[nasional_list] [ppiindia] Badai Kenaikan Harga BBM
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 28 Sep 2005 22:37:07 +0200
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/29/opini/2086864.htm
Badai Kenaikan Harga BBM
Oleh: Kurtubi
Menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak yang direncanakan 1 Oktober 2005,
badai yang menerpa negeri ini seolah kian kencang. Kelangkaan BBM yang sudah
dialami masyarakat sebelum rencana kenaikan daerah cakupannya kini justru kian
luas.
Beberapa bulan lalu, kelangkaan lebih disebabkan Pertamina selaku operator
tunggal pemenuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional mengalami masalah cash
flow. Akibatnya, Pertamina saat itu tak mampu mengimpor BBM dalam jumlah dan
waktu yang tepat. Kini, kelangkaan BBM disebabkan panic buying di tengah kian
maraknya penyelewengan BBM rakyat.
Sebelum panic buying muncul sebagai penyebab kelangkaan BBM, pemerintah/
Pertamina lebih dulu menaikkan harga BBM untuk industri, langsung disamakan
sesuai harga pasar, sementara BBM untuk rakyat tidak naik. Akibatnya,
disparitas harga menjadi semakin melebar.
Untuk keperluan industri-semua pihak memaklumi-sepatutnya tidak disubsidi.
Namun, penerapan strategi dan jadwal yang kurang cerdas dengan menaikkan harga
amat besar untuk konsumen tertentu (industri) justru akan memperparah
kelangkaan BBM untuk rakyat jika tidak dibarengi pengawasan lebih ketat.
Praktik diskriminasi harga dengan disparitas mencolok baru efektif jika semua
pihak bisa disiplin. Tetapi kita tahu, perilaku disiplin di negeri ini nyaris
langka.
Jika disparitas harga yang mencolok diciptakan melalui kebijakan diskriminasi
harga, konsekuensinya harus dibarengi dengan peningkatan pengawasan agar
pasokan BBM untuk rakyat tidak dibelokkan.
Kita tahu, kenaikan harga BBM yang besar untuk industri terjadi sejak 1 Juli
2005. Harga solar untuk industri dari Rp 2.200 per liter menjadi Rp 4.740 per
liter (naik 115 persen). Tanggal 1 Agustus 2005, kenaikan harga minyak tanah
untuk industri dari Rp 2.200/liter menjadi Rp 5.490/liter (naik 150 persen).
Sedangkan bensin untuk industri naik dari Rp 2.400/liter menjadi Rp 4.640/liter
(naik 93 persen).
Kini, dengan diumumkannya rencana kenaikan harga BBM sebagai bagian dari proses
transparansi kebijakan publik, maka permintaan BBM menjadi melonjak. Kalau
Pertamina tidak menambah jumlah pasokan, pasti kelangkaan BBM menjadi lebih
parah.
Boleh jadi Pertamina enggan menambah pasokan, bukan karena kuota yang
ditetapkan DPR, tetapi karena kesulitan mengimpor BBM dalam jumlah memadai.
Pasalnya, jumlah impor BBM saat ini sudah sekitar 50 persen dari kemampuan
produksi BBM dalam negeri.
Pengimpor terbesar
Kini Indonesia tidak hanya menjadi net oil importer untuk minyak mentah, tetapi
juga sudah mendapat predikat baru sebagai negara pengimpor BBM terbesar di
Asia. Ini amat memalukan sekaligus membahayakan ketahanan BBM nasional.
Negara-negara bukan penghasil minyak, seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan
lainnya sudah lama berswasembada BBM karena kapasitas kilang dalam negerinya
dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya. China dan India sebagai lokomotif baru
ekonomi di Asia juga sudah berswasembada BBM.
Mereka berprinsip, seluruh minyak mentah sebagai bahan baku BBM boleh diimpor
dari luar karena tanahnya tidak mengandung minyak. Tetapi untuk BBM yang
langsung dibutuhkan industri dan rakyat, mereka berprinsip tidak boleh
digantungkan ke pasar atau ke negara lain.
Status sebagai pengimpor BBM terbesar di Asia akan terus berlanjut sampai
Indonesia mampu membangun kilang baru guna memenuhi seluruh BBM dalam negeri.
Kini kekurangan kapasitas kilang Indonesia sekitar 400.000 barrel per hari.
Bagi Indonesia, amat mendesak untuk segera membangun kilang baru. Untuk
membangun sebuah kilang dengan kapasitas 200.000 barrel per hari dibutuhkan
waktu paling cepat sekitar tiga tahun.
Jika Indonesia tidak segera membangun kilang, jumlah impor BBM akan terus
membengkak. Tahun 2010 impor BBM mencapai sekitar 60 persen dan tahun 2015 akan
menjadi sekitar 70 persen. Jumlah ini amat membahayakan bagi ketahanan nasional
karena sewaktu-waktu rakyat bisa parah kekurangan BBM yang dapat menghancurkan
ekonomi nasional dan memunculkan kerawanan sosial.
Harga minyak dunia pun kini amat mahal dan cenderung terus naik. Kenaikan
mencolok harga minyak terutama terjadi sejak tahun 2003, karena laju
pertumbuhan permintaan minyak dunia melampaui laju pertumbuhan pasok. Pada
tahun 2003 rata-rata harga sekitar 31 dollar AS per barrel, naik menjadi
sekitar 42 dollar AS per barrel tahun 2004.
Memasuki tahun 2005, permintaan minyak amat tinggi. Padahal, semua negara
penghasil minyak non-OPEC sudah berproduksi pada kapasitas penuh, begitu pula
seluruh negara OPEC, kecuali Arab Saudi yang mempunyai sedikit kapasitas lebih
(spare capacity). Namun, Indonesia dan Venezuela tidak mampu memenuhi kuotanya.
Akibatnya, sepanjang tahun 2005 harga terus merayap naik dari sekitar 45 dollar
AS per barrel pada awal tahun menjadi sekitar 64 dollar AS per barrel. Bahkan,
pada awal Agustus 2005, harga itu sempat menembus 70 dollar AS per barrel. Jika
tambahan produksi minyak dunia tidak mampu melampaui tambahan permintaan maka
pasca-2008 boleh jadi harga minyak dunia dapat menembus 100 dollar AS per
barrel.
Untuk jangka panjang, Indonesia harus siap mengimpor BBM dan minyak mentah
dalam jumlah terus meningkat dan harga amat mahal. Soalnya, hampir mustahil
mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM nasional hanya dari perut bumi Nusantara.
Jumlah cadangan dan produksi minyak mentah nasional amat tidak memadai untuk
mempertahankan kebijakan harga BBM yang murah.
Tergantung impor
Saat ini jumlah cadangan terbukti dan potensial minyak mentah hanya sekitar 10
miliar barrel dan jumlah produksi per hari sekitar 1,1 juta barrel. Jika dibagi
dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, jumlah cadangan minyak mentah di perut
bumi hanya sekitar 50 barrel per penduduk.
Sedangkan jumlah produksi minyak mentah saat ini hanya 0,0055
barrel/hari/kapita atau sekitar 0,8745 liter/hari/kapita. Dari jumlah produksi
minyak mentah ini pun, yang menjadi milik RI hanya 0,5247 liter/hari/kapita.
Jika minyak mentah ini dijadikan BBM, akan menghasilkan sekitar 0,45 liter
BBM/hari/kapita.
Tentu saja jumlah BBM yang dihasilkan dari minyak mentah sendiri amat tidak
mencukupi untuk seluruh rakyat. Kini, kebutuhan BBM sekitar 60 juta kiloliter.
Dalam satu hari, kebutuhan BBM nasional menjadi sekitar 0,8 liter/hari/kepala.
Dengan demikian, kondisi nyata perminyakan nasional saat ini amat tidak
mendukung bagi dipertahankannya kebijakan harga BBM murah. Karena, selain
kapasitas kilang dalam negeri amat jauh di bawah kebutuhan BBM nasional,
ternyata jumlah cadangan dan produksi minyak mentah (bahan baku BBM) dari perut
bumi Nusantara ini juga relatif kecil.
Jika kebijakan harga BBM murah tetap dipertahankan, dalam jangka panjang justru
dapat menjerumuskan bangsa ini ke perangkap kemiskinan dan menjadi
bulan-bulanan bangsa lain. Pasalnya, ketergantungan pada minyak impor yang akan
terus meningkat dan harus dibayar mahal, penyelundupan dan pengoplosan BBM
terus marak tanpa mampu diberantas, sementara sumber energi alternatif tidak
bisa berkembang. Selain negara kehilangan kemampuan membangun infrastruktur
yang dibutuhkan rakyat, negara juga kehilangan kemampuan melakukan investasi
pendidikan dan kesehatan secara memadai dan lebih baik bagi generasi mendatang.
Semua ini, sebagian besar terjadi karena harga jual BBM amat murah.
Selain Indonesia, di dunia ini hanya ada beberapa negara yang menerapkan
kebijakan subsidi dengan menjual BBM di bawah harga ke-ekonomi-annya.
Negara-negara itu antara lain Venezuela, Iran, Irak, Libya, dan Brunei
Darussalam. Negara-negara ini memang kaya minyak. Cadangan minyak mentahnya pun
amat besar bila dibanding jumlah penduduk, 3.300-5.200 barrel per kapita.
Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mempunyai cadangan (terbukti dan
potensial) minyak mentah sekitar 50 barrel per kapita.
Sudah saatnya kita melihat masalah kenaikan harga BBM secara lebih jernih guna
kepentingan masa depan bangsa. Masalah kenaikan harga BBM adalah masalah kita
semua, dan pernah dilakukan oleh semua presiden mulai dari Presiden Soekarno,
Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Yudhoyono.
Kurtubi Pengamat Perminyakan; Direktur Center for Petroleum and Energy
Economics Studies (CPEES)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Badai Kenaikan Harga BBM