[nasional_list] [ppiindia] Fwd: Kisah ANAK-NEGERI

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
--- In sastra-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx, ThungFANG-HUNG DhaiYANG-
SHEN wrote:

teman-teman netters yb,
ini ada kisah dari ngadiran yang rasanya perlu respon baek soal isi
cerita maupun gayanya.

thung.

AKSI  MOGOK  MAKAN  MENENTANG  EKSEKUSI  TAPOL PKI
___________________________________________________________________   
     
  
Sepercik Kisah Perlawanan Anak Negeri di Rantau Oleh  NGADIRAN
 
 
Memasuki dekade terakhir abad XX banyak teman di Belanda dihadapkan 
pada tan­tangan keras ketika bertekad meneruskan perjuangan ke arah 
perbaikan situasi HAM di Indo­ne­sia. Kami tidak mampu mengimbangi 
gemuruh pemberitaan pergolakan seru di Eropa Ti­mur. Dan perlawanan di 
tanah air pun tak menampakkan batang hidungnya, bak sedang ber­tia­rap. 
Tiba-tiba gairah pun muncul ketika sementara cendekia-aktivis muda di 
tanah air ber­ha­sil mengak­tual­kan Sumpah Pemuda: Satu tanah air, tanah 
air yang bebas dari penindasan; satu bangsa, bangsa yang cinta damai; 
satu bahasa, bahasa yang menjunjung kebenaran.

Segera kami berusaha mengulangi niat untuk lebih menyatukan diri 
dengan derap usaha teman-teman di tanah air. Serangkaian gerak tampak 
bermunculan bagai silih berganti. Risalah Demi Demokrasi kami 
terbitkan, namun Jaksa Agung Sukarton cepat sekali melarang 
peredarannya. Teman-teman Bandung amat sigap dan tampak menjawab 
dengan menyiarkan Neraca HAM. Kelompok diskusi merebak di mana-mana, 
demikian pula dengan pembentukan ormas guna menangani masalah kaum 
tani dan buruh. Kampus ITB bergolak dan para maha­sis­wa Yogya pun 
gencar melakukan aksi protes. Gerak perlawanan terasa hidup.
Belum tuntas mengolah bentuk interaksi yang lebih efektip dengan 
teman-te­man di ta­nah air, kami dicekam oleh berita eksekusi tapol PKI 
yang datang bertubi-tubi ba­gai­kan me­nan­­tang. Bagi khalayak Belanda, 
berita eksekusi terdengar absurd. Para tapol, terma­suk sa­nak-ke­luarga 
dan segenap relasinya, telah menanggung derita ketika di penjara 
selama ber­­ta­hun-tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 tahun, yang 
akhirnya harus siap hanya untuk di­bu­nuh. Aksi protes terhadap 
eksekusi 2 tapol (akhir 1989) dan 4 tapol lainnya (Februari 1990) itu 
tidak lebih dari cerminan ketidak-berdayaan kami menghadapi rezim 
fasis Soeharto.

Namun, teman Jusfiq terus-menerus menyatakan kegusarannya dan tak 
henti-henti me­nil­­pon kami untuk bertukar-pikiran sembari 
mengantisipasi bila Soeharto hendak meng­ekse­­kusi tapol lagi. Jusfiq 
memiliki firasat seperti itu. Dan dia tidak dapat hanya berpangku-
tangan sembari menunggu berita perkembangan. Tak urung berbagai 
pertemuan darurat di­gelar untuk menjawab pertanyaan tunggal: Apa yang 
harus dikerjakan? Berbagai sisi masalah ekse­ku­si ka­mi soroti: 
perkembangan gerak perlawanan di tanah air; situasi politik in­ter­
nasional; dan per­­kem­bangan ekonomi-politik dalam negeri. Kesimpulan 
cenderung meng­arah pada paut­­an ek­se­kusi dengan bantuan IGGI. Isu 
eksekusi digunakan Suharto sebagai alat peras un­tuk mem­­peroleh 
(komisi) dana bantuan/hutang lebih besar.

Belum sempat menemukan bentuk antisipasi yang mantab, tiba-tiba teman 
Jusfiq me­ne­­­rima berita dari sumber sahih: terdapat gelagat bahwa 6 
tapol PKI (Ruslan W. dkk) akan dieksekusi dalam wak­­tu dekat. Bak 
petir di siang bolong. Tak pelak, giliran kawan Basuki Re­so­bo­wo 
menunjukkan si­­­kap lugasnya. Dia menuntut agar kami jangan hanya 
tenggelam ber­bi­cara yang meng­a­rah pa­da kekenesan intelektualisme. Pak 
Bas bersikeras pula agar kami se­ge­ra me­­ninggalkan ca­­­ra-cara pro­tes 
konvensional bila, meski dari Belanda, sungguh-sungguh ber­­ni­at men­co­­
ba me­nen­tang rezim fasis-militeristik itu. 

Sejatinya, tuntutan Pak Bas tersebut menjadi landasan kami bersikap. 
Maka, dari jam ke jam kami di­ce­­kam oleh ketegangan, karena tidak 
ingin didahului oleh berita baru yang me­nya­takan bahwa 6 tapol PKI 
telah dieksekusi. Ini berlangsung berhari-hari, ketika ka­mi men­da­yuh 
sepe­da menuju kampus, di tengah-tengah kuliah, serta ketika menyu­su­ri 
kera­mai­an ko­ta Leiden dan Amsterdam untuk berembug dengan berbagai 
pihak yang me­naruh per­ha­tian pa­da isu ek­se­kusi tapol PKI. Bentuk aksi 
yang jitu belum juga dapat kami temukan.

Syahdan, dalam suatu perjalanan pulang pada pagi buta seusai kerja 
sebagai pelayan rumah makan, tiba-tiba pleidoi Enin datang menyelinap 
dalam benak. Perasaan masih asyik meng­ulang-ulang bait lirik dari 
Police/Sting seperti terkutip, dan belum selesai pula melerai gemuruh 
semangat dan sistematika argumentasi seperti tersusun dalam lembar-
lembar pleidoi itu, tiba-tiba melintas pula kronologi mogok makan 
mahasiswa ITB. Ondos dilaporkan tak sadar diri dan diangkut ke rumah 
sakit. Terinspirasi oleh bentuk aksi de­mi­kian, ma­ka ba­thin pun 
menggelinjang berteriak: Kami siap menggelar mogok makan di Am­ster­dam 
un­tuk me­nen­­tang eksekusi Ruslan W. dkk. Hampir saja arah pulang 
kubelokkan me­nuju sebuah kelder, tem­pat Pak Bas bermukim di belahan 
timur Amsterdam. Namun, se­ge­ra ku­sadari bah­wa aku ha­rus pulang 
menemui istri untuk menyerahkan upah kerja yang baru kuperoleh.
Pagi hari pada Maret 1990 itu, cuaca tidak menyambut kami dengan 
ramah. Namun, te­tap kuputuskan menuju ke Pak Bas sebelum ke kampus. 
Setibanya, kuketok jendela mungil be­rkali-kali, namun tak dibuka. 

Sahutan suara lirih Pak Bas pun tak terdengar. Aku yakin Pak Bas di 
rumah. Kuingat pesan dia tentang `jalan ti­kus' menuju kamarnya. 
Kulewati jalan itu. Aku harus menemuinya untuk menyampaikan te­muan 
pagi buta tadi. Memasuki kamar, tidak se­perti biasa aku menghirup bau 
cat minyak/lu­kis, namun kali ini disergap oleh bau balsam. Ka­ruan, 
Pak Bas terbaring da­lam keadaan lemah sekali, muka tampak pucat, dan 
bibir berge­rak-gerak seperti ingin me­nyam­­pai­kan sesuatu. Sebuah jari 
tangan kanan ber­ge­tar­an menun­juk perut. Pak Bas se­dang ber­urus­­an 
dengan perutnya. Dalam kondisi be­gini, pan­tas kah aku membahas ide 
mogok makan? 

Kepada Pak Bas akhirnya hanya kuberitahu adanya tekad mogok makan 
untuk menen­tang eksekusi tapol PKI, tanpa menela­ah seluk-beluk 
persoalan teknis keorganisasian, apalagi me­nuntut keikut-sertaan dia 
yang ke­ti­ka itu usianya menuju 75.

Mendengar tekad demikian, Pak Bas dalam keadaan menahan sakit perut, 
urat raut mu­­­kanya tiba-tiba tampak mengendur. Sorot matanya terasa 
menembus mataku. Sembari meng­­­ang­­gukkan kepalanya perlahan, perlahan 
sekali, dia berusaha menggerakkan bibir, na­mun gagal menyuarakan 
sesuatu. Aku segera menangkap maksudnya. Kuminta dia te­­nang ber­­­­is­
tirahat. Setelah kubuatkan seteko teh hangat dan meninggalkan pe­­­san 
pa­­da pe­milik ru­mah, agar sesekali menengok Pak Bas yang sedang sakit 
perut, aku meneruskan perjalanan me­nuju kampus.

Usai kuliah, kami memberitahu teman Jusfiq tentang tekad mogok makan 
terse­but. Dia mendukung dan akan berusaha menghidupkan simpul-simpul 
yang da­pat meng­­elola ak­si tersebut secara organisatoris. Pimpinan PPI 
Amsterdam, Reza, sege­ra ka­mi temui menjelang sore hari, di sela-sela 
kuliahnya, untuk dukungan dan keikut-ser­taan­nya secara aktip. Dengan 
Reza, kami merasa cepat dapat saling meyakinkan arti penting aksi itu.
Seperti biasa, Komite Indonesia pun sangat gelisah dengan ancaman 
eksekusi, dan kali ini mengundang sejumlah kawan untuk bertemu guna 
membicarakan dan menentukan bentuk aksi. Gayung pun bersambut. Kami 
memutuskan untuk menghadiri pertemuan terbatas terse­but. Di situ 
muncul pula Reza (PPI Amsterdam), juga Lex selaku wakil ASVA, sebuah 
serikat buruh-mahasiswa Universitas Amsterdam. Terdapat pula dua 
orang Indonesia in exile lan­jut usia. Seorang di antaranya tampak 
mewakili establishmen yang ada, sedangkan yang lain me­wa­kili 
kelompok `sempalan'. Selain itu hadir pula beberapa kalangan lain 
yang mewa­kili or­mas dan orpol progresip Belanda. 

Satu jam lebih telah lewat, pertemuan belum juga berhasil menelorkan 
bentuk ak­si yang mantap. Kalau pun sempat terucap, tidak lebih dari 
menjentreng spanduk di pusat ke­ra­mai­an kota Amsterdam. Itu hanya 
menarik sebagai obyek tontonan wisatawan saja, komentar sinis dari 
pihak Komite yang sekaligus memegang kendali pimpinan rapat. Petisi 
pun dirasa­kan tidak akan efektip lagi.

Ketika pertemuan tampak jenuh dan cenderung buntu, maka kami tanpa 
ragu sedikit pun mengajukan aksi dalam bentuk mogok makan. Seluruh 
hadirin tertegun sejenak. Silih berganti akhirnya satu demi satu 
menyatakan dukungannya. Seseorang tampak berhati-hati dengan men­­­coba 
menempatkan masalah eksekusi dalam konteks polarisasi dalam tubuh ten­
tara. Ini ter­­jadi ketika kami mencoba merumuskan tuntutan aksi mogok 
makan: Stop eksekusi ta­pol PKI!; Hargai HAM dan tegakkan demokrasi! 
Stop IGGI!!! Pertemuan me­nye­tu­­jui­ tuntutan aksi ini. Komi­te Indonesia 
disepakati se­ba­gai pi­hak organisator aksi mogok ma­kan. Kemudian, kami 
bersama Reza segera be­rem­bug un­tuk me­nentukan hari H.

Sungguh tidak mudah melaksanakan tekad mogok makan tersebut, karena 
masing-ma­sing belum berhasil mengatasi tanggung-jawab dan beban 
universitas, belum lagi persoalan pri­badi lainnya. Pihak tertentu 
memandang aksi mogok makan terlalu ekstrim, dan teman Jus­fiq mem­
peroleh cap kontrev. Dalam situasi begitu, muncul usulan dari se­orang 
be­kas fung­sio­na­­ris Komite agar segera dilakukan mogok makan oleh 6 
aktivis secara ber­gilir se­lama 6 hari, sebagai protes simbolik 
terhadap rencana Suharto mengeksekusi 6 tapol. Tak urung, di sela-
sela istirahat seminar di Atrium Universitas Amsterdam, `Mira', se­
orang pu­tri eks tapol 1965 men­de­kati kami sembari menyatakan ketidak-
setujuannya ter­hadap bentuk ak­si sim­bo­lik-prag­ma­tik seperti diusulkan 
tersebut. Sembari mengacu filsafat mo­gok makan, `Mira' me­nun­tut agar 
kemurnian misi dipertahankan secara sungguh-sungguh!

Mencoba konsisten, maka proses yang kemudian dimasuki menjadi agak 
rumit, na­mun akhirnya kami, empat mahasiswa Indonesia di Belanda, 
berhasil menyatukan diri untuk se­ge­ra melaksanakan mogok makan. Pada 
5 April pagi hari, selembar surat wasiat telah kami susun, ber­isikan 
bila akhirnya kami meninggalkan dunia fana ini akibat aksi mogok 
makan me­nen­tang eksekusi 6 tapol PKI, maka buku kami sejumlah 2.305 
judul harap dise­rahkan kepada Enin c.s. di Bandung dan 3 B di Yogya. 

Bersama dengan delegasi Komite Indonesia, kami bersama `Mira' bertemu 
di bandara Schiphol pada siang 5 April itu, untuk melepas Menteri 
Pronk selaku ketua IGGI menuju Ja­kar­­ta. Bersama pimpinan delegasi 
c.q. Komite, kami berpesan agar dalam pertemuan dengan Soe­harto, 
Pronk mengajukan tuntutan kami. Diberitahukan pula bahwa begitu 
pesawat meng­ang­kasa menuju Jakarta, kami pun bertolak ke Amsterdam 
untuk memulai aksi mogok ma­kan, dan kami hanya berhenti mogok makan, 
bila rencana mengeksekusi 6 tapol PKI diba­tal­kan. Usai melepas Pronk 
di bandara, kami segera menyusul 2 peserta mogok makan lain­nya, Reza 
dan `Dahlan' (putra bungsu eks tapol 1965) yang telah menunggu di 
lokasi, yakni Beurs­plein, sebuah pela­taran umum di pusat keramaian 
kota Amsterdam. Pelataran tersebut menghadap salah satu jalan 
protokol, dan diapit oleh sejumlah bangunan perdagangan bursa dan 
pertokoan mewah. Ah, pandai juga pimpinan Komite memilih lokasi 
sembari berusaha me­maknai aksi kami, pikirku.

Tiba di pelataran, kami berempat memasuki sebuah tenda, dan dengan 
khid­­mat saling ber­pe­gang-tangan mengukuhkan niat ingsun bersama: apa 
pun risikonya, kami ti­dak akan ber­henti mo­gok makan sebelum Soeharto 
membatalkan niat mengeksekusi 6 tapol PKI. Di lu­ar tenda, berkerumun 
sejumlah aktivis Komite. Ketika kami bersama-sama ke­luar, me­reka me­­
nyam­­but dengan hangat dan kami pun menggabungkan diri mengikuti per­te­
muan se­bagai tan­­da pembukaan aksi mogok makan secara resmi. Kemudian, 
kami menerima se­­­tang­kai bunga mawar merah mungil yang sedang merekah 
dengan indahnya dari pengurus Ko­mite: perhatian yang sungguh 
menguatkan keteguhan yang baru kami kukuhkan. Setiap ma­lam hingga 
subuh, pa­ra pimpinan Komite secara bergilir selalu berjaga-jaga di 
sekitar tenda. 

Pada pagi hari pertama mogok makan, 6 April, matahari menjulang 
tinggi bak siap mem­­bekali tenaga yang kami butuhkan. Gemuruh 
gelinding roda besi kereta listrik bernomor 9 per­­­tama pagi itu baru 
saja lewat menuju pusat pemberhentian kereta, memecah kesenyapan 
jalan protokol Rokin yang belum juga menampakkan kehidupan nyata 
kota. Tak lama ke­mu­dian, kami melihat dari kejauhan seorang laki-laki 
lanjut usia bertubuh tinggi, berjalan sedikit terhuyung, tapi lurus 
ke arah tenda mogok makan. Akh, itu pasti Pak Bas, gumam kami se­rem­
pak. Benar! Dari jarak sekitar 30 meter tampak Pak Bas melempar 
senyum ringan­nya yang khas, sembari menyorotkan kedua matanya ke arah 
kami dengan hangat se­ka­li. Sua­sa­na menjadi amat menggairahkan. Sejak 
itu Pak Bas selalu bersama kami, sembari menye­lesaikan lukisan 
tentang Ruslan W. serta 5 kawan lainnya yang sedang terancam eksekusi.
Tanpa subutir nasi pun masuk ke dalam perut, hari-hari pertama kami 
lewati dengan ti­dak mu­dah. Hanya keteguhan tekad dan dukungan moral 
ratusan kawan-kawan, misi mogok ma­­kan terawat baik. Jam demi jam, 
hari demi hari akhirnya berlalu tak terasa. Kami si­buk berbincang-
bincang dengan para pengunjung yang berasal dari macam-ma­cam lapisan 
ma­syarakat Belanda, termasuk sesama mahasiswa dan dosen universitas 
kami, ang­­gota par­lemen dan per­wakilan berbagai ormas dan orpol. 
Permintaan wawancara da­ri media ce­tak, tv, dan radio pun datang silih 
berganti. Pelbagai pernyataan media pun sempat kami tayangkan, a.l. 
sebagai tanggapan perselisihan menlu V.d. Broek dengan ketua IGGI 
Pronk di seputar stile di­plo­matie vs. Démarche yang menyangkut 
tuntutan pencabutan ekse­ku­si tapol PKI. Tak ku­rang dari 10 hari 
berturut-turut, media massa Belanda sempat memu­sat­kan di­ri pada isu 
ekse­kusi tapol PKI. Ketika memasuki hari ke 6, peserta aksi sempat 
berkembang menjadi 10.

Di pelataran mogok makan, terdapat pula aktivis Komite yang setiap 
hari dengan te­kun sekali men­jaring kerumunan massa untuk dimintai 
tanda-tangan sebagai bentuk dukung­an tun­tutan aksi. Ra­tusan lembar A4 
penuh berisi tanda-tangan sempat ter­kum­pul. Dengan setia teman Jusfiq 
selalu datang memasok kami dengan berita-berita aktual dari tanah 
air. Dan di pe­lataran itu pula, setiap hari berdatangan berbagai 
kelompok orang Indone­sia yang sebe­lum­nya susah akur satu sama lain. 
Seiring dengan tuntutan aksi, mereka saling me­­­nya­tukan di­­ri, juga 
bersama kami, terma­suk dan terutama dengan Pak Bas selaku bapak rokha­­
ni kami. Se­buah impuls positip pun mun­­cul, dan sempat membawa kami 
selama ber­ta­hun-ta­hun ke suatu di­na­­mi­ka disertai pasang-surut gerak. 
Ini memerlukan pengungkapan tersendiri.

Kemudian, pada 16 April pagi hari, Pronk tiba kembali dari Jakarta. 
Bersama dengan se­jumlah regu tv, dia langsung dari bandara mendatangi 
tenda kami. Pronk menyampaikan bah­­wa tuntutan kami didengar serius 
oleh Soeharto, dan dia memohon agar ka­mi se­ge­ra meng­­­akhi­ri aksi mogok 
makan. Menjelang magrib pada hari itu, sebuah pesan telah sampai ke 
kami, berisi ucap­an teri­makasih dari para tapol dan keluarganya. 
Sungguh melegakan telah me­ne­rima sebuah isyarat ke­hi­dup­an dari tanah 
air. Pada saat itu, mogok makan pun dengan ikhlas kami akhiri untuk 
sementara.

--- End forwarded message ---






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx 
    mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: