[nasional_list] [ppiindia] Fwd: Terjajah ExxonMobil di Cepu
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Thu, 29 Sep 2005 13:18:03 +0700
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
ada tanggapan buat kkg......
>-----Original Message-----
>From: BECKhoo
>Sent: Thursday, September 29, 2005 2:57 AM
>
>Saya pikir tulisan KKG ini perlu ditanggapi untuk counter-argument.
>Saya tidak sedang membuktikan bahwa apa yang ditulis KKG salah, saya
>hanya mengajak untuk 'thinking outside the box' dari opini2 yang
>senantiasa diteriakkan sekarang ini; selain pengamatan saya bahwa
>tulisan KKG sekarang ini sangat tendensius. Mungkin obyektifitas
>seorang analis berakhir ketika analis itu menjadi politikus.
>
>Apa yang saya jabarkan adalah atas pengetahuan dan pengalaman selama
>beberapa tahun dealing dengan oil companies melalui shipbroking dan
>shipping consultant.
>
>Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu?
>Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, "Nanti
>kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai
>insinyur-insinyur sendiri."
> > > >
============
>Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi
>dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia
>sendiri.
>Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen?
>
>Saya pikir, Bung Karno hanya bisa meneriakkan retorik
>seperti 'Inggris kita linggis, Amerika kita setrika'; tapi tidak
>bersikap realistik serta berusaha membina mental dan moral bangsa
>untuk menentukan destiny-nya sendiri. Secara semangat sudah benar,
>tapi semangat tidak ada artinya tanpa upaya mencapai spirit tsb.
>
> > > > Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang
>kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun
>sampai 2030. Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy
>Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil.
>Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan
>cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel.
===============
>Saya kira KKG di sini memelesetkan, kisahnya tidak sesimple itu.
>Berdasarkan apa yang saya pahami, kronologisnya adalah sebagai
>berikut :
>
>Pada jaman Belanda dulu di Cepu - waktu itu diexplore oleh BPM
>termasuk paling besar di Indonesia. Setelah sumur Cepu dinyatakan
>tidak feasible untuk diexplore lagi, Pertamina menggunakan tempat
>itu untuk sekolah tenaga ahli perminyakan.
>
>Dalam kurun beberapa dekade setelah ladang Cepu dinyatakan kering,
>pada tahun 1980an Tommy Suharto membrokeri penjualan konsesi Cepu ke
>Exxon.
>
>Pada tahun 2001 Exxon membuat statement bahwa mereka menemukan sumur
>lagi, dengan kedalaman di bawah sumur yang dikerjakan oleh BPM
>dulu. Jumlahnya dinyatakan 600 juta barrel minyak mentah, atau
>senilai kira2 US $ 42 milyar (dengan lonjakan harga minyak
>sekarang).
>
>FYI, teknologi finding & exploration terus berkembang. Di dunia
>perminyakan, cadangan minyak umumnya dikelompokkan dalam kelompok
>sbb : unproven (diyakini ada namun belum ditemukan) dan proven
>(sudah terbukti keberadaannya dan bisa diexplore). Cadangan minyak
>di Cepu tsb adalah kenaikan peringkat dari unproven ke proven. Hal
>tsb dimungkinkan oleh kemajuan teknologi perminyakan.
>
>Beli sumur minyak bagi perusahaan multinasional sekalipun, adalah
>gambling, walaupun resiko bisa diperkecil dengan intelligence dan
>pengetahuan geologis/teknis.
>
> > > > Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang
>kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah
>untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak
>atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.
============
>Kita lihat apakah pertimbangan prinsipil itu memang realistik atau
>tidak.
>
> > > > Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama
>sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta
>para kroninya yang berbangsa Indonesia.
> > > >
>Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus
>dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa
>Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi
>formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka
>selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri
>eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana
>saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil.
==========
>Di sini coba kita bahas apakah prinsipil tsb yaitu 'bangsa yang 60
>tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan
>sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya' sudah tepat atau tidak
>dalam kasus Cepu.
>
>Saya mau beri contoh Malaysia, yang saya lebih familiar.
>
>Saat ini reputasi Petronas biarpun tidak sangat menjulang, tapi
>termasuk national oil company yang cukup baik. 20-30 tahun yang
>lalu, manager2 Petronas masih belajar pada Pertamina. Tapi sementara
>Petronas kurvanya naik, Pertamina mengalami landslide. Terbalik
>dengan penggarongan yang terjadi di Pertamina, di UMNO ada
>pemeo 'you won't rob your piggybank'.
>
>Jikalau pemerintah Malaysia insist bahwa Petronas alias bangsa
>Malaysia harus mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi
>minyaknya; sudah tentu kemajuan Petronas tak secepat ini.
>
>Peta perminyakan Malaysia sebenarnya simple saja. Dua sentra
>penghasil minyak Malaysia adalah di East Coast Peninsula menghadap
>South China Sea. Yang satu ada di off-coast Trengganu, yang satu di
>off-coast Sabah. Trengganu, penghasil sekitar 70% crude oil
>Malaysia, digarap oleh EPMI alias Esso Production Malaysia, yang
>dimiliki oleh ExxonMobil dan Petronas Carigali dengan Production
>Sharing Contract sebesar 50:50.
>
>Artinya apa, yang akan mengerjakan adalah EPMI dengan capital cost
>dan teknologi dari Exxon; sementara hasil produksi diterima masing2
>sebesar 50% oleh Petronas dan Exxon.
>
>Crude oil jatah Exxon diship ke refinery Exxon di Pulau Ubin
>Singapore, untuk diedarkan sebagian besar di Singapore dan luar
>Malaysia.
>
>Crude oil milik Petronas diship ke refinery di Kerteh (bagian dari
>Kuantan-Kerteh Petrochemical Corridor), untuk kemudian
>didistribusikan di Malaysia. Sebelum didistribusikan, minyak hasil
>sulingan dijual ke semacam badan penyangga harga minyak; kemudian
>badan tersebut menjual ke perusahaan2 minyak tersebut untuk
>didistribusikan di dalam Malaysia dengan harga subsidi. Badan
>penyangga ini memutus direct flow dari upstream (exploration) dengan
>downstream (distribution alias gas station). Pom bensin/gas station
>menjual dengan harga sama, sebagai contoh : profit perliter unleaded
>fuel rata2 10 cents Ringgit. Semua distributor downstream ini, entah
>itu Shell, Caltex, Phillips-Conoco dsb dsb hanya boleh bersaing di
>service dan brand image.
>
>Kasus di atas juga sekalian mematahkan opini bahwa 'perusahaan
>minyak asing mendorong kenaikan BBM supaya lebih untung masuk ke
>downstream'; yang mana subsidi BBM dan liberalisasi downstream bisa
>menjadi dua kasus terpisah sebagaimana terbukti di Malaysia :
>downstream diliberalisasi sementara BBM tetap disubsidi.
>
>Balik lagi ke kasus Malaysia. Coba bayangkan, jika harus
>mengandalkan teknologi dan capital sendiri - berapa lama diperlukan
>Malaysia untuk bisa meng-explore minyaknya secara efisien ? Lagipula
>semua profit yang lari ke partner asing itu akan dibelanjakan dalam
>bentuk barang modal dan investasi -> apakah Petronas akan bisa
>seefisien dan seefektif para oil giants yang sudah memiliki
>pengalaman ratusan tahun ?
>
>Kalau downstream tidak diliberalisasi, akankah rakyat Malaysia
>menikmati berbagai pom bensin yang menawarkan servis terbaik (dengan
>harga tetap tersubsidi); bukannya seperti pom2 bensin Pertamina pra-
>liberalisasi yang karena monopoli lantas mengorbankan kepentingan
>konsumen dengan pengoplosan, timbangan kuda, lokasi sempit, toilet
>bau, penuh pedagang asongan bukannya mini-mart bersih ber-AC ? Kapan
>kita bisa menggesek kartu kredit, kartu debet, kartu rewards dan
>bukannya berantem melulu dengan petugas pom bensin yang suka sengaja
>ngga kasih kembalian?!
>
>Apakah karena tidak menggali langsung sendiri, tidak menjadi
>satu2nya pom bensin yang beroperasi; Petronas lantas terpuruk,
>bangsa Malaysia lantas jadi terbelakang, tidak maju ?
>
> > > > Exxon mengirimkan executive vice
>president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang
>mengatakan "pokoknya tidak".
===========
>Saya kutip kembali tulisan KKG :
>
>'Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali
>karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda
>disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966
>yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang
>ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule'.
>
>Apakah karena berkesempatan mengatakan 'pokoknya tidak' kepada
>executive vice president Exxon, lantas itu sesuatu yang patut
>dibanggakan. Apakah ini bukannya serupa 'mental inlander' juga yang
>dicontohkan KKG yang menghamba, yang ngapurancang ke bule/asing;
>cuma yang satunya saking ngga pede selalu anggap bule hebat
>sementara yang satunya bangga setengah mati jika bisa bilang 'tidak'.
>
>Bukankah dua2nya sama mental inlandernya dimana yang dijadikan acuan
>adalah si bule/asing ?!!
>
> > > > Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang
>anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya
>sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih
>terjangkit mental inlander. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini
>ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi
>oleh Indonesia sendiri.
===========
>Hati-hati, Shintaro Ishihara menulis 'The Japan That Can Say No',
>dalam satu dekade dia harus menelan sendiri omongannya dengan
>mulainya rentetan kehancuran korporasi yang disusul dengan
>terpuruknya ekonomi Jepang.
>
> > > > Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina
>Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah
>organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak
>dapat diperbarui. Penduduk Indonesia bertambah terus seiring dengan
>bertambahnya konsumsi.
> > > >
> > > > Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah
>lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini
>menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian
>besar itu akan dijadikan apa?
============
>KKG juga tahu soal 'konsumsi nasional sudah lebih besar daripada
>produksi nasional'; pertanyaannya, mengapa beliau ini begitu gigih
>menolak kenaikan BBM ?
>
>Kita tahu bahwa, dalam 5 tahun terakhir ini ladang2 kita terus
>menua. Dengan otonomi daerah, semakin sulit bagi perusahaan minyak
>asing untuk beroperasi karena harus berhadapan dengan raja2 kecil
>baru di daerah. Memang benar perusahaan kayak Freeport itu brengsek
>karena dengan profitnya yang besar tidak melakukan community
>development. Memang benar Exxon itu bangsat karena menyediakan
>infratsrukturnya untuk tentara membantai rakyat Aceh yang dicurigai
>sebagai GAM. Tapi perusahaan2 asing seperti Caltex dan Devon Energy
>juga acapkali dimalingi dan disabotage tanpa perlindungan hukum,
>kontrak mereka main distop saja secara sepihak oleh Pemda dan oknum
>Pertamina.
>
>Dan kita juga tahu, bahwa subsidi BBM membuat barang yang disebut
>Baihaki sebagai 'komoditas yang tidak dapat diperbarui' ini dianggap
>barang murah di Indonesia dengan nilai subsidi yang termasuk
>tertinggi di dunia. Akibatnya pemakaian oleh rakyat sangat boros,
>sehingga pertumbuhan konsumsi BBM selama 5 tahun terakhir mencapai
>3%-5% pertahunnya. Akibatnya kita memiliki household consumption
>tinggi melebihi negara2 ASEAN yang lebih baik ekonominya seperti
>Thailand dan Malaysia.
>
>Pemicu tingginya konsumsi adalah subsidi. BBM adalah barang mahal,
>mengapa diperlakukan sebagai barang murah ? Apakah itu mendidik
>mental dan disiplin rakyat ? Lagipula, selama BBM masih disubsidi,
>selamanya setiap pemerintahan akan disandera oleh subsidi BBM. Tidak
>dihapus, defisit membengkak. Dihapus, resiko chaos dan kudeta.
>
> > > > Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan
>mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven
>sisters?
===========
>Apakah seven sisters masih exist ?!
>
>Pak Kwik, seven sisters ini sudah berubah menjadi sama anggotanya
>dengan 'The Little Women' alias ampat (4).
>
>Seven Sisters yang dulu : Exxon, BP, Chevron, Gulf, Texaco, Mobil
>dan Shell kini telah menjadi ExxonMobil, Chevron-Texaco (sekarang
>Chevron saja), BP-Amoco (sekarang BP saja), dan Shell-Royal Dutch.
>
>Pak Kwik ini bicara dalam konteks masa lalu atau masa kini ?
>
> > > > Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah
>berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung
>dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir,
> > > > dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz.
>Sedangkan yang diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk
>truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina
>diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang
>sudah edan semua.
============
>Yang bilang Pertamina itu truk bobrok justru sedang berbicara sesuai
>kenyataan.
>
>Saya kuatir Pak Baihaki ini memang supir Mercedez Benz dan bukan
>supir truk bobrok. Saya pernah mendengar speechnya di Oil Conference
>di KL, secara pribadi saya setuju dia ini visionary, sayangnya saat
>dia bicara, Pertamina yang dia gambarkan adalah Pertamina yang dia
>idamkan dan bukanlah Pertamina yang dia pimpin.
>
>Saya pikir dia sekedar memberi kesan baik tentang Pertamina kepada
>pihak external, tak apalah wong di sana ada Saudi Aramco yang lebih
>bobrok. Tapi sejak keputusannya membeli dua biji VLCC itu saya
>langsung menyadari bahwa visionnya yang luar biasa itu tidak
>didukung oleh keberpijakan pada realitas yang ada di Pertamina.
>
>Supir Mercedez Benz ini kalau beranggapan bahwa di cockpit truk
>bobrok ada power window, airbag, cruise control; maka dia ini luar
>biasa kelirunya. Buat apa dia beli CD jika tidak ada CD player. Apa
>dia bisa muter balik truk bobrok 8 ton di jalan selebar 4 meter
>tanpa power steering ? Apa aman menyetir truk bobrok dengan ban
>gundul 80 km/jam di jalan tol ?
>
>Memang benar, Pertamina dijerat oleh mafia tanker sehingga kita
>perlu membebaskan diri dari koalisi setan itu. Tapi sebagaimana
>bunuh tikus tak perlu pakai bom, untuk menghalau mafia kita tak
>perlu beli mainan semahal VLCC.
>
>VLCC adalah kapal seberat 250,000 ton; panjangnya saja 6x lapangan
>sepak bola, crewnya ratusan, nilainya ratusan juta $. Sekarang coba
>kita lihat eksekutif Pertamina Tongkang yang akan mengelola. Antara
>tongkang dan feeder dengan VLCC adalah lompatan luar-biasa besar.
>Kalau kita bisa memanage seratusan tongkang dan feeder di bawah 5000
>dwt perbijinya tidak berarti kita bisa memanage satu kapal raksasa
>sebesar 50x lipatnya. Kalau kita pernah 100x menerbangkan pesawat
>kecil tak berarti kita langsung bisa sebagai pilot Airbus.
>
>Apakah Pertamina mampu menghandle VLCC tersebut ? Jawabannya adalah
>tidak. Membeli VLCC ini jelas bikin masalah baru : memberatkan
>cashflow Pertamina, belum lagi resiko mismanagement. Lebih baik
>dijual, sayangnya cara jualnya di tangan rezim Laksamana Sukardi
>juga ngga beres dan penuh hanky-panky yang merugikan negara. Tapi
>akan jauh lebih baik lagi jika kapal itu tidak pernah dibeli.
>
>Sekarang kembali mengenai 'mengeksplorasi dan mengeksploitasi
>sendiri'. Kita mengerti perlunya rasa nasionalisme, juga visi
>Baihaki sebagai eks Presiden Caltex dan supir Mercedez Benz, dimana
>dia memimpikan Pertamina setara perusahaan minyak asing dan truk
>bobrok itu bisa punya power steering dan digitized fuel injection
>yang super irit dan menguntungkan.
>
>Tapi di dunia perminyakan, dibanding dengan kekuatan modal dan
>teknologi para 'Little Women', apa sih Pertamina ? Memang benar,
>sementara harga minyak lagi membumbung begini, alangkah asyiknya
>jika semua laba itu dimakan Pertamina dan jangan dimakan asing ->
>masalahnya sanggupkah Pertamina mengkapitalisasikan dan
>merealisasikan itu ?
>
>Saya tahu harga saham perusahaan X bakal membumbung pasca RUPS
>dengan profit naik 200%; masalahnya apakah saya punya duit sekarang
>untuk borong saham X ? Jika saya pinjam2 ke tetangga, teteh, a'a,
>nenek saya, sempatkah saya mengambil momentum untuk profit taking ?
>
>Bukankah itu esensinya ?
>
>Mengapa Seven Sisters yang sudah mendominasi itu pada merger ?
>Karena di industri perminyakan, modal yang terlibat adalah luar
>biasa besar. Big is beautiful. Kekuatan modal menjamin kemenangan.
>
>Mengapa modal perlu besar ?
>
>1. Karena semakin tingginya biaya eksplorasi, dimana proven
>resources dengan tingkat kesulitan eksplorasi terendah sudah habis
>di-exploit. Tingkat kesulitan lebih tinggi berarti teknologi lebih
>mahal.
>
>2. Karena fluktuasi harga minyak menyebabkan perusahaan2 besar ini
>harus memiliki cukup banyak combined oil fields dengan berbagai
>range margin untuk mencapai skala ekonomis yang memungkinkan mereka
>bertahan terhadap gejolak.
>
>Hanya mereka2 ini yang memiliki efisiensi dan expertise terbaik.
>Sementara untuk Pertamina, ya kita harus realistis. Menghadapi mafia
>tanker saja ngga mampu. Kilang Balongan dimark-up, lalu tiap
>tahunnya selalu saja breakdown berbulan2. Minyak saja bisa dicuri
>dengan pipa sepanjang 7 mil ke SBM di tengah laut untuk
>diselundupkan ke Singapore. Menghadapi penyelundup dan penimbun saja
>kita tak berdaya.
>
>Untuk menggarap Cepu kita perlu teknologi, kita perlu capital, dan
>di atas semua itu kita terdesak waktu. Saat ini antara produksi dan
>konsumsi minyak kita terdapat defisit 200,000-250,000 barrel
>perhari - ini berarti U$ 14-18 juta perhari alias Rp 51-73 trilyun
>pertahun. Ini baru defisitnya, belum bicara subsidi! Harga minyak
>kelewat tinggi, subsidi membengkak, defisit tak tertahankan, rakyat
>antre BBM di mana2.
>
>Sungguh, saat ini bukan saat yang tepat untuk ngotot soal 'jual diri
>ke asing', 'bangsa ini harus bisa mengeksplorasi sendiri' dst dst.
>Kita perlu duduk berunding dengan Exxon untuk PSC yang lebih
>reasonable. Widya Purnama cs sudah kelewat banyak membuang waktu
>dengan segala eyel2an tak berujung. Benar2 bullshits semua pseudo-
>nasionalism ini, ketika keadaan sudah semakin tak terkontrol dimana
>orang antri minyak tanah belasan jam terus pulang dengan tangan
>hampa dan deretan mobil di pom bensin sudah hampir sekilometer. Apa
>negara ini harus hancur terlebih dahulu ditelan semua retorika
>politisi ?
>
>Sergio Zyman bilang 'negotiation is about timing'; we lost the
>timing, we are running out of time.
>
>Doa saya pada Bung Karno :
>
>'Bapak yang baik, semua ajaran bapak mengenal national pride itu
>benar adanya; tapi bapak mungkin lupa bahwa semua itu harus diikuti
>dengan nation building melalui pendidikan mental dan intelektual
>bangsa ini. Saya berdoa agar suatu hari jika rakyat telah teramat
>marah dengan para cecunguk penguasa pengkhianat, dan terjadi
>revolusi, pada saat itu mereka dipimpin oleh seseorang Negarawan
>yang memiliki visi nasionalisme sebaik Bapak ditambah dengan
>kemampuan untuk mewujudkannya ke dalam tindakan nyata mengangkat
>bangsa ini dari keterpurukan'.
>
>Tulisan selebihnya di bawah hanya wujud narcicism, lebih baik tidak
>saya tanggapi.
>
>
>BK
>
>
> > > > Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat
>di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu,
>Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan
>kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika
>sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI
>meeting yang sikap, isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander,
>janjinya dibatalkan.
> > > >
> > > > Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka
>pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon.
>Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan
>bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice
>president- nya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.
> > > >
> > > > Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia
>hanya melakukan tugasnya. "I am just doing my job". Kepala Bappenas
>mengatakan lagi, "Teruskan saja kepada pemerintah Anda di
>Washington semua argumen penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa
>pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat
>diterima."
> > > >
> > > > Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya
>pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang
>mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta
>barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon
>penggarapannya.
> > > >
> > > > Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, "Bung
>Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan
>gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya
>juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati
>dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan
>revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini
>sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya
>sendiri."
> > > >
> > > > *) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Fwd: Terjajah ExxonMobil di Cepu