[nasional_list] [ppiindia] Bantah Terima Dana Taktis---Hamid Akui Banyak Dapat Uang + Nazaruddin Akui Terima US$45 Ribu
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 28 Sep 2005 20:35:27 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/9/29/n5.htm
Bantah Terima Dana Taktis-- Hamid Akui Banyak Dapat Uang
Jakarta (Bali Post) -
Meski ngotot tidak menerima dana taktis, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum
(KPU) Hamid Awaluddin mengaku hanya menerima tunjangan, honor kelompok kerja,
tunjangan hari raya, serta uang perjalanan sebesar 3.500 dolar AS. Selain itu,
juga pernah menerima barang berupa ponsel Nokia Communicator 6600. Semua uang
dan barang itu diterimanya dari Karo Keuangan KPU Hamdani Amin.
''Saya juga tidak pernah menerima uang dalam bentuk dolar AS, selain untuk
kepentingan perjalanan ke luar negeri. Saya hanya menerima tunjangan Rp 10,6
juta, honor pokja dan THR Rp 2-3 juta pada 2003,'' kata Menkum dan HAM ini
dalam persidangan perkara korupsi KPU yang berlangsung di Pengadilan Tipikor,
Jakarta, Rabu (28/9) kemarin.
Hamid dihadirkan dalam sidang sebagai saksi atas permintaan JPU. Selain Hamid,
hampir seluruh anggota dan mantan anggota KPU didatangkan untuk dimintai
kesaksiannya. Mereka itu yakni Nazaruddin Syamsuddin, Ramlan Surbakti, Chusnul
Mariyah, Valina Singka Subekti, Rusadi Kantaprawira, Mulyana W Kusumah dan Anas
Urbaningrum. Hanya Daan Dimara yang tidak hadir karena berada di Papua.
Dalam kesempatan tersebut, hakim ketua Kresna Menon sempat menanyakan kepada
Hamid soal bukti tanda terima yang telah dihilangkan dengan tip-ex. Hamid
mengaku pada 6 Mei 2005 pukul 13.00 WIB didatangi dua pegawai KPU. Mereka
membawa selembar kertas dan menyatakan ada lembaran yang belum ditandatangani.
Dirinya langsung menandatanganinya. Tetapi kemudian ia menghapusnya. Alasannya,
tanda terima itu tertanggal 8 November 2004. Saat itu dirinya sudah tidak lagi
sebagai anggota KPU. ''Sejak Oktober 2004, saya mundur dari KPU karena sudah
menjadi anggota Kabinet Indonesia Bersatu yang dipercayakan menjabat Menkum dan
HAM,'' ujarnya.
Keterangan Hamid tersebut dibantah terdakwa Hamdani Amin. Dijelaskan, dirinya
menyerahkan uang kepada Hamid atas perintah Nazaruddin Syamsuddin. Jumlahnya
mencapai 110 ribu dolar AS. Penyerahannya dilakukan dalam lima tahap pada 2004.
Pada Januari 2004 diserahkan uang sebesar 15 ribu dolar AS, lalu pada April (30
ribu dolar AS), Juni (25 ribu dolar AS), Agustus (30 ribu dolar AS) dan
September (10 ribu dolar AS). ''Pak Hamid pernah terima dari saya 110 dolar AS
dalam lima tahap pada 2004. Sedangkan dana THR untuk 2003-2004 serta ponsel
Nokia, berasal dari rekanan KPU. Dana APBN tidak pernah menganggarkan untuk
membeli ponsel,'' kata Hamdani.
Berbeda dengan Hamid Awaluddin, dalam kesaksian sebelumnya Ketua KPU Nazaruddin
Syamsuddin mengaku telah menerima 45 ribu dolar AS dari dana rekanan KPU yang
dikelola dan dikumpulkan Hamdani Amin. Awalnya, ia tidak tahu asal uang itu.
Dipikirnya semacam bonus. Kemudian diketahui dana dari rekanan yang selanjutnya
disebut dana taktis. ''Uang 45 ribu dolar AS itu saya terima tiga tahap.
Penerimaan uang itu, tidak pernah menggunakan tanda terima. Kalau gaji yang
berasal dari APBN itu, selalu ada tanda terima dan ditandatangani,'' jelasnya.
Nazaruddin juga mengakui pernah mengajak istrinya ke luar negeri. Tetapi tidak
mengetahui asal dana untuk membiayai perjalanan istrinya itu. Mengenai
pengadaan asuransi bagi 5,7 juta petugas KPPS untuk Pilpres 2004 senilai Rp
14,8 milyar, ia memang yang menandatangani perjanjian itu dengan PT Asuransi
Umum Bumi Putra Muda (Bumida) 1967. Dalam kesaksian berikutnya, Nazaruddin
lebih banyak menyangkal keterangan Hamdani. Di antaranya soal dirinya terima
160 ribu dolar AS dalam enam tahap, mengenai rapat pleno pada November 2003
tentang peningkatan kesejahteraan pegawai KPU melalui pengelolaan dana rekanan
dan soal penyerahan dana rekanan 601.965 dolar AS yang berasal dari PT Kerta
Leces dan PT Pura.
Sementara Wakil Ketua KPU Ramlan Surbakti membantah menerima 55 ribu dolar AS.
Tetapi, ia mengakui pernah membahas pengumpulan dana rekanan di ruang Ketua
KPU. Gagasan yang berasal dari Nazaruddin ini dibahas pada pertemuan yang
berlangsung pada Oktober 2003. Selain Valina Singka, seluruh anggota KPU hadir
dalam kesempatan itu. (kmb3)
++++
MEDIA INDONESIA Kamis, 29 September 2005
Nazaruddin Akui Terima US$45 Ribu
JAKARTA (Media): Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin mengaku menerima uang sebesar
US$45 ribu dari dana rekanan KPU yang dikelola dan dikumpulkan Kepala Biro
Keuangan KPU Hamdani Amin.
Pengakuan itu disampaikan Nazaruddin, ketika menjadi saksi dalam persidangan
korupsi di KPU dengan terdakwa Hamdani Amin di Pengadilan Ad Hoc Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor), Graha Uppindo, Jakarta, kemarin.
Selain Nazaruddin, sidang yang dipimpin hakim Kresna Menon itu menghadirkan
juga Wakil Ketua Ramlan Surbakti, dan semua anggota KPU, kecuali Daan Dimara.
Mantan anggota KPU Hamid Awaluddin, yang kini menjabat Menteri Hukum dan HAM,
juga hadir.
Menjawab pertanyaan majelis hakim, Nazaruddin yang juga tengah menjadi terdakwa
dalam perkara yang sama menyatakan, awalnya dia tidak tahu dana yang
diterimanya itu berasal dari rekanan KPU.
''Saya kira itu semacam bonus, kemudian saya baru tahu dana tersebut bukan
berasal dari APBN, melainkan dari rekanan yang disebut sebagai dana taktis,''
ujarnya.
Mendengar jawaban itu, salah seorang anggota majelis hakim, Achmad Linon,
bertanya apakah penerimaan tersebut menggunakan tanda terima, Nazaruddin
menyatakan, ''Tidak.''
''Lalu, apakah saat menerima gaji yang berasal dari APBN, Saudara
menandatangani tanda terima?'' tanya Linon.
''Ya,'' jawab Nazaruddin singkat.
''Kalau begitu, apa artinya menurut Saudara? Kalau Saudara tidak tahu, saya
beri tahu sekarang bahwa itu bukan dana APBN. Begitu saja kok sulit,'' cetus
Linon.
Nazaruddin mengaku menerima dana US$45.000 secara bertahap, tiga kali.
Tahap pertama dan kedua, ia menerima US$15.000, tapi ia tidak bertanya asal
uang itu dan hanya menerima begitu saja dari Hamdani Amin. ''Pada penerimaan
ketiga, saya baru mikir dari mana asal uang itu. Kok, banyak amat,'' kata
Nazaruddin.
Meskipun kemudian ia mengetahui dana tersebut berasal dari rekanan, Nazaruddin
menyimpan dana itu di rumahnya dan baru dikembalikan ke Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) setelah penyidik mendatangi rumahnya.
Ketika diberi kesempatan menanggapi keterangan Nazaruddin, terdakwa Hamdani
Amin mengaku dari catatan miliknya, selama 2004 'Pak Ketua' menerima dana
sebesar US$160.000, yang ia serahkan dalam enam tahap.
Namun, Nazaruddin menyangkal hal tersebut dan tetap mengatakan hanya menerima
US$45.000.
Saling bantah
Sidang kemarin banyak diwarnai bantahan antara terdakwa dan para saksi tentang
aliran dana taktis yang dibagikan Hamdani Amin kepada para pimpinan dan anggota
KPU. Di antaranya, soal pengakuan Hamdani Amin bahwa dia lima kali
mendistribusikan dana taktis selama Januari, April, Juli, Agustus, dan
September 2004.
Nazaruddin, Ramlan Surbakti, Rusadi Kantraprawira, Hamid Awaluddin, Chusnul
Mar'iyah, Valina Singka Subekti, Anas Urbaningrum, dan Mulyana W Kusumah,
mengaku tidak tahu-menahu adanya dana taktis KPU, tapi mereka mengaku menerima
masing-masing satu unit telepon seluler dan tunjangan hari raya (THR).
Setelah tiap kesaksian, Hamdani Amin menegaskan bahwa dalam APBN, tidak ada
mata anggaran untuk pembelian telepon genggam dan THR, sehingga dana untuk dua
hal itu diambilkan dari dana taktis yang ia kelola. (CR-55/Ant/J-4)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Bantah Terima Dana Taktis---Hamid Akui Banyak Dapat Uang + Nazaruddin Akui Terima US$45 Ribu