[nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [11].DARI SAMARINDA KE TENGGARONG
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 30 Sep 2005 16:08:41 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [11].
DARI SAMARINDA KE TENGGARONG
"dari samarinda ke tenggarong jalan berliku
hutan lembah berjambul awan warna kelabu
siamang dan enggang tak lagi menyambutku
kabut dukaku, adik, kabut rimba menaungi kalbu
oleh kehilangan kabut dan tangisku di sini bertemu"
Hari itu dengan berkendaraan mobil Kijang, kami meluncur menuju Tenggarong.
Jalan mendaki, menurun dan berliku sebagaimana biasanya jalan-jalan mana pun,
apalagi di daerah yang berbukit-bukit. Terkadang awan kelabu nampak jauh di
bawah kami di atas pepohonan hutan yang tidak lebat lagi sehingga sinar
matahari leluasa menembus dedaunan bermain di tanah. Melihat awan yang
bertengger di pucuk-pucuk pohon, ingatanku sejenak melayang ke Batu, Jawa
Timur, yang kukunjungi beberapa tahun lalu.Larut malam bulan kaku di atas awan
kelabu hutan cemara dan kota yang tidur. Aku dan teman-teman Komunitas Batu
menghangat tubuh melawan dingin gunung dengan jagung bakar dan kopi jahé. Ada
kehangatan memancar dalam dingin dari tatap persahabatan pemimpi-pemimpi muda
sederhana yang jatuh-bangun merambah jalan pencarian mereka.
Melayangkan pandang ke pucuk-pucuk hutan, apakah hutan Kaltim masih hutan yang
dahulu? Waktu banyak mengobah segala. Kita pun dalam sedetkik dua bisa berobah
dan diobah oleh waktu di mana ketiba-tibaan bersarang. Ketiba-tibaan yang bebas
dari kuasa nalar.Suara burung dan siamang tidak kudengar menyambutku dari
hutan lembah. Apalagi yang namanya enggang lambang dari konsep hidup mati
manusia Dayak, bukan hanya tak lagi terdengar gaung gema suaranya di rimba,
dari kota-kota seperti Balikpapan dan Samarinda bahkan di kota kabupaten Melak
pun jarang kudapatkan. Sedangkan di Kuching, Sarawak, lambang-lambang budaya
lokal ini masih nampak dengan jelas.Bandara Kuching kuat ditandai oleh
hasil-hasil lokal. Kaltim, terutama kota-kota utamanya nampak asing dari
tanda-tanda lokal.Kuching bahkan mempunyai dua buah museum tentang Dayak
terbesar , paling tidak Di Borneo-Kalimantan. Quo Vadis Kaltim? Inilah
pertanyaanku sambil melihat dari kaca jendela Nusa Dua cakrawala dan teluk yang
menghamparkan ruang selaksa mungkin. Di ruang selaksa mungkin itu aku merasa
akrab dengan maut, kekalahan, kejatuhan, khianat alami dan ilmiah, tekad yang
lemah hingga tunduk pada ketakutan, tapi sekaligus aku juga melihat dengan
keharuan keperkasaan mereka yang bertarung seperti kapiten para pinisi di
tengah badai. Memandang para kapiten pinisi di laut, aku katakan bahwa ajal
sebagai puncak tragedi telah disemukan maknanya. Di sini pun aku jadi melihat
kekalahan dan kejatuhan memiliki wayuh makna. Lalu Sysiphus yang jatuh di kaki
lereng pendakian,tampil sebagai tokoh kemanusiaan yang kusansanakan dengan
iringan dawai kecapi anak Katingan, kecapi harapan dan pertarungan tak punya
sampai warisan si "Kayau Pulang" *]. Balikpapan dan Samarinda jelas padaku
merupakan kota-kota Kaltim yang asing dari tanda Dayak. Dayak di sini jadi
asing dan terpinggir, dipinggirkan proses sejarah. Dayak di sini sudah
merupakan bagian dari eksotime dan obyek belas kasihan dan barang dagangan. Aku
khawatir bahwa yang namanya Dayak di Kaltim akan jadi barang dagangan eksotik.
Dan boleh jadi sebentar lagi akan muncul pakar dan sastrawan yang menteoritisir
keterpurukan ini dan ikut menarik tali "lonceng kematian" seperti yang pernah
dicanangkan oleh novelis Ray Rizal alm.
Keterasingan ini juga dinampakkan dan kurasakan sekali ketika Kijang kami
melewati yang disebut "Bukit Soeharto". Apa gerangan jasa Soeharto, sang
presiden Republik Indonesia yang melakukan kudeta merangkak untuk naik ke
tampuk kekuasaan, pada pulau ini dan Kaltim?. Dari koran-koran kuketahui bahwa
Bukit Soeharto adalah bukit kebakaran "abadi", bukit batubara yang terbakar
belum terpadamkan. Secara tersirat kulihat Bukit tersebut sebagai lambang
pembakaran Kalimantan oleh Orde Baru. Siapakah yang hirau? Berapa banyak yang
hirau? Berapa banyak orang Dayak lokal juga hirau? Apakah Korrie Layun Rampan
yang sastrawan Kaltim dan anggota DPRD itu akan hirau? Bagaimana bentuk nyata
kehirauannya? Sastrawan dan kekuasaan, sungguh suatu kombinasi yang tidak
sederhana! Mengapa Soeharto si penjagal bangsanya sendiri diabadikan namanya
pada gunung ini padahal ia bahkan telah meremukkan pulau? Diktator adalah orang
yang dengan kepala dingin sanggup memasakre bangsanya. Dan itu adalah Soeharto
sang presiden! Bukit ini kukira tidak pada tempatnya diberikan nama bukit
Soeharto. Bukit ini patut dikembalikan namanya pada nama semula, sebagaimana
kita pada tempatnya, kukira, mencoret nama Schwaner-Müller untuk menamai
gugusan pegunungan melintasi Kalimantan dari barat ke timur. Ini adalah bentuk
pelanggengan kekuasaan kolonialisme, penyingkiran identitas lokal sebagai awal
dari peminggiran fisik. Kalau aku menyinggung soal identitas lokal, yang oleh
Prof. Dr. Sajogyo dirumuskan sebagai "Jalan Kalimantan", artinya pemberdayaan
dan pembangunan hanya tanggap dan aspiratif jika kita memperhitungkan keadaan
kongkret setempat. Globasisasi kapitalis hanya menghancurkan warna lokal karena
yang disarankan globalisasi kapitalis tidak lain dari perbudakan dan
penyeragaman. Kaltim seperti halnya dengan daerah-daerah lainnya menyediakan
bahan studi yang menarik sekaligus merupakan kemungkinan besar untuk
tergelincir.
Sampai di Tenggarong, kami turun sejenak dan berbincang dengan tokoh penting
dari bagian kebudayaan lokal. Di sebuah ruangan aku menikmati acara nyanyi dan
karaoke dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan -- terlambat dirayakan. Sebuah
lembaga resmi terlambat merayakan Hari Kemerdekaan bangsa! Sungguh suatu gejala
menarik. Merenunginya kembali dari meja-meja Nusa Dua dan Café Bandar, aku
bertanya pada diri, apakah orang-orang ketika merayakan Hari Kemerdekaan sadar
benar apa arti kemerdekaan, bangsa dan republik?! Ataukah apa yang sedang
dilakukan tidak lebih dari suatu formalitas dan dibaliknya terkandung masalah
pemasukan dana ke kantong sendiri? Pertanyaan ini muncul pada diriku karena
sejauh yang kukenal Indonesia sebagai salah satu negeri terkorup di dunia,
nilai sudah dikendalikan uang. Uang adalah raja! Cara apa pun untuk meraup uang
di negeri ini agaknya semua sah. Manusia dijadikan barang dagangan, pulau-pulau
dan pendudukanya tidak lain dari sapi perahan, terutama oleh pemegang
kekuasaan dengan sistem KKN-nya. Sastrawan dan seniman, kalian berada di posisi
mana pada keadaan begini?! Apakah hanyut di arus sistem dan republik politik
ataukah bertahan habis-habisan di republik berdaulat sastra-seni?!
Melihat Tenggarong dengan mata yang biasa melihat Barat dan menjelajahi
berbagai benua, Tenggarong yang kaya sungguh tidak meninggalkan kesan istimewa
padaku. Yang nampak padaku adalah kekumuhan sungai dan kota yang tak terurus.
Nampak jelas dari penampilan fisik adanya kesenjangan dan tidak efektifnya
kekayaan lokal digunakan.Diapakan dan dikemanakan kekayaan lokal ini, adalah
pertanyaan yang mencuat secara serta-merta di benakku.Aku tiba-tiba merasa
dungu berada di daerah dan negeri ini tapi sekaligus merasakan jauhnya
perjalanan mencapai republik dan Indonesia. Tapi tetap kucadangkan diri untuk
tidak mengatakan bahwa Republik dan Indonesia adalah suatu fatamorgana. Aku
masih mencoba bertahan pada pendapat bahwa Republik dan Indonesia adalah suatu
program integral bagi bangsa dan negeri yang masih tanggap zaman dan aspiratif.
Dalam percakapan dengan pihak Dinas Kebudayaan Tenggarong, konsep republiken
dan Indonesia ini justru makin mencuat dalam diriku ketika yang bersangkutan
mengatakan dengan bangga bahwa dalam tahun depan atau tahun berikutnya
Tenggarong akan memiliki gedung kesenian. Pertanyaanku apakah adanya gedung
kesenian itu merupakan tuntutan mendesak Tenggarong dalam pengertian bahwa
kuantitas kegiatan kesenian di Tenggarong memang obyektif mendesakkan adanya
sebuah gedung kesenian? Jika tidak , untuk apa gedung kesenian itu? Apakah
sebagai proyek prestise yang sekaligus sarat muatannya dengan korupsi, ataukah
cerminan tentang pandangan kebudayaan yang memelorotkan sastra-seni ke tingkat
barang produksi massal bisnis turistik ? Di Paris, di samping memang banyak
gedung-gedung kesenian dan teater, tapi jalan-jalan srta alam terbuka,
café-café dan restoran merupakan arena atau panggung pementasan. Paris tidak
mengeluhkan arena pementasannya karena panggung pementasan seluas dan sebesar
kota itu sendiri. Pantai, sungai, kuburan dan pojok kota adalah panggung
pementasan itu sendiri.
Aku khawatir Dayak dimasukkan ke dalam jenis barang dagangan eksotisme atas
nama pengembangan kebudayaan Dayak lokal. Kkhawatiran konsepsional begini
berawal dari pertempuanku dengan teman-teman dari Kaltim pada 1990 di Pontianak
yangdengan bangga memberiku brosur turistik sebagai ujud dari pemberdayaan dan
penfgembangan budaya komunitas Dayak di Kaltim. Dalam hal ini kita sedang
berbicara secara konsepsional tentang hubungan antara bisnis turisme dan
pemberdayaan serta pengembangan budaya lokal. Apakah Kaltim akan menempuh jalan
Bali? Lagi-lagi pertanyaan "quo vadis Kaltim" mengusik renunganku di meja Nusa
Tua dan Café Bandar sambil menggoreskan catatan ini di lembaran-lembaran putih
notes perjalanan.
Dari Samarinda ke Tenggarong, sebanyak lika-liku tikungan sebanyak itu pula aku
dihadapkan dengan lika-liku pertanyaan. Kaltim sebagaimana daerah-daerah lain
mana pun merupakan daerah yang diusik tanya patut dijawab secara sadar dengan
memperhitungkan masa silam, hari ini dan esok. Apa siapa dan mau ke mana
Kaltim? ***
Paris, September 2005.
--------------------
JJ.KUSNI
Catatan:
*].Kayau Pulang, tokoh heroik dalam legenda Dayak Katingan, Kalimantan Tengah.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [11].DARI SAMARINDA KE TENGGARONG