[nasional_list] [ppiindia] Bangsa Pendek Ingatan Dan Logika Mandulnya

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.indomedia.com/bpost/052006/1/opini/opini1.htm

Bangsa Pendek Ingatan Dan Logika Mandulnya

Oleh: Syahrituah Siregar SE MA



Barangkali benar cap bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pendek ingatannya 
sehingga susah belajar dari pengalaman. Cuma beberapa tahun lalu kita mendapat 
pelajaran berharga, ke tika menyikapi krisis moneter. Saat itu, ibarat naik 
kapal yang sedang terbakar, kita sibuk berdebat tentang apa yang harus 
dilakukan. Akibat debat tak berkesudahan kapal pun terlanjur karam.

Begitu dahsyatnya krisis itu sehingga bersifat multidimensional. Melihat 
berbagai fenomena seperti maraknya korupsi, kolusi, dan nephotisme (KKN) yang 
menjadi musabab krisis didasari proses historis pembangunan yang melupakan 
moral. Tampaknya saat itu semua pihak sepakat untuk kembali ke moral agama 
sebagai prioritas acuan dalam mengatur kehidupan bernegara, agar tak lagi 
terjerumus dalam persoalan selanjutnya.

Sekarang ada persoalan kritis dekadensi moral yang begitu parah. Mewabahnya 
pornografi dan pornoaksi, data perkosaan dan aborsi yang membuat shock, 
pergaulan bebas, perselingkuhan, perdagangan anak dan wanita untuk kepentingan 
bisnis pelacuran dan perbudakan dan lain-lain jelas mengusik mata hati dan 
pikiran orang normal.

Kini ada RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) diusulkan untuk merespon 
persoalan. Tetapi RUU ini makin jauh dari implementasi, karena sibuk 
diperdebatkan dengan berbagai alasan oleh segelintir kalangan. Semangat untuk 
kembali ke moral agama pun dalam menghadapi persoalan ini, jauh panggang dari 
api. Padahal jika betul menganggap hal itu sebagai persoalan kritis, harus 
segera diatasi dengan baik, bukan sibuk berpolemik secara destruktif. Tapi hak 
bersuara seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari proses kehidupan 
demokratis yang patut dibanggakan.

Kalau mau keamerika-amerikaan atau kebarat-barat-an yang kebiasaan selalu 
dianggap rujukan shahih, ada suatu pengalaman yang bisa dipetik. Sekitar 2000 
atau 2001, di Amerika ada kebijakan baru semacam standardisasi sekolah 
menengah. Kebijakan itu disahkan meski hanya melalui debat publik yang singkat. 
Perdebatan lebih luas justru mengemuka setelah peraturan itu dikeluarkan.

Gara-gara RUU APP, bangsa Indonesia seakan terpecah dua. Namun benar kata AA 
Gym, sesungguhnya ada the silent majority yang sikapnya kurang tercover oleh 
media sehingga yang sebenarnya terjadi adalah segelintir kalangan melawan 
sebagian besar komponen bangsa. Penentang RUU APP beralasan, ia dapat melanggar 
HAM, hak perempuan, hak berkesenian, kemajemukan, dan berprasangka aparat akan 
semena-mena menggunakannnya untuk menjerat orang secara hukum. Pendukung RUU 
APP beralasan, agar segera ada aturan yang dapat mengatasi atau paling tidak 
membatasi wabah pornografi dan pornoaksi.

Melalui liputan media, unsur masyarakat yang mendukung APP adalah ulama, 
organisasi keagamaan dan mayoritas tokoh agama, guru yang merasakan beratnya 
mendidik moral generasi muda, pemerhati masalah anak, aktivis mahasiswa, 
cendikiawan, dan sebagainya. Sebaliknya, penentang RUU APP adalah PSK, waria, 
artis yang aktivitasnya memang rentan pada aksi pornoisme, sebagian budayawan, 
sebagian unsur organisasi keagamaan dan tokoh agama, dan lain-lain.

Meski yang diperdebatkan semata menyangkut materi RUU, namun dari argumen yang 
dibangun terkandung pula adanya motivasi ideologis. Hal ini terbaca ketika 
sebagian menuduh RUU ini mengusung nilai keagamaan dan menganggapnya sebagai 
potensi bahaya dominasi nilai keagamaan ke atas ruang publik yang bersifat 
majemuk. Ini merupakan inti faham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang 
mengharamkan agama masuk dalam urusan kenegaraan dan publik lainnya. Terbukti 
pula, walau penolakan mereka selalu mengatasnamakan alasan taktis dan teknis 
namun mereka tidak pernah menawarkan solusi konstruktif untuk memperbaiki RUU 
ini. Kecuali, karena tujuannya hanya untuk menolak nilai moral agama tersebut. 

Terjadi banyak pergeseran pada cara pandang yang ada. Contohnya, seseorang yang 
saat di Amerika menemui begitu bebas produk pornografi beredar di sana. Ia 
berandai-andai, hal serupa juga terjadi di negeri ini karena tidak terjadi 
permasalahan di sana. Sikap ini mungkin jauh dari perkiraan sebagian orang yang 
jika juga menemukan hal serupa, akan berdoa: NaudzubiLlah min Dzalik, mudahan 
hal serupa tidak terjadi di negeri ini.

Logika Mandul

Ada pendapat, tidak masalah walau pornoisme ada di mana-mana. Godaan moral dan 
kesusilaan yang merajalela ini dapat diatasi melalui benteng iman dan moral 
yang kuat, pondasinya dibangun di rumah tangga masing-masing. Tidak perlu ada 
pengaturan kesusilaan dalam ruang publik termasuk pada berbagai media dan 
tempat hiburan. Jika masyarakat tidak menginginkannya, mereka tidak akan 
memilihnya dan produk pornoisme akan mati dengan sendirinya.

Ini merupakan suatu logika mandul yang biasanya berhias argumen canggih namun 
tidak bermanfaat bagi kemajuan. Kalau ruang perlidungan dan pembinaan akhlak 
hanya dibatasi pada wadah pribadi seperti rumah tangga, kenyataannya berapa 
banyak keluarga utuh yang masih mampu melaksanakan fungsinya, apalagi secara 
optimal? 

Seorang ahli menulis, selera masyarakat dapat direndahkan atau ditinggikan 
tergantung dari yang dilihat, disaksikan dan didengarnya secara konsisten. 
Pendapat ini sangat logis dan juga berlaku bagi sikap moral manusia.

Berkait ranah psikologi, ada pendapat 'pornoisme merupakan masalah yang terkait 
alam pikir semata'. Karenanya, bukan masalah apakah orang itu berpakaian atau 
telanjang, semua tergantung kualitas alam pikiran orang yang melihatnya. Jika 
pikirannya sudah 'kotor', orang berpakaian pun akan ditafsirkan 
sensual/merangsang. Sebaliknya jika pikiran 'bersih', melihat orang telanjang 
sekalipun tidak jadi masalah. Seperti fotografer ataupun pelukis model bugil. 
Orang awam mungkin terperangah lalu mengiyakan pendapat ini. Tapi sesungguhnya 
logika ini jelas mandul dan absurd. Kalau penganut ide ini mau jujur ia harus 
mengungkapkan logikanya sampai tuntas sehingga orang faham maksudnya. Implikasi 
lanjut logika ini adalah, tidak ada bedanya orang berpakaian ataupun tidak.

Dari aspek sosial dan budaya, sebagian orang menganggap RUU APP ini mengekang 
kebebasan dalam berekspresi. Sebagian lain termasuk PSK dan waria menganggapnya 
menghalangi hak asasi beraktivitas memenuhi hajat hidup. Dari segi budaya 
menolak karena khawatir masyakat yang mandi di sungai, suku di Papua yang cuma 
memakai koteka dan ibu yang meneteki di tempat umum menjadi korban RUU ini. 
Sedangkan pembela perempuan, merasa adanya diskriminasi karena hanya tubuh 
perempuan yang diatur. Terhadap keberatan ini, ketua tim pembahasan RUU APP di 
DPR menyilakan mereka membaca lebih teliti.

Fokus perhatian mereka angkat tidak salah. Tapi maaf, dengan fakta yang 
berkembang di kehidupan sekarang, pokok permasalahan yang sebenarnya terjadi 
meleset dari urat kepekaaan mereka. Logika yang dibangun itu pun sangat mandul.

Dari aspek agama, sejumlah kecil tokoh Islam ikut menentang RUU ini dengan 
alasan dapat mengganggu keharmonisan beragama karena menurutnya terlalu kental 
nilai keislamannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan betapa banyak uang, waktu, dan tenaga 
tercurah hanya untuk hal yang tak berguna. Pantas saja bangsa kita tidak 
produktif dan lambat maju karena banyak menyia-menyiakan waktu dan kesempatan, 
hanya untuk membuat dan menikmati produk pornoisme. Rasanya tidak usah 
ikut-ikutan memperjuangkan terbitnya majalah Playboy, karena di tengah 
keterpurukan ini bukan itu yang kita butuhkan untuk bisa maju.

Gunung Merapi dan Papandaian mulai batuk. Bencana lain pun siap mengancam. 
Desember 2003 lalu, kita masih ingat betul dahsyatnya tsunami menerjang Aceh 
ketika Allah menghendakinya. Selayaknya kita takut pada (tanggung jawab 
setelah) mati dan waspada penyebab penyimpangan, yakni setan, hawa nafsu dan 
kesombongan.

* Pengamat sosial, tinggal di Banjarmasin
e-mail: syahri_siregar@xxxxxxxxx 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: