[nasional_list] [ppiindia] [Dokumen Tercecer]: SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah (2)
- From: Mira Wijaya Kusuma <la_luta@xxxxxxxxx>
- To: "Kolektif \(i\)nfo Coup d'etat 65" <kolic65@xxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 22 Sep 2006 03:54:52 -0700 (PDT)
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** Catatan Laluta:
...."mengutip pendapat Wardah Hafid dan Tati Krisnawaty (NGO) dalam laporan
studi buku mereka mengenai "Perempuan dan Pembangunan", tahun 1989 halaman 54
sebagai berikut: Tanggal pembukaan Kongres ini, 22 Desember 1928, pada kongres
ke tiga ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Perempuan dan pada tahun 1959 oleh
pemerintah ditetapkan sebagai hari besar nasional (SK Presiden RI No.
316/1959). Namun, dalam perkembangannya tanggal ini akhirnya lebih lazim
dikenal sebagai Hari Ibu yang pengertiannya cenderung diasosiasikan dengan
"Mother' s Day" di negara- negara Barat yang jelas berbeda dengan arti
peristiwa pada tanggal tersebut, yang memang merupakan pertanda kebangkitan
kaum perempuan Indonesia untuk bersatu dan memperjuangkan nasib kaum dan
bangsanya"....Selanjutnya silahkan baca naskah karya tulisan Rusiyati berjudul
"SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah", yang di
presentasikan pada pertemuan peringatan Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia
tanggal
22 Desember 1990 di Amsterdam.
La Luta Continua!
***
SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah (2)
Oleh Rusiyati
2. Periode Kebangkitan Kesadaran Nasional (1911 ? 1928)
Masa kebangkitan dan kesadaran nasional ditandai dengan munculnya organisasi
Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta, organisasi pertama diantara
bangsa Indonesia yang dibentuk secara modern. Dengan bentuk modern diartikan
bahwa organisasi mempunyai pengurus tetap, anggauta, tujuan, rencana pekerjaan
dan seterusnya berdasarkan peraturan-peraturan yang dimuat di Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. Pengurus Budi Utomo terdiri dari para
Priyayi dan dalam waktu singkat organisasi tersebut megalami kemajuan pesat.
Pada akhir tahun 1909 Budi Utomo telah mempunyai 40 cabang dengan lebih kurang
10.000 anggauta.
Kemudian berdiri partai-partai politik yang tidak terbatas pada daerah
berkebudayaan Jawa saja seperti Budi Utomo, akan tetapi yang beraliran Indisch
Nasionalisme radikal, beraliran nasionalisme demokratis dengan dasar agama dan
beraliran marxisme. Pada pokoknya keinginan rakyat untuk berjuang melawan
penghisapan ketika itu tersedia wadahnya melalui organisasi. Dan meskipun untuk
mendirikan suatu organisasi harus minta izin dahulu kepada pemerintah, toh
organisasi-organisasi yang tumbuh semakin radikal saja.
Adalah pada tempatnya, kalau disini kita sedikit menyinggung adanya
perlawanan atau oleh pemerintah kekuasaan Kolonial ?NederlandsIndië? dinamakan
sebagai ?pemberontakan PKl pada tahun 1926?, karena yang dituduhkan sebagai
pemberontakan adalah melawan penjajahan kekuasaan kolonial Belanda. Pada waktu
itu perlawanan terhadap rejim Kolonialisme merupakan pemberontakan besar
terakhir sebelum Nederlands lndie bertekuk lutut kepada Balatentara Jepang.
Perlawanan PKl terjadi pada bulan-bulan terakhir tahun 1926, dua tahun
sebelum para pemuda menggalang persatuan nasional dengan pernyataan sumpahnya
berjuang untuk perjuangan Satu bahasa, satu bangsa dan satu tanahair:
lndonesia. Pada sekitar tahun 1926 itu baru muncul fase pemikiran awal untuk
menghimpun kaum nasionalis, Islamis dan marxis supaya menjadi satu kekuatan
dahsyat untuk menundukkan penjajah, seperti ditulis oleh Sukarno di "Suluh
lndonesia Muda" pada tahun 1926. Adapun bentuk persatuan kekuatan-kekuatan
nasional baru dapat diusahakan dua tahun kemudian. Karenanya hanyalah PKl yang
pada tahun 1926 memulai melakukan perlawanan fisik pada 12-14 November di
Jakarta, Jatinegara dan Tangerang, 12 November - 5 Desember di karesidenan
Banten, 12-18 November di daerah Kediri. Dibeberapa tempat rencana itu sudah
diketahui lebih dahulu oleh P.l.D. (Politiek Inlichtingen Dienst) dinas rahasia
pemerintah kolonial.
Pada zaman kolonial Belanda penyebutan ?pemberontakan? selalu diartikan
sebagai ancaman oleh pemerintah Nederlandsindië karena bertujuan untuk
kemerdekaan dari kekuasaan penjajah. Dengan begitu perlawanan kaum Nasionalis
ketika itu yang dianggap radikal ditindas dengan kejam oleh pemerintah kolonial
Belanda. Yang ikut serta maupun yang tidak ikut serta dikalangan kaum merah
semuanya di hukum penjara/ pengasingan. sebab menurut anggapan kolonial
Belanda: usaha merebut kembali hak rakyat atas tanah airnya sendiri, merupakan
kejahatan.
Yang tidak ikut melakukan perlawanan, sekitar 4.500 orang diasingkan ke Boven
Digul. Mereka dihukum penjara, sebagian lagi juga diasingkan ke Boven Digul,
tetapi di tempat yang sangat tidak sehat, di tengah hutan dan rawa, di pinggir
sungai Digul di lrian Selatan. Diantara para interniran di Boven Digul itu
terdapat 15 orang wanita, diantaranya Sukeisih. Kemudian organisasi-organisasi
PKl, Serikat Rakyat (S.R.) dan semua golongan bawahannya dilarang oleh
pemerintah kolonial. Hubungan diantara mereka dilakukan oleh
propagandis-propagandis yang berjalan keliling.
A. Gerakan Wanita dan Kebangkitan Nasionalisme:
Dalam masa pertama dari pergerakan Indonesia pada periode Budi Utomo, gerakan
wanita baru berjuang untuk kedudukan sosial saja. Soal-soal politik belum dalam
jangkauannya. Mengenai kemerdekaan tanah-air masih terlalu jauh dari
penglihatan dan pemikirannya. Kesibukan-kesibukan pada Periode Perintis
dibidang pendidikan, pengajaran, kerumahtanggaan masih berlanjut.
Dalam pada itu pengaruh warisan cita-cita Kartini untuk emansipasi wanita
berkumandang menembus batas-batas kamar pingitannya, dan perhatian kaumnya pada
periode kebangkitan dan kesadaran nasional ini mulai juga untuk meningkatkan
perjuangan wanita. Pada tahun 1912 muncul organisasi wanita yang pertama di
Jakarta "Putri Mardika" atas bantuan Budi Utomo. Perkumpulan "Kartini Fonds"
yang bertujuan mendirikan sekolah-sikolah Kartini berdiri diberbagai tempat di
Jawa, ?Keutamaan Istri? didirikan dibanyak tempat di Jawa Barat, bahkan di kota
Padang Panjang, "Kerajinan Amai Setia" di kota Gedang, "PIKAT" (Percintaan Ibu
Kepada Anak Temurunnya) berdiri pada tahun 1917 di Manado. Kesemuanya, baik
organisasi-organisasi bagian Wanita dari organisasi partai umum, maupun
organisasi-organisasi lokal kesukuan/kedaerahan bertujuan menggalakkan
pendidikan dan pengajaran bagi wanita, dan perbaikan kedudukan sosial dalam
perkawinan dan keluarga serta meningkatkan kecakapan sebagai ibu dan
pemegang rumahtangga. Gerak kemajuan pada tahun-tahun sebelum 1920 dapat
dikatakan lamban. Sebab-sebabnya ialah sangat kurangnya sekolah-sekolah untuk
wanita pribumi, lagi pula kadang-kadang juga tiadanya izin dari Orang tuanya
(dikalangan atas) atau diperlukan tenaganya untuk membantu orang-tua
(dikalangan bawah). Disamping itu adat dan tradisi sangat menghambat kemajuan
wanita.
Sesudah tahun 1920 jumlah organisasi wanita bertambah banyak. Kesediaan
wanita untuk terlibat dalam kegiatan organisasi makin meningkat dan kecakapan
berorganisasipun bertambah maju. Hal ini disebabkan karena kesempatan belajar
makin meluas lagipula berkembang ke lapisan bawah. Dengan demikian jumlah
wanita yang mampu beraksi juga bertambah luas dan tidak lagi terbatas kepada
lapisan atas saja.
Oleh sebab semuanya itu, maka sesudah tahun 1920 kita dapat melihat jumlah
perkumpulan wanita bertambah banyak sekali, sedang P.K.I., S.I., Muhammadiyah
dan Sarekat Ambon mempunyai bagian wanita. Bagian Wanita tadi dalam penyebaran
cita-cita tentu saja mempertinggi hal- hal yang khusus mengenai kewanitaan.
Kongres P.K.I. di Jakarta tanggal 7-10 Juni 1924 menyediakan satu hari penuh
untuk merundingkan masalah gerakan wanita komunis. Pada hari itu para wanita
membicarakan kewajiban kaum wanita dalam perjuangan menentang penjajah dan kaum
pemodal.
Bagian Wanita S.I. adalah Wanudiyo utomo, kemudian Sarekat Perempuan Islam
Indonesia(S.P.I.I.). Dalam Kongres Sarekat Islam (S.I.) pada bulan April 1929
di Surabaya, S.P.I.I. bertentangan dengan Persatuan Puteri Indonesia mengenai
poligami. Bagian Wanita Muhammadiyah adalah Aisiyah, yang juga tidak mencampuri
persoalan politik seperti ibu perkumpulannya Muhammadiyah. Mengenai masalah
poligami, Aisiyah sependirian dengan bagian Wanita S.I. Mereka juga menentang
keras adat Barat (pakaian, tata rambut, cara hidup, kesenangan dan sebagainya)
karena dianggapnya bertentangan dengan adat Islam. Wanita Perti sebagai bagian
dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) didirikan pada tahun 1928.
Bagian Wanita Sarekat Ambon, Ina Tuni membantu aksi Sarekat Ambon dikalangan
militer Ambon. Bagian Wanta ini berhaluan politik seperti Sarekat Ambon juga.
Jenis perhimpunan Wanita lainnya ialah organisasi-organisasi pemudi
terpelajar, seperti Puteri Indonesia (disamping Pemuda Indonesia) , Jong
Islamieten Bond Dames Afdeling (J.I.B.D.A.) disamping J.I.B.D.A., Jong Java
Meisjeskring, Organisasi Taman Siswa.
Kemajuan gerakan Wanita sesudah tahun 1920, terlihat juga dengan makin
banyaknya perkumpulan-perkumpulan Wanita kecil-kecil yang berdiri sendiri.
Hampir di semua tempat yang agak penting ada pekumpulan wanita. Seperti pada
masa sebelum 1920, perkumpulan-perkumpulan itu mempunyai tujuan yang sama,
ialah untuk belajar masalah kepandaian putri yang khusus.
Menjelang tahun 1928, organisasi wanita berkembang lebih pesat. Sikap yang
dinyatakan oleh organisasi-organisasi wanita pada waktu itu, umumnya lebih
tegas, berani dan terbuka. Perkembangan kearah politik makin tampak, terutama
yang menjadi bagian dari S.I.(Sarekat- Islam), P.K.I.(Partai Komunis
Indonesia), P.N.I.(partai Nasional Indonesia) dan PERMI (Persatuan Muslimin
Indonesia).
Gerakan Wanita Indonesia fase ini sudah lebih matang untuk menyetujui anjuran
dan panggilan kebangsaan, faham ?Indonesia bersatu? yang dihidup-hidupkan
antara lain oleh Perhimpunan Indonesia dan P.N.I. Maka berlangsunglah Kongres
Perempuan Indonesia yang pertama di Jogyakarta pada tanggal 22-25 Desember
1928, puncak kegiatan yang terjadi pada periode ini, dua bulan setelah Kongres
Pemuda yang menelurkan ikrar Sumpah Pemuda. Kongres ini merupakan lembaran
sejarah baru bagi gerakan wanita Indonesia, dimana organisasi wanita menggalang
kerjasama untuk kemajuan wanita khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ciri
utama kesatuan pergerakan wanita Indonesia pada masa ini ialah berazazkan
kebangsaan dan menjadi bagian dari pergerakan kebangsaan Indonesia. Pokok-pokok
permasalahan yang dibicarakan diantara nya ialah kedudukan wanita dalam
perkawinan, poligami dan ko-edukasi. Masalah politik nasional melawan
penjajahan tidak menjadi pokok bahasan dan Kongres berpendirian berhaluan
koöperasi terhadap pemerintah NederlandsIndië.
Kongres menghasilkan keputusan dibentuknya badan permufakatan
organisasi-organisasi wanita dengan nama Perserikatan Perkumpulan Perempuan
Indonesia (P.P.P.I.) dan bertujuan untuk memberi penerangan dan menjadi forum
komunikasi antar organisasi wanita.
Kongres menghasilkan tiga buah mosi yang ditujukan kepada pemerintah
Nederlands Indie, yaitu:
1. Menambah sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan
2. Pada waktu nikah supaya pemberian keterangan mengenai taklik (janji dan
syarat-syarat perceraian)
3. Supaya diadakan peraturan untuk memberi sokongan kepada janda-janda dan
anak-anak piatu pegawai pemerintah.
Mengenai Hari Kebangkitan Perempuan pada 22 Desember ini, ingin saya mengutip
pendapat Wardah Hafid dan Tati Krisnawaty (NGO) dalam laporan studi buku mereka
mengenai "Perempuan dan Pembangunan", tahun 1989 halaman 54 sebagai berikut:
"Tanggal pembukaan Kongres ini, 22 Desember 1928, pada kongres ke tiga
ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Perempuan dan pada tahun 1959 oleh
pemerintah ditetapkan sebagai hari besar nasional (SK Presiden RI No.
316/1959). Namun, dalam perkembangannya tanggal ini akhirnya lebih lazim
dikenal sebagai Hari Ibu yang pengertiannya cenderung diasosiasikan dengan
"Mother' s Day" di negara- negara Barat yang jelas berbeda dengan arti
peristiwa pada tanggal tersebut, yang memang merupakan pertanda kebangkitan
kaum perempuan Indonesia untuk bersatu dan memperjuangkan nasib kaum dan
bangsanya. Disini yang terjadi adalah distorsi sejarah yang kemungkinan besar
mencerminkan berubahnya pandangan dan aspirasi tentang gerakan perempuan, tapi
sangat bisa jadi juga karena dengan sengaja dilakukan untuk
kepentingan-kepentingan, yang sifatnya politis terutama setelah peristiwa 30
September 1965 yang selain membabat pengaruh PKI (Partai Komunis Indonesia)
juga Gerwani (Gerakan Wanita In-
donesia), gerakan perempuan yang merakyat dan banyak menyuarakan serta
berorientasi kepada kepentingan perempuan kelas bawah pada masa itu. Selain
itu, berkaitan dengan usaha penjinakan kaum perempuan, besar kemungkinan nama
hari ini dengan sengaja diganti dan dikacaukan pengertiannya menjadi hari untuk
pengabdian ibu. Dengan demikian nilai-nilai mengabdi dan berkorban bagi ibu
akan lebih mudah di tanamkan.?
Demikianlah pendapat Wardah Hafidz dan Tati Krisnawaty mengenai Hari
Kebangkitan Perempuan tanggal 22 Desember dalàm hubungannya dengan
memperingatinya sekarang ini di tanahair kita, untuk mengakhiri uraian mengenai
Periode Kebangkitan dan Kesadaran Nasional.
B. Gerakan Wanita dan Media massa:
Gerakan Wanita Indonesia sejak semula menyadari pentingnya media-massa bagi
perjuangannya. Alat media massa seperti surat khabar dan majalah berfungsi
untuk menyebarkan gagasan kemajuan wanita dan sebagai sarana praktis pendidikan
dan pengajaran. Tulisan dan karangan ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa
Belanda, bahasa Sunda atau bahasa Jawa.
Sebagian besar pengarang dan yang membantu penerbitan majalah Gerakan Wanita
pada periode itu adalah guru-guru wanita yang berpendidikan Barat. Guru wanita
ketika itu merupakan kaum elite di bidang kebudayaan.
Majalah pertama "Putri Hindia" terbit pada tahun 1909 di Bandung, dalam dua
kali sebulan oleh golongan atas seperti R.A. Tjokroadikusumo. Hingga tahun 1925
sudah di terbitkan sebelas macam media-massa (koran,majalah) yang tersebar di
Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Misalnya ?Sunting Melayu? diterbitkan di Padang pada 10 Juli 1912. Surat
kabar yang terbit tiga kali seminggu itu merupakan pusat kegiatan pemudi, putri
maupun wanita yang telah bersuami, berisi masalah-masalah politik, anjuran
kebangkitan wanita Indonesia dan cara menyatakan fikiran para penulisnya dalam
bentuk prosa dan puisi. Sampai tahun 1920 pemimpin redaksinya yalah Hohana
Kudus.
Di pacitan, kota kecil di pantai Samudera Indonesia di daerah Madiun, terbit
pada tahun 1913 surat kabar bernama ?Wanito Sworo? dipimpin oleh Siti Sundari
dengan huruf dan bahasa Jawa, tetapi kemudian sebagian berbahasa Melayu.
Pada tahun 1914 di Jakarta terbit ?Putri Mardika? sebagai majalah bulanan.
Artikel-artikel ditulis dalam bahasa Belanda, Melayu dan Jawa. "Putri Mardika"
berhaluan maju. Masalah permaduan, pendidikan campuran laki-laki dan wanita,
kelonggaran bergerak bagi kaum wanita, kesempatan pendidikan dan pengajaran dan
lain-lain merupakan bahan perdebatan. Pada tahun 1918 di Bandung diterbitkan
edisi Sunda dengan nama ?Penuntun Istri?.
Di Semarang terbit "Istri Utomo?. Dan di Padang "Suara Perempuan? dengan
redaksi seorang guru wanita bernama Saáda. ?Perempuan Bergerak?diterbitkan di
Medan dengan pimpinan redaksi Satiaman Parada Harahap yang pada tahun 1920
diperkuat oleh Rahana.
Di Menado terbit majalah bulanan "Pikat?. Sementara itu Aisyiah
mengeluarkan "Suara Aisyiah " pada tahun 1925. Di Bandung "Istri
Mardika"diterbitkan dalam bahasa Sunda. Demikian perintis pers wanita kita.
Bersambung....
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] [Dokumen Tercecer]: SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah (2)