[nasional_list] [ppiindia] Dada Permai, Tampang Nomor Dua
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, mediacare@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 28 Mar 2006 11:33:46 +0700
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Dada Permai, Tampang Nomor Dua
Berbagai alasan perempuan muda bersedia difoto sensual: ingin jadi bintang
sinetron, atau berharap jadi istri simpanan. Ada yang diantar orang tua ke
studio foto.
-----------
KITA sebut saja namanya Amanda. Usianya 34 tahun ketika pada 2000 lalu
mendatangi kantor tabloid Pop di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. "Saya
minta difoto, Pak," katanya. Bagi media syur yang telah terbit sejak 1998
ini, hal semacam itu sudah bukan barang baru. Hampir setiap minggu ada saja
remaja atau tante-tante yang minta difoto. "Kami bawa dia untuk foto di
luar," ujar Slamet Wiyono, pengelola tabloid itu. Mereka menggunakan kamar
sebuah flat di Jakarta Timur sebagai tempat pengambilan gambar.
Habis pemotretan, Amanda bercerita bahwa ia adalah istri simpanan seorang
pejabat. Dia bersedia tampil di media syur karena kesal tak lagi
diperhatikan pejabat itu. Agar fotonya itu dimuat di tabloid, ia bersedia
melakukan apa pun. Slamet tak meladeni "rayuan" itu. Soalnya, dia tahu,
foto si wanita tidak bisa dipakai. Selain sudah berumur, "Wajah dan bodinya
pas-pasan. Mau diapain juga hasilnya minus," kata Slamet.
Perempuan lain yang ingin tampil di tabloid 16 halaman itu adalah Titik,
juga bukan nama sebenarnya. Tinggal di daerah kota, ia bersedia tampil
setengah bugil di Pop agar "laku" jadi istri simpanan seorang cukong.
"Istilahnya naik rating," kata Slamet lagi. Foto Titik akhirnya dimuat
karena ia memang berbadan aduhai.
Meski banyak model datang sendiri, umumnya gadis tabloid syur datang dari
agensi. Ada banyak agen yang setiap saat bisa dikontak. "Tinggal telepon
saja, bilang kita butuh yang seperti apa," ujar Slamet.
Dalam enam tahun, hingga tutup awal 2004, Slamet mengaku Pop sudah
mengoleksi gambar lebih dari 450 model. Ada gadis yang masih terus
berhubungan dengan Pop bahkan setelah tabloid itu bubar. Kebanyakan
berharap dihubungkan dengan rumah produksi agar bisa jadi bintang iklan
atau sinetron. "Tapi tak sampai 30 persen model kami yang kemudian jadi
bintang," ujar Slamet.
Dimas, bukan nama sebenarnya, seorang juru foto majalah pria, punya banyak
cara untuk mencari model. Tapi umumnya model datang sendiri dengan membawa
contoh foto. Yang lain masuk melalui agensi. Yang unik, "Tak sedikit yang
diantar orang tua mereka," kata Dimas. Cara ini biasanya menjaring 80
persen model-model Dimas. Sisanya? "Saya hunting foto di mal, kafe, atau
diskotek," katanya.
Soal berburu model, Dimas memang bertangan dingin. Ketika ngobrol dengan
Tempo di Cilandak Town Square--tempat makan di Jakarta Selatan--ia
mempraktekkan kemampuannya. Di keramaian, ia hanya perlu beberapa menit
untuk menentukan perempuan mana yang bisa dibujuk berfoto "lher".
Didekatinya perempuan itu, berkenalan, lalu wanita berwajah manis itu
mengangguk. Kata sakti yang diucapkan Dimas: foto sensual.
Berbeda dengan Dimas, Rana, nama samaran, memilih "tembak langsung" dalam
mencari model. "Pertanyaannya hanya satu: siap dipotret telanjang?" ujar
Rana, seorang juru foto tabloid esek-esek. Jika ya, agenda pemotretan bisa
berlangsung kapan saja. Perbedaannya hanya pada lokasi pemotretan. Jika
sepakat, lokasi pemotretan bisa berlangsung di tempat kos para model sendiri.
Soal bayaran, murah meriah. Pop membayar Rp 500 ribu untuk model yang
dijadikan gambar sampul dan Rp 300 ribu untuk halaman dalam. Tabloid lain
membayar Rp 250 ribu untuk foto sampul, dan Rp 150 ribu untuk foto di
dalam. Sebuah majalah pria yang kini banyak memuat foto panas membayar
lebih mahal: Rp 1 juta-2,5 juta untuk sampul dan Rp 250 ribu untuk halaman
dalam. Pada kenyataannya, "Bahkan banyak model yang rela tidak dibayar asal
mereka bisa muncul di majalah saya," kata Dimas.
Syarat yang diajukan media kepada gadis-gadisnya umumnya seragam: usia
model maksimum 30 tahun, remaja lebih disukai. Postur tubuh bagus, wajah
nggak jelek. Dan yang paling penting: berdada permai. Jika model itu pernah
muncul di iklan atau jadi figuran di film, lebih diutamakan. "Tampang
sebenarnya nomor dua, soalnya bisa dibedakin. Yang penting, ya, ukuran
dada," kata F.X. Rudi Gunawan, bekas wartawan dan penulis yang akrab dengan
dunia esek-esek.
Foto bugil? Menurut Slamet, secara resmi tabloidnya tidak pernah meminta.
"Tapi, kalau sudah berdua dengan fotografer, kami nggak tahu," ujarnya
tertawa. Menurut dia, rata-rata model yang mereka potret mudah "diarahkan".
Bahkan ada juga yang terang-terangan minta difoto bugil.
Di kalangan fotografer, memotret model juga ada tekniknya. Ini bukan
sekadar soal fokus kamera atau pencahayaan obyek. Yang tak kalah penting
adalah bagaimana mencapai mood. Dimas mengaku, "Harus memotret dalam
keadaan terangsang." Itu dilakukan agar dia menjadi bagian dari obyek foto.
Caranya? Dimas memilih mengobrol panjang-lebar dengan modelnya--dari obsesi
seksual sampai bertukar lelucon dewasa. "Setelah panas, baru pemotretan
bisa dimulai," katanya. Setelah itu, semua jadi mudah: fotografer biasanya
tidak kehabisan ide untuk mencari sisi tubuh yang bisa dieksplorasi untuk
dibidik kamera.
Soal tidur dengan modelnya, terkadang dilakukan juga. "Cuma, jangan tiduri
model sebelum pemotretan," ujar pria yang sudah enam tahun bekerja di
majalah itu. Jika pantangan itu dilanggar, mood memotret akan meruap
bersama lepasnya birahi.
Akmal Nasery Basral, Philipus Parera, Cahyo Junaedy/AZ
(Majalah Tempo, 20 Maret 2006)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Dada Permai, Tampang Nomor Dua