[nasional_list] [ppiindia] Fwd: Kisah ANAK-NEGERI
- From: "la_luta" <la_luta@xxxxxxxxx>
- To: wahana-news@xxxxxxxxxxxxxxx,nasional-list@xxxxxxxxxxxxxxx,indonesia_damai@xxxxxxxxxxxxxxx,ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, proletar@xxxxxxxxxxxxxxx, serikat-kaum-terkutuk@xxxxxxxxxxxxxxx,indo-marxist@xxxxxxxxxxxxxxx,hksis@xxxxxxxxxxxxxxx, diskusi-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 27 Sep 2006 14:55:22 -0000
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
--- In sastra-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx, ThungFANG-HUNG DhaiYANG-
SHEN wrote:
teman-teman netters yb,
ini ada kisah dari ngadiran yang rasanya perlu respon baek soal isi
cerita maupun gayanya.
thung.
AKSI MOGOK MAKAN MENENTANG EKSEKUSI TAPOL PKI
___________________________________________________________________
Sepercik Kisah Perlawanan Anak Negeri di Rantau Oleh NGADIRAN
Memasuki dekade terakhir abad XX banyak teman di Belanda dihadapkan
pada tantangan keras ketika bertekad meneruskan perjuangan ke arah
perbaikan situasi HAM di Indonesia. Kami tidak mampu mengimbangi
gemuruh pemberitaan pergolakan seru di Eropa Timur. Dan perlawanan di
tanah air pun tak menampakkan batang hidungnya, bak sedang bertiarap.
Tiba-tiba gairah pun muncul ketika sementara cendekia-aktivis muda di
tanah air berhasil mengaktualkan Sumpah Pemuda: Satu tanah air, tanah
air yang bebas dari penindasan; satu bangsa, bangsa yang cinta damai;
satu bahasa, bahasa yang menjunjung kebenaran.
Segera kami berusaha mengulangi niat untuk lebih menyatukan diri
dengan derap usaha teman-teman di tanah air. Serangkaian gerak tampak
bermunculan bagai silih berganti. Risalah Demi Demokrasi kami
terbitkan, namun Jaksa Agung Sukarton cepat sekali melarang
peredarannya. Teman-teman Bandung amat sigap dan tampak menjawab
dengan menyiarkan Neraca HAM. Kelompok diskusi merebak di mana-mana,
demikian pula dengan pembentukan ormas guna menangani masalah kaum
tani dan buruh. Kampus ITB bergolak dan para mahasiswa Yogya pun
gencar melakukan aksi protes. Gerak perlawanan terasa hidup.
Belum tuntas mengolah bentuk interaksi yang lebih efektip dengan
teman-teman di tanah air, kami dicekam oleh berita eksekusi tapol PKI
yang datang bertubi-tubi bagaikan menantang. Bagi khalayak Belanda,
berita eksekusi terdengar absurd. Para tapol, termasuk sanak-keluarga
dan segenap relasinya, telah menanggung derita ketika di penjara
selama bertahun-tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 tahun, yang
akhirnya harus siap hanya untuk dibunuh. Aksi protes terhadap
eksekusi 2 tapol (akhir 1989) dan 4 tapol lainnya (Februari 1990) itu
tidak lebih dari cerminan ketidak-berdayaan kami menghadapi rezim
fasis Soeharto.
Namun, teman Jusfiq terus-menerus menyatakan kegusarannya dan tak
henti-henti menilpon kami untuk bertukar-pikiran sembari
mengantisipasi bila Soeharto hendak mengeksekusi tapol lagi. Jusfiq
memiliki firasat seperti itu. Dan dia tidak dapat hanya berpangku-
tangan sembari menunggu berita perkembangan. Tak urung berbagai
pertemuan darurat digelar untuk menjawab pertanyaan tunggal: Apa yang
harus dikerjakan? Berbagai sisi masalah eksekusi kami soroti:
perkembangan gerak perlawanan di tanah air; situasi politik inter
nasional; dan perkembangan ekonomi-politik dalam negeri. Kesimpulan
cenderung mengarah pada pautan eksekusi dengan bantuan IGGI. Isu
eksekusi digunakan Suharto sebagai alat peras untuk memperoleh
(komisi) dana bantuan/hutang lebih besar.
Belum sempat menemukan bentuk antisipasi yang mantab, tiba-tiba teman
Jusfiq menerima berita dari sumber sahih: terdapat gelagat bahwa 6
tapol PKI (Ruslan W. dkk) akan dieksekusi dalam waktu dekat. Bak
petir di siang bolong. Tak pelak, giliran kawan Basuki Resobowo
menunjukkan sikap lugasnya. Dia menuntut agar kami jangan hanya
tenggelam berbicara yang mengarah pada kekenesan intelektualisme. Pak
Bas bersikeras pula agar kami segera meninggalkan cara-cara protes
konvensional bila, meski dari Belanda, sungguh-sungguh berniat menco
ba menentang rezim fasis-militeristik itu.
Sejatinya, tuntutan Pak Bas tersebut menjadi landasan kami bersikap.
Maka, dari jam ke jam kami dicekam oleh ketegangan, karena tidak
ingin didahului oleh berita baru yang menyatakan bahwa 6 tapol PKI
telah dieksekusi. Ini berlangsung berhari-hari, ketika kami mendayuh
sepeda menuju kampus, di tengah-tengah kuliah, serta ketika menyusuri
keramaian kota Leiden dan Amsterdam untuk berembug dengan berbagai
pihak yang menaruh perhatian pada isu eksekusi tapol PKI. Bentuk aksi
yang jitu belum juga dapat kami temukan.
Syahdan, dalam suatu perjalanan pulang pada pagi buta seusai kerja
sebagai pelayan rumah makan, tiba-tiba pleidoi Enin datang menyelinap
dalam benak. Perasaan masih asyik mengulang-ulang bait lirik dari
Police/Sting seperti terkutip, dan belum selesai pula melerai gemuruh
semangat dan sistematika argumentasi seperti tersusun dalam lembar-
lembar pleidoi itu, tiba-tiba melintas pula kronologi mogok makan
mahasiswa ITB. Ondos dilaporkan tak sadar diri dan diangkut ke rumah
sakit. Terinspirasi oleh bentuk aksi demikian, maka bathin pun
menggelinjang berteriak: Kami siap menggelar mogok makan di Amsterdam
untuk menentang eksekusi Ruslan W. dkk. Hampir saja arah pulang
kubelokkan menuju sebuah kelder, tempat Pak Bas bermukim di belahan
timur Amsterdam. Namun, segera kusadari bahwa aku harus pulang
menemui istri untuk menyerahkan upah kerja yang baru kuperoleh.
Pagi hari pada Maret 1990 itu, cuaca tidak menyambut kami dengan
ramah. Namun, tetap kuputuskan menuju ke Pak Bas sebelum ke kampus.
Setibanya, kuketok jendela mungil berkali-kali, namun tak dibuka.
Sahutan suara lirih Pak Bas pun tak terdengar. Aku yakin Pak Bas di
rumah. Kuingat pesan dia tentang `jalan tikus' menuju kamarnya.
Kulewati jalan itu. Aku harus menemuinya untuk menyampaikan temuan
pagi buta tadi. Memasuki kamar, tidak seperti biasa aku menghirup bau
cat minyak/lukis, namun kali ini disergap oleh bau balsam. Karuan,
Pak Bas terbaring dalam keadaan lemah sekali, muka tampak pucat, dan
bibir bergerak-gerak seperti ingin menyampaikan sesuatu. Sebuah jari
tangan kanan bergetaran menunjuk perut. Pak Bas sedang berurusan
dengan perutnya. Dalam kondisi begini, pantas kah aku membahas ide
mogok makan?
Kepada Pak Bas akhirnya hanya kuberitahu adanya tekad mogok makan
untuk menentang eksekusi tapol PKI, tanpa menelaah seluk-beluk
persoalan teknis keorganisasian, apalagi menuntut keikut-sertaan dia
yang ketika itu usianya menuju 75.
Mendengar tekad demikian, Pak Bas dalam keadaan menahan sakit perut,
urat raut mukanya tiba-tiba tampak mengendur. Sorot matanya terasa
menembus mataku. Sembari menganggukkan kepalanya perlahan, perlahan
sekali, dia berusaha menggerakkan bibir, namun gagal menyuarakan
sesuatu. Aku segera menangkap maksudnya. Kuminta dia tenang beris
tirahat. Setelah kubuatkan seteko teh hangat dan meninggalkan pesan
pada pemilik rumah, agar sesekali menengok Pak Bas yang sedang sakit
perut, aku meneruskan perjalanan menuju kampus.
Usai kuliah, kami memberitahu teman Jusfiq tentang tekad mogok makan
tersebut. Dia mendukung dan akan berusaha menghidupkan simpul-simpul
yang dapat mengelola aksi tersebut secara organisatoris. Pimpinan PPI
Amsterdam, Reza, segera kami temui menjelang sore hari, di sela-sela
kuliahnya, untuk dukungan dan keikut-sertaannya secara aktip. Dengan
Reza, kami merasa cepat dapat saling meyakinkan arti penting aksi itu.
Seperti biasa, Komite Indonesia pun sangat gelisah dengan ancaman
eksekusi, dan kali ini mengundang sejumlah kawan untuk bertemu guna
membicarakan dan menentukan bentuk aksi. Gayung pun bersambut. Kami
memutuskan untuk menghadiri pertemuan terbatas tersebut. Di situ
muncul pula Reza (PPI Amsterdam), juga Lex selaku wakil ASVA, sebuah
serikat buruh-mahasiswa Universitas Amsterdam. Terdapat pula dua
orang Indonesia in exile lanjut usia. Seorang di antaranya tampak
mewakili establishmen yang ada, sedangkan yang lain mewakili
kelompok `sempalan'. Selain itu hadir pula beberapa kalangan lain
yang mewakili ormas dan orpol progresip Belanda.
Satu jam lebih telah lewat, pertemuan belum juga berhasil menelorkan
bentuk aksi yang mantap. Kalau pun sempat terucap, tidak lebih dari
menjentreng spanduk di pusat keramaian kota Amsterdam. Itu hanya
menarik sebagai obyek tontonan wisatawan saja, komentar sinis dari
pihak Komite yang sekaligus memegang kendali pimpinan rapat. Petisi
pun dirasakan tidak akan efektip lagi.
Ketika pertemuan tampak jenuh dan cenderung buntu, maka kami tanpa
ragu sedikit pun mengajukan aksi dalam bentuk mogok makan. Seluruh
hadirin tertegun sejenak. Silih berganti akhirnya satu demi satu
menyatakan dukungannya. Seseorang tampak berhati-hati dengan mencoba
menempatkan masalah eksekusi dalam konteks polarisasi dalam tubuh ten
tara. Ini terjadi ketika kami mencoba merumuskan tuntutan aksi mogok
makan: Stop eksekusi tapol PKI!; Hargai HAM dan tegakkan demokrasi!
Stop IGGI!!! Pertemuan menyetujui tuntutan aksi ini. Komite Indonesia
disepakati sebagai pihak organisator aksi mogok makan. Kemudian, kami
bersama Reza segera berembug untuk menentukan hari H.
Sungguh tidak mudah melaksanakan tekad mogok makan tersebut, karena
masing-masing belum berhasil mengatasi tanggung-jawab dan beban
universitas, belum lagi persoalan pribadi lainnya. Pihak tertentu
memandang aksi mogok makan terlalu ekstrim, dan teman Jusfiq mem
peroleh cap kontrev. Dalam situasi begitu, muncul usulan dari seorang
bekas fungsionaris Komite agar segera dilakukan mogok makan oleh 6
aktivis secara bergilir selama 6 hari, sebagai protes simbolik
terhadap rencana Suharto mengeksekusi 6 tapol. Tak urung, di sela-
sela istirahat seminar di Atrium Universitas Amsterdam, `Mira', se
orang putri eks tapol 1965 mendekati kami sembari menyatakan ketidak-
setujuannya terhadap bentuk aksi simbolik-pragmatik seperti diusulkan
tersebut. Sembari mengacu filsafat mogok makan, `Mira' menuntut agar
kemurnian misi dipertahankan secara sungguh-sungguh!
Mencoba konsisten, maka proses yang kemudian dimasuki menjadi agak
rumit, namun akhirnya kami, empat mahasiswa Indonesia di Belanda,
berhasil menyatukan diri untuk segera melaksanakan mogok makan. Pada
5 April pagi hari, selembar surat wasiat telah kami susun, berisikan
bila akhirnya kami meninggalkan dunia fana ini akibat aksi mogok
makan menentang eksekusi 6 tapol PKI, maka buku kami sejumlah 2.305
judul harap diserahkan kepada Enin c.s. di Bandung dan 3 B di Yogya.
Bersama dengan delegasi Komite Indonesia, kami bersama `Mira' bertemu
di bandara Schiphol pada siang 5 April itu, untuk melepas Menteri
Pronk selaku ketua IGGI menuju Jakarta. Bersama pimpinan delegasi
c.q. Komite, kami berpesan agar dalam pertemuan dengan Soeharto,
Pronk mengajukan tuntutan kami. Diberitahukan pula bahwa begitu
pesawat mengangkasa menuju Jakarta, kami pun bertolak ke Amsterdam
untuk memulai aksi mogok makan, dan kami hanya berhenti mogok makan,
bila rencana mengeksekusi 6 tapol PKI dibatalkan. Usai melepas Pronk
di bandara, kami segera menyusul 2 peserta mogok makan lainnya, Reza
dan `Dahlan' (putra bungsu eks tapol 1965) yang telah menunggu di
lokasi, yakni Beursplein, sebuah pelataran umum di pusat keramaian
kota Amsterdam. Pelataran tersebut menghadap salah satu jalan
protokol, dan diapit oleh sejumlah bangunan perdagangan bursa dan
pertokoan mewah. Ah, pandai juga pimpinan Komite memilih lokasi
sembari berusaha memaknai aksi kami, pikirku.
Tiba di pelataran, kami berempat memasuki sebuah tenda, dan dengan
khidmat saling berpegang-tangan mengukuhkan niat ingsun bersama: apa
pun risikonya, kami tidak akan berhenti mogok makan sebelum Soeharto
membatalkan niat mengeksekusi 6 tapol PKI. Di luar tenda, berkerumun
sejumlah aktivis Komite. Ketika kami bersama-sama keluar, mereka me
nyambut dengan hangat dan kami pun menggabungkan diri mengikuti perte
muan sebagai tanda pembukaan aksi mogok makan secara resmi. Kemudian,
kami menerima setangkai bunga mawar merah mungil yang sedang merekah
dengan indahnya dari pengurus Komite: perhatian yang sungguh
menguatkan keteguhan yang baru kami kukuhkan. Setiap malam hingga
subuh, para pimpinan Komite secara bergilir selalu berjaga-jaga di
sekitar tenda.
Pada pagi hari pertama mogok makan, 6 April, matahari menjulang
tinggi bak siap membekali tenaga yang kami butuhkan. Gemuruh
gelinding roda besi kereta listrik bernomor 9 pertama pagi itu baru
saja lewat menuju pusat pemberhentian kereta, memecah kesenyapan
jalan protokol Rokin yang belum juga menampakkan kehidupan nyata
kota. Tak lama kemudian, kami melihat dari kejauhan seorang laki-laki
lanjut usia bertubuh tinggi, berjalan sedikit terhuyung, tapi lurus
ke arah tenda mogok makan. Akh, itu pasti Pak Bas, gumam kami serem
pak. Benar! Dari jarak sekitar 30 meter tampak Pak Bas melempar
senyum ringannya yang khas, sembari menyorotkan kedua matanya ke arah
kami dengan hangat sekali. Suasana menjadi amat menggairahkan. Sejak
itu Pak Bas selalu bersama kami, sembari menyelesaikan lukisan
tentang Ruslan W. serta 5 kawan lainnya yang sedang terancam eksekusi.
Tanpa subutir nasi pun masuk ke dalam perut, hari-hari pertama kami
lewati dengan tidak mudah. Hanya keteguhan tekad dan dukungan moral
ratusan kawan-kawan, misi mogok makan terawat baik. Jam demi jam,
hari demi hari akhirnya berlalu tak terasa. Kami sibuk berbincang-
bincang dengan para pengunjung yang berasal dari macam-macam lapisan
masyarakat Belanda, termasuk sesama mahasiswa dan dosen universitas
kami, anggota parlemen dan perwakilan berbagai ormas dan orpol.
Permintaan wawancara dari media cetak, tv, dan radio pun datang silih
berganti. Pelbagai pernyataan media pun sempat kami tayangkan, a.l.
sebagai tanggapan perselisihan menlu V.d. Broek dengan ketua IGGI
Pronk di seputar stile diplomatie vs. Démarche yang menyangkut
tuntutan pencabutan eksekusi tapol PKI. Tak kurang dari 10 hari
berturut-turut, media massa Belanda sempat memusatkan diri pada isu
eksekusi tapol PKI. Ketika memasuki hari ke 6, peserta aksi sempat
berkembang menjadi 10.
Di pelataran mogok makan, terdapat pula aktivis Komite yang setiap
hari dengan tekun sekali menjaring kerumunan massa untuk dimintai
tanda-tangan sebagai bentuk dukungan tuntutan aksi. Ratusan lembar A4
penuh berisi tanda-tangan sempat terkumpul. Dengan setia teman Jusfiq
selalu datang memasok kami dengan berita-berita aktual dari tanah
air. Dan di pelataran itu pula, setiap hari berdatangan berbagai
kelompok orang Indonesia yang sebelumnya susah akur satu sama lain.
Seiring dengan tuntutan aksi, mereka saling menyatukan diri, juga
bersama kami, termasuk dan terutama dengan Pak Bas selaku bapak rokha
ni kami. Sebuah impuls positip pun muncul, dan sempat membawa kami
selama bertahun-tahun ke suatu dinamika disertai pasang-surut gerak.
Ini memerlukan pengungkapan tersendiri.
Kemudian, pada 16 April pagi hari, Pronk tiba kembali dari Jakarta.
Bersama dengan sejumlah regu tv, dia langsung dari bandara mendatangi
tenda kami. Pronk menyampaikan bahwa tuntutan kami didengar serius
oleh Soeharto, dan dia memohon agar kami segera mengakhiri aksi mogok
makan. Menjelang magrib pada hari itu, sebuah pesan telah sampai ke
kami, berisi ucapan terimakasih dari para tapol dan keluarganya.
Sungguh melegakan telah menerima sebuah isyarat kehidupan dari tanah
air. Pada saat itu, mogok makan pun dengan ikhlas kami akhiri untuk
sementara.
--- End forwarded message ---
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Fwd: Kisah ANAK-NEGERI