[nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [6] "NUSA DUA" DAN "CAFE BANDAR" SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN BALIKPAPAN.

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [6].


"NUSA DUA" DAN "CAFE BANDAR" SEBAGAI PUSAT KEGIATAN SASTRA-SENI BALIKPAPAN



Kehangatan sambutan Pak Warno sekeluarga sejak detik pertama aku menginjakkan 
kaki, membuatku sejak itu merasa bagian dari keluarga ini dan Nusa Dua 
kurasakan seperti rumah keluarga. Di sini aku merasa bebas melalukan waktu 
melayangkan imajinasi terbang di antara camar-camar teluk di angkasa tak 
bertepi. Untuk ini ingin kusampaikan rasa terimakasih yang dalam tak berhingga 
kepada penyair dan penulis cerpen Kaltim, Shantined, kelahiran Yogyakarta dan 
sekarang berdiam di Balikpapan, yang telah membawa dan memperkenalkan aku pada 
keluarga ini dan Nusa Dua.


Shantined adalah nama tokoh, Pak Besut, cerpenis Yogyakarta yang pada suatu 
periode jadi kesukaan para pendengar R.R.I, Yogya dan senantiasa ditunggu 
siaran  malamnya. Kesukaan akan "Obrolan" Pak Besut, jika kukenang dan 
kurenungkan sekarang, ia memperlihatkan kembali arti sastra bagi kehidupan, dan 
hubungan sastra dengan kehidupan. Masyarakat memerlukan sastra dengan 
pesan-pesan yang disampaikan secara sastra. Kasus Pak Besut selain 
memperlihatkan peran dan hubungan sastra dalam kehidupan, ia pun memperlihatkan 
pengaruhnya dalam masyarakat. 


Masihkah tradisi ini, masihkah fungsi dan hubungan ini, dimainkan oleh sastra 
kita hari ini? Mengapa ada keluhan tentang "sastra yang terpencil"? Mengapa ada 
kritik tentang "puisi gelap" dan kesibukan apa erotisme? Penggunaan nama 
Shantined oleh Shanti kukira memperlihatkan pengaruh sastra dalam kehidupan di 
ruang dan waktu juga adanya.


Di samping berterimakasih besar pada Shanti, aku pun sangat berterimakasih pada 
Mas Bimo yang kehangatannya pun tak terlupakan sampai-sampai mengundur 
kepulangannya ke Jakarta agar bisa menemuiku.Komitmen, rasa persaudaraan, 
keindonesiaan dan semangat republiken sangat kurasakan pada Mas Bimo, yang 
diangkat sebagai anak oleh seorang ibu Dayak di hulu Mahakam. 


Kasus Mas Bimo memberiku bukti tambahan bahwa "etnik dan bangsa hanyalah 
perbatasan semu bagi kemanusiaan" seperti yang dikatakan juga oleh filosof 
Perancis, Paul Ricoeur, bahwa "kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu 
tunggal". Perlakuan dan sambutan Nusa Dua kepadaku menambah deretan bukti ini. 
Hubunganku dengan keluarga Nusa Dua berkembang dari "dudu sanak dudu kadang" 
menjadi "ya sanak yo kadang", perkembangan dari tingkat kuantitas mencapai 
taraf kualitas. 


Pada saat ini juga, terngiang kembali di telingaku kata-kata Bung Jamal, sang 
penyanyi syahdu romantik tapi sanggup mengambil keputusan yang tanggap, 
menjelang keberangkatanku dari Balikpapan: "Kita jadikan Nusa Dua semacam salah 
satu pusat kegiatan sastra-seni". Ide Bung Jamal ini mengingatkan aku akan arti 
penting sebuah tempat yang bisa menjadi pusat kebudayaan hari-hari, pusat yang 
memungkinkan kita senantiasa dekat dengan publik. Salah satu tempat demikian 
adalah restoran. Dengan ide inilah maka di kilometer nol Paris kami bangun 
Koperasi Restoran Indonesia sejak hampir 25 tahun lalu dan berkembang hingga 
sekarang. Koperasi Restoran Indonesia Paris, sekaligus berfungsi sebagai pusat 
kebudayaan dan oleh KBRI disebut sebagai "duta bangsa". Fungsi begini pun juga 
diperlihatkan oleh café dan restoran yang tersebar di jalan-jalan kota. Café 
dan restoran di ibukota Perancis ini sekaligus menjadi arena pertunjukan dan 
pementasan rupa-rupa bentuk kesenian. Dengan fungsi demikian, kita kenal yang 
disebut café theatre atau  café filsafat. Eksistensialisme justru diawali dari 
diskusi-diskusi di café. Sartre, Simone de Beauvoir, Hemingway dan The Lost 
Generation-nya sering nongkrong di café sambil menulis. Peluncuran-peluncuran 
buku umumnya dilakukan di café-café. Dengan fungsi ganda begini, maka café-café 
dan rstoran sekaligus memberi sumber finansil bagi para seniman sekali menjawab 
keluhan tentang ketiadaan ruang pentas. Keluhan yang kurang masuk nalar di 
hadapan tersedianya ruang di mana-mana. Paris memperlihat padaku bahwa jalan, 
lapangan dan sudut-sudut terbuka dijadikan oleh para seniman sebagai arena 
berkarya dan pentas dari berbagai skala. Pentas terbuka begini justru 
menyeramaki kota dan memberi hiburan bagi penduduk. Di Montmartre, kampung di 
puncak gunung yang memang kampung seniman, di mana aku tinggal sejak 
bertahun-tahun, saban akhir pekan, jalan, lapangan selalu dihidupi oleh 
rupa-rupa kegiatan kesenian.Place du Tertre atau lapangan di depan gereja putih 
raksasa di puncak bukit dari mana kita bisa melihat seluruh Paris,boleh 
dikatakan menjadi ruang pertunjukkan dan kegiatan seni lukis permanen.


Tanpa menghiraukan kelelahan aktivitas berhari-hari, Shanti dan teman-teman 
menyempatkan diri mengantarku dari Nusa Dua ke Café Bandar yang terletak tidak 
berjauhan. Beda dengan Nusa Dua, Café Bandar di mana para seniman Balikpapan 
juga sering berkumpul, merupakan sebuah tempat yang terbuka. Angin leluasa 
membelai muka dan rambut kita. Ombak teluk berada di bawah mata kita. Aku 
berpikir dan membayangkan pada masa mendatang menambah ruang dan melakukan 
sedikit perbahan penampilannya, sehingga di samping ia merupakan tempat 
tertutup, ia pun bisa sekaligus menjadi terbuka menghadap laut. Laut dijadikan 
latar segala kegiatan seni sebagaimana halanya pertunjukkan balet Ramayana di 
Prambanan mengambil gunung Merapi dan bulan purnama sebagai dekornya. 


Ah, sekedar bayangan, kawan-kawanku yang selalu kukenang. Bayangan dan mimpi 
yang melintas di kepala sambil memandang kapal dan perahu teluk dibayangi oleh 
camar memburu mengintai laut tak punya lelah dan sudah. Bayangan memandang 
hari-hari yang jauh diterbangkan oleh sayap-sayap imajinasi yang liar dihangati 
oleh kehangatan teman-teman yang mengobarkan rasa terimkasih sering kusimpan 
diam-diam dan kubawa serta dalam perjalanan tak punya sampai. 


Jauh dari pantai kusaksikan dua buah kapal berpapasan. Satu ke utara, satu ke 
selatan. Keduanya saling menyapa memberi salam dengan peluit menderu membahana 
hingga jauh, sampai ke kalbu. Kehidupanku sendiri pun  terkadang kulihat 
sebagai sebuah kapal  berpapasan dengan kapal kapiten lain, dan kami pun 
sebagai dua nakhoda selalu bertutur sapa dalam peluit rindu menggaung jauh, 
sangat jauh di ruang kenang. Adakah yang mendengar gaungnya? Barangkali tidak. 
Tidak siapa pun! Karena sering ia ada dalam diam tapi di meja-meja Nusa Dua  
dan Café Bandar  ini, diam menggaung itu kurekam di halaman-halaman Catatan 
Harian seorang penempuh "River of No Return" yang melayari "his own way".***


JJ.Kusni
--------
Perjalanan, September 2005.


Catatan:
Foto terlampir memperlihatkan seorang musikus menggunakan ruang terbuka di 
puncak gunung Montmartre sebagai panggung pertunjukkannya [ Foto dan 
dokumentasi Jelitheng]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: