekalipun pemerintah itu nggak boleh, ini saya memakai perspektif orang Bali.
>
>Bagaimana Bali melihat perempuan?
>Ibu itu penting sekali bagi kami, karena pura yang paling ditakuti disebut
>paibon, nama ibu. Dan di Bali ini sangat gender spiritual, dengan
>Siwa-Budhanya, karena dalam konteks Siwa-Budha ini yang paling dekat
>dengan kita, itu ada namanya tahap ardana prameswara, yakni Tuhan itu
>tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. Dan ardana prameswara ini dalam
>konteks taksu yang berkaitan dengan kesenian itu dialah penari kosmis yang
>selalu bekerja. Oleh karena itu laku seorang seniman itu adalah meniru
>sang pekerja kosmik itu. Jadi sebetulnya masyarakat Bali itu dia otomatis
>akan selalu mengekspresikan dirinya seperti yang diajarkan itu.
>
>Apakah tidak ada istilah syiar di Hindu?
>Kami punya dharma wacana, tetapi itu tidak untuk mencari penganut baru.
>Hindu itu saking bebasnya, setiap daerah itu pasti mengekspresikan
>kebudayaan lokalnya. Hindu Bali itu pasti beda dengan Hindu India. Nah,
>meskipun kami punya misalnya 3.000 ayat Weda, tapi dibagi dua kolomnya itu
>ada darma sastra, ada arta sastra. Terus ada empat lagi, ada Yajur, ada
>Atarwa, ada Sama. Ada Bhagawat Gita yang menjadi bacaan anak muda,
>kemudian ada bacaan untuk calon pendeta.
>
>Nah, kami tidak punya budaya syiar seperti itu, yang diajarkan itu
>prinsipnya begini; bahwa manusia itu, siapapun dia, seburuk apapun dia,
>bisa jadi dia saudaramu yang dulu, tapi dia lahir di keluarga yang lain.
>Jadi kita nggak mungkin memusuhi seseorang biarpun dia beragama lain.
>Jangan-jangan itu sepupu jauh kita. Karena kalau diusut-usut secara
>silsilah ternyata bangsa Indonesia ini sepupu jauh, sepupu dekat, karena
>ada perkawinan antara Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. Ujung-ujungnya
>gennya sama semua.
>
>Kita masih melihat tradisi di Bali masih begitu kuat, meskipun ia adalah
>pulau turis. Bagaiman Bali menyikapi "orang luar"?
>Indonesia itu kan baru umurnya 60 tahun. Bali itu punya sistem yang sudah
>teruji 1000 tahun, yang namanya tri kayangan; Ada pariyangan, daerah suci
>dan pawongan untuk masyarakatnya, kemudian palemahan, tempat yang dianggap
>tidak suci. Kemudian dalam konteks hubungan ketatanegaraan atau wilayahnya
>disebut desa kala patra. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat
>Bali. Dan konsepnya itu di Bali itu sangat menghargai perbedaan satu desa
>dengan yang lain. Ini yang menyebabkan Bali sangat kuat. Dan hubungannya
>dengan pariwisata Bali itu sudah mulai dari tahun 1920. Sebetulnya di Bali
>terus terjadi dialog, di Bali pun kritis terhadap perkembangan pariwisata
>ysng terus-menerus terjadi, tidak seperti yang dibayangkan. Jadi di Bali
>sebetulnya terus terjadi itu dialog dan mencari solusi itu.
>
>Karena kalau cuma pro-kontra tanpa solusi kan susah. Sama seperti tolak
>RUU APP ini. anggota DPR kita sekarang ini kan diam, padahal bulan Juni
>secara teknis tidak mungkin (disahkan). Dia harus jujur bahwa bulan Juli
>dia reses dan Agustus dia akan melakukan pekerjaan baru. Padahal
>seharusnya dia melakukan sesuatu yang lebih bagus untuk bangsa ini. Jadi
>pansus itu harus mulai jujur terutama kepada pendukungnya supaya jangan
>dipakai oleh masyarakat lagi untuk saling curiga-mencurigai, karena dia
>tidak bisa menjawab apa yang dia janjikan kepada pendukungnya.
>
>Indonesia saat ini punya pekerjaan yang besar, tapi yang paling penting
>adalah proses kemanusiaan kita. Saya rasa kita risau ya soal toleransi,
>hubungan kita dengan satu sama lain. Kita harus percaya tak seorang pun
>dapat mengkapling surga, dengan paspor kemunafikan dan sebagainya, harus
>memberantas ini atau itu. Karena pelacur juga keyakinan sendiri, preman
>pun punya keyakinan sendiri dan sebagainya, dan kita nggak tahu yang
>terjadi nantinya. Jangan mendahuluilah.
>
>Karena itu sesungguhnya Indonesia saat ini seharusnya mulai digagas, tapi
>jangan lagi tafsirnya dari pusat. ***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Fwd: Wawancara Cok Sawitri: Sikap Bali terhadap RUU APP