[nasional_list] [ppiindia] Bagaimana pendapat bung Nizami?--> "Fa-aina Tadzhabun" PKS?
- From: "RM Danardono HADINOTO" <rm_danardono@xxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 10 Mar 2006 22:24:02 -0000
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
> "Fa-aina Tadzhabun" PKS?
>Oleh Y. HERMAN IBRAHIM
>
> Demokrasi dianggap sebagai sistem yang terbaik dibandingkan
dengan berbagai sistem pemerintahan lain. Bahkan ada fatwa ulama
besar yang merestui kelompok Islam masuk ke dalam sistem tersebut.
Meski dengan embel-embel "darurat" masuknya Islam dalam sistem
demokrasi seakan- akan membenarkan sistem itu di atas sistem Islam
yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
>
> Konsep musyawarah lantas dijadikan rujukan bahwa ajaran demokrasi
>tidak bertentangan dengan Islam. Padahal ada tokoh ulama yang
menolak demokrasi, seperti Syaikh Abu Muhammad 'Ashim Al Maqdisiy,
Muhammad Abu Nashr yang mensinyalir paling tidak ada 13 hal
kesyirikan demokrasi.
>
> Salah satu ciri kemusyrikan demokrasi adalah seakan-akan rakyat
atau suara mayoritas mereka yang diwakili di parlemen memiliki hak
untuk menentukan hukum dan perundang-undangan di luar aturan hidup
dan hukum Allah yang ditetapkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
>
> Sangat penting untuk dikatakan bahwa keterlibatan Islam dalam
partai politik harus tetap memperjuangkan tegaknya syariat. Itulah
sebabnya banyak orang menaruh harapan besar tatkala kelompok tarbiyah
>(Ikhwanul Muslimin Indonesia) membentuk partai politik yang bernama
>Partai Keadilan. Harapan itu tidak mengada-ada karena obrolan
pertama penulis dengan Nur Mahmudi, Presiden PK yang pertama, tampak
sekali keinginan untuk menegakkan syariat Islam. Tema-tema kampanye
PK-pun mengangkat isu tathbiqussyariah dan keadilan dalam segala
aspek kehidupan.
>Disertai dengan komitmen yang kuat dari para pendukungnya kita
saksikan PK tampil di Pemilu 1999 dengan raihan suara yang cukup
banyak walaupun tidak mencapai electoral threshold.
>
> Pada Pemilu 2004, PK yang berganti nama menjadi Partai Keadilan
>Sejahtera (PKS) meraih 45 kursi di parlemen. Ini merupakan lonjakan
>yang sangat dahsyat karena pada Pemilu 1999 PK hanya mendapat tujuh
>kursi. Kemenangan PKS membangkitkan harapan bahwa gema tentang
>tegaknya syariat Islam melalui produk perundang-undangan akan
semakin menggaung. Tatkala terjadi perebutan posisi ketua MPR, DPR,
komisi-komisi dan lain-lain, PKS memperoleh posisi terhormat dengan
>terpilihnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR. Beberapa menit
>setelah pelantikan, tiba-tiba harapan dan cita-cita yang sudah lama
>terobsesi tentang tegaknya syariat Islam menjadi buyar tatkala
>Hidayat Nur Wahid secara eksplisit mengatakan tidak ada niat untuk
>menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.
>
> Tentu saja, penulis melakukan klarifikasi. Beberapa teman yang
>memiliki posisi penting di PKS pusat maupun daerah mengatakan bahwa
>apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid tidak bertentangan dengan misi
>partai. PKS tetap bercita-cita menegakkan syariat Islam dengan
>catatan partai ini harus meraih suara.
>
> Bagi PKS kemenangan pada pemilu dengan raihan suara terbanyak
adalah persyaratan utama karena dalam sistem demokrasi sebuah
kemenangan akan ditentukan oleh jumlah suara. Oleh karena itu
pernyataan Hidayat wajar dan taktis karena bukankah PKS belum
memperoleh kursi mayoritas di parlemen.
Suatu hal yang prematur jika Hidayat mengeluarkan pernyataan tentang
penegakan syariat Islam di saat partai ini tidak menjadi mayoritas.
Namun beberapa kelompok Islam ideologis menilai PKS telah keluar
dari janji dan tema-tema kampanyenya.
>
> Logika yang dibangun PKS tampaknya sangat rasional. Demokrasi
tanpa raihan suara terbanyak hanyalah sebuah kerja bakti. Dia tidak
>menentukan dan hanya menjadi kelompok pengekor dari sistem kekuasaan
>yang dibangun oleh partai mayoritas. Maka PKS harus menang pemilu
>terlebih dahulu, baru menjalankan cita-cita yang terkandung dalam
>AD/ART-nya. Inilah hal yang berbeda untuk tidak dikatakan
>bertentangan dengan kelompok Islam yang memilih berjuang di luar
>sistem. Tetapi logika demokrasi tampaknya akan tetap menjadi pilihan
>sebuah partai politik tidak terkecuali PKS.
>
> Pertanyaannya adalah apakah benar PKS akan memenangkan pemilu
2009? Apakah dengan demikian PKS akan menjadi kekuatan Islam dominan
>penentu tegaknya syariat Islam? Apakah PKS akan berhasil meraih
suara dari kalangan nasionalis yang saat ini berada dalam tubuh
Golkar dan PDIP? Bukankah jika ingin menjadi pemenang pemilu
haruslah menarik para pemilih yang selama ini berada di kelompok
mayoritas? Dan apakah PKS akan menjadi partai mayoritas tunggal?
Bukankah hanya partai mayoritas tunggal yang bisa menentukan arah
negeri ini mau dibawa seperti halnya Golkar di era Orba?
>
> Dalam pandangan penulis cita-cita PKS seperti itu hanyalah ilusi.
>Beberapa gejala menunjukkan bahwa PKS tidak pada posisi yang akan
>memenangkan Pemilu 2009 bahkan pemilu-pemilu selanjutnya, karena
>dalam beberapa segi PKS tidak menunjukkan karakter yang istimewa
>dibanding dengan partai-partai lainnya. Meskipun kader PKS relatif
>lebih bersih, itu tidak cukup untuk menjadikan PKS sebagai leading
>party. PKS sadar benar bahwa kekuasaan uang menjadi faktor yang
>menentukan kemenangan dalam demokrasi sekuler. PKS juga tahu bahwa
>uang itu menumpuk di birokrasi pemerintahan, maka sebagaimana
partai-partai lainnya PKS-pun terlibat secara intens dalam perebutan
>kekuasaan di pusat maupun di daerah. PKS melakukan tawar-menawar
>politik dengan penguasa dan seperti partai lainnya berupaya merebut
>jabatan gubernur, bupati dan walikota dalam setiap pilkada di
seluruh Indonesia.
> Pragmatisme PKS sangat tampak pada proses Pilpres. Konon beberapa
>kader PKS pada tingkat sekjen dan Dewan Syuro tanpa rasa sungkan dan
>risih menemui salah seorang calon presiden, dalam hal ini perlu
>tabayyun apakah mereka sengaja mendatangi atau diundang. Meski perlu
>pembuktian tetapi beberapa sumber menyebutkan telah terjadi
>kesepakatan dukung mendukung dengan calon presiden tersebut, dan
>kesepakatan itu berarti sebuah transaksi yang bermuara di angka.
>Tentu kelihatannya hal itu seperti sesuatu yang wajar, tetapi untuk
>sebuah partai yang berbasiskan Islam transaksi semacam itu -dalam
>pandangan penulis- tidaklah pantas untuk dilakukan. Fakta
selanjutnya menunjukkan bahwa walaupun konon pula PKS telah menerima
dana namun dukungannya ternyata dialihkan kepada calon presiden yang
lain.
>Dengan cara ini PKS telah melakukan tindakan wanprestasi politik
>kepada seseorang karena di satu sisi dia memperoleh sejumlah dana,
>tapi di sisi lain tidak ingin kehilangan citranya untuk tetap
>mendukung calon presiden dari kalangan Islam.
> Pada pilpres putaran kedua PKS tidak melakukan langkah netral,
>kendati calon yang didukungnya kalah dalam pemilu. Tidak seperti
>halnya PPP dan PAN yang membebaskan pilihan kepada konstituennya,
PKS melakukan kontrak politik dengan pasangan SBY-JK. Atas
dukungannya itulah maka PKS memperoleh posisi di kabinet dengan tiga
menteri,antara lain menteri pertanian, menteri Pemuda dan Olah raga
dan menteri Perumahan Rakyat. Gejala ini menunjukkan bahwa PKS
sebenarnya tidak berbeda dengan partai-partai lainnya.
> Di dalam proses pilkada, PKS melakukan gerakan all out untuk
>memperoleh kekuasaan di daerah. Tekanannya kepada SBY untuk
>memenangkan Nurmahmudi di tingkat MA sangat tampak. Meski tuntutan
>tersebut memperoleh dukungan masyarakat, tetapi erangan elite PKS
>sangat berlebihan di media masa. Ambisi seorang bekas menteri untuk
>tetap berkuasa kendatipun di tingkat kota, tampak sekali dalam
>perjuangan PKS yang sekarang ini tengah memperjuangkan calon-
calonnya untuk memenangkan pilkada di berbagai daerah. Yang
mengherankan adalah sebagaimana halnya partai-partai lain,
pragmatisme politik dipertontonkan oleh PKS secara telanjang. PKS
bersedia berkoalisi dengan partai manapun meskipun secara ideologis
sangat tidak kimiawi.
>
>Hal ini ditunjukkan tatkala PKS mendukung calon bupati Cianjur dan
>bersedia berkoalisi dengan partai Demokrat. Yang mengherankan,
>sebagai partai Islam PKS tidak mendukung konsep Gerbang Marhamah
yang dipandang sebagai upaya penegakan syariat Islam di kabupaten
tersebut.
>
> Fakta sejarah juga menampakkan bahwa apa yang diangan-angankan
oleh PKS untuk memperjuangkan Islam lewat demokrasi dan parlemen
adalah sebuah absurditas belaka. Demokrasi yang dibelakangnya
bersembunyi ideologi neoliberal sebenarnya tidak akan pernah
mengizinkan Islam untuk memenangkan pemilu di negeri mana pun. Pada
Pemilu 1955 di Indonesia sebuah penyusupan ke dalam tubuh Masyumi
telah membuat NU keluar dan Islam kalah oleh PNI. Di Aljazair,
partai Islam FIS memenangkan pemilu dengan raihan suara 83%, tetapi
dianulir oleh dan dikalahkan pada pemilu berikutnya atas pesanan
Amerika. Partai Islam Rafah pimpinan Necmetin Erbakan di Turki yang
memenangi pemilu, bahkan diintervensi langsung oleh CIA untuk
dibatalkan dan kemudian dibubarkan. Tidak ada sejarahnya Islam
> menang de1ngan mengikuti proses demokrasi.
>
> Koalisi, aliansi, kolaborasi atau apa pun namanya bentuk dari
>penggabungan Islam dengan non-Islam hasil akhirnya adalah
kemenangan bagi pihak non-Islam. Tengok saja sejarah gentleman
agreement di tubuh PPKI yang telah mensyahkan tujuh kata dalam
Mukadimah UUD 45 bisa hapus begitu saja tatkala kelompok minoritas
dari Indonesia Bagian Timur melakukan penolakan. Semua produk
perundang-undangan yang dihasilkan oleh sebuah parlemen yang
mayoritas beragama Islam pun bisa dipastikan tidak akan
>berwarna Islam karena alasan toleransi dan heterogenitas. Maka
gejala PKS yang bersedia berkolaborasi dengan partai mana pun tanpa
didasari ideologi Islam menunjukkan bahwa PKS telah menyimpang dari
cita-cita awalnya. Maka pertanyaan sesuai dengan judul tulisan ini
perlu diulang .... Mau ke mana PKS? Wallahu a'lam.
>
> Penulis, pengamat politik, purnawirawan TNI AD
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Bagaimana pendapat bung Nizami?--> "Fa-aina Tadzhabun" PKS?