[nasional_list] [ppiindia] Bersama (Siapa Pun) Kita Tetap Menderita
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 17 Oct 2005 00:03:15 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/17/opini/2107734.htm
Bersama (Siapa Pun) Kita Tetap Menderita
M Fadjroel Rachman
Sejarah manusia adalah sejarah penderitaan. Bom Bali 1 Oktober adalah
penderitaan mematikan. Namun, penderitaan struktural terjadi dalam piramida
sosial-ekonomi.
Elite di puncak piramida selain meraup pendapatan nasional terbesar, juga
berhak membuat segala keputusan ekonomi-politik. Misalnya, membuat utang dalam
dan luar negeri Rp 1.282 triliun maupun menaikkan harga minyak tanah 185,7
persen. Ratusan juta rakyat bergelimpangan di dasar piramida, termasuk 15,648
juta keluarga miskin penerima dana kompensasi kenaikan harga BBM.
Piramida kesengsaraan
Badan Pusat Statistik (BPS) memberi data empiris piramida sosial-ekonomi dalam
Income Distribution by Classification World Bank and Gini Ratio Indonesia 2002.
Data 2002 lengkap untuk 27 provinsi, sedangkan 2003 dan 2004 hanya data
Indonesia secara keseluruhan. Tahun 2002 puncak piramida dihuni 20 persen the
highest income yang meraup 42,19 persen pendapatan nasional (national income),
lalu 40 persen the moderate income meraup 36,89 persen, sedangkan 40 persen the
lowest income hanya mendapat 20,92 persen.
Adakah perubahan signifikan bila dibandingkan dengan distribusi pendapatan 2003
dan 2004? Pada 2003 terjadi kenaikan pendapatan nasional yang diraup 20 persen
the highest income, yaitu 42,33 persen, sedangkan 40 persen the lowest income
turun menjadi 20,57 persen, dan kelompok 40 persen the moderate income
meningkat menjadi 37,1 persen.
Pada 2004 terjadi kenaikan untuk 40 persen the lowest income menjadi 20,8
persen, 40 persen the medium income tetap 37,13 persen, dan 20 persen the
highest income menjadi 42,07 persen.
Selama tiga tahun terakhir, keputusan ekonomi politik hanya menguntungkan 20
persen the highest income, mekanismenya seperti zero-sum game. Lebih buruk
lagi, tiap kenaikan pendapatan the highest income, maka the lowest income
pendapatannya menurun secara signifikan. Namun, bila the lowest income naik
pendapatannya, the highest income berkurang.
Pada 2003-2004 penurunan pendapatan the highest income sebesar minus 0,26
persen, dibarengi kenaikan pendapatan the lowest income plus 0,23 persen.
Namun, pada 2002-2003, saat the highest income naik plus 0,14 persen, the
lowest income turun minus 0,35 persen.
Secara historis terlihat betapa sulitnya 40 persen the lowest income
meningkatkan besaran pendapatan nasional yang bisa diraih. Michael P Todaro
dalam Economic Development in the Third World (Longman, 1989) mencatat, pada
1975 40 persen the lowest income di Indonesia meraih 16,1 persen pendapatan
nasional. Jadi dalam 29 tahun (1975-2004), 40 persen the lowest income hanya
meraih kue pendapatan nasional 4,7 persen.
Ilusi pemerataan
Dari analisis itu terlihat, sejak Soeharto hingga Reformasi, 20 persen the
highest income selalu mendapat keuntungan dari tiap kebijakan ekonomi-politik.
Kenaikan harga BBM dua kali tahun ini dapat disimpulkan:
Pertama, tidak mengurangi kue pendapatan nasional yang bakal diraih 20 persen
the highest income. Kalaupun ada kerugian, kerugian 40 persen the lowest income
bakal lebih besar.
Kedua, subsidi kompensasi BBM hanya kebijakan belas kasihan, asal si miskin
tetap hidup (subsistence), bukan pemerataan pendapatan apalagi perombakan
ketimpangan sosial-ekonomi.
Ketiga, kebijakan BBM layaknya kebijakan ekonomi-politik sepanjang 29 tahun
terakhir cenderung mempertahankan piramida ketimpangan sosial-ekonomi.
Keempat, ketika negara tidak mampu (inability) dan tidak mau (unwillingness)
melembagakan reformasi fundamental dan menegakkan disiplin sosial, negara itu
dapat dikategorikan negara lembek (soft states) (Gunnar Myrdal, Asian Drama: An
Inquiry Into The Poverty of Nations, 1972). Akibatnya, kemiskinan menjadi
sarana belas kasihan tanpa belas kasihan. Contoh mutakhir, tewasnya beberapa
orangtua papa saat antre dana kompensasi BBM (Kompas, 15/10).
Jika reformasi fundamental, seperti pemerataan dan kesejahteraan, menjadi
tujuan setiap kebijakan ekonomi-politik, apakah tujuan itu tergantung pada
harga BBM dunia? Tidak, karena saat harga BBM rendah atau di saat bonanza
minyak 1970/80-an kebijakan ekonomi-politik Indonesia tetap tidak berpihak pada
pemerataan dan kesejahteraan. Padahal pada 1970-an dan awal 1980-an pendapatan
dari minyak dan gas naik 157 persen, dari 7,4 miliar dollar AS (1978/79)
menjadi 19,0 miliar dollar AS (1981/ 1982). Sementara itu, pendapatan
pemerintah dari pajak sektor minyak dan gas naik 271 persen dari Rp 2,309
triliun (1978/79) menjadi Rp 8,575 triliun (1981/82). Ternyata perekonomian
Indonesia saat itu hanya dinikmati sekitar 200 konglomerat (grup bisnis pribumi
dan nonpribumi, Soeharto-keluarga, serta ABRI).
Rakyat jelata tetap bergelimpangan menunggu trickle-down effect yang tak pernah
menetes hingga kini. Nasib mereka seperti ditulis Multatuli dalam Max Havelaar
(1860).
Kajian sepanjang 29 tahun terakhir, apa pun nama pemerintahannya, hanya
mengukuhkan kekayaan 20 persen the highest income. Karena itu, publik jangan
berilusi dalam jangka panjang 40 persen the lowest income bakal menguasai 42,07
persen pendapatan nasional 2004 yang dikuasai 20 persen the highest income. Di
negara lembek bernama Indonesia, ratusan tahun pemerataan dan kesejahteraan
hanya ilusi belaka!
Orang-orang malang harus belajar dari sejarah kesengsaraannya sendiri. Berjuang
bukan sekadar membalik piramida penderitaan, tetapi untuk menulis sejarah
kesejahteraannya sendiri. Jika tidak, bersama presiden bernama siapa pun, kita
tetap dan bisa menderita!
M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan
(Pedoman Indonesia)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Bersama (Siapa Pun) Kita Tetap Menderita