[nasional_list] [ppiindia] Bangsa Pendek Ingatan Dan Logika Mandulnya
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 1 May 2006 00:50:44 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indomedia.com/bpost/052006/1/opini/opini1.htm
Bangsa Pendek Ingatan Dan Logika Mandulnya
Oleh: Syahrituah Siregar SE MA
Barangkali benar cap bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pendek ingatannya
sehingga susah belajar dari pengalaman. Cuma beberapa tahun lalu kita mendapat
pelajaran berharga, ke tika menyikapi krisis moneter. Saat itu, ibarat naik
kapal yang sedang terbakar, kita sibuk berdebat tentang apa yang harus
dilakukan. Akibat debat tak berkesudahan kapal pun terlanjur karam.
Begitu dahsyatnya krisis itu sehingga bersifat multidimensional. Melihat
berbagai fenomena seperti maraknya korupsi, kolusi, dan nephotisme (KKN) yang
menjadi musabab krisis didasari proses historis pembangunan yang melupakan
moral. Tampaknya saat itu semua pihak sepakat untuk kembali ke moral agama
sebagai prioritas acuan dalam mengatur kehidupan bernegara, agar tak lagi
terjerumus dalam persoalan selanjutnya.
Sekarang ada persoalan kritis dekadensi moral yang begitu parah. Mewabahnya
pornografi dan pornoaksi, data perkosaan dan aborsi yang membuat shock,
pergaulan bebas, perselingkuhan, perdagangan anak dan wanita untuk kepentingan
bisnis pelacuran dan perbudakan dan lain-lain jelas mengusik mata hati dan
pikiran orang normal.
Kini ada RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) diusulkan untuk merespon
persoalan. Tetapi RUU ini makin jauh dari implementasi, karena sibuk
diperdebatkan dengan berbagai alasan oleh segelintir kalangan. Semangat untuk
kembali ke moral agama pun dalam menghadapi persoalan ini, jauh panggang dari
api. Padahal jika betul menganggap hal itu sebagai persoalan kritis, harus
segera diatasi dengan baik, bukan sibuk berpolemik secara destruktif. Tapi hak
bersuara seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari proses kehidupan
demokratis yang patut dibanggakan.
Kalau mau keamerika-amerikaan atau kebarat-barat-an yang kebiasaan selalu
dianggap rujukan shahih, ada suatu pengalaman yang bisa dipetik. Sekitar 2000
atau 2001, di Amerika ada kebijakan baru semacam standardisasi sekolah
menengah. Kebijakan itu disahkan meski hanya melalui debat publik yang singkat.
Perdebatan lebih luas justru mengemuka setelah peraturan itu dikeluarkan.
Gara-gara RUU APP, bangsa Indonesia seakan terpecah dua. Namun benar kata AA
Gym, sesungguhnya ada the silent majority yang sikapnya kurang tercover oleh
media sehingga yang sebenarnya terjadi adalah segelintir kalangan melawan
sebagian besar komponen bangsa. Penentang RUU APP beralasan, ia dapat melanggar
HAM, hak perempuan, hak berkesenian, kemajemukan, dan berprasangka aparat akan
semena-mena menggunakannnya untuk menjerat orang secara hukum. Pendukung RUU
APP beralasan, agar segera ada aturan yang dapat mengatasi atau paling tidak
membatasi wabah pornografi dan pornoaksi.
Melalui liputan media, unsur masyarakat yang mendukung APP adalah ulama,
organisasi keagamaan dan mayoritas tokoh agama, guru yang merasakan beratnya
mendidik moral generasi muda, pemerhati masalah anak, aktivis mahasiswa,
cendikiawan, dan sebagainya. Sebaliknya, penentang RUU APP adalah PSK, waria,
artis yang aktivitasnya memang rentan pada aksi pornoisme, sebagian budayawan,
sebagian unsur organisasi keagamaan dan tokoh agama, dan lain-lain.
Meski yang diperdebatkan semata menyangkut materi RUU, namun dari argumen yang
dibangun terkandung pula adanya motivasi ideologis. Hal ini terbaca ketika
sebagian menuduh RUU ini mengusung nilai keagamaan dan menganggapnya sebagai
potensi bahaya dominasi nilai keagamaan ke atas ruang publik yang bersifat
majemuk. Ini merupakan inti faham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang
mengharamkan agama masuk dalam urusan kenegaraan dan publik lainnya. Terbukti
pula, walau penolakan mereka selalu mengatasnamakan alasan taktis dan teknis
namun mereka tidak pernah menawarkan solusi konstruktif untuk memperbaiki RUU
ini. Kecuali, karena tujuannya hanya untuk menolak nilai moral agama tersebut.
Terjadi banyak pergeseran pada cara pandang yang ada. Contohnya, seseorang yang
saat di Amerika menemui begitu bebas produk pornografi beredar di sana. Ia
berandai-andai, hal serupa juga terjadi di negeri ini karena tidak terjadi
permasalahan di sana. Sikap ini mungkin jauh dari perkiraan sebagian orang yang
jika juga menemukan hal serupa, akan berdoa: NaudzubiLlah min Dzalik, mudahan
hal serupa tidak terjadi di negeri ini.
Logika Mandul
Ada pendapat, tidak masalah walau pornoisme ada di mana-mana. Godaan moral dan
kesusilaan yang merajalela ini dapat diatasi melalui benteng iman dan moral
yang kuat, pondasinya dibangun di rumah tangga masing-masing. Tidak perlu ada
pengaturan kesusilaan dalam ruang publik termasuk pada berbagai media dan
tempat hiburan. Jika masyarakat tidak menginginkannya, mereka tidak akan
memilihnya dan produk pornoisme akan mati dengan sendirinya.
Ini merupakan suatu logika mandul yang biasanya berhias argumen canggih namun
tidak bermanfaat bagi kemajuan. Kalau ruang perlidungan dan pembinaan akhlak
hanya dibatasi pada wadah pribadi seperti rumah tangga, kenyataannya berapa
banyak keluarga utuh yang masih mampu melaksanakan fungsinya, apalagi secara
optimal?
Seorang ahli menulis, selera masyarakat dapat direndahkan atau ditinggikan
tergantung dari yang dilihat, disaksikan dan didengarnya secara konsisten.
Pendapat ini sangat logis dan juga berlaku bagi sikap moral manusia.
Berkait ranah psikologi, ada pendapat 'pornoisme merupakan masalah yang terkait
alam pikir semata'. Karenanya, bukan masalah apakah orang itu berpakaian atau
telanjang, semua tergantung kualitas alam pikiran orang yang melihatnya. Jika
pikirannya sudah 'kotor', orang berpakaian pun akan ditafsirkan
sensual/merangsang. Sebaliknya jika pikiran 'bersih', melihat orang telanjang
sekalipun tidak jadi masalah. Seperti fotografer ataupun pelukis model bugil.
Orang awam mungkin terperangah lalu mengiyakan pendapat ini. Tapi sesungguhnya
logika ini jelas mandul dan absurd. Kalau penganut ide ini mau jujur ia harus
mengungkapkan logikanya sampai tuntas sehingga orang faham maksudnya. Implikasi
lanjut logika ini adalah, tidak ada bedanya orang berpakaian ataupun tidak.
Dari aspek sosial dan budaya, sebagian orang menganggap RUU APP ini mengekang
kebebasan dalam berekspresi. Sebagian lain termasuk PSK dan waria menganggapnya
menghalangi hak asasi beraktivitas memenuhi hajat hidup. Dari segi budaya
menolak karena khawatir masyakat yang mandi di sungai, suku di Papua yang cuma
memakai koteka dan ibu yang meneteki di tempat umum menjadi korban RUU ini.
Sedangkan pembela perempuan, merasa adanya diskriminasi karena hanya tubuh
perempuan yang diatur. Terhadap keberatan ini, ketua tim pembahasan RUU APP di
DPR menyilakan mereka membaca lebih teliti.
Fokus perhatian mereka angkat tidak salah. Tapi maaf, dengan fakta yang
berkembang di kehidupan sekarang, pokok permasalahan yang sebenarnya terjadi
meleset dari urat kepekaaan mereka. Logika yang dibangun itu pun sangat mandul.
Dari aspek agama, sejumlah kecil tokoh Islam ikut menentang RUU ini dengan
alasan dapat mengganggu keharmonisan beragama karena menurutnya terlalu kental
nilai keislamannya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan betapa banyak uang, waktu, dan tenaga
tercurah hanya untuk hal yang tak berguna. Pantas saja bangsa kita tidak
produktif dan lambat maju karena banyak menyia-menyiakan waktu dan kesempatan,
hanya untuk membuat dan menikmati produk pornoisme. Rasanya tidak usah
ikut-ikutan memperjuangkan terbitnya majalah Playboy, karena di tengah
keterpurukan ini bukan itu yang kita butuhkan untuk bisa maju.
Gunung Merapi dan Papandaian mulai batuk. Bencana lain pun siap mengancam.
Desember 2003 lalu, kita masih ingat betul dahsyatnya tsunami menerjang Aceh
ketika Allah menghendakinya. Selayaknya kita takut pada (tanggung jawab
setelah) mati dan waspada penyebab penyimpangan, yakni setan, hawa nafsu dan
kesombongan.
* Pengamat sosial, tinggal di Banjarmasin
e-mail: syahri_siregar@xxxxxxxxx
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Bangsa Pendek Ingatan Dan Logika Mandulnya