[nasional_list] [ppiindia] Dada Permai, Tampang Nomor Dua

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Dada Permai, Tampang Nomor Dua

Berbagai alasan perempuan muda bersedia difoto sensual: ingin jadi bintang 
sinetron, atau berharap jadi istri simpanan. Ada yang diantar orang tua ke 
studio foto.

-----------

KITA sebut saja namanya Amanda. Usianya 34 tahun ketika pada 2000 lalu 
mendatangi kantor tabloid Pop di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. "Saya 
minta difoto, Pak," katanya. Bagi media syur yang telah terbit sejak 1998 
ini, hal semacam itu sudah bukan barang baru. Hampir setiap minggu ada saja 
remaja atau tante-tante yang minta difoto. "Kami bawa dia untuk foto di 
luar," ujar Slamet Wiyono, pengelola tabloid itu. Mereka menggunakan kamar 
sebuah flat di Jakarta Timur sebagai tempat pengambilan gambar.

Habis pemotretan, Amanda bercerita bahwa ia adalah istri simpanan seorang 
pejabat. Dia bersedia tampil di media syur karena kesal tak lagi 
diperhatikan pejabat itu. Agar fotonya itu dimuat di tabloid, ia bersedia 
melakukan apa pun. Slamet tak meladeni "rayuan" itu. Soalnya, dia tahu, 
foto si wanita tidak bisa dipakai. Selain sudah berumur, "Wajah dan bodinya 
pas-pasan. Mau diapain juga hasilnya minus," kata Slamet.

Perempuan lain yang ingin tampil di tabloid 16 halaman itu adalah Titik, 
juga bukan nama sebenarnya. Tinggal di daerah kota, ia bersedia tampil 
setengah bugil di Pop agar "laku" jadi istri simpanan seorang cukong. 
"Istilahnya naik rating," kata Slamet lagi. Foto Titik akhirnya dimuat 
karena ia memang berbadan aduhai.

Meski banyak model datang sendiri, umumnya gadis tabloid syur datang dari 
agensi. Ada banyak agen yang setiap saat bisa dikontak. "Tinggal telepon 
saja, bilang kita butuh yang seperti apa," ujar Slamet.

Dalam enam tahun, hingga tutup awal 2004, Slamet mengaku Pop sudah 
mengoleksi gambar lebih dari 450 model. Ada gadis yang masih terus 
berhubungan dengan Pop bahkan setelah tabloid itu bubar. Kebanyakan 
berharap dihubungkan dengan rumah produksi agar bisa jadi bintang iklan 
atau sinetron. "Tapi tak sampai 30 persen model kami yang kemudian jadi 
bintang," ujar Slamet.

Dimas, bukan nama sebenarnya, seorang juru foto majalah pria, punya banyak 
cara untuk mencari model. Tapi umumnya model datang sendiri dengan membawa 
contoh foto. Yang lain masuk melalui agensi. Yang unik, "Tak sedikit yang 
diantar orang tua mereka," kata Dimas. Cara ini biasanya menjaring 80 
persen model-model Dimas. Sisanya? "Saya hunting foto di mal, kafe, atau 
diskotek," katanya.

Soal berburu model, Dimas memang bertangan dingin. Ketika ngobrol dengan 
Tempo di Cilandak Town Square--tempat makan di Jakarta Selatan--ia 
mempraktekkan kemampuannya. Di keramaian, ia hanya perlu beberapa menit 
untuk menentukan perempuan mana yang bisa dibujuk berfoto "lher". 
Didekatinya perempuan itu, berkenalan, lalu wanita berwajah manis itu 
mengangguk. Kata sakti yang diucapkan Dimas: foto sensual.

Berbeda dengan Dimas, Rana, nama samaran, memilih "tembak langsung" dalam 
mencari model. "Pertanyaannya hanya satu: siap dipotret telanjang?" ujar 
Rana, seorang juru foto tabloid esek-esek. Jika ya, agenda pemotretan bisa 
berlangsung kapan saja. Perbedaannya hanya pada lokasi pemotretan. Jika 
sepakat, lokasi pemotretan bisa berlangsung di tempat kos para model sendiri.

Soal bayaran, murah meriah. Pop membayar Rp 500 ribu untuk model yang 
dijadikan gambar sampul dan Rp 300 ribu untuk halaman dalam. Tabloid lain 
membayar Rp 250 ribu untuk foto sampul, dan Rp 150 ribu untuk foto di 
dalam. Sebuah majalah pria yang kini banyak memuat foto panas membayar 
lebih mahal: Rp 1 juta-2,5 juta untuk sampul dan Rp 250 ribu untuk halaman 
dalam. Pada kenyataannya, "Bahkan banyak model yang rela tidak dibayar asal 
mereka bisa muncul di majalah saya," kata Dimas.

Syarat yang diajukan media kepada gadis-gadisnya umumnya seragam: usia 
model maksimum 30 tahun, remaja lebih disukai. Postur tubuh bagus, wajah 
nggak jelek. Dan yang paling penting: berdada permai. Jika model itu pernah 
muncul di iklan atau jadi figuran di film, lebih diutamakan. "Tampang 
sebenarnya nomor dua, soalnya bisa dibedakin. Yang penting, ya, ukuran 
dada," kata F.X. Rudi Gunawan, bekas wartawan dan penulis yang akrab dengan 
dunia esek-esek.

Foto bugil? Menurut Slamet, secara resmi tabloidnya tidak pernah meminta. 
"Tapi, kalau sudah berdua dengan fotografer, kami nggak tahu," ujarnya 
tertawa. Menurut dia, rata-rata model yang mereka potret mudah "diarahkan". 
Bahkan ada juga yang terang-terangan minta difoto bugil.

Di kalangan fotografer, memotret model juga ada tekniknya. Ini bukan 
sekadar soal fokus kamera atau pencahayaan obyek. Yang tak kalah penting 
adalah bagaimana mencapai mood. Dimas mengaku, "Harus memotret dalam 
keadaan terangsang." Itu dilakukan agar dia menjadi bagian dari obyek foto.

Caranya? Dimas memilih mengobrol panjang-lebar dengan modelnya--dari obsesi 
seksual sampai bertukar lelucon dewasa. "Setelah panas, baru pemotretan 
bisa dimulai," katanya. Setelah itu, semua jadi mudah: fotografer biasanya 
tidak kehabisan ide untuk mencari sisi tubuh yang bisa dieksplorasi untuk 
dibidik kamera.

Soal tidur dengan modelnya, terkadang dilakukan juga. "Cuma, jangan tiduri 
model sebelum pemotretan," ujar pria yang sudah enam tahun bekerja di 
majalah itu. Jika pantangan itu dilanggar, mood memotret akan meruap 
bersama lepasnya birahi.

Akmal Nasery Basral, Philipus Parera, Cahyo Junaedy/AZ
(Majalah Tempo, 20 Maret 2006)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: