[nasional_list] [ppiindia] Dwifungsi (!?)
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 31 Dec 2005 01:24:31 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/30/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Dwifungsi (!?)
BS Mardiatmadja, SJ
PERJALANAN Presiden ke Korea menyingkapkan masalah penting. Pemimpin Republik
ini merasakan kerisauan, ada sejumlah tokoh menjalankan dwifungsi, yaitu
sekaligus pelaku politik dan pelaku ekonomi. Banyak orang dalam Republik ini
yang mempunyai keresahan serupa: dwifungsi politik dan ekonomi itu dapat
menimbulkan ketegangan di kedua bidang hidup masyarakat kita, yaitu pelayanan
publik dan kekuasaan pasar.
Kita pernah mengalami ketegangan besar, tatkala banyak orang menjalankan
dwifungsi juga. Kita tidak tenang setiap kali melihat, di dunia politik ada
sejumlah orang dari kalangan militer yang juga aktif. Mereka yang membela
dwifungsi waktu itu mendasarkan pandangannya dengan menyatakan rakyat masih
membutuhkan kehadiran ABRI supaya demokrasi lebih teguh.
Ungkapan yang menyakitkan rakyat adalah: rakyat belum masak dan belum cukup
dewasa untuk berdemokrasi. Lama kelamaan dasar itu dianggap tidak kokoh lagi
karena berbau paternalistik dan menunjukkan sikap tidak percaya pada kedewasaan
rakyat. Kecuali itu, justru kehadiran orang dari angkatan bersenjata kerap
dirasa sebagai ancaman terhadap demokrasi yang sehat.
Bobot argumen dalam diskusi atau debat demokratis kerap ditegangkan oleh sosok
senjata di balik rekan rundingnya. Lalu debat tidak lagi murni pertukaran
pikiran. Ketegangan itu semakin dirasakan tatkala pimpinan negara sebenarnya
juga memanfaatkan kedua sisi masyarakat itu: politik dan angkatan bersenjata.
Dengan perundingan yang alot namun jernih, akhirnya diambil keputusan agar
dwifungsi ABRI ditanggalkan.
Sekarang, malah pelbagai perusahaan dalam lingkungan TNI mulai disiapkan untuk
ditata-ulang, agar pasar dapat bergerak dengan lebih bebas. Namun, kebebasan
pasar tidak dengan sendirinya tanpa masalah. Sewaktu Eropa Timur runtuh dan
menghancurkan negara-negara yang berdiri karena ideologi sosialisme, Paus
mengingatkan, kapitalisme dan liberalisme baru dalam dunia ekonomi tidaklah
lebih baik. Dunia kapitalis itu rupanya didukung sejenis globalisasi ekonomi
yang telah lama membuat risau banyak orang.
Sebenarnya Bung Karno sudah melontarkan kritik terhadap kecenderungan ada
negara(-negara) tertentu yang mau menguasai pasar dunia dengan dalih demokrasi.
Namun, sosok Indonesia dari sudut ekonomi tidaklah memadai untuk menghadapinya.
Bahkan rezim berikutnya memanfaatkan kehausan rakyat akan kemakmuran dan
mengambil-alih model pembangunan yang menonjolkan kebebasan pengusahaan materi
secara semakin lama semakin liberal.
Kecerobohan Soeharto dalam mengembangkan ekonomi oligarkis sebenarnya merusak
sendiri keinginannya menciptakan Indonesia yang makmur dari sudut materi.
Terjadilah dwifungsi baru: teman dan koneksi berfungsi sebagai motor ekonomi.
Sebab model pembangunan materialistis dan kapitalistik itu memang memungkinkan
sejumlah usahawan besar yang terkait sebagai teman penguasa, tetapi sekaligus
menciptakan jurang besar dalam masyarakat. Sebab lautan orang miskin semakin
banyak dan ketegangan politis mendepak Soeharto keluar pentas.
Bermuka Dua
Banyak tokoh reformasi tidak banyak belajar dari ketegangan itu. Tak sedikit
mantan pelaku lama masih tetap berperan: mereka bukan hanya menjadi pelaku
politik, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi. Dari zaman dwifungsi ABRI lewat
dwifungsi oligarkis sampai dengan dwifungsi ekopolitik dipakai dalih sama:
kami, anak kami, teman kami, rekan dagang kami, kan juga warga negara yang
berhak aktif juga di bidang politik.
Kadang kala dipakai persamaan dengan orang dari negara lain. Dilupakan pelbagai
mekanisme yang memperkecil ketegangan, yang di Republik ini tidak diusahakan.
Sebab, dari masa dwifungsi ABRI, dwifungsi oligarkis sampai dwifungsi
ekopolitik, demokrasi tetaplah bersifat semu.
Pelbagai lembaga demokrasi ada: parlemen, pengadilan, penegak hukum dan pelaku
politik lain. Namun, dari dulu sampai sekarang terdapat penguasa tak nampak:
yaitu uang. Uang sendiri seharusnya merupakan sarana pertukaran barang dan
jasa. Namun, lama kelamaan uang menjadi syarat utama kekuasaan, bahkan
mengemudikan segala bidang.
Pasar menjadi penguasa Republik; pelayan publik dikuasai oleh kehausan akan
uang; rakyat dicekik dengan uang. Semua karena dwifungsi yang kejam. Manusia
harus dibebaskan dari dwifungsi yang tidak menyelamatkan itu.
Sesungguhnya hal seperti itu dialami oleh rakyat Republik kita dalam inti
dirinya. Bahkan keluarga, basis masyarakat kita akan hancur kalau dwifungsi
terjadi: suami/istri mengabdi dalam dan luar keluarga. Suami atau istri mendua:
dalam keluarga ada cinta yang resmi; di luarnya berkembang cinta liar.
Anak-anak remaja hidup dalam dua dunia: dalam keluarga dan luar keluarga.
Orangtua mendidik anak dalam dua jalur sekaligus: moralitas resmi yang
dipampangkan meriah di dinding sekolah dan etika situasi di luar rumah yang
dikompromikan dengan oportunisme tanpa batas. Persekolahan diberi UU yang
menyuratkan nilai luhur, tetapi menyiratkan etatisme yang merusak nilai yang
mau dididikkan. Media diminta menawarkan perbaikan nilai tetapi sekaligus
dipaksa untuk menjadi saluran kontrademokrasi. Masyarakat penuh dengan
kecenderungan bermuka-dua.
Kembali ke Fokus
Dan yang lebih mencelakakan adalah dwifungsi keagamaan: tokoh agama yang juga
berfungsi politis. Pendewaannya sudah terbukti membawa banyak malapetaka: dari
para kaisar romawi, Napoleon, sampai abad modern.
Agama yang seharusnya merupakan jalan menuju yang mengatasi keterbatasan
manusiawi, sekaligus juga harus mau mengabdi kepada kepentingan-kepentingan
terbatas publik politik dan pasar. Pemimpin agama yang sibuk dengan urusan
publik politik dengan dalih "iman harus tampak dalam segala bidang", dapat
dengan cepat kehilangan kredibilitas dan merancukan peran iman. Bahkan ibadat
kerap menjalankan dwifungsi: kelihatannya untuk menyembah Tuhan tetapi
sekaligus nyatanya untuk memancing keuntungan publik politik.
Sesekali ditemukan juga pemuka umat yang memakai ibadat untuk mengumpulkan
pengaruh pasar. Di tempat lain, pemimpin ibadat lebih menampilkan diri sebagai
artis pertunjukan dengan segala aksesorinya daripada mempersilakan Tuhan
sebagai pemain utamanya. Agama jadi komoditi sebagaimana aneka komoditi akan
lapuk dimakan masa; bila tidak kembali pada fokusnya menolong agar umat
mempersilakan Tuhan berkuasa; bukannya menguasai Tuhan lewat hantu beraneka.
Banyak orang merasa, dwifungsi tumbuh subur. Di segala bidang. Fajar tahun 2006
menantang kita semua untuk kembali pada fokus pelayanan kita masing-masing dan
tidak mencampuradukkan segala segi tugas. Bila tidak, tahun 2007 akan menggugat
dwifungsi yang memorakporandakan sistem politik, sistem pasar, sistem keluarga
dan keutuhan pribadi kita sendiri.
Pribadi yang utuh harus menggantikan pribadi yang terpecah-belah: pada lapisan
hidup perseorangan, hidup berkeluarga, komunitas beragama, perkumpulan pasar,
dunia media serta publik politis. u
Penulis adalah
rohaniwan
Last modified: 30/12/05
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
For $25, 15 Afghan women can learn to read. Your gift can make a difference.
http://us.click.yahoo.com/_smZ4B/SdGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Dwifungsi (!?)