[nasional_list] [ppiindia] [Dok. Tercecer 1965/1966]: REVOLUSI ADALAH MENDJEBOL DAN MEMBANGUN

=======================================
Situs Lowongan kerja dan Beasiswa - Free Job Vacancy and Scholarship Info

1. Job Vacancy Indonesia
http://lowongankerjas.blogs.ie/

2. Situs Info Lowongan Kerja Indonesia
http://kerja.blogs.ie/

3. Free Scholarship info for international students
http://beasiswa.blogsome.com/

4. Scholarship info for Indonesian and international students
http://beasiswa.blogs.ie/

5. Informasi Beasiswa Indonesia dalam negeri dan luar negeri
http://www.beasiswas.com/

6. Cara Membuat blog - Tutorial blog
http://afatih.wordpress.com/
=======================================


        
        





REVOLUSI ADALAH
MENDJEBOL DAN MEMBANGUN
PIDATO BUNG KARNO DI DEPAN GMNI, 3
DESEMBER 1966

Saudara-saudara, 
Di kalanganmu itu aku
melihat tadi Pak Mukarto. Tapi kok sekarang 
nyisih ya. Aku
melihat Pak Adam Malik, belakang. Aku melihat Pak 
Tjokro. Dan di
hadapanmu, engkau melihat aku.

Baik Pak Mukarto, maupun Pak
Tjokro, maupun Pak Adam Malik, maupun 
aku, dulu, muda, dulu
ikut-ikut muda. Sekarang saja sudah ada yang 
sudah ubanan
rambutnya seperti Pak Mukarto. Yang tadi aku ceritakan 
waktu
physical revolution mulai, beliau adalah, kita, penyeludup,

smokkelaar untuk mendapatkan senjata. Physical revolution untuk

mendapat pembiayaan, uang buat perwakilan kita di luar negeri.

Kemudian pula bapak-bapak itu di waktu muda ikut-ikut giat di
dalam 
pergerakan nasional ataupun di dalam physical
revolution.

Demikian pula aku.

Engkau telah sering
mendengar mengenai diriku, bahwa aku ini sejak 
umur 16 tahun, 16
tahun, telah mencemplungkan diri dalam gerakan 
untuk tanah air,
bangsa, cita-cita. Pada waktu aku umur 16 tahun, 
aku adalah siswa
daripada sekolah menengah Belanda di Surabaya HBS, 
Hogere Burger
School. Siswa. Pada waktu itu aku karena telah ikut 
bercita-cita,
menjadi anggota daripada satu organisasi pemuda Jawa, 
pemuda dan
pemudi Jawa. Namanya Trikoro Darmo. Trikoro Darmo.

Demikian
pula bapak-bapak tua sekarang ini dulu semuanya, pada waktu 
masih
muda telah ikut berkecimpung di dalam gerakan-gerakan. Ada 
yang
seperti Bapak menjadi anggota Trikoro Darmo. Pak Leimena yang 
duduk
di sana, dedengkot tua Pak Leimena, dulu pun menjadi anggota

daripada satu gerakan pemuda Ambon.

Bung Hatta juga pada
waktu masih muda menjadi anggota daripada satu 
serikat siswa
Sumatera, Jong Sumatranen Bond.

Pak Leimena punya organisasi
namanya Jong Ambon.

Nah, kita sekarang dedengkot-dedengkot
tua. Sejak dari muda kita 
telah bukan saja ikut, ya nak, jangan
lihat itu, lihat hidungnya 
Bapak. Bapak itu kalau pidato dilihat
mata anak anggota GMNI itu 
lantas Bapak ikut menyala-nyala.

Ha,
dedengkot-dedengkot itu sekarang ada, ada lo, di kalangan 
mahasiswa
yang waduh, memaki-maki kepada kami, mencerca kami. Sampai 
tempo
hari itu, sampai Bapak itu setengah menangis.

Pak Leimena yang
sejak dari mudanya telah berkecimpung 
mencemplungkan diri dalam
gerakan untuk kepentingan bangsa dan tanah 
air, cita-cita.
Sekarang di kalangan mahasiswa ada yang waduh, 
bahkan mengucapkan
kata-kata yang tidak baik: Kami tidak sudi 
orang "cap",
atau "cap Leimena", "semacam Leimena". Masya
Allah, 
pemuda-pemuda zaman sekarang ini bagaimana. Dan engkau
tahu Bapak 
sendiri sekarang ini ada yang waduh sudah
habis-habisan lah, habis-
habisan.

Padahal, padahal, Bapak,
Pak Leimena, Pak Mukarto, Pak Adam Malik, 
Pak Tjokro, dan
macam-macam banyak sekali Pak, Pak, Pak itu, sedari 
mudanya boleh
dikatakan menyerahkan diri, bahkan mengorbankan 
kebahagiaan hidup
untuk kepentingan tanah air, bangsa dan cita-cita.

Nah,
sekarang engkau pemuda-pemuda. Bukan saja engkau jangan ikut

pemuda-pemuda yang begitu itu tadi, yang mencerca kepada Pak

Leimena, Pak Mukarto, dan lain-lain sebagainya, tetapi aku

menghendaki supaya engkau pun mengetahui tugas dan kewajiban
sebagai 
pemuda. Tugas kewajibanmu sebagai mahasiswa. 

Pernah
kukatakan, menjadi mahasiswa zaman sekarang ini tugasnya 
adalah
dua, tugasnya dua. Satu, untuk terus ikut menjadi pelopor 
daripada
revolusi kita sekarang ini. Kan menjadi pelopor itu 
berarti,
bukan saja berjalan di muka, tetapi yaitu sebagai kukatakan

berulang-ulang, jangan meninggalkan sumber daripada revolusi,
jangan 
menyeleweng daripada riilnya revolusi. itu satu. 

Kedua,
untuk menjadi unsur mutlak di dalam pembinaan. Sebab, 
revolusi
kataku, kemarin pun diterangkan panjang lebar dihadapan 
anggota
MPP PNI, revolusi adalah di satu pihak menjebol, di lain 
pihak
membina. Menjebol kepada imperialisme, menjebol kepada sistem 
yang
tidak sesuai dengan revolusi, sistem sosial yang tidak sesuai 
dengan
revolusi. Tegasnya menjebol sistem feodalisme, menjebol 
sistem
kapitalisme. Di samping itu membina, membina, membangun satu 
barang
baru yang memberi kebahagiaan kepada rakyat Indonesia 
seluruhnya.
Dus di satu pihak menjebol, di lain pihak membina. 
Karena itu
aku, sejak daripada pecahnya revolusi fisik kita, telah 
kuterangkan,
revolusi adalah satu simfoni. Simfoni itu adalah lagu 
yang merdu
dikeluarkan oleh rombongan bersama. Ada yang memegang 
biola, ada
yang memegang gitar, ada yang memegang drek, dek, dek, 
dek, dek,
tambur, ada yang memegang macam-macam pesawat. Tetapi 
bersama-sama
mengeluarkan satu simfoni yang merdu. Dan aku berkata, 
revolusi
adalah simfoni daripada destructie dan constructie. 
Destructie
yaitu menghancurkan, atau dengan perkataan yang baru tadi 
kuucapkan
menjebol. Constructie, membangun, membina, mencipta, to 
create,
scheppen, kata orang Belanda.

Nah, ini untuk to create, kamu
orang semuanya mahasiswa mengerti 
perkataan create. Scheppen, itu
tidak semua kamu mengerti, yaitu 
bahasa Belanda, tapi artinya
sama dengan create, membina, membangun, 
mencipta. Created itu
kita memerlukan pengetahuan, memerlukan skill. 
Sebab, tujuan
revolusi adalah, sebagai kukatakan berulang-ulang dan 
engkau
katakan berulang-ulang, satu masyarakat adil dan makmur tanpa

exploitaion de l'homme par l'homme, tanpa exploitation de nation
par 
nation. Pendek kata, tujuan revolusi adalah Ampera. Ampera di
dalam 
arti aksi Ampera, arti aksi Ampera. Jangan Ampera sebagai

diterangkan atau dikatakan oleh satu golongan mahasiswa zaman

sekarang. Nanti aku terangkan.

Dan aku mengucap syukur
terhadap kepada Tuhan bahwa akulah 
fabrikant. Fabrikant, pembuat
kata Ampera itu, Amanat Penderitaan 
Rakyat, bersama-sama dengan
yang kau katakan pada waktu melantik 
Akabri, Akademi Angkatan
Bersenjata, bersama-sama dengan Bapak 
Sukarni. Kita ciptakan satu
perkataan untuk menjadi slogan daripada 
perjuangan kami berdua,
Soekarno-Soekarni membuat kata baru Ampera, 
Amanat Penderitaan
Rakyat. Bagaimana? Nah, inilah yang aku akan 
terangkan kepadaku
lebih dahulu. Umur 16 tahun, aku menjadi anggota 
Trikoro Dharmo.
Itu kumpulan mahasiswa Jawa. Perkataannya saja sudah 
Jawa,
Trikoro Dharmo.

Aku pada waktu itu diindekoskan. Apa perkataan
indekos zaman 
sekarang di pondokkan, ditumpangkan. Diindekoskan,
ditumpangkan atau 
di pondokkan, diindekoskan kepada rumahnya
pemimpin ulung Umar Said 
Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi
haji, Haji Oemar Said 
Tjokroaminoto. Aku diindekoskan di
situ.

Nah, ini belakangan, Saudara-saudara, syukur aku
mengucapkan kepada 
Tuhan, kok aku diindekoskan di situ oleh orang
tuaku. Tidak 
diindekoskan ke rumah orang lain, kok diindekoskan
di rumahnya 
seorang pemimpin.

Apa sebab? Bukan saja aku di
rumah Tjokroaminoto itu sering bicara 
dan mendapat pengajaran
dari Tjokroaminoto almarhum. Tetapi di rumah 
Pak Tjokro itu aku
berjumpa dan bercakap-cakap lama, kadang jauh 
malam, sampai
kadang hampir fajar pagi, dengan pemimpin-pemimpin 
lain yang
bertamu kepada Pak Tjokro atau yang beberapa hari logger-
kan di
rumahnya Pak Tjokro itu. Antara lain siapa? Antara lain 
almarhum
Haji Agus Salim. Antara lain siapa? Almarhum Soerjopranoto. 
Antara
lain siapa? Sosrokardono. Andara lain siapa? Semaoen. Antara 
lain
siapa? Tjipto Mangoenkoesoemo. Antara lain siapa? Douwes 
Dekker.
Yang kemudian ganti nama Setiabudi. Aku dus bicara dengan 
politisi,
politikus dari segala aliran. Bahkan aku bicara dengan 
pendiri
daripada gerakan agama yang bernama Kiai Haji Dahlan. Bukan 
saja
bicara sebentar, tidak. Wong mereka itu logger di rumahnya

Tjokroaminoto. Itu rupanya sudah jamak, kebiasaan. Lumrah.

Dulu
itu kalau pemimpin pergerakan datang di suatu tempat, ya logger-
nya
di tempat seseorang pemimpin gerakan lain, meskipun bukan dari

partainya.

Nah, rumah Pak Tjokro itu seperti hotel,
Saudara-saudara, sering 
kedatangan pemimpin-pemimpin itu. Dan aku
sebagai orang yang indekos 
di situ, waduh, sebentar bicara dengan
Pak Haji Agus Salim, sebentar 
bicara dengan Pak Soerjopranoto.
Kamu barangkali sudah tidak tahu 
lagi Pak Soerjopranoto itu.
Soerjopranoto itu adalah dulu pemimpin 
kaum buruh pabrik gula.
Tanah Jawa dulu banyak sekali pabrik gula. 
Oleh karena memang
imperialisme Belanda di tanah Jawa itu terutama 
sekali mengambil
hasil banyak dari gula, pabrik gula. Pemimpin 
daripada kaum buruh
pabrik-pabrik gula ini adalah Soerjopranoto. PFB 
morat-marit,
sebetulnya namanya PFB ini ialah Personeel Fabriek 
Bond. Kalau
bahasa Belanda yang betul mustinya ya Bond van Fabriek 
Personeel
begitu. PFB, Personeel Fabriek Bond. PFB. Malahan kaum 
buruh gula
ini pernah mengadakan mogok besar. Mogok untuk 
mendapatkan gaji
lebih tinggi, jam kerja kurang. Dan Pak 
Soerjopranoto dinobatkan
oleh kongres daripada PFB ini menjadi, 
pakai bahasa Belanda lagi
Staking Koning, Raja Pemogokan. Hebat itu, 
hebatnya perjuangan,
Saudara-saudara, pada waktu itu menentang 
imperialisme. Mogok!
Seluruh kaum buruh pabrik-pabrik gula mogok. 
Disusul oleh
Semaoen, komunis. Dulunya yaitu Sarekat Islam.

Kemudian
Sarekat Islam dengan kepalanya bernama PKI, Partai Komunis

Indonesia. Semaoen, dia pun sering datang di rumahnya Pak Tjokro.

Saya pun sering bicara dengan Semaoen. Sebagaimana, saya tanya,

sebagaimana orang muda lo, banyak maguru, aguru itu bahasa Kawi

Sansekerta, maguru, berguru, belajar menjadi murid daripada Pak

Tjokro. Maguru kepada Semaoen. Bagaimana, bagaimana, bagaimana?
Dia 
kasih pengajaran.

Demikian pula aku maguru kepada
Tjipto Mangoenkoesoemo, yang namanya 
kita agungkan sampai
sekarang. Misalnya, barangkali ada mahasiswa 
sekolah dokter, tahu
rumah sakit yang di sini kita namakan Rumah 
Sakit Tjipto
Mangoenkoesoemo. Aku maguru kepada Douwes Dekker, 
Setiabudi. Aku
maguru kepada Soeryaningrat, yang kemudian ganti nama 
menjadi Ki
Hadjar Dewantara. Maguru. Dengan perkataan yang sering 
kukatakan,
aku ini nglésot di bawah kakinya Ki Hadjar, di bawah 
kakinya
Tjokroaminoto, di bawah kakinya Tjipto, di bawah kakinya 
Douwes
Dekker, di bawah kakinya Semaoen, di bawah kakinya 
Soerjopranoto,
di bawah kakinya Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiah. 
Jadi aku
dapat, dari semua pikiran dan aliran, aku dapat bahan. Nah, 
ini
semua menjadi satu simfoni bagiku, Saudara-saudara. Aku tidak 
hanya
maguru kepada viool, aku tidak hanya maguru kepada piano, aku 
tidak
hanya maguru kepada gitar, aku tidak hanya maguru kepada 
saksofon,
aku tidak hanya maguru kepada tromp, yaitu tambur, tidak. 
Aku
maguru dari masing-masing itu dan aku maguru kepada simfoni 
daripada
ini semua.

Karena itu kalau aku sekarang ini berjumpa dengan
pemimpin-pemimpin 
yang sekarang oo, oo, oo. Ada lo,
pemimpin-pemimpin yang petita-
petiti. Hh, aku ini dulu maguru
kepada waduh pemimpin-pemimpin 
Indonesia dari golongan Islam,
maupun golongan nasionalis, maupun 
dari golongan komunis. Bahkan
aku maguru juga daripada pemimpin-
pemimpin Belanda yang dulu ada
di sini, pemimpin sosialis.

Ini semua menjadi bahan
bagiku.

Nah, oleh karena itulah maka sesudah aku menjadi
anggota daripada 
Trikoro Dharmo, aku meluaskan gerakan pemudaku
menjadi Jong Java. 
Lebih jelas lagi Jong Java daripada Trikoro
Dharmo. Sebab, Trikoro 
Dharmo itu dulu maksudnya ya studie tok.
Kalau Jong Java sudah tegas 
dengan cita-cita, lebih tinggi
daripada Trikoro Dharmo.

Tidak lama di Jong Java saya jelaskan
dan saya lebarkan lagi menjadi 
Jong Indonesia. Indonesia Muda.
Bukan sendiri, bersama-sama dengan 
pemimpin-pemimpin,
dedengkot-dedengkot yang lain. Indonesia Muda 
tahun 1923,
Saudara-saudara, 1923 lo, lima tahun sebelum Sumpah 
Pemuda. Lima
tahun sebelum ada sumpah yang berbunyi: satu tanah air, 
satu
bahasa, satu bangsa. Dedengkot itu bernama Soekarno, dedengkot 
tua
yang bernama Soediono, dedengkot tua yang bernama Mohammad 
Hatta,
dedengkot tua yang bernama Soebardjo, dedengkot tua yang 
bernama
Adam Malik, dan lain-lain sebagainya. Dedengkot tua-
dedengkot tua
ini telah mengumandangkan ide persatuan Indonesia.

Dan aku
mengumandangkan itu. Aku, Saudara-saudara, karena itu tadi 
aku
dapat bahan dari macam-macam aliran. Bahanku bukan hanya

nasionalisme, bukan hanya agama yang aku dapat dari Pak Tjokro,
dari 
Pak Dahlan. Bahanku juga dari marxisme, yang aku dapat dari
Semaoen, 
yang aku dapat daripada pemimpin-pemimpin Belanda
sebagai Hartoh, 
Sneevliet. Pak Leimena kenal sama Sneevliet itu?
Sneevliet itu elek-
elek dia menulis satu buku tebal tentang
Indonesia lo, Saudara-
saudara. Kalau engkau masih suka,
betul-betul suka membaca, mbok 
cari buku Sneevliet itu bibliotek
museum. Sneevliet menulis buku 
perjuangan rakyat Indonesia, dan
bagaimana seharusnya kita 
menghancur-leburkan imperialisme di
Indonesia ini. Sneevliet itu 
orang Belanda. Barangkali Pak
Leimena punya itu buku?

Lo, pinjamkan.

Aku punya buku
sudah diserobot orang lain. Sneevliet. Aku dapat juga 
daripada
guru sekolahku yang bernama Hertog. Belanda, tapi dia 
adalah
sosialis, memberi tahu kepadaku sosialisme itu apa. Karena 
aku
dapat banyak, banyak, banyak bahan, karena aku mendapat simfoni 
itu
tadi lantas aku juga sebagai mahasiswa, wah, aku lantas gemar 
sekali
belajar, gemar membaca. Sampai, boleh dikatakan, aku kadang-
kadang
meninggalkan pelajaran-pelajaran di sekolah untuk, waktunya 
aku
pakai untuk, membaca buku-buku politik, yang tidak diajarkan di

sekolah kepada saya.

Aku membaca sejarah dunia, aku
membaca sejarah bangsa-bangsa, aku 
membaca kitab-kitab tentang
gerakan kaum buruh, aku membaca tentang 
gerakan Islam.
Sampai-sampai aku tahun yang lalu, tahun yang lalu, 
jadi 1965
ini, aku perintahkan untuk menyalin misalnya kitabnya 
Lothrop
Stoddard, Lothrop Stoddrad, The New World of Islam. Sekarang 
sedang
diterjemahkan. Tempo hari sudah sampai tercetak.

Jadi, aku ini
gemar membaca, oleh karena aku anggap perlu untuk 
mengisi otakku,
mengisi pikiranku, mengisi semangatku selebar-lebar 
mungkin.
Jendela terbuka, ide-ide itu masuk di dalam ingatanku, 
pikiranku
itu.

Ini aku ajarkan kepadamu. Jangan kamu itu ya mahasiswa,
mahasiswa, 
mahasiswa, mahasiswa, tetapi cuma diam, tidak.
Apalagi, nah ini, 
engkau ini berjuang di atas front dua macam,
destructie, 
constructie, menjebol, membina. Dalam hal pembina
ini, tidak bisa 
kita membina tanpa orang yang tahu, tidak bisa
kita membina tanpa 
apa yang kukatakan, kader. Dengan gampangnya
saja, sosialisme, 
Saudara-saudara, yang harus kita bina itu.
Sosialisme itu, aku 
katakan berulang-ulang, tidak seperti air
embun jatuh pada waktu 
malam, tes. Tidak. Sosialisme harus
dibina, didirikan, 
diperjuangkan, dengan segala keuletan. Dan di
dalam pembangunan 
pembinaan sosialisme itu, saya tidak cukup
hanya dengan semangat. 
Bahkan sumber semangat sebetulnya haruslah
pikiran. Sumber semangat 
adalah pengetahuan. Orang yang kurang
pengetahuan, semangatnya ya 
semangat yang sekedar he put? mati
lagi. Oo kobar-kobar? put? mati 
lagi. Tetapi semangat yang
timbul daripada pengetahuan yang betul-
betul lantas paku di otak.
Semangat yang demikian itu tidak bisa 
mati, Saudara-saudara.


Semangat yang demikian itu adalah semangat sebagai yang
dikatakan 
oleh Thomas Carlyle; orang bisa dikerangkeng, orangnya
bisa 
dikerangkeng, dimasukkan kerangkeng, tetapi semangatnya
keluar dari 
kerangkeng. Semangat yang demikian itu adalah apa
yang dimaksud oleh 
Mahatma Gandhi, yang dia berkata, semangat
yang bisa brake prisson 
wall, memecahkan tembok-temboknya
penjara. Ia tidak bisa semangatnya 
dikurung. Semangat yang
betul-betul sudah timbul daripada alam 
pikiran yang yakin,
semangat yang demikian itu brake prisson wall, 
memecahkan
tembok-temboknya penjara. Sebagaimana aku boleh memakai 
contohku,
apa hasil Belanda memasukkan aku di dalam sel. Umpamanya 
aku mati
di dalam sel, toh semangatku diambil oper oleh orang lain,

diteruskan oleh orang lain.

Maka, Saudara-saudara, benar
pula ucapan seorang pemimpin yang 
berkata idea have lage. Idea
have lage, ide mempunyai kaki. Ide 
mempunyai kaki. Orangnya
dimasukkan bui di dalam penjara, diikat, 
dikerangkeng, dirantai,
tetapi dia punya ide berjalan terus. Idea 
have lage. Idea brake
prisson wall.

Nah, Saudara-saudara, karena itu maka aku
anjurkan engkau membaca 
banyak, supaya semangat. Tapi semangat
saja didalam pembinaan 
sosialisme juga tidaklah cukup.
Pengetahuan, bolak-baliknya itu. 
Pengetahuan membangunkan
semangat. Semangat harus didasarkan atas 
pengetahuan. Pembinaan
sosialisme harus dijalankan dengan semangat 
dan dengan
pengetahuan. Karena itu di dalam pembinaan sosialisme 
diperlukan
lebih daripada pembinaan lain-lain, kader, kader, kader. 
Dan
engkau pemuda-pemuda, mahasiswa-mahasiswa, kita harapkan menjadi

kader di dalam dua front ini; kader di dalam desctructie,

menghantam, hancur leburkan kepada imperialisme, kapitalisme,

feodalisme, dan lain-lain, kader di dalam constructie, membangun

masyarakat baru. Karena cita-cita kita tentang masyarakat baru
itu 
cita-cita tinggi, bukan sebagai cita-cita yang dikemukakan,

katakanlah Mahatma Gandhi.

Gandhi itu sebetulnya,
Saudara-saudara, orang pemimpin besar sekali, 
tetapi dia punya
cita-cita lain daripada kita. Gandhi tidak 
mempunyai cita-cita
politik. Sebab, aku tanya sama Gandhi, Gandhi 
atau Mahatma,
Mahatmadji, dji itu yaitu ucapan tambahan 
menggambarkan
kecintaan: Mahatmadji, apakah cita-cita politik kita. 
Mustinya
Gandhi menjawab, India lepas sama sekali daripada Inggris. 
India
disusun sebagai republik. En toh barangkali dia senang kepada

monarki. Atau kalau republik, apakah republik federal, ataukah

republik unitaristis. Gandhi tidak pernah menjawab pertanyaan
ini. 
Tidak pernah. Saya belum pernah menjumpai satu kalimat yang
Gandhi 
ini nyata republiken, atau Gandhi ini nyata India merdeka
penuh 
lepas daripada Inggris, India federalistis atau India
unitaristis. 
Tidak. Gandhi paling-paling berkata home rule, home
rule. Home rule 
itu artinya pemerintah sendiri, self government.
Yang self 
government itu apa? Apakah bebas dari 100% daripada
dominition 
imperialisme. Ataukah ya masih terkungkung di dalam
ikatan daripada 
imperialisme itu. Gandhi tidak pernah. Dia selalu
self government, 
seft government, home rule, home rule. Dus
Gandhi sebenarnya tidak 
mempunyai cita-cita politik.

Kita
sebenarnya telah mempunyai cita-cita politik: Indonesia bebas

merdeka, 100% merdeka daripada imperialisme. Indonesia republik.

Tidak raja-rajaan. Indonesia sama dengan unitaristis, republik

kesatuan. Bukan republik federal. Jelas kita punya cita-cita. Di

kalangan pemimpin-pemimpin kita sekarang ini sebetulnya ya,
Saudara-
saudara, ada yang federalis. Ya asal tahu saja. Kita
tidak, 
unitaris, tidak federal-federalan.

Gandhi mempunyai
cita-cita sosial. Tetapi cita-cita sosialnya lain 
lagi daripada
cita-cita sosial kita. Sosial itu dari perkataan 
societas.
Societas artinya masyarakat. Cita-cita sosial adalah cita-
cita
mengenai susunan masyarakat. Bagaimana masyarakat ini 
susunannya?
Ada exploitation de l'homme par l'homme apa tidak? Ada 
sistem
penghisapan oleh gerombolan manusia pada manusia lain apa 
tidak?
Apakah cita-citanya itu adalah yaitu sama rasa sama rata tiap-
tiap
manusia. Itu adalah cita-cita sosial.

Aku berkata, Gandhi
mempunyai cita-cita sosial, tapi lain lagi dari 
kita. Coba kau
baca tulisan Gandhi, are you not tired sending there? 
Please take
a chair. Hh, take a chair, please. Ada kursi? Ha. Where 
are you
come? Ha! Australia. Kadang-kadang kalau bicara sama 
Australia
itu susah. Artinya begini, kita bilang Austrélier. Kalau 
orang
Australia tulen bilang Austrélier. I come, I come here today. 
What
you say, todeé or today. 

Nah, Gandhi mempunyai cita-cita
sosial. Tetapi cita-cita sosial yang 
kolot sekali. Cita-cita
sosial yang retrogesif. Baca dia punya 
kitab. Kitab yang
termasyur. Misalnya dia punya kitab My 
Autobiography. Itu Gandhi,
dia menerangkan, dia punya cita-cita 
sosial, yaitu masyarakat
supaya sederhana, sederhana. Tiap-tiap 
orang mempunyai rumah
sendiri. Tiap-tiap orang menenun sendiri ia 
punya bahan pakaian.
Tiap-tiap orang mempunyai, ia punya sapi 
sendiri untuk ambil
susu. Gandhi paling benci sama mesin-mesin. 
Bahkan benci sama
pabrik-pabrik. Gandhi berkata, kalau dia dengar 
kapal udara itu,
dia punya jiwa seperti waduh, tidak bisa tidur dia, 
tidak senang.
Malahan dia berkata, pabrik-pabrik, mesin-mesin, di 
dalam dia
punya buku lo, ditulisnya this all devil work. All devil 
work,
semua bikinan setan: pabrik-pabrik, mesin-mesin. Dia bilang 
tentrem,
adem, tentrem. Kalau Pak Mardanus di dalam pedalangan 
bilangnya,
adem tentrem kadio siniram banju waju sewindu lawase. 
Dingin adem
tentrem seperti disiram air waju, air yang sudah lama 
dalam
gentong, air disimpan di dalam gentong satu windu lamanya, 
delapan
tahun. Nah, itu air itu sejuk sekali. Nah, kalau disiramkan 
di
atas dirimu, sejuk sekali, adem tentrem kadio siniram banju waju

sewindu lawase.

Kita punya cita-cita sosial lain daripada
itu. Kita malahan 
menghendaki supaya Indonesia ini mempunyai
kapal udara yang banyak, 
kapal udara untuk rakyat. Mempunyai
jalan aspal yang banyak, jalan 
aspal untuk rakyat. Mempunyai
kereta api yang banyak, kereta api 
untuk rakyat. Pabrik-pabrik
yang hebat yang membuat segala apa yang 
kita perlukan, untuk
rakyat. Itu kita punya cita-cita sosial, 
modern. Bukan cita-cita
kolot seperti Gandhi.

Nah, untuk mengadakan masyarakat yang
banyak pabriknya, again, lagi, 
pabrik untuk rakyat lo, bukan
pabrik untuk kapitalisme. Mesin adalah 
memang jahat kalau
digunakan untuk bikin gendutnya kantong kapitalis 
saja. Tapi
mesin adalah satu rahmat, nikmat dari Tuhan, kalau 
dipergunakan
untuk kepentingan rakyat. Membuat tekstil misalnya, 
Saudara-saudara,
untuk rakyat. Nah, itu mesin lantas menjadi satu. 
Wah, nikmat,
rahmat. Jangan kita sebagai Gandhi. Kita memerlukan 
tekstil, nah
sudahlah, tiap orang harus ada mesin pintal di rumah. 
Tanam kapas
sendiri, petik kapasnya, giling kapasnya dengan mesin 
pintal itu
menjadi tali dan benang. Kemudian tenun, jeglek, jeglek, 
jeglek,
jeglek. Wah, itu bukan cita-cita kita.

Kita punya cita-cita
ialah bahwa kita itu mempunyai pabrik-pabrik 
tekstil yang besar,
yang hasilnya tekstil jutaan meter untuk rakyat, 
untuk
kepentingan rakyat seluruhnya. Bukan untuk membikin gendutnya 
sang
kapitalis tekstil saja.

Kita menghendaki, kita pergi ke Bogor,
kemana-mana naik auto. Kalau 
Gandhi tidak. Naik gerobak, teklik,
teklik, teklik, naik gerobak.
Kita menghendaki kapal udara untuk
rakyat. Dus cita-cita sosial kita 
tinggi. Dan ingin yang aku mau
peringatkan kepadamu, penyelenggaraan 
daripada cita-cita sosial
yang tinggi itu tidak bisa, tidak mungkin 
tanpa kader. Kader
perlu sekali. Kita menghendaki air sungai kita 
semuanya menjadi
air irigasi, untuk memberi kesuburan kepada tanah 
kita yang sudah
subur. Tapi untuk mengadakan irigasi, Saudara-
saudara, perlu
insinyur-insinyur irigasi, perlu arsitek-arsitek 
irigasi.

Kader
untuk membikin tekstil, seperti tadi itu, kader. Untuk 
membikin
jalan-jalan aspal yang beribu-ribu kilometer, kader.

Masak,
Saudara-saudara, saya datang di lain negeri, misalnya 
Afghanistan,
negeri kecil Afghanistan itu, adih saya melongo. 
Afghanistan itu
satu negeri ya, tapi negeri seperti terbelah dua. 
Sini satu
bagian, sini pegunungan, sini bagian nomor dua. Jadi, dua 
bagian
yang terpisah satu sama lain oleh gunung. Hh, coba, hampir-
hampir
seperti kita terpisah, mana ada gunung yang memisah. 
Afghanistan,
Saudara-saudara, berkata, tidak jadi apa. Kita bikin 
tunnel
menembus gunung itu. Tunnel berkilo-kilo meter. Biar ada 
gunung,
?

Kader untuk membuat hal yang demikian itu. Kan aku sering
berkata, 
jadilah kader, karena kader mutlak perlu. Jangan seperti
dulu. Mula-
mula, di dalam revolusi Soviet. Mula-mula,
pemimpin-pemimpin Soviet, 
mula-mula mengira, oo untuk membangun
sosialisme kita perlu banyak 
mesin, banyak lokomotif, banyak
pabrik, dan perkara uang untuk 
membeli itu bukan soal. Kita beli
saja lokomotif sebanyak-banyaknya 
di Jerman. Sebab, kata pemimpin
Soviet itu, yang saya baca dalam 
salinan bahasa Inggris, machines
devide everything. Machines devide 
everything, mesin lah yang
menentukan segala hal. Tapi apa jadinya, 
Saudara-saudara, sekadar
hanya ada mesin saja, sosialisme tidak bisa 
terbina, bahkan
mesin-mesin itu banyak menjadi rusak dan bobrok.

Sama saja
dengan kita, Saudara-saudara, kita beli traktor banyak-
banyak.
Darimana Pak Leimena? Ha? Cekoslovakia. Ha, traktornya itu 
banyak
yang terlantar, banyak yang rusak. Karena apa? Kekurangan 
kader
dan kekurangan kemauan untuk menggerakkan traktor-traktor.

Karena
itu Soviet Uni, sesudah pengalaman yang pahit dengan mesin-
mesin
ini saja, lantas sadar, nomor satu penting, kader. Kemudian 
diadakan
slogan baru untuk, terutama sekali, gerakan pemuda. Gerakan 
pemuda
yang di Soviet dinamakan Komsomol. Pernah dengar itu? 
Komsomol.
Wanitanya, Komsomolka. Slogan yang dulu berbunyi, machines 
devide
everything diganti dengan kader devide everything. Kader lah 
yang
menentukan segala hal. Kalau ada kader, lo mbok mesinnya itu 
sudah
bobrok, sekrupnya sudah dol semua, bisa sang kader membuat 
sekrup
baru, jalan.

Nah, kader devide everything.

Karena itu
aku mengharap kepadamu untuk menjadi kader. Belajar, 
membaca
sebanyaknya. Belajar dengan tekun menjadi mahasiswa untuk 
menjadi
kader, kader daripada revolusi kita.

Saya tahu kamu orang
banyak yang tidak bisa masuk kuliah karena, ada 
hal-hal, tidak
boleh, tidak boleh, GMNI tidak boleh kuliah.

Nah, ketawa itu.
Ya, apa tidak?

Asal tahu aja.

Ini memang yang
menghalangi kamu masuk universitas ini, menghalang-
halangi kamu
berkuliah ini, mereka itu semuanya, semuanya ngladrah. 
Ia, itu
yang ngladrah itu, artinya sudah tidak benar mereka punya 
pikiran.
Bagaimana mau membentuk satu negara, bagaimana mau 
membentuk satu
masyarakat sosialis tanpa kader, tanpa pemuda-pemudi 
masuk
kuliah. Hh, mereka itu ngladrah. Apa bahasa Indonesia 
ngladrah?
Ha, tidak benar itu lo.

Ha, Bu Hardi, apa ngladra itu?

Tidak
beres. Ngawur.

Tapi toh aku minta kepadamu, tekun engkau cari
pengetahuan. 
Sebagaimana bapak-bapak Saudara telah berbuat,
dengan diriku 
sendiri, dulu itu cari pengetahuan. Bisa di
sekolahku, ya 
disekolahku, tidak bisa, aku cari sendiri, agar
supaya kita bisa 
menjadi kader daripada revolusi ini.

Memang
revolusi itu ya tentu, sebagai Saudara-saudara kemarin 
kuterangkan
panjang lebar, kalau revolusi benar-benar revolusi, dan 
bukan
sekadar insurectie. Ada beda antara revolusi dengan 
insurectie.
Revolution and insurection. Insurection itu apa? Ya, 
sekadar ada
semacam pemberontakan bersenjata daripada suatu 
golongan. Angkat
senjata mengadakan pemberontakan dengan senjata, 
itu adalah
insurectie. Kalau golongan yang kecil-kecilan itu namanya 
coup.
Coup de ta. Coup de ta itu bukan revolusi. Insurectie bukan

revolusi. Itu gendeng-gendengan.

Revolusi sejati ialah
sebagai kukatakan tadi, suatu proses, satu 
proses masyarakat yang
berisikan, berintikan penjebolan dan 
penanaman, satu proses
masyarakat untuk membongkar sistem masyarakat 
itu sampai ke
akar-akarnya. Sistem masyarakat, sistemnya, Saudara-
saudara.

Karena
itu aku selalu berkata, orde, dalam pengertianku, orde itu 
adalah
satu social political system. Itu orde. Ada orde kapitalis. 
Ada
orde feodalis. Itu orde. Nah, ini revolusi adalah satu proses

masyarakat untuk mengubah sama sekali social political system
yang 
berjalan di masyarakat itu. Bukan sekadar mengubah mental
thinking, 
neen, neen, neen. Social political system, susunan
masyarakat, 
susunan politik masyarakat. Masyarakat. Susunan ini
harus kita ubah. 
Sebagai kukatakan tadi, ada orde kapitalis, ada
orde sosialis. Nah, 
kita berjuang untuk orde sosialis ini. Dan
jikalau kita membongkar 
orde kapitalis untuk menjadi orde
sosialis, itulah revolusi.

Revolusi menurut ucapan yang aku
citeer dalam pidatoku Indonesia 
Mengugat. He pemuda-pemudi
baca-o, baca-o, baca, baca Indonesia 
Mengugat. Baca Sarinah. Hh,
mahasiswa-mahasiswi baca Di Bawah 
Bendera Revolusi dan lain-lain.
di situ aku citeer ucapan seorang 
profesor, Blunschli. Kamu di
dalam kuliah barangkali pernah 
mendengar nama Prof Dr Blunschli,
yang dia berkata, revolution ist 
apa? Eine Ungestaltung von Grund
aus, revolusi adalah satu 
perubahan. Ungestaltung, bukan
supervisel, bukan di kulit, tetapi 
von Grund aus. Eine
Ungestaltung von Grund aus.

Nah, jikalau engkau tidak
mengadakan Ungestaltung von Grund aus, 
engkau bukan revolusioner.
Revolution ist eine, Revolution ist eine 
Ungestaltung von Grund
aus[1]. Dan kita ini revolusioner, oleh 
karena kita mau
mengadakan social political system yang 
imperialistis, yang
feodalistis, yang kapitalistis. Yang tidak 
sosialistis menjadi
satu social political system yang sosialistis. 
Itu sebabnya kita
ini bernama revolusioner dan menamakan diri kita 
revolusioner,
dan hanya jikalau mengejar political system yang 
sosialistis itu,
baru kita mempunyai hak untuk berkata, kita ini 
progresif
revolusioner.

Yang tidak menghendaki satu social political
system sosialistis, 
yang tidak menghendaki hancurnya kapitalisme
dari luar maupun 
kapitalisme di dalam negeri sendiri, yang tidak
menghendaki hancur-
leburnya kapitalisme luar dan dalam itu, yang
tidak menuju kepada 
sosialisme itu, dia tidak mempunyai hak untuk
berkata bahwa dia 
adalah progresif. Perkataan progresif itu kan
sekarang dikecapkan.

Semua orang berkata progresif
revolusioner, progresif revolusioner, 
progresif revolusioner.
Tanpa sebetulnya mengetahui apa arti 
perkataan progresif
revolusioner. Kita menamakan diri progresif 
revolusioner oleh
karena kita anti kapitalisme, anti imperialisme, 
anti feodalisme,
pro sosialisme, mati-matian berjuang untuk 
sosialisme. Itulah
sebabnya kita namakan diri kita progresif.
Siapa yang menentang
datangnya sosialisme, menghalang-halangi 
datangnya sosialisme, oo
lo mbok dia itu lari-lari tiap hari dengan 
bom dan dinamit, dia
tidak progresif. Malahan aku berkata, dia itu 
sebetulnya
retrogresif.

Progresif adalah yang menurut progresnya
masyarakat. Retrogresif 
yaitu yang menentang, bahkan beraliran
anti daripada aliran 
masyarakat ini.

Jadi kalau kau
betul-betul progresif revolusioner, engkau harus 
diehartenieren
engkau punya pikiran, engkau punya hati, engkau punya 
rambut,
engkau punya urat syaraf, semuanya sosialistis. Kalau engkau 
tidak
sosialistis sampai engkau punya pucuk rambut, sampai engkau 
punya
pucuk urat syaraf, engkau tidak progresif. Apakah ada di 
kalanganmu
yang tidak demikian, artinya revolusioner, revolusioner, 
tetapi
tidak berjuang untuk datangnya sosialisme. Memberi 
pengetahuan
saya, GMNI berdiri di atas dasar ini; menjalankan 
revolusi,
membantu kepada revolusi, riilnya revolusi yang benar, 
yaitu di
atas riil Ampera.

Aku tadi berkata bahwa perkataan Ampera itu,
ciptaan perkataannya 
lo, the word itself, the word Ampera itself,
ciptaanku bersama-sama 
dengan Pak Karni. Aku menyaksikan
lahirnya, bukan the word sekarang 
ini, lahirnya penderitaan
rakyat untuk, untuk, untuk ini. Sebab aku 
ini dari umur 16 tahun,
kataku tadi, telah berkecimpung di kalangan 
pergerakan. Mula
gerakan pemuda, Trikoro Dharmo, Jong Java, kemudian 
dijadikan
Jong Indonesia bersama-sama dengan pemuda-pemuda lain. dan 
aku
menyaksikan dan ikut-ikut pertumbuhan daripada gerakan itu.

Dulu
tatkala aku umur 16 tahun, aku hanya mendengar dan mempelajari

gerakan tahun 1908, yaitu Pak Soedirohoesodo. Soedirohoesodo,
tahun 
1908, mengadakan pergerakan, gerakan, rintis, rintisan,
perintis 
daripada gerakan nasional kita. Soedirohoesodo punya
pergerakan 
belum nasional. Kalau nasional itu sudah meliputi
seluruh natie, itu 
asal perkataan nasional. Soedirohoesodo tidak.
Gerakannya boleh 
dikatakan gerakan kejawaan. Aku
menyaksikan.

Kemudian waktu itu aku belum menyaksikan oleh
karena aku ya, baru 
umur 7 tahun. Tidak tahu bagaimana. Kau umur
berapa? Setidak-
tidaknya bukan 7 tahun. Saya umur 7 tahun, belum
mengerti apa-apa? 
Tapi pada waktu aku masuk rumah Tjokroaminoto,
aku sudah berumur 16 
tahun, aku sudah tahu gerakan kaum 1908 dari
Pak Soedirohoesodo. Dan 
aku menyaksikan satu pertumbuhan baru
daripada gerakan ini. Dulu 
gerakan Pak Soedirohoesodo, kecuali
kejawaan, hanya dijalankan kaum 
terpelajar. Satu gerakan daripada
kaum inteligensia, kaum 
terpelajar, yang dulu itu dinamakan
ndoro, ndoro, dokter. Dokternya 
pun dokter Jawa, yaitu belum
dokter seperti keluaran sekarang, 
tidak. Dokter Jawa. Pak
Soedirohoesodo sendiri ialah dokter Jawa. 
Gerakan kanjeng bupati,
anggota daripada Budi Utomo. Ada bupati yang 
anggota Budi Utomo.
Bupati mana Pak Mardanus? Hayo, hh? Bupati 
Karanganyar, anggota
Budi Utomo. Gerakan daripada ndoro-ndoro.

Tapi waktu aku masuk
rumahnya Tjokroaminoto, aku menyaksikan satu 
fase baru. Bahwa
bukan lagi itu ndoro-ndoro, kaum terpelajar, tapi 
gerakan rakyat,
rakyat jelata, yaitu Sarikat Islam. Sarikat Islam 
adalah gerakan
pertama yang bersifat gerakan rakyat. Ya dasarnya 
lain daripada
kita. Dasarnya dulu itu yaitu mula-mula Sarikat Dagang 
Islam,
hanya terdiri daripada pedagang-pedagang Islam saja. Kemudian

bertumbuh menjadi gerakan rakyat dengan tujuan Islam. Itu aku

saksikan. Malah aku baca, Tjokroaminoto itu saking pengikutnya
bukan 
puluhan, bukan ratusan, bukan ribuan, tapi jutaan,
Tjokroaminoto 
dinamakan di surat kabar Belanda de ongekroonde
Koning van Java. De 
ongekroonde Koning van Java, raja daripada
tanah Jawa yang tidak 
bermahkota, saking banyak pengikut. Hanya,
ha hanya bedanya dengan 
kita ialah bahwa gerakan rakyat
Tjokroaminoto itu berdiri di atas 
asas yang salah, untuk
tanggapan saja. Yaitu dengan gerakan rakyat 
ini Sarikat Islam Pak
Tjokro selalu mencari kerjasama dengan 
pemerintah Hindia Belanda,
kerjasama. Yang belakangan menjadi 
perkataan kooperasi.

Sedang
kita waktu itu pemuda, belakangan, pemuda ini sadar, tidak 
bisa,
tidak bisa kita mengadakan perbaikan hanya degan kooperasi. 
Benar
kita harus mengadakan massa aksi ini bukan lagi harus meminta, 
bukan
lagi harus kerjasama degan pihak Belanda, tapi harus 
menentang,
bertempur di dalam arti yang luas terhadap kepada 
kolonial
Belanda. Perbedaan.

Nah, itu Saudara-saudara, saya formuleer
di dalam tahun 1925-an. 
Sesudah aku bersama-sama dengan pemuda
lain mengadakan Indonesia 
Muda, aku formuleer dengan perkataan
pertentangan kebutuhan membuat 
kita harus bertentangan di dalam
kita punya perjuangan.

Tidak bisa kok kita dengan pertentangan
kebutuhan ini berdiri di 
satu platform kerjasama dengan pihak
Belanda. Pertentangan 
kebutuhan. Kita mau merdeka, situ mau
meneruskan kolonialisme. Kita 
mau hidup cukup, situ mau menghisap
kita. Kita mau anak-anak kita 
semuanya masuk sekolah, situ mau
memberi sekolah hanya kepada anak-
anak orang dari golongan atas.
Kita mau mengadakan satu sistem 
perwakilan, situ mau mengadakan
sistem yang hanya terdiri daripada 
orang-orang terkemuka
saja.

Pendek, selalu pertentangan kebutuhan. Dan di dalam
seluruh sejarah 
dunia, Saudara-saudara, seluruh sejarah dunia
adalah satu cerita 
daripada pertentangan kebutuhan. Seluruh
sejarah dunia. Di dalam 
tiap golongan, tiap-tiap bangsa, umat
manusia itu selalu ada dua 
golongan yang bertentangan
kebutuhan.

Nah, maka oleh karena itu, Saudara-saudara, kita
harus sadar bahwa 
kita ini bertentangan kebutuhan dengan, apalagi
sekarang lo, dengan 
sistem yang kita menjebol luar-dalam, maupun
di dalam hal lain-lain 
banyak pertentangan kebutuhan. Nah, kita
harus sadar pertentangan 
kebutuhan. Berjuang terus. Kita harus
berjuang menghancur-leburkan 
golongan yang mau mempertahankan
dirinya terhadap kepada kita punya 
penjebolan itu. [*]

Sumber: http://www.marhaenis.org/article.php/20080215124932539Information about 
KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/  ; 
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx 
    mailto:ppiindia-fullfeatured@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

=======================================
Situs Lowongan kerja dan Beasiswa - Free Job Vacancy and Scholarship Info

1. Job Vacancy Indonesia
http://lowongankerjas.blogs.ie/

2. Situs Info Lowongan Kerja Indonesia
http://kerja.blogs.ie/

3. Free Scholarship info for international students
http://beasiswa.blogsome.com/

4. Scholarship info for Indonesian and international students
http://beasiswa.blogs.ie/

5. Informasi Beasiswa Indonesia dalam negeri dan luar negeri
http://www.beasiswas.com/

6. Cara Membuat blog - Tutorial blog
http://afatih.wordpress.com/
=======================================

Other related posts:

  • » [nasional_list] [ppiindia] [Dok. Tercecer 1965/1966]: REVOLUSI ADALAH MENDJEBOL DAN MEMBANGUN - Mira Wijaya Kusuma