[nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [11].DARI SAMARINDA KE TENGGARONG

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [11].


      DARI SAMARINDA KE TENGGARONG





      "dari samarinda ke tenggarong jalan berliku 
      hutan lembah berjambul awan warna kelabu 
      siamang dan enggang tak lagi menyambutku
      kabut dukaku, adik, kabut rimba menaungi kalbu
      oleh kehilangan kabut dan tangisku di sini bertemu"





Hari itu dengan berkendaraan mobil Kijang, kami meluncur menuju Tenggarong. 
Jalan mendaki, menurun dan berliku sebagaimana biasanya jalan-jalan mana pun, 
apalagi di daerah yang berbukit-bukit. Terkadang awan kelabu nampak jauh di 
bawah kami di atas pepohonan hutan yang tidak lebat lagi sehingga sinar 
matahari leluasa menembus dedaunan bermain di tanah. Melihat awan yang 
bertengger di pucuk-pucuk pohon, ingatanku sejenak melayang ke Batu, Jawa 
Timur, yang kukunjungi beberapa tahun lalu.Larut malam bulan kaku di atas awan 
kelabu hutan cemara dan kota yang tidur. Aku dan teman-teman Komunitas  Batu 
menghangat tubuh melawan dingin gunung dengan jagung bakar dan kopi jahé. Ada 
kehangatan memancar dalam dingin dari tatap persahabatan pemimpi-pemimpi muda 
sederhana yang jatuh-bangun merambah jalan pencarian mereka. 


Melayangkan pandang ke pucuk-pucuk hutan, apakah hutan Kaltim masih hutan yang 
dahulu? Waktu banyak mengobah segala. Kita pun dalam sedetkik dua bisa berobah 
dan diobah oleh waktu di mana ketiba-tibaan bersarang. Ketiba-tibaan yang bebas 
dari kuasa nalar.Suara burung dan siamang tidak kudengar  menyambutku dari 
hutan lembah. Apalagi yang namanya enggang lambang dari konsep hidup mati 
manusia Dayak, bukan hanya tak lagi terdengar gaung gema suaranya di rimba, 
dari kota-kota seperti Balikpapan dan Samarinda bahkan di kota kabupaten Melak 
pun jarang kudapatkan. Sedangkan di Kuching, Sarawak, lambang-lambang budaya 
lokal ini masih nampak dengan jelas.Bandara Kuching kuat ditandai oleh 
hasil-hasil lokal. Kaltim, terutama kota-kota utamanya nampak asing dari 
tanda-tanda lokal.Kuching bahkan mempunyai dua buah museum tentang Dayak 
terbesar , paling tidak Di Borneo-Kalimantan. Quo Vadis Kaltim? Inilah 
pertanyaanku sambil melihat dari kaca jendela Nusa Dua cakrawala dan teluk yang 
menghamparkan ruang selaksa mungkin. Di ruang selaksa mungkin itu aku merasa 
akrab dengan maut, kekalahan, kejatuhan, khianat alami dan ilmiah, tekad yang 
lemah hingga tunduk pada ketakutan, tapi sekaligus aku juga melihat dengan 
keharuan keperkasaan mereka yang bertarung seperti kapiten para pinisi di 
tengah badai. Memandang para kapiten pinisi di laut, aku katakan bahwa ajal 
sebagai puncak tragedi telah disemukan maknanya. Di sini pun aku jadi melihat 
kekalahan dan kejatuhan memiliki wayuh makna. Lalu Sysiphus yang jatuh di kaki 
lereng pendakian,tampil sebagai tokoh kemanusiaan yang kusansanakan dengan 
iringan dawai kecapi anak Katingan, kecapi harapan dan pertarungan tak punya 
sampai warisan si "Kayau Pulang" *]. Balikpapan dan Samarinda jelas padaku 
merupakan kota-kota Kaltim yang asing dari tanda Dayak. Dayak di sini jadi 
asing  dan terpinggir, dipinggirkan proses sejarah. Dayak di sini sudah 
merupakan bagian dari eksotime dan obyek belas kasihan dan barang dagangan. Aku 
khawatir bahwa yang namanya Dayak di Kaltim akan jadi barang dagangan eksotik. 
Dan boleh jadi sebentar lagi akan muncul pakar dan sastrawan yang menteoritisir 
keterpurukan ini dan ikut menarik tali "lonceng kematian" seperti yang pernah 
dicanangkan oleh novelis Ray Rizal alm.


Keterasingan ini juga dinampakkan dan kurasakan sekali ketika Kijang kami 
melewati yang disebut "Bukit Soeharto". Apa gerangan jasa Soeharto, sang 
presiden Republik Indonesia yang melakukan kudeta merangkak untuk naik ke 
tampuk kekuasaan, pada pulau ini dan Kaltim?. Dari koran-koran kuketahui bahwa 
Bukit Soeharto adalah bukit kebakaran "abadi", bukit batubara yang terbakar 
belum terpadamkan. Secara tersirat kulihat Bukit tersebut sebagai lambang 
pembakaran Kalimantan oleh Orde Baru. Siapakah yang hirau? Berapa banyak yang 
hirau? Berapa banyak orang Dayak lokal juga hirau? Apakah Korrie Layun Rampan 
yang sastrawan Kaltim dan anggota DPRD itu akan hirau? Bagaimana bentuk nyata 
kehirauannya? Sastrawan dan kekuasaan, sungguh suatu kombinasi yang tidak 
sederhana! Mengapa Soeharto si penjagal bangsanya sendiri diabadikan namanya 
pada gunung ini padahal ia bahkan telah meremukkan pulau? Diktator adalah orang 
yang dengan kepala dingin sanggup memasakre bangsanya. Dan itu adalah Soeharto 
sang presiden! Bukit ini kukira tidak pada tempatnya diberikan nama bukit 
Soeharto. Bukit ini patut dikembalikan namanya pada nama semula, sebagaimana 
kita pada tempatnya,  kukira, mencoret nama Schwaner-Müller untuk menamai 
gugusan pegunungan melintasi Kalimantan dari barat ke timur. Ini adalah bentuk 
pelanggengan kekuasaan kolonialisme, penyingkiran identitas lokal sebagai awal 
dari peminggiran fisik. Kalau aku menyinggung soal identitas lokal, yang oleh 
Prof. Dr. Sajogyo dirumuskan sebagai "Jalan Kalimantan", artinya pemberdayaan 
dan pembangunan hanya tanggap dan aspiratif jika kita memperhitungkan keadaan 
kongkret setempat. Globasisasi kapitalis hanya menghancurkan warna lokal karena 
yang disarankan globalisasi kapitalis tidak lain dari perbudakan dan 
penyeragaman. Kaltim seperti halnya dengan daerah-daerah lainnya menyediakan 
bahan studi yang menarik sekaligus merupakan kemungkinan besar untuk 
tergelincir.


Sampai di Tenggarong, kami turun sejenak dan berbincang dengan tokoh penting 
dari bagian kebudayaan lokal. Di sebuah ruangan aku menikmati acara nyanyi dan 
karaoke dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan -- terlambat dirayakan. Sebuah 
lembaga resmi terlambat merayakan Hari Kemerdekaan bangsa! Sungguh suatu gejala 
menarik. Merenunginya kembali dari meja-meja Nusa Dua dan Café Bandar, aku 
bertanya pada diri, apakah orang-orang ketika merayakan Hari Kemerdekaan sadar 
benar apa arti kemerdekaan, bangsa dan republik?! Ataukah apa yang sedang 
dilakukan tidak lebih dari suatu formalitas dan dibaliknya terkandung masalah 
pemasukan dana ke kantong sendiri? Pertanyaan ini muncul pada diriku karena 
sejauh yang kukenal Indonesia sebagai salah satu negeri terkorup di  dunia, 
nilai sudah dikendalikan uang. Uang adalah raja! Cara apa pun untuk meraup uang 
di negeri ini agaknya semua sah. Manusia dijadikan barang dagangan, pulau-pulau 
dan pendudukanya tidak lain dari sapi perahan, terutama  oleh pemegang 
kekuasaan dengan sistem KKN-nya. Sastrawan dan seniman, kalian berada di posisi 
mana pada keadaan begini?! Apakah hanyut di arus sistem dan republik politik 
ataukah bertahan habis-habisan di republik berdaulat sastra-seni?!


Melihat Tenggarong dengan mata yang biasa melihat Barat dan menjelajahi 
berbagai benua, Tenggarong yang kaya sungguh tidak meninggalkan kesan istimewa 
padaku. Yang nampak padaku adalah kekumuhan sungai dan kota yang tak terurus. 
Nampak jelas dari penampilan fisik adanya kesenjangan dan tidak efektifnya 
kekayaan lokal digunakan.Diapakan dan dikemanakan kekayaan lokal ini, adalah 
pertanyaan yang mencuat secara  serta-merta di benakku.Aku tiba-tiba merasa 
dungu berada di daerah dan negeri ini tapi sekaligus merasakan jauhnya 
perjalanan mencapai republik dan Indonesia. Tapi tetap kucadangkan diri untuk 
tidak mengatakan bahwa Republik dan Indonesia adalah suatu fatamorgana. Aku 
masih mencoba bertahan pada pendapat bahwa Republik  dan Indonesia adalah suatu 
program integral bagi bangsa dan negeri yang masih tanggap zaman dan aspiratif.


Dalam percakapan dengan pihak Dinas Kebudayaan Tenggarong,  konsep republiken 
dan Indonesia ini justru makin mencuat dalam diriku ketika yang bersangkutan 
mengatakan dengan bangga bahwa  dalam tahun depan atau tahun berikutnya 
Tenggarong akan memiliki gedung kesenian. Pertanyaanku apakah adanya gedung 
kesenian itu merupakan tuntutan mendesak Tenggarong dalam pengertian bahwa 
kuantitas kegiatan kesenian di Tenggarong memang obyektif mendesakkan adanya 
sebuah gedung kesenian? Jika tidak , untuk apa gedung kesenian itu? Apakah 
sebagai proyek prestise yang sekaligus sarat muatannya dengan korupsi, ataukah 
cerminan tentang pandangan kebudayaan yang memelorotkan sastra-seni ke tingkat 
barang produksi massal bisnis turistik ? Di Paris, di samping memang banyak 
gedung-gedung kesenian dan teater, tapi jalan-jalan srta alam terbuka, 
café-café dan restoran merupakan arena atau panggung pementasan. Paris tidak 
mengeluhkan arena pementasannya karena panggung pementasan seluas dan sebesar 
kota itu sendiri. Pantai, sungai, kuburan dan pojok kota adalah panggung 
pementasan itu sendiri. 


Aku khawatir Dayak dimasukkan ke dalam jenis barang dagangan eksotisme atas 
nama pengembangan kebudayaan Dayak lokal. Kkhawatiran konsepsional begini 
berawal dari pertempuanku dengan teman-teman dari Kaltim pada 1990 di Pontianak 
yangdengan bangga memberiku brosur turistik sebagai ujud dari pemberdayaan dan 
penfgembangan budaya  komunitas Dayak di Kaltim. Dalam hal ini kita sedang 
berbicara  secara konsepsional tentang hubungan  antara bisnis turisme dan 
pemberdayaan serta pengembangan budaya lokal. Apakah Kaltim akan menempuh jalan 
Bali? Lagi-lagi pertanyaan "quo vadis Kaltim" mengusik renunganku di meja Nusa 
Tua dan Café Bandar sambil menggoreskan catatan ini di lembaran-lembaran putih 
notes perjalanan. 

Dari Samarinda ke Tenggarong, sebanyak lika-liku tikungan sebanyak itu pula aku 
dihadapkan dengan lika-liku pertanyaan. Kaltim sebagaimana daerah-daerah lain 
mana pun merupakan daerah yang diusik tanya patut dijawab secara sadar dengan 
memperhitungkan masa silam, hari ini dan esok. Apa siapa dan mau ke mana 
Kaltim? ***


Paris, September 2005.
--------------------
JJ.KUSNI



Catatan:

*].Kayau Pulang, tokoh heroik dalam legenda Dayak Katingan, Kalimantan Tengah.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: