[nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [6] "NUSA DUA" DAN "CAFE BANDAR" SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN BALIKPAPAN.
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 26 Sep 2005 12:10:56 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [6].
"NUSA DUA" DAN "CAFE BANDAR" SEBAGAI PUSAT KEGIATAN SASTRA-SENI BALIKPAPAN
Kehangatan sambutan Pak Warno sekeluarga sejak detik pertama aku menginjakkan
kaki, membuatku sejak itu merasa bagian dari keluarga ini dan Nusa Dua
kurasakan seperti rumah keluarga. Di sini aku merasa bebas melalukan waktu
melayangkan imajinasi terbang di antara camar-camar teluk di angkasa tak
bertepi. Untuk ini ingin kusampaikan rasa terimakasih yang dalam tak berhingga
kepada penyair dan penulis cerpen Kaltim, Shantined, kelahiran Yogyakarta dan
sekarang berdiam di Balikpapan, yang telah membawa dan memperkenalkan aku pada
keluarga ini dan Nusa Dua.
Shantined adalah nama tokoh, Pak Besut, cerpenis Yogyakarta yang pada suatu
periode jadi kesukaan para pendengar R.R.I, Yogya dan senantiasa ditunggu
siaran malamnya. Kesukaan akan "Obrolan" Pak Besut, jika kukenang dan
kurenungkan sekarang, ia memperlihatkan kembali arti sastra bagi kehidupan, dan
hubungan sastra dengan kehidupan. Masyarakat memerlukan sastra dengan
pesan-pesan yang disampaikan secara sastra. Kasus Pak Besut selain
memperlihatkan peran dan hubungan sastra dalam kehidupan, ia pun memperlihatkan
pengaruhnya dalam masyarakat.
Masihkah tradisi ini, masihkah fungsi dan hubungan ini, dimainkan oleh sastra
kita hari ini? Mengapa ada keluhan tentang "sastra yang terpencil"? Mengapa ada
kritik tentang "puisi gelap" dan kesibukan apa erotisme? Penggunaan nama
Shantined oleh Shanti kukira memperlihatkan pengaruh sastra dalam kehidupan di
ruang dan waktu juga adanya.
Di samping berterimakasih besar pada Shanti, aku pun sangat berterimakasih pada
Mas Bimo yang kehangatannya pun tak terlupakan sampai-sampai mengundur
kepulangannya ke Jakarta agar bisa menemuiku.Komitmen, rasa persaudaraan,
keindonesiaan dan semangat republiken sangat kurasakan pada Mas Bimo, yang
diangkat sebagai anak oleh seorang ibu Dayak di hulu Mahakam.
Kasus Mas Bimo memberiku bukti tambahan bahwa "etnik dan bangsa hanyalah
perbatasan semu bagi kemanusiaan" seperti yang dikatakan juga oleh filosof
Perancis, Paul Ricoeur, bahwa "kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu
tunggal". Perlakuan dan sambutan Nusa Dua kepadaku menambah deretan bukti ini.
Hubunganku dengan keluarga Nusa Dua berkembang dari "dudu sanak dudu kadang"
menjadi "ya sanak yo kadang", perkembangan dari tingkat kuantitas mencapai
taraf kualitas.
Pada saat ini juga, terngiang kembali di telingaku kata-kata Bung Jamal, sang
penyanyi syahdu romantik tapi sanggup mengambil keputusan yang tanggap,
menjelang keberangkatanku dari Balikpapan: "Kita jadikan Nusa Dua semacam salah
satu pusat kegiatan sastra-seni". Ide Bung Jamal ini mengingatkan aku akan arti
penting sebuah tempat yang bisa menjadi pusat kebudayaan hari-hari, pusat yang
memungkinkan kita senantiasa dekat dengan publik. Salah satu tempat demikian
adalah restoran. Dengan ide inilah maka di kilometer nol Paris kami bangun
Koperasi Restoran Indonesia sejak hampir 25 tahun lalu dan berkembang hingga
sekarang. Koperasi Restoran Indonesia Paris, sekaligus berfungsi sebagai pusat
kebudayaan dan oleh KBRI disebut sebagai "duta bangsa". Fungsi begini pun juga
diperlihatkan oleh café dan restoran yang tersebar di jalan-jalan kota. Café
dan restoran di ibukota Perancis ini sekaligus menjadi arena pertunjukan dan
pementasan rupa-rupa bentuk kesenian. Dengan fungsi demikian, kita kenal yang
disebut café theatre atau café filsafat. Eksistensialisme justru diawali dari
diskusi-diskusi di café. Sartre, Simone de Beauvoir, Hemingway dan The Lost
Generation-nya sering nongkrong di café sambil menulis. Peluncuran-peluncuran
buku umumnya dilakukan di café-café. Dengan fungsi ganda begini, maka café-café
dan rstoran sekaligus memberi sumber finansil bagi para seniman sekali menjawab
keluhan tentang ketiadaan ruang pentas. Keluhan yang kurang masuk nalar di
hadapan tersedianya ruang di mana-mana. Paris memperlihat padaku bahwa jalan,
lapangan dan sudut-sudut terbuka dijadikan oleh para seniman sebagai arena
berkarya dan pentas dari berbagai skala. Pentas terbuka begini justru
menyeramaki kota dan memberi hiburan bagi penduduk. Di Montmartre, kampung di
puncak gunung yang memang kampung seniman, di mana aku tinggal sejak
bertahun-tahun, saban akhir pekan, jalan, lapangan selalu dihidupi oleh
rupa-rupa kegiatan kesenian.Place du Tertre atau lapangan di depan gereja putih
raksasa di puncak bukit dari mana kita bisa melihat seluruh Paris,boleh
dikatakan menjadi ruang pertunjukkan dan kegiatan seni lukis permanen.
Tanpa menghiraukan kelelahan aktivitas berhari-hari, Shanti dan teman-teman
menyempatkan diri mengantarku dari Nusa Dua ke Café Bandar yang terletak tidak
berjauhan. Beda dengan Nusa Dua, Café Bandar di mana para seniman Balikpapan
juga sering berkumpul, merupakan sebuah tempat yang terbuka. Angin leluasa
membelai muka dan rambut kita. Ombak teluk berada di bawah mata kita. Aku
berpikir dan membayangkan pada masa mendatang menambah ruang dan melakukan
sedikit perbahan penampilannya, sehingga di samping ia merupakan tempat
tertutup, ia pun bisa sekaligus menjadi terbuka menghadap laut. Laut dijadikan
latar segala kegiatan seni sebagaimana halanya pertunjukkan balet Ramayana di
Prambanan mengambil gunung Merapi dan bulan purnama sebagai dekornya.
Ah, sekedar bayangan, kawan-kawanku yang selalu kukenang. Bayangan dan mimpi
yang melintas di kepala sambil memandang kapal dan perahu teluk dibayangi oleh
camar memburu mengintai laut tak punya lelah dan sudah. Bayangan memandang
hari-hari yang jauh diterbangkan oleh sayap-sayap imajinasi yang liar dihangati
oleh kehangatan teman-teman yang mengobarkan rasa terimkasih sering kusimpan
diam-diam dan kubawa serta dalam perjalanan tak punya sampai.
Jauh dari pantai kusaksikan dua buah kapal berpapasan. Satu ke utara, satu ke
selatan. Keduanya saling menyapa memberi salam dengan peluit menderu membahana
hingga jauh, sampai ke kalbu. Kehidupanku sendiri pun terkadang kulihat
sebagai sebuah kapal berpapasan dengan kapal kapiten lain, dan kami pun
sebagai dua nakhoda selalu bertutur sapa dalam peluit rindu menggaung jauh,
sangat jauh di ruang kenang. Adakah yang mendengar gaungnya? Barangkali tidak.
Tidak siapa pun! Karena sering ia ada dalam diam tapi di meja-meja Nusa Dua
dan Café Bandar ini, diam menggaung itu kurekam di halaman-halaman Catatan
Harian seorang penempuh "River of No Return" yang melayari "his own way".***
JJ.Kusni
--------
Perjalanan, September 2005.
Catatan:
Foto terlampir memperlihatkan seorang musikus menggunakan ruang terbuka di
puncak gunung Montmartre sebagai panggung pertunjukkannya [ Foto dan
dokumentasi Jelitheng]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [6] "NUSA DUA" DAN "CAFE BANDAR" SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN BALIKPAPAN.