[nasional_list] [ppiindia] Bersama (Siapa Pun) Kita Tetap Menderita

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/17/opini/2107734.htm

 
Bersama (Siapa Pun) Kita Tetap Menderita 

M Fadjroel Rachman

Sejarah manusia adalah sejarah penderitaan. Bom Bali 1 Oktober adalah 
penderitaan mematikan. Namun, penderitaan struktural terjadi dalam piramida 
sosial-ekonomi.

Elite di puncak piramida selain meraup pendapatan nasional terbesar, juga 
berhak membuat segala keputusan ekonomi-politik. Misalnya, membuat utang dalam 
dan luar negeri Rp 1.282 triliun maupun menaikkan harga minyak tanah 185,7 
persen. Ratusan juta rakyat bergelimpangan di dasar piramida, termasuk 15,648 
juta keluarga miskin penerima dana kompensasi kenaikan harga BBM.

Piramida kesengsaraan

Badan Pusat Statistik (BPS) memberi data empiris piramida sosial-ekonomi dalam 
Income Distribution by Classification World Bank and Gini Ratio Indonesia 2002.

Data 2002 lengkap untuk 27 provinsi, sedangkan 2003 dan 2004 hanya data 
Indonesia secara keseluruhan. Tahun 2002 puncak piramida dihuni 20 persen the 
highest income yang meraup 42,19 persen pendapatan nasional (national income), 
lalu 40 persen the moderate income meraup 36,89 persen, sedangkan 40 persen the 
lowest income hanya mendapat 20,92 persen.

Adakah perubahan signifikan bila dibandingkan dengan distribusi pendapatan 2003 
dan 2004? Pada 2003 terjadi kenaikan pendapatan nasional yang diraup 20 persen 
the highest income, yaitu 42,33 persen, sedangkan 40 persen the lowest income 
turun menjadi 20,57 persen, dan kelompok 40 persen the moderate income 
meningkat menjadi 37,1 persen.

Pada 2004 terjadi kenaikan untuk 40 persen the lowest income menjadi 20,8 
persen, 40 persen the medium income tetap 37,13 persen, dan 20 persen the 
highest income menjadi 42,07 persen.

Selama tiga tahun terakhir, keputusan ekonomi politik hanya menguntungkan 20 
persen the highest income, mekanismenya seperti zero-sum game. Lebih buruk 
lagi, tiap kenaikan pendapatan the highest income, maka the lowest income 
pendapatannya menurun secara signifikan. Namun, bila the lowest income naik 
pendapatannya, the highest income berkurang.

Pada 2003-2004 penurunan pendapatan the highest income sebesar minus 0,26 
persen, dibarengi kenaikan pendapatan the lowest income plus 0,23 persen. 
Namun, pada 2002-2003, saat the highest income naik plus 0,14 persen, the 
lowest income turun minus 0,35 persen.

Secara historis terlihat betapa sulitnya 40 persen the lowest income 
meningkatkan besaran pendapatan nasional yang bisa diraih. Michael P Todaro 
dalam Economic Development in the Third World (Longman, 1989) mencatat, pada 
1975 40 persen the lowest income di Indonesia meraih 16,1 persen pendapatan 
nasional. Jadi dalam 29 tahun (1975-2004), 40 persen the lowest income hanya 
meraih kue pendapatan nasional 4,7 persen.

Ilusi pemerataan

Dari analisis itu terlihat, sejak Soeharto hingga Reformasi, 20 persen the 
highest income selalu mendapat keuntungan dari tiap kebijakan ekonomi-politik. 
Kenaikan harga BBM dua kali tahun ini dapat disimpulkan:

Pertama, tidak mengurangi kue pendapatan nasional yang bakal diraih 20 persen 
the highest income. Kalaupun ada kerugian, kerugian 40 persen the lowest income 
bakal lebih besar.

Kedua, subsidi kompensasi BBM hanya kebijakan belas kasihan, asal si miskin 
tetap hidup (subsistence), bukan pemerataan pendapatan apalagi perombakan 
ketimpangan sosial-ekonomi.

Ketiga, kebijakan BBM layaknya kebijakan ekonomi-politik sepanjang 29 tahun 
terakhir cenderung mempertahankan piramida ketimpangan sosial-ekonomi.

Keempat, ketika negara tidak mampu (inability) dan tidak mau (unwillingness) 
melembagakan reformasi fundamental dan menegakkan disiplin sosial, negara itu 
dapat dikategorikan negara lembek (soft states) (Gunnar Myrdal, Asian Drama: An 
Inquiry Into The Poverty of Nations, 1972). Akibatnya, kemiskinan menjadi 
sarana belas kasihan tanpa belas kasihan. Contoh mutakhir, tewasnya beberapa 
orangtua papa saat antre dana kompensasi BBM (Kompas, 15/10).

Jika reformasi fundamental, seperti pemerataan dan kesejahteraan, menjadi 
tujuan setiap kebijakan ekonomi-politik, apakah tujuan itu tergantung pada 
harga BBM dunia? Tidak, karena saat harga BBM rendah atau di saat bonanza 
minyak 1970/80-an kebijakan ekonomi-politik Indonesia tetap tidak berpihak pada 
pemerataan dan kesejahteraan. Padahal pada 1970-an dan awal 1980-an pendapatan 
dari minyak dan gas naik 157 persen, dari 7,4 miliar dollar AS (1978/79) 
menjadi 19,0 miliar dollar AS (1981/ 1982). Sementara itu, pendapatan 
pemerintah dari pajak sektor minyak dan gas naik 271 persen dari Rp 2,309 
triliun (1978/79) menjadi Rp 8,575 triliun (1981/82). Ternyata perekonomian 
Indonesia saat itu hanya dinikmati sekitar 200 konglomerat (grup bisnis pribumi 
dan nonpribumi, Soeharto-keluarga, serta ABRI).

Rakyat jelata tetap bergelimpangan menunggu trickle-down effect yang tak pernah 
menetes hingga kini. Nasib mereka seperti ditulis Multatuli dalam Max Havelaar 
(1860).

Kajian sepanjang 29 tahun terakhir, apa pun nama pemerintahannya, hanya 
mengukuhkan kekayaan 20 persen the highest income. Karena itu, publik jangan 
berilusi dalam jangka panjang 40 persen the lowest income bakal menguasai 42,07 
persen pendapatan nasional 2004 yang dikuasai 20 persen the highest income. Di 
negara lembek bernama Indonesia, ratusan tahun pemerataan dan kesejahteraan 
hanya ilusi belaka!

Orang-orang malang harus belajar dari sejarah kesengsaraannya sendiri. Berjuang 
bukan sekadar membalik piramida penderitaan, tetapi untuk menulis sejarah 
kesejahteraannya sendiri. Jika tidak, bersama presiden bernama siapa pun, kita 
tetap dan bisa menderita!

M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan 
(Pedoman Indonesia)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: