[nasional_list] [ppiindia] Asal Usul Nama Daerah....

Asal Usul Nama Daerah....    

Sep 14, '08 3:31 AM
for everyone

Ancol
Kawasan ancol terletak disebelah timur Kota Tua Jakarta, sampai batas kompleks 
Pelabuhan Samudera Tanjungpriuk. Dewasa ini kawasan tersebut dijakdikan sebuah 
Kelurahan dengan nama yang sama, termasuk wilayah kecamatan Pademangan, 
Kotamadya Jakarta Utara.

Ancol mengandung arti “tanah mendidih berpaya – paya” Dahulu, bila laut sedang 
pasang air payau kali Ancol berbalik kedarat menggenangi tanah sekitarnya 
sehingga terasa asin. Wajarlah bila orang – orang Belanda zaman VOC menyebut 
kawasan tersebut sebagai Zoutelande. “tanah asin” sebutan yang juga diberikan 
untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada tahun 1656(De Haan 1935:103 – 
104).

Untuk menghubungkan Kota Batavia yang pada zaman itu berbenteng dengan kubu 
tersebut, sebelumnya telah dibuat terusan, yaitu Terusan Ancol, yang sampai 
sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar 
dengan terusan.

Pembuatan terusan, jalan dan kubu pertahanan di situ, karena dianggap srtategis 
dalam dalam rangka pertahanan kota Batavia. Sifat strategis kawasan Ancol 
rupanya sudah dirasakan pada masa agama Islam mulai tersebar didaerah pesisir 
Kerajaan Sunda. Dalam Koropak 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut – sebut 
sebagai salah satu medan perang disamping Kalapa Tanjung Wahanten (Banten) dan 
tempat – tempat lainnya pada masa pemerintahan Surawisesa (1521 – 1535).

Angke
Merupakan sebutan sebuah kampung yang terkenal dengan mesjid tua yang bernama 
Mesjid Al – Anwar, yang dibangun sekitar tahun 1714. Sekarang kampung Angke, 
Kecamatan Tambora Jakarta Barat.

Asal – usul kata angke berasal dari bahasa Cina dengan dua suku kata, yaitu ang 
yang artinya darah dan Ke yang artinya bangkai. Kampung ini dinamakan Angke 
karena adanya peristiwa sejarah yang sangat berhubungan dengan sejarah kota 
Batavia. Pada tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang – orang Cina di 
Batavia, ribuan orang Cina dibantai oleh Belanda.

Mayat orang – orang Cina yang bergelimpangan dibawa dan dihanyutkan ke kali 
yang ada didekat peristiwa tersebut, sehingga kampung dan kali yang penuh 
dengan mayat itu diganti penduduk dengan nama Kali Angke dan kampung Angke. 
Sebelum peristiwa itu terjadi, kampung itu namanya adalah kampung Bebek, hal 
ini karena orang Cina yang tinggal dikampung itu banyak yang berternak bebek.

Lokasi kampung bebek sangat strategis untuk memelihara bebek karena dekat 
dengan sungai.


Batu Ampar
Batu Ampar yang merupakan bagian dari kawasan Condet, bahkan biasa disebut 
Condet Batuampar, dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Batuampar, 
Kecamatan Keramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Wilayah kelurahan Batuampar di 
sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kelurahan Balekambang, (lengkapnya 
Condet Balekambang), yang dalam sejarahnya berkaitan satu sama lain.

Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut sebagaimana diceritakan oleh 
orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul 
Condet, sebagai berikut.

Pada jaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai 
Polong, memeliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi 
nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar 
oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur 
Condet, untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.

Supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang – senang di atas 
empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. 
Permintaan itu disanggupi dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya 
sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, 
sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat 
kediaman keluarga Pangeran Tenggara .

Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu 
selanjutnya disebut Batuampar, dan bale (Balai) peristirahatan yang seolah – 
olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat . Balekambang.

Pada awal abad keduapuluh di Batuampar terdapat perguruan silat yang dipimpin 
antara lain oleh Maliki dan Modin (Pusponegoro, 1984, IV:295). Pada tahun 1986, 
seorang guru silat di Batuampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga 
pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun. Tidak 
mustahil, kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar 
di mancanegara itu, adalah kemahiran turun – temurun.


Bidaracina
Bidaracina dewasa ini menjadi nama sebuah kelurahan, kelurahan Bidaracina, 
Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Menurut beberapa informasi, kawasan tersebut dikenal dengan nama Bidaracina, 
karena pada waktu terjadi pemberontakan orang – orang Cina di Batavia dan 
sekitarnya terhadap Kompeni pada tahun 1740, ribuan dari mereka terbunuh mati, 
bermandi darah. Di antaranya di tempat yang kemudian disebut Bidaracina itu.

Informasi tersebut tidak mustahil mengandung kebenaran walaupun mengundang 
beberapa pertanyaan, kenapa hanya dikawasan itu yang disebut Bidaracina, karena 
banyak orang Cina mati bermandikan darah?. Padahal peristiwa pembunuhan itu 
konon terjadi di pelosok Kota Batavia dan sekitarnya. Kenapa tidak di sebut 
Cina berdarah, sesuai dengan kaidah bahasa Melayu, yang kemudian berubah 
menjadi cinabedara, selanjutnya menjadi cinabidara?

Perkiraan lainnya, asal nama kawasan tersebut dari bidara yang ditanam oleh 
orang Cina di situ. Bidara, atau bahasa ilmiahnya Zizyphus jujube Lam, famili 
Rhanneae, adalah pohon yang kayunya cukup baik untuk bahan bangunan,. Akar dan 
kulitnya yang rasanya pahit, mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, 
termasuk sesak nafas. Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah. Buahnya 
dapat dimakan (Fillet 1888:52)

Ada kaitannya dengan perkiraan tersebut, yaitu keterangan tentang adanya 
seorang Cina yang mengikat kontrak yang aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth 
tertanggal 9 Oktober 1684, untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk 
dengan pohon buah – buahan, termasuk pohon Bidara (De Haan 1911, (11):613). 
Walaupun di luar kontrak tersebut, mungkin saja seorang Cina menanam bidara di 
tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidaracina itu.


Cawang
Kawasan Cawang dewasa ini menjadi sebuah kelurahan Kelurahan Cawang, Kecamatan 
Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi 
kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya, bernama 
Enci Awang.(Awang, mungkin panggilan dari Anwar). Lama – kelamaan sebutan Enci 
Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan 
Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal 
dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.

Kurang jelas, apakah sebagian atau seluruhnya, pada tahun 1759 Cawang sudah 
menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah – tanah miliknya yang lain 
seperti Tanjungtimur atau Groeneveld, Cikeas, Pondokterong, Tanjungpriuk dan 
Cililitan (De Haan, 1910:50).

Pada awal abad ke-20 Cawang pernah menjadi buah bibir, karena disana bermukim 
seorang pesilat beraliran kebatinan, bernama Sairin, alias Bapak Cungok. Sairin 
dituduh oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang 
pada tahun 1924. Di samping itu. Ia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan 
Entong Gendut, di Condet tahun 1916. Condet pada waktu itu termasuk bagian 
tanah partikelir Tanjung Oost (Poesponegoro 1984, (IV):299 – 300).

Cijantung
Dewasa ini Cijantung menjadi nama sebuah kelurahan, Kelurahan Cijantung, 
wilayah Kecamatan Pasarrebo, Kotamadya Jakarta Timur.

Namanya berasal dari nama sebuah anak sungai CiLiwung, yang berhulu di Areman, 
dekat Kelapadua sekarang.

Pada pertengahan abad ketujuh belas kawasan itu sudah berpenghuni, sebagaimana 
dilaporkan oleh Kapten Frederick H. Muller, yang memimpin ekspedisi pasukan 
Kompeni pertama yang menjelajahi daerah sebelah selatan Meestercornelis, yang 
hutannya sudah dibuka setahun sebelumnya oleh Cornelis Senen. Ekspedisi Muller 
tersebut dilakukan karena terdorong oleh adanya berita – berita tentang adanya 
gerombolan oarng- orang Mataram di daerah pedalaman, serta adanya jalan darat 
yang biasa digunakan oleh orang – orang Banten ke Priangan, melalui Muaraberes, 
di tepi sungai Ci Liwung.

Perjalanan Kapten Muller dari kastil Batavia ke Cijantung, dimulai tanggal 4 
Nopember 1657, bersama pasukannya yang terdiri atas 14 orang serdadu kulit 
putih dan 15 orang Mardijker, dipandu oleh 10 orang pribumi. Setelah berjalan 
selama tiga hari dengan susah payah merambah hutan, menyusuri tepi Sungai Ci 
Liwung, barulah mereka sampai di Cijantung yang di huni oleh 12 umpi di bawah 
pemimpinnya bernama Prajawangsa (De Haan 1911, (II):24).

Mungkin sulit untuk dibayangkan, betapa lebatnya hutan antara Jatinegara sampai 
Cijantung pada tahun 1657 itu, dibandingkan dengan keadaan dewasa ini.

Cililitan
Kawasan Cililitan dahulu terbentang dari sungai Ci Liwung di sebelah barat, 
sampai sungai Ci Pinang di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan 
kawasan Kampung Makasar dan Condet. Di sebelah utara berbatasan dengan kawasan 
Cawang . Bagian sebelah barat Jalan Dewi Sartika sekarang sebatas simpangan 
Jalan Kalibata, biasa disebut Cililitan Kecil, sedangkan yang terletak 
disebelah timur Jalan Raya Bogor, dikenal dengan nama Cililitan Besar. Dewasa 
ini nama Cililitan dijadikan nama kelurahan, Kelurahan Cililitan, Kecamatan 
Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Cililitan diambil dari nama salah satu anak sungai Ci Cipinang. Dewasa ini 
anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekas – bekasnya. Kata ci, adalah 
bahasa Sunda, mengandung arti “air sungai” Lilitan lengkapnya lilitan – kutu, 
adalah nama semacam perdu yang bahasa ilmiahnya Pipturus velutinus Wedd., 
termasuk famili Urticeae (Fillet 1888:201).

Pada pertengahan abad ke- 17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah 
partikelir Tandjoeng Oost, ketika masih dimiliki oleh Pieter van der Velde (De 
Haan 1910:50). Kemudian beberapa kali berpindah pindah tangan. Sampai diganti 
namanya menjadi lapangan Udara Halim Perdanakusumah. Lapangan udara tersebut 
biasa disebut Lapangan Udara (vliegeld, kata orang Belanda) Cililitan.

Cilincing
Kawasan Cilincing terletak di sebelah timur Pelabuhan Samudera Tanjungpriuk, 
dewasa ini menjadi sebuah kecamatan, Kecamatan Cilincing, termasuk wilayah 
Kotamadya Jakarta Utara.

Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan 
keutara, membelah kawasan tersebut. Cilincing mungkin lengkapnya berasal dari 
Ci Calincing. Kata Ci, adalah bahasa sunda , yang artinya sungai, seperti Ci 
Tarum, Ci Liwung, dan Ci Manuk.Cilincing adalah nama jenis pohon, sama dengan 
belimbing wuluh, averhrhoa Carambola L. Termasuk famili Oxalideae (Fillet 1883 
:292).

Walaupun letaknya cukup jauh untuk ukuran tiga abad yang lalu, ternyata disana 
terdapat dua villa, tempat peristirahatan .Yang pertama adalah landhuis 
Cilincing yang dibangun oleh Justinus Vinck pada tahun 1740 dan sampai sekarang 
masih dapat dilihat, walaupun keadaannya tidak begitu menggembirakan. Dewasa 
ini bangunan tersebut dihuni beberapa pensiunan anggota kepolisian, dan dikenal 
dengan sebutan Rumah Veteran. Yang kedua adalah landhuis Vredestein yang 
dibangun oleh mantan Gubernur Pantai Utara Jawa, Nicolaas Hartingh, pada tahun 
1750. Landhuis yang kedua itu sekarang sudah tidak ada bekas – bekasnya.

Dalam sejarah Jakarta, Cilincing memegang peranan cukup penting, karena 
disanalah pada tanggal 4 Agustus 1811 pasukan balatentara Inggris yang 
jumlahnya hamper 12.000 orang, mendarat tanpa mendapat perlawanan dari pihak 
Belanda, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Perancis (J.R. van Diesen 
1889:303).

Condet
Kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Batuampar, Kampung 
Tengah (dahulu disebut Kampung Gedong), dan Balekambang termasuk wilayah 
Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. 
Ondet, atau ondeh, atau ondeh – ondeh, adalah nama pohon yang nama ilmiahnya 
Antidesma diandrum Sprg.,termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888:128), 
semacam pohon buni, yang buahnya biasa dimakan.
Data tertulis pertama yang menyinggung – nyinggung Condet adalah catatan 
perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjadi Direktur Jenderal VOC di 
Batavia ( sebelum menjadi Gubernur Jendral ). Dalam catatan tersebut, pada 
tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui 
anak sungai Ci Ondet “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, 
Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet”,..(De Haan 1911: 320).

Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya (tentang tokoh 
ini dapat dilihat dalam tulisan ini pada entri: Kebantenan), yang dibuat 
sebelum berangkat ke pembuangan di Nagapatman, disahkan oleh Notaris Reguleth 
tertanggal 25 April 1716. Dalam surat wasiat itu antara lain tertulis, bahwa 
Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet 
kepada anak – anak dan istrinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920:250).

Keterangan ketiga adalah Resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 
1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen 
(52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada frederik willem Freijer. Kemudian 
kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tandjoeng, Oost, atau 
Groeneveld (De Haan 1910:51).


Gambir
Sekarang kampung Gambir tinggal kenangan saja, yang tersisa adalah nama 
Kelurahan Gambir dan nama Stasiun Gambir yang masih tertinggal pada salah satu 
stasiun yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Wilayah yang termasuk pada kawasan 
Gambir batas – batasnya adalah: diutara jalan Veteran, di Selatan jalan Kebon 
Sirih, di Barat jalan Mojopahit dan di Timur kali Ciliwung. Kata Gambir sudah 
dikenal sejak nama, sejak kawasan ini mulai mengacu pada sebutan masyarakat 
lokal yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh dikawasan ini.

Sebelum dikembangkan oleh Daendles sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda di 
daerah baru yang disebutnya Weltevreden, sejarah kawasan ini telah dimulai 
sejak tahun 1658 masih berupa daerah rawa – rawa dan padang ilalang. Oleh 
pemiliknya yang bernama Anthony Paviljoen daerah ini telah mulai disewakan 
kepada masyarakat Cina untuk digarap sebagai lahan pertanian tebu, pertanian 
sayur – sayuran dan sawah. Setelah makin berkembang didaerah ini timbul pasar 
yang berlanjut terus sebagai pasar tempat memeperingati hari lahir ratu Belanda 
yang di adakan pasar malam setiap tahun. Pasar yang tumbuh dan berkembang terus 
itu disebut pasar Gambir.

Setelah Daendels berkuasa dan memindahkan pusat pemerintahan dari Kota ke 
Weltevreden yang dalam bahasa Belanda berarti tempat yang paling ideal sebagai 
lokasi pemukiman (tempat yang nyaman), maka Belanda mulai membangun berbagai 
macam sarana prasarana perkotaan di daerah baru ini. Salah satu sarana 
perkotaan yang terkenal pada waktu itu adalah lapangan koningsplein yang 
disebut juga oleh masyarakat lokal dengan nama lapangan Ikada (Ikatan Atletik 
Djakarta). Lapangan ini mengingatkan kita pada peristiwa rapat raksasa rakyat 
Jakarta yang terjadi dilapangan IKADA ini. Pada masa lalu, dilapangan ini 
terdapat perkumpulan olah raga dan yang paling terkenal adalah Bataviaasche 
Sport Club (BSC) dan Batavia Buitenzorg Wedloop Societet (BBWS). BSC adalah 
perkumpulan olahraga biasa dan BBWS adalah perkumpulan olah raga berkuda.

Setelah pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai pada tahun 1962, Lapangan 
Gambir dan perumahan Departemen Pekerjaan Umum (DPU), serta perumahan Djawatan 
Kereta Api (DKA) ikut tergusur untuk ikut tergusur juga dan nama pasar tersebut 
diabadikan pada lokasi Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran. Yang tersisa dari 
kata Gambir untuk masa sekarang adalah nama stasiun Gambir dan nama Kelurahan 
Gambir.

Glodok
Glogok dewasa ini dijadikan nama sebuah kelurahan di wilayah kecamatan 
Tamansari, Kotamadya Jakarta Barat.

Mengenai asal – usul nama kawasan itu terdapat beberapa pendapat. Ada yang 
mengatakan berasal dari kata grojok, onomatopi suara kucuran air dari pancuran. 
Memang cukup masuk akal, karena di sana jaman dulu terdapat semacam waduk 
penampungan air dari kali Ciliwung, yang dikucurkan dengan pancuran terbuat 
dari kayu dari ketinggian kurang lebih 10 kaki. Kata grojok diucapkan oleh 
orang – orang. Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu jaman dulu 
berubah menjadi Glodok sesuai dengan lidahnya.

Keterangan lainnya menyebutkan, bahwa kata glodok diambil dari sebutan terhadap 
jembatan yang melintas Kali Besar (Ciliwung) di kawasan itu, yaitu jembatan 
Glodok. Disebut demikian karena dahulu di ujungnya terdapat tangga – tangga 
menempel pada tepi kali, yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh 
penduduk di sekitarnya. Dalam bahasa Sunda, tangga semacam itu disebut glodok, 
sama seperti sebutan bagi tangga rumah.

Mandi di kali pada jaman dulu, bukan hanya kebiasaan orang bumiputra saja 
melainkan menjadi kebiasaan umumnya penduduk, termasuk orang – orang Belanda 
yang berkedudukan tinggi sekalipun ( De Haan, 1935: 193 dan 294).

Gondangdia
Merupakan nama kampung yang sekarang berada ditengah pemukiman elit Menteng 
Jakarta Pusat. Nama Gondangdia cukup dikenal dikalangan masyarakat awam di 
Jakarta karena sering disebut dalam lagu Betawi, Cikini sigondang dia, saya 
disini karena dia. Batas – batas wilayah Gondangdia adalah:
- Sebelah Utara jalan K.H. Wahid Hasyim
- Sebelah Selatan Jalan Sutan Syahrir
- Sebelah Barat kali Cideng
- Sebelah Timur jalan Rel Kereta Api.

Asal usul nama kampung Gondangdia ternyata ada beberapa versi, diantaranya 
adalah:
1. Nama Gondangdia berasal dari nama pohon Gondang (sejenis pohon beringin) 
yang tumbuh pada tanah basah atau berair. Kemungkinan pada masa lalu ada pohon 
Gondang yang tumbuh di daerah ini.

2. Nama Gondangdia berasal dari nama binatang air sejenis keong Gondang. Yang 
artinya keong besar. Kemungkinan pada masa lalu didaerah ini banyak terdapat 
keong besar, sehingga masyarakat menyebut tempat ini dengan menyebut nama keong.

3. Nama Gondangdia berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani 
oleh masyarakat sekitar kampung. Kakek ini mempunyai nama kondang dan sering 
juga dipanggil Kyai kondang Karena terkenal dikalangan masyarakat kampung, nama 
kakek kondang sering disebut – sebut dan masyarakat sering mengaitkan nama 
tempat itu dengan nama kakek, maka disebut dengan gondangdia (kakek dia yang 
tersohor).


Hek
Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor 
Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia 
Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.

Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa 
Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata hek berarti pagar. Tetapi 
menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 
1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar (“..raam-of traliewerk…”). 
Dari seorang penduduk setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, 
bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, 
ujung – ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar – besar, bercat hitam. 
Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk kompleks peternakan sapi, yang 
sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini 
menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Keramatjati. 
Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan 
penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau 
peternakan.

Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir 
Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil 
peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang – orang Belanda di 
Batavia.

Kampung Jembatan Lima
Kampung Jembatan Lima merupakan nama kampung yang sekaligus nama kelurahan yang 
ada di wilayah Jakarta Barat. Asal – usul nama kampung Jembatan Lima berasal 
dari adanya lima jembatan yang ada di daerah tersebut, jembatan itu adalah:
• Jembatan yang ada di Jalan Petak Serani (Jl. Hasyim Ashari)
• Jembatan yang ada di dekat bioskop Deni (Jembatan Kedung)
• Jembatan yang ada di Kampung Mesjid ( Jl. Sawah Lio2)
• Jembatan yang ada di Kampung Sawah, gang Guru Mansur (Sawah Lio 1)

Kelima jembatan itu sekarang sudah tidak ada, begitu juga dengan sungainya 
sudah tidak ada, karena sudah ditutup (diuruk).


Kampung Makasar
Kawasan yang dahulu termasuk Kampung Makasar dewasa ini meliputi wilayah 
kelurahan Makasar dan sebagian dari wilayah Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan 
Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Disebut Kampung Makasar, karena sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman 
orang – orang Makasar, di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara (De Haan 1935:373).

Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah Kerajaan 
Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni yang sepenuhnya dibantu 
oleh Kerajaan Bone dan Soppeng (Colenbrander 1925, (II):168: Poesponegoro 1984, 
(IV):208). Pada awalnya mereka di Batavia diperlukan sebagai budak, kemudian 
dijadikan pasukan bantuan, dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang 
dilakukan oleh Kompeni. Pada tahun 1673 mereka ditempatkan di sebelah utara 
Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru (De Haan 
1935:373).
Mungkin merasa bukan bidangnya, tanah di Kampung Makasar yang diperuntukan bagi 
mereka itu tidak mereka garap sendiri melainkan di sewakan kepada pihak ketiga, 
akhirnya jatuh ketangan Frederik Willem Preyer (De Haan 1935:373; 1910:57).

Salah seorang putrid Daeng Matara menjadi istri Pangeran Purbaya dari Banten 
yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet, yang terletak disebelah 
barat Kampung Makasar (De Haan 1910:253).

Perlu dikemukakan, bahwa pada tahun 1810 pasukan orang – orang Makasar oleh 
Daendles secara administrative digabungkan dengan pasukan orang – orang Bugis 
(De Haan 1925:373).

Pada awal abad keduapuluhan, menjadi milik keluarga Rollinson (Poesponegoro 
1986, (IV):295), “… tanggal 5 April (1916, pen.), yaitu ketika Entong Gendut 
memimpin gerombolan orang – orang berkerumun di depan Villa Nova, rumah Lady 
Rollinson, pemilik tanah partikelir Cililitan Besar”


Kampung Melayu
Kawasan Kampung Melayu merupakan wilayah Kelurahan Kampung Melayu dan sebagian 
dari wilayah Kelurahan Balimester, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta 
Timur.

Kawasan tersebut dikenal dengan sebutan demikian, karena mulai paro kedua abad 
ke- 17 dijadikan tempat pemukiman orang –orang Malayu yang berasal dari 
Semenanjung Malaka (sekarang Malingsia) dibawah pimpinan Kapten Wan Abdul Bagus.

Wan Abdul Bagus adalah anak Ence Bagus, kelahiran Patani, Thailand Selatan. Ia 
terkenal pada jamannya sebagai orang yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan 
tugas, baik administratif maupun di lapangan sebagai perwira. Boleh dikatakan 
selama hidupnya ia membaktikan diri pada Kompeni. Dimulai sebagai juru tulis, 
kemudian menduduki berbagai jabatan, seperti juru bahasa, bahkan sebagai duta 
atau utusan. Sebagai seorang pria dia sering terlibat dalam peperangan seperti 
di Jawa Tengah, pada waktu Kompeni “membantu” Mataram menghadapi Pangeran 
Trunojoyo. Demikian pula pada perang Banten, ketika kompeni “membantu “ Sultan 
Haji menghadapi ayahnya sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Waktu menghadapi 
pemberontakan Jonker, Kapten Wan Abdul Bagus terluka cukup parah. Menjelang 
akhir hayatnya ia dipercaya oleh Kompeni untuk bertindak selaku 
Regeringscommisaris, semacam duta, ke Sumatera Barat.

Kapten Wan Abdul Bagus meninggal dunia tahun 1716, ketika usianya genap 90 
tahun. Kedudukannya sebagai kapten orang – orang Melayu digantikan oleh 
putranya yang tidak resmi, Wandullah, karena ahli waris tunggalnya, Wan 
Mohammad, meninggal dunia mendahului ayahnya. Menurut F. De Haan, Ratu Syarifah 
Fatimah, yang kemudian terkenal karena membuat Kesultanan Banten geger, adalah 
janda dari Wan Mohammad, jadi mantunya Wan Abdul Bagus.

Karet Tengsin
Marupakan nama kampung yang ada disekitar kampung Tanah Abang. Nama ini berasal 
dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu
bernama Tan Teng Sien . Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada 
masyarakat sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal.

Disekitar daerah ini pada waktu itu banyak tumbuh pohon karet karena masih 
berupa hutan. Pada waktu Ten Sien meninggal, banyak masyarakat yang dating 
melayat. Bahkan ada yang dating dari luar Jakarta, seperti dari Jawa Tengah dan 
Jawa Timur Teng Sien dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah 
itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka 
daerah ini terkenal sampai sekarang dengan nama Karet Tengsin.

Kebayoran
Kawasan Kebayoran dewasa ini terbagi menjadi dua buah kecamatan, Kecamatan 
Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama, Kotamadya Jakarta Selatan.

Kebayoran berasal dari kata kabayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu 
bayur” (Acer Laurinum Hask., famili Acerinae), yang sangat baik untuk dijadikan 
kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap serangan rayap (fillet 
1888: 40). Bukan hanya kayu bayur yang biasa ditimbun dikawasan itu pada jaman 
dulu, melainkan juga jenis – jenis kayu lainnya. Kayu – kayu gelondongan yang 
dihasilkan kawasan tersebut dan sekitarnya diangkut ke Batavia melalui Kali 
Krukut dan Kali Grogol, dengan cara dihanyutkan. Berbeda dengan keadaan 
sekarang, kedua sungai tersebut pada jaman itu cukup lebar dan berair dalam.

Sampai awal masa kemerdekaan Indonesia, Kebayoran menjadi nama sebuah distrik, 
yang dikepalai oleh seorang wedana, termasuk wilayah Kabupaten Meester 
Cornelis. Wilayahnya meliputi pula kawasan Ciputat.

Sekitar tahun 1938 di kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah 
lapangan terbang internasional, namun dibatalkan karena pecah Perang Dunia 
Kedua. Kemudian, mulai tahun 1949 di tempat yang direncanakan untuk lapangan 
terbang itu dibangunlah Kota Satelit Kebayoran Baru, meliputi areal seluas 730 
ha, yang menurut rencana cukup untuk dihuni oleh 100.000 jiwa, suatu jumlah 
yang jauh dari sesuai dengan perkembangan penduduk Jakarta kemudian hari 
(Surjomiharjo 1973:37).


Kebon sirih
Kawasan Kebonsirih dewasa ini menjadi nama kelurahan, Kelurahan Kebon Sirih, 
termasuk wilayah Kecamatan Gambir, Kotamadya Jakarta Pusat.

Dari namanya sudah dapat diperkirakan, kawasan itu dahulu merupakan kebon 
sirih. Tanaman merambat, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Chavica densa 
Miq., termasuk famili Piperaceae, itu sampai masa – masa yang belum begitu lama 
berselang sangat digemari banyak orang untuk dikunyah – kunyah, istilahnya: 
makan sirih. Kelengkapannya antara lain, adalah kapur (sirih), pinang dan 
gambir. Dewasa ini sirih lebih banyak digunakan sebagai pelengkap upacara 
termasuk upacara ngelamar.

Belum diperoleh keterangan yang lebih jelas, apakah kawasan tersebut dijadikan 
Kebun Sirih sebelum atau sesudah dibangunnya defensilijn (garis pertahanan) Van 
de Bosch pada awal abad kesembilanbelas.

Sekitar pertengahan abad kesembilanbelas Jalan Kebonsirih oleh orang – orang 
Belanda biasa disebut: de nieuwe weg achter het koningsplein, atau “alam baru 
di belakang koningsplein”. Kemudian, karena di sana tinggal seorang hartawan 
yang dermawan, bernama K.F. Holle, mula- mula biasa pula disebut Gang Holle, 
kemudian berkembang sesuai dengan perkembangannya menjadi Laan Holle walau nama 
resminya Sterreweg. (De Haan 1935:322).


Kemayoran
Kawasan Kemayoran dewasa ini meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan 
Kemayoran, Kebon Kosong dan Serdang, termasuk wilayah Kecamatan Kemayoran, 
Kotamadya Jakarta Pusat.

Nama Kawasan tersebut biasa disebut Mayoran, seperti yang tercantum dalam 
Plakaatboek (Van der Chijs XIV:536), dan sebuah iklan pada Java Government 
Gazette 24 Februari 1816.

Isaac de Saint Martin tergolong pemilik tanah yang sangat luas tersebar di 
beberapa tempat, antara lain di pinggir sebelah timur sungai Bekasi, di Cinere 
(dahulu disebut Ci Kanyere) sebelah timur Sungai Krukut di Tegalangus dan di 
kawasan Ancol, yang luas seluruhnya berjumlah ribuan hektar. Nama aslinya, 
adalah Isaac de I’ Ostale de Saint Martin, lahir tahun 1629 di Oleron, Bearn, 
Prancis. Karena sesuatu sebab ia meninggalkan tanah airnya, dan membaktikan 
dirinya kepada VOC. Pada tahun 1662 ia tercatat sudah berpangkat Letnan, ikut 
serta dalam peperangan di Cochin. Dengan pangkat mayor ia terlibat dalam 
peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketika Kompeni “membantu” Mataram 
menghadapi Pangeran Trunojoyo. Pada bulan Maret 1682 ia, bersama Kapten Tack, 
ditugaskan untuk “ membantu” Sultan Haji menghadapi ayahnya Sultan Ageng 
Tirtayasa. Pada waktu berlangsungnya perang itu, ia mulai merasa benci kepada 
Kapten Jonker, yang dianggapnya arogan.
 Demikianlah, setelah perang itu selesai, dengan berbagai cara ia berusaha agar 
Jonker dikucilkan. Dan ternyata usahanya berhasil. Karena merasa dikucilkan, 
Jonker akhirnya bangkit melawan Kompeni, walupun gagal.

Demikianlah, sekilas tentang tokoh yang pangkatnya abadi melekat pada kawasan 
yang sebagian menjadi lapangan terbang, dan kemudian dijadikan arena Pekan Raya 
Jakarta.


Krukut
Merupakan nama kampung yang sekaligus juga nama kelurahan di kecamatan Taman 
Sari, Jakarta Barat. Kampung Krukut terletak diantara dua kali,yaitu kali 
Ciliwung, dan kali Cideng. Batas – batas kampung Krukut adalah:
Sebelah Timur Jl. Gajah Mada dan sungai Ciliwung
Sebelah Selatan Kelurahan Petojo
Sebelah Barat :Kali krukut (Kali Cideng)
Sebelah Utara Jl. Kerajinan dan Kelurahan Keagungan.

Asal – usul nama kampung Krukut mempunyai beberapa versi diantaranya adalah:
1. Krukut berasal dari sindiran yang di berikan untuk orang yang hidupnya 
sangat hemat alias pelit (Krokot). Orang Betawi menyebut orang – orang Arab 
yang banyak tinggal dikampung itu dengan istilah Krukut, dengan merubah kata 
Krokot menjadi krukut.

2. Krukut berasal dari kata kerkhof (bahasa Belanda) yang berarti kuburan. Pada 
masa lalu kampung tersebut merupakan tempat kuburan masyarakat pribumi (orang 
Betawi).

Karena lokasi kampung yang dekat dengan kota dan pelabuhan Sunda Kelapa, serta 
adanya dua kali yang merupakan jalur perdagangan maka banyak pedagang dari Arab 
yang bermukim di kampungan ini. Pada masa sekarang banyak dijumpai masyarakat 
Betawi, keturunan Arab yang mendiami kampung ini, sehingga ada istilah Arab 
Krukut (keturunan Arab dari Krukut).


Kwitang
Merupakan nama kampung sekaligus sekarang nama kelurahan yang ada di Jakarta 
Pusat. Nama ini berasal dari nama orang Cina yang Kaya – raya bernama Kwik Tang 
Kiam. Kwik Tang seorang tuan tanah yang kaya dan hampir semua tanah yang 
terdapat didaerah tersebut miliknya. Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal 
yang mempunyai sifat yang tidak baik, dia suka berjudi dan mabok. Akhirnya 
karena sifat anaknya ini, setelah Kwik Tang meninggal semua tanah milik 
bapaknya ini habis terjual dan banyak yang dibeli oleh saudagar keturunan Arab. 
Sehingga sampai sekarang daerah ini disebut Kwitang dan banyak keturunan Arab 
yang timggal dikampung Kwitang.


Lapangan banteng
Pada Masa pennjajahan Belanda disebut waterlooplein, tidak seluas Lapangan 
(Medan) Merdeka yang dahulu disebut Koningsplein, dan sekarang menjadi Lapangan 
Monumen Nasional atau Monas Jakarta Pusat.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda Lapangan tersebut dikenal dengan 
sebutan Lapngan Singa, karena ditengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan 
perang di Waterloo, dengan patung singa di atasnya. Tugu tersebut didirikan 
pada jaman pemerintahan pendudukan tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka 
namanya diganti menjadi Lapangan Banteng, rasanya memang lebih tepat, bukan 
saja karena singa mengingatkan kita pada lambang penjajah, tetapi juga tidak 
terdapat dalam dunia fauna kita. Sebaliknya, banteng merupakan lambing 
nasionalisme Indonesia. Disamping itu, besar kemungkinan pada jaman dahulu 
tempat yang kini menjadi Lapangan itu dihuni berbagai macam satwa liar seperti 
macan, kijang, dan banteng. Pada waktu J.P. Coen membangun kota Batavia di 
dekat muara Ci Liwung, lapangan tersebut dan sekelilingnya masih berupa hutan 
belantara yang sebagian berpaya – paya (De Haan 1935:69).

Menurut catatan resmi, pada tahun 1632 kawasan tersebut menjadi milik Anthony 
Paviljoen Sr, dikenal dengan sebutan Paviljoensveld, atau Lapangan Paviljoen 
Jr. Agaknya, pemilik kawasan itu lebih suka menyewakannya kepada orang – orang 
Cina yang menanaminya dengan tebu dan sayur – mayor, sedangkan untuk dirinya 
sendiri ia hanya menyisakan hak untuk berternak sapi. Pemilik berikutnya adalah 
seorang anggota Dewan Hindia, Cornelis Chastelein, yang memberi nama 
Weltevreden, yang kurang lebih artinya ‘sungguh memuaskan”, bagi kawasan 
tersebut setelah berganti – ganti pemilik, termasuk Justinus Vinck yang mulai 
pertama membangun Pasar Senen, pada tahun 1767, tanah Weltevreden menjadi milik 
Gubernur Jenderal Van der Parra. Pada awal abad ke-19 Weltevreden semakin 
berkembang tangsi pasukan infanteri juga berbagai kesenjataan lainnya yang 
tersebar sampai ke Taman Pejambon dan Taman du Bus, di belakang kantor 
Departemen Keuangan sekarang.

Pada pertengahan abad ke-19 Lapangan Banteng menjadi tempat berkumpulnya 
golongan elit Kota Batavia. Setiap Sabtu sore sampai malam doperdengarkan musik 
militer (V.I. van de Wall 1933: 18-19).


Lebak Bulus
Kawasan Lebak Bulus dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kleurahan Lebak Bulus, 
Kecamatan Cilandak, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama kawasan tersebut diambil dari kantor tanah dan fauna lebak berarti 
“lembah” dan bulus adalah “kura – kura yang hidup di darat dan air 
tawar”(Satjadibrata 1951:192, 56), jadi dapat disamakan dengan lembah kura- 
kura. Mungkin pada jaman dulu di Kali Grogoldan Kali Pesanggrahan yang mengalir 
di kawasan tersebut banyak kura – kura, alias bulus.

Berdasarkan Surat Kepemilikan Tanah (Erfbrief) yang dikeluarkan oleh yang 
berwenang di Batavia tertanggal 2 September 1675 kawasan Lebakbulus adalah 
milik Bapak Made dan Bapak Candra, yang dapat diwariskan. Menurut catatan 
harian di Kastil Batavia tertanggal 12 Februari 1687 Bapak Made adalah seorang 
Jawa berpangkat letnan. (Pada waktu itu setiap penduduk asli pulau Jawa disebut 
orang Jawa, tidak dibedakan sebutannya antara orang Jawa, Sunda dan 
Madura).Karena tanahnya sangat subur, kawasan itu oleh Bapak Made dibuka 
dijadikan sawah dan kebun, yang selanjutnya terpelihara dengan baik. Tetapi 
setelah dia meninggal pada tanggal 16 Agustus 1720, tanpa sebab yang jelas, 
seluruh tanahnya diambil kembali oleh Kompeni, untuk kemudian jatuh ke tangan 
orang Eropa, yang mengganti namanya menjadi Simplicitas (baca: simplisitas) (De 
Haan, 1911: 167). Sekitar tahun 1789 kawasan itu tercatat sebagai milik David 
Johannes Smith. Mungkin olehnya dijual kepada Pieter
 Welbeeck yang pada tahun 1803 tercatat sebagai pemiliknya (De Haan, 1910:103). 
Pada peta yang diterbitkan oleh Topograpisch Bureau tahun 1900, di bagian barat 
– daya kawasan itu masih tercantum lokasi rumah peristirahatan ( landhuis) 
bernama Simplicitas, tidak begitu jauh dari penggilingan padi yang terletak di 
tepi sebelah timur Kali Pesanggrahan.

Luar Batang
Kawasan Luar batang, yang terkenal karena adanya makam yang dikeramatkan di 
dalam masjid tua, Masjid Luarbatang, termasuk wilayah Kelurahan Penjaringan, 
Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Letaknya terhimpit antara 
terusan. Pelabuhan Sundakelapa dan kawasan perumahan elit, Pluit.

Menurut legenda, kawasan itu disebut Luarbatang, sebagai kenangan atas 
peristiwa ajaib, yang terjadi pada saat jenazah Sayid Husein, seorang penyebar 
agama Islam yang sangat tinggi ilmunya, akan diturunkan ke liang lahat. Walau 
kerandanya, yang menurut istilah setempat biasa disebut kurung batang, dibuka, 
ternyata jenazahnya sudah raib, entah kemana, keluar sendiri dari kurung 
batang, tanpa tanpa dilihat orang. Itulah sebabnya, maka kawasan itu dikenal 
dengan sebutan Luarbatang.

Menurut sejarah, kawasan itu disebut Luarbatang, karena terletak di luar batang 
pemgempangan, atau penghalang, yang diletakkan melintang di muara Ci Liwung. 
Pengempangan itu terbuat dari batang kayu diperkuat dengan besi. Setiap sekoci, 
sampan, perahu, dan sebagainya yang akan masuk berlayar di Ci Liwung menuju 
Kota wajib membayar beamasuk, semacam membayar tol dewasa ini, bila kendaraan 
hendak memasuki jalan tol ( De Haan 1935: 186) Kampung Luarbatang biasa disebut 
Kramat Luarbatang, karena di sana terdapat makam yang dikeramatkan, yaitu makam 
Sayid Husein bin Abubakar bin Abdullah al Aydrus. Beberapa puluh tahun ulama 
itu, yang oleh sementara orang dipercayai sebagai keturunan Nabi Muhammad, 
biasa berdakwah di kota – kota pesisir utara Pulau Jawa, dari Batavia sampai 
Surabaya. Ulama kharismatis itu wafat sekitar tahun 1796, dimakamkan diluar 
masjid yang dibangun sekitar tahun 1796. Makamnya ditembok sekitar tahun 1812. 
Waktu dilaksanakan perluasan
 masjid, sekitar tahun 1827, makam keramat itu menjadi berada di dalam ruangan 
masjid (J.R Van Diessen 1989:185).


Manggarai
Kawasan Manggarai dewasa ini terbagi menjadi dua kelurahan, Kelurahan Manggarai 
Selatan dan Kelurahan Manggarai Utara, wilayah Kecamatan Tebet, Kotamadya 
Jakarta Selatan.

Nama kawasan itu mungkin diberikan oleh kelompok penghuni awal, yaitu orang – 
orang Flores Barat (Murray 1961:38). Mereka menamai tempat pemukimannya yang 
baru, Manggarai, sebagai pengikat kenangan pada kampung halaman mereka yang 
ditinggalkan.

Menarik untuk dikemukakan, bahwa sebelum pecahnya Perang Dunia di Manggarai 
berkembang sebuah tarian yang disebut lenggo, diiringi orkes yang antara lain 
terdiri atas tiga buah rebana biang. Jaap Kunst, seorang ahli etnomusikologi, 
dalam bukunya Musik in Java jilid II, menyajikan gambar tarian tersebut. Dewasa 
ini tari tersebut, yang namanya berubah menjadi tari belenggo , menjadi salah 
satu tari tradisi Betawi dan tersebar di beberapa tempat. Menurut keterangan 
dari H. Abdurrahman, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Propinsi Nusatenggara 
Timur, di Bima terdapat pula tari jenis itu.namanya pun sama, yakni tari lenggo 
tidak mustahil kalo tari belenggo Betawi merupakan perkembangan dari tari 
lenggo Bima, melalui orang – orang Flores Barat yang menjadi penghuni awal 
kawasan Manggarai adalah bengkel dan stasiun kereta api, serta sebuah kompleks 
perumahan yang tertata cukup rapi, berbeda dengan perumahan di sekitarnya yang 
tampak dibangun tanpa perencanaan
 yang cermat.


Marunda
Kawasan Marunda sekarang menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Marunda, Kecamatan 
Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Namanya diambil dari nama sungai yang 
mengalir di situ, yaitu Kali Marunda.

Marunda adalah sebutan setempat bagi semacam pohon mangga yang aroma buahnya 
wangi menyengat, biasa disebut lembem atau kebembem. Nama ilmiahnya: Mangifera 
Laurina BI (Fillet 1888:210).

Nama kawasan itu mulai disebut – sebut pada pertengahan di tepi sebelah barat 
Kali Marunda. Kubu tersebut pada tahun 1664 dipindahkan ke tepi sebelah barat 
Kali Bekasi, dikenal dengan sebutan Wagt Barangcassi. Dengan keputusan pimpinan 
VOC di Batavia tanggal 19 September 1747, ditetapkan bahwa di Marunda dibangun 
lagi kubu pertahanan yang pengurusannya diserahkan kepada Justinus Vinck, Tuan 
tanah yang antara lain memiliki Pasar Senen, yang sangat berkepentingan untuk 
menjaga rumah peristirahatannya (Landhuis Cilincing) berikut tanah – tanah di 
sekitarnya. (De Haan 1911, (II):408).


Matraman
Dewasa ini Matraman menjadi nama sebuah kecamatan, Kecamatan Matraman, 
Kotamadya Jakarta Timur.

Mengenai asal – usul namanya, sampai sekarang belum diperoleh keterangan yang 
cukup memuaskan. Pada umumnya memperkirakan kawasan itu dahulu dijadikan 
perkubuan oleh pasukan Mataram dalam rangka penyerangan Kota Batavia, melalui 
darat. Tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu – kubu pasukan dari 
Sumedang dan Ukur (Bandung). Pada waktu Mataram menyerang Batavia, Ukur dan 
Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram, dan memang diberitakan ikut 
berpartisipasi.

Prof. Dr. Joko Soekiman dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan dengan 
judul Kebudayaan Indis, menyatakan bahwa. “Di JakartaMatraman merupakan tempat 
tinggal Tuan Matterman “ (Soekiman 2000:217) tanpa keterangan lebih lanjut 
mengenai sumbernya.

Dugaan lainnya, nama tersebut adalah warisan pengikut Pangeran Diponegoro, 
sebagaimana ditulis oleh Mohammad Sulhi dalam Majalah Intisari Juni 2002, 
dengan Judul Betawi yang Tercecer di Jalan. Dugaan ini mungkin melesat, karena 
jauh sebelum Perang Diponegoro, pada tahun 1789 Matraman sudah disebut – sebut 
sebagai milik tuan tanah David Johannes Smith (De Haan 1910, (I):64). Menurut 
F. de Haan dalam bukunya yang berjudul Oud Batavia, kawasan itu diberikan 
kepada orang – orang Jawa dan Mataram ( De Haan 1935:67) mungkin setelah 
Mataram berada di bawah pengaruh Kompeni, menyusul ditandatanganinya perjanjian 
antara Mataram dengan VOC tertanggal 28 Februari 1677 (Colenbrander 1925:173). 
Mungkin orang – orang Mataram yang ditempatkan dikawasan itu, adalah mereka 
yang pada pertengahan abad ketujuhbelas diberitakan berada disekitar Muaraberes 
sampai di kawasan Karawang (De Haan 1910, 1:262). Di antara mereka mungkin ada 
yang mempunyai keahlian, sebagai
 pengrajin barang – barang dari perunggu, atau gangsa, mereka membuka usaha di 
tempat yang kini dikenal dengan nama Pegangsaan.


Menteng
Merupakan nama daerah yang ada di selatan kota Batavia. Semula daerah ini 
merupakan hutan dan banyak ditumbuhi pohon buah – buahan. Karena banyaknya 
pohon Menteng yang tumbuh di daerah ini, maka masyarakat mengaitkan nama tempat 
ini dengan Kelurahan dan sekaligus juga nama Kecamatan yang ada di wilayah 
Jakarta Pusat.

Sejak tahun 1810 wilayah ini telah mulai dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels 
untuk daerah pengembangan kota Batavia. Kemudian pada tahun 1912 tanah yang ada 
disekitar kampung Menteng ini dibeli oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan 
perumahan bagi pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Sampai sekarang kita dapat menyaksikan peninggalan Belanda di perumahan 
Menteng. Rumah – rumah ini dibangun dengan konsep rumah Belanda yang 
dikombinasikan dengan gaya rumah Jawa atau disebut juga dengan konsep Indis ( 
percampuran gaya rumah Belanda dengan gaya rumah Jawa).

Wilayah Menteng dalam perkembangannya dipertegas lagi dengan membagi – bagi 
nama Menteng, sehingga terdapat nama kampung lebih kecil didalam kampung yang 
luas, ada nama Menteng atas, Menteng Dalam, Menteng Pulo dan sebagainya.


Paal Meriam
Merupakan nama tempat yang terletak di antara perapatan Matraman dengan 
Jatinegara. Asal usul nama tempat ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang 
terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris 
mengambil tempat di daerah ini untuk posisi meriam yang siap ditembakkan. 
Pasukan meriam Inggris disiapkan didaerah ini untuk melakukan penyerangan ke 
kota Batavia. Peristiwa tersebut sangat berkesan bagi masyarakat sekitar daerah 
itu, sehingga menyebut daerah ini dengan sebutan tempat paal meriam (tempat 
meriam disiapkan).

Cerita lain menyebutkan bahwa pada waktu Gubernur Jenderal Daendels membuka 
jalan yang disebut dengan jalan trans Jawa dari Anyer (Banten) ke Panarukan 
(Jawa Timur), daerah paal meriam ini dipasang patok jalan yang terbuat dari 
meriam yang sudah tidak terpakai. Masyarakat setempat sering melihat meriam 
tersebut sebagai patok jalan atau disebut juga paal jalan yang terbuat dari 
meriam, maka daerah itu disebut dengan paal meriam.


Pajongkoran
Wilayah Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjungpriuk, dan Wilayah Kelurahan 
Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara, sampai akhir tahun 
enampuluhan abad ke-20 lalu dikenal dengan sebutan Pajongkoran. Entah apa 
sebabnya nama itu dihilangkan dan peta – peta yang terbit kemudian.

Kawasan tersebut dikenal dengan nama Pajongkoran, karena dari tahun 1676 sampai 
tahun 1682 dikuasai oleh Kapten Jonker, seorang kepala pasukan orang- orang 
Maluku yang mengabdi kepada VOC.
Kata Jonker bukanlah nama diri, melainkan gelaran, yaitu padanaan dari tamaela, 
gelaran kehormatan di Ambon pada jaman itu. Pada sebuah akte tertanggal 22 
Nopember 1664, namanya ditulis JonckerJouwa de Manipa (De Haan 1919:228 – 229).

Tanah seluas itu diberikan sebagai hadiah bagi jasa – jasanyadi berbagai medan 
perang, seperti di Timor, Srilangka di bawah Van Goens di Sumatera Barat di 
bawah Poleman, di Sulawesi Selatan di bawah Speelman, di Jawa Timur pada waktu 
Kompeni “membantu” Mataram memadamkan pemberontakan Pangeran Trunojoyo, di 
Palembang dan terakhir pada peperangan di Banten, waktu Kompeni “membantu” 
Sultan Haji melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa (De Haan 1935:372). Pada 
tahun 1682 (Poespo Negoro 1984, (III):71).

Menjelang akhir hayatnya, Jonker merasa disia – siakan disamping mendapat 
tekanan – tekanan dari pejabat – pejabat Belanda yang tidak menyenanginya, 
seperti Mayor Isaac de Saint Martin, yang memimpin Kompeni ke Banten, sebelum 
pasukan yang dipimpin Jonker terlibat dalam peperangan itu. Pada tahun1689, 
dengan tuduhan akan berbuat makar, tempat kediamannya diserbu, Jonker sendiri 
menemui ajalnya dengan tragis.


Pancoran
Pancoran terletak di Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta 
Barat.

Pancoran berasal dari kata Pancuran. Di kawasan itu pada tahun 1670 dibangun 
semacam waduk atau “aquada” tempat penampungan air dari kali Ciliwung, yang 
dilengkapi dua buah pancuran itu mengucurkan air dari ketinggian kurang lebih 
10 kaki.

Dari sana air diangkut dengan perahu oleh para penjaja yang menjajakannya 
disepanjang saluran – saluran (grachten) di kota. Dari tempat itu pula kelasi- 
kelasi biasa mengangkut air untuk kapal – kapal yang berlabuh agak jauh dilepas 
pantai, karena dipelabuhan Batavia kapal tidak dapat merapat. Karena banyaknya 
yang mengambil air dari sana, sering kali mereka harus antri berjam – jam. 
Tidak jarang kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menjual barang – barang 
yang mereka selundupkan.
Dari penampungan di situ kemudian air disalurkan ke kawasan kastil melalui 
Pintu Besar Selatan. Rancangannya sudah dibuat pada masa pemerintahan Gubernur 
Jenderal Durven (1728 – 1732), tetapi dilaksanakan pada awal masa Van Imhoff 
berkuasa (1743 – 1750). Dengan demikian maka pengambilan air untuk keperluan 
kapal menjadi tidak terlalu jauh sampai melewati kota.

Dengan adanya saluran air dari kayu itu, maka di halaman Balikota (Stadhuis) 
dibuat pula air mancur. Sisa – sisa salurannya masih ditemukan pada tahun 1882, 
yang ternyata berbentuk balok kayu persegi empat yang dilubangi, disambung – 
sambung satu sama lain direkat dengan timah (De Haan 1935; 299 – 300).


Pasar Baru
Merupakan nama sebuah pasar yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Sebutan nama 
Pasar Baru, karena pasar ini merupakan pasar yang ada belakangan setelah 
lingkungan sektor lapangan Gambir dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels. 
Daerah yang dibangun oleh Daendels sebagai pusat pemerintahan Hindi Belanda 
yang baru, daerah ini disebut Weltevreden ( tempat yang menyenangkan). 
Disekitar weltevreden telah ada pasar seperti pasar Tanah Abang dan Pasar 
Senen. Untuk membedakan satu sama lain, Daendels menyebut pasar itu sebagai 
Pasar Baru. (Yang baru dibangun).

Lahan sebagai lokasi Pasar Baru telah dibeli oleh Daendels dan telah 
direncanakan sebagai tempat pembangunan pasar sejak tahun 1821. Pasar ini 
bertujuan untuk menjual kebutuhan masyarakat Eropa yang bermukim di 
Weltevreden. Pembangunan Pasar Baru dimulai pada tahun 1821. sejak I Januari 
1825, kios (bangunan) yang ada di Pasar Baru mulai disewakan kepada pedagang 
yang umumnya dari kelompok Cina, India dan Arab.

Pada awal mulanya, hari pasar di Pasar Baru adalah Senin dan Jumat, kemudian 
berubah menjadi setiap hari karena masyarakat Eropa mulai bertambah banyak. 
Pengunjung lebih banyak dating ke Pasar Baru dan merupakan kebiasaan masyarakat 
Eropa yang keluar rumah dengan dandanan ala Eropa melakukan perjalanan dan 
belanja ke Pasar Baru.

Paseban
Merupakan nama kampung sekaligus nama kelurahan yang ada di wilayah Jakarta 
Pusat. Paseban berasal dari kata yang artinya tempat berkumpul, yaitu tempat 
berkumpulnya pasukan Sultan Agung dari Jawa Tengah dalam penyerangan Kota 
Batavia pada tahun 1628 – 1629. Letak kampung Paseban dekat dengan kampung 
Matraman yang memiliki sejarah asal – usul yang sama.


Pegangsaan
Pegangsaan dewasa ini menjadi nama kelurahan, termasuk, wilayah Kecamatan 
Menteng, Kotamadya Jakarta Pusat.

Dalam Majalah Intisari Juni 2002, Mohammad Sulhi menyatakan dugaannya, bahwa 
Pegangsaan, yang terkenal sebagai tempat diproklamasikannya kemerdekaan 
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, “dulunya tempat angon atau pemeliharaan 
angsa”. Dugaan demikian mungkin saja benar, seperti halnya dugaan lainnya.

Kemungkinan lainnya, kawasan tersebut dahulunya menjadi tempat pengrajin barang 
– barang dari perunggu, atau gangsa. Tempatnya biasa disebut pegangsan atau 
pegangsaan. Para pengrajin itu akhir abad ketujuhbelas membuka kawasan Matraman 
(De Haan 1935:67). Di Kota Bogor, tempat yang dahulunya dihuni oleh orang – 
orang Jawa pengrajin barang – barang dari tembaga dinamai Paledang, sampai 
sekarang (Danasasmita 1983:89).


Pasar Rumput
Merupakan sebutan nama pasar yang sekarang lokasinya ada di Jalan Sultan Agung 
Jakarta Selatan. Pasar ini sekarang telah menyatu dengan pasar Manggarai.Asal 
mula penyebutannya Pasar Rumput ini berasal dari adanya para pedagang pribumi 
yang menjual rumput dan sering mangkal dilokasi itu.

Para pedagang rumput terpaksa mangkal dilokasi ini karena mereka tidak 
diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng. Masyarakat Menteng banyak yang 
memelihara kuda sebagai sarana angkutan dan masa itu sado merupakan sarana 
angkutan yang banyak membawa penumpang orang kaya keluar masuk lingkungan 
Menteng.

Walaupun para pedagang rumput sudah tidak dapat ditemukan lagi di pasar rumput 
masyarakat Jakarta sangat akrab dengan sebutan nama Pasar Rumput. Kalau di 
pasar burung kita dapat membeli burung, di pasar buah kita dapat membeli buah, 
namun di Pasar Rumput kita tidak dapat membeli rumput karena pedagangnya tidak 
ada yang menjual rumput.

Pasar Boplo
Merupakan nama pasar yang terletak di lokasi pemukiman elit Menteng Jakarrta 
Pusat. Nama pasar ini berasal dari kata dalam bahasa Belanda bouwploeg yang 
berarti tempat menjual alat bajak untuk mengolah pertanian. Pada masa lalu 
pasar ini tempat menjual alat – alat pertanian dan yang paling banyak dijual 
adalah alat bajak untuk mengolah sawah.

Kata boplo mungkin juga berasal dari sebutan kantor jawatan Pekerjaan Umum masa 
pemerintahan Belanda yang berada di dekat lokasi pasar. Kantor jawatan 
pekerjaan umum itu bernama jawatan Bouwploeg yang sekarang kantor itu berubah 
fungsi menjadi mesjid Cut Mutia


Pasar Genjing
Merupakan sebutan nama sebuah pasar kecil yang sekarang terletak di 
persimpangan jalan Pramuka dan jalan Utan Kayu di Jakarta Timur. Nama genjing 
berasal dari sebutan pohon besar yang ada dilokasi pasar.
Bagi masyarakat yang berasal dari Jawa, pohon ini disebut dengan pohon sengon. 
Sedangkan bagi masyarakat dari suku Sunda pohon ini disebut pohon jeungjing.

Karena sulit menyebut nama pohon ini dengan sebutan dari suku Sunda, maka 
masyarakat Betawi menyebutnya dengan sebutan genjing.


Pejagalan
Merupakan nama kampung dan sekarang diabadikan menjadi nama jalan Pejagalan di 
Kelurahan Pekojan, Jakarta Barat. Nama Pejagalan berasal dari kata jagal atau 
pemotongan hewan. Pada masa lalu di kampung Pejagalan banyak tinggal orang 
keturunan Arab dan Pakistan. Mereka senang memasak nasi kebuli yang bahan 
bakunya adalah beras dan daging kambing karena banyak dan seringnya memotong 
hewan kambing, maka daerah ini disebut dengan kampung Pejagalan.


Petojo
Kawasan Petojo dewasa ini meliputi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Petojo Utara 
dan Kelurahan Petojo Selatan, termasuk wilayah Kecamatan Gambir, Kotamadya 
Jakarta Pusat.

Petojo berasal dari nama seorang pemimpin orang – orang Bugis yang pada tahun 
1663 diberi hak pakai kawasan tersebut, bernama Aru Petuju.

Perubahan dari petuju menjadi petojo, tampaknya lazim di Batavia pada waktu 
itu, seperti halnya kata pancuran, kemudian diucapkan jadi pancoran.

Beberapa tahun sebelum bermukim di kawasan yang terletak di sebelah barat Kali 
Krukut itu, Aru (Arung) Petuju bersama dengan Pangeran dari Bone Aru (Arung) 
Palaka, menyingkir ke Batavia, setelah gagal melakukan perlawanan terhadap 
kekuasaan Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa, yang telah lama dilakukannya. 
Dengan demikian terjalinlah kerjasama antara Aru(ng) palaka dengan Belanda 
dalam menghadapi Sultan Hasanuddin. Kerjasama antara dua kekuatan itu berhasil 
mengakhiri kekuatan Gowa atas Bone. Sultan Hasanuddin terpaksa harus menerima 
kenyataan, bahwa Belanda akan memegang, monopoli perdagangan di Sulawesi 
Selatan. (Poesponegoro 1984 (IV):208).

Sebagaimana umumnya tanah – tanah yang semula dikuasai oleh sekelompok orang 
dibawah pemimpin masing – masing, kawasan Petojo juga kemudian beralih tangan. 
Pada tahun 1816 kawasan Petojo sudah dimiliki oleh willem Wardenaar, di samping 
tanah – tanah di daerah – daerah lainnya, seperti Kampung Duri dan Kebon Jeruk 
yang pada waktu itu biasa disebut Vredelust (De Haan 1910:101).


Penjaringan
Merupakan nama kampung dan sekaligus nama Kelurahan dan nama Kecamatan yang 
terletak disebelah Utara Pelabuhan Sunda Kelapa. Nama ini berasal dari sebutan 
tempat yang banyak memproduksi jarring untuk keperluan para nelayan teluk 
Jakarta.

Cerita lain ada juga yang menyebutkan bahwa nama penjaringan berasal dari 
tempat yang banyak terdapat jaring - jaring nelayan yang sering di jemur atau 
jaring yang sedang diperbaiki oleh nelayan. Melihat lokasi ini dekat dengan 
pantai, maka dua cerita tersebut bias saja menjadi asal – usul kata 
Penjaringan. Karena luasnya wilayah yang mencakup daerah penjaringan, maka 
sekarang kita mengenal kecamatan yang bernama Kecamatan Penjaringan.


Petamburan
Merupakan salah satu nama kelurahan yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Pada 
masa lalu rumah penduduk masih jarang dan masih banyak tumbuh pohon jati 
disekitar daerah ini. Pada suatu waktu terjadi peristiwa yang menjadikan 
peristiwa tersebut sebagai cikal bakal nama tempat ini. Peristiwa itu adalah 
meninggalnya seorang penabuh tambur didaerah ini dan dimakamkan di bawah pohon 
jati, sehingga nama kampung ini sebenarnya adalah Jati Petamburan.


Pejambon
Pejambon merupakan sebutan kampung yang bersebelahan dengan kampung Gambir. 
Kampung ini baru ada sejak Daendels membuka daerah ini dengan sebutan kawasan 
Weltevreden. Kata Pejambon berasal dari singkatan Penjaga Ambon. Penjagaan 
tersebut berada disebuah jembatan yang melintasi kali Ciliwung dan penjaganya 
adalah orang Ambon. Setelah dibangunnya gereja Imanuel di lingkungan kampung 
ini banyak tinggal masyarakat dari golongan nasrani (beragama Kristen) dari 
suku Ambon, Jawa dan Batak. Sekarang kampung Pejambon termasuk dalam kawasan 
Kelurahan Gambir.


Pekojan
Merupakan nama Kampung, sekaligus nama Kelurahan yang terdapat di wilayah 
Jakarta Barat. Pekojan berasal dari kata Koja (Khoja) yang mengacu kepada nama 
tempat yang ada di India. Penduduk Koja pada umumnya adalah orang India yang 
senang berdagang, Orang Koja dalam berdagang sekaligus menyiarkan agama Islam.


Karena banyaknya orang India yang umumnya mempunyai pekerjaan berdagang yang 
bermukim di daerah ini, maka Kampung ini disebut dengan Pekojan atau tempat 
tinggal orang Koja.


Pluit
Kawasan Pluit yang kini dikenal dengan perumahan mewahnya itu merupakan sebuah 
kelurahan, Kelurahan Pluit, termasuk wilayah Kecamatan Penjaringan, Kotamadya 
Jakarta Utara.

Menurut peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau Batavia, 1903, lembar H 
II dan III, demikian pula pada peta Plattegrond van Batavia, yang dibuat oleh 
Biro Arsitek di Batavia sekitar tahun 1935, sebutan bagi kawasan itu adalah 
Fluit, lengkapnya Fluit Muarabaru. Menurut kamus Belanda – Indonesia 
(Wojowasito, 1978:196), fluit berarti:
1. “suling”; 2. “bunyi suling”; 3. “roti panjang – sempit “.

Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungannya dengan suling, atau pluit 
semacam pluit wasit sepakbola, atau pluit polisi lalu – lintas. Demikian pula 
dengan roti panjang – sempit. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari kata 
fluit, yang lengkapnya: fluitschip, yang berarti “kapal (layar) panjang 
berlunas ramping”, seperti yang dijelaskan dalam verklarend Handwoordenboek der 
Nederlandse Taal (Koenoen – Endepols, 1948:281). Sekitar tahun 1660 di pantai 
sebelah timur muara. Kali Angke diletakan sebuah fluitschip, bernama Het Witte 
Paert, yang sudah tidak laik laut, dijadikan kubu pertahanan untuk membantu 
Benteng Vijhoek yang terletak di pinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, 
dalam rangka menanggulangi serangan serangan sporadis yang dilakukan oleh 
pasukan bersenjata Kesultanan Banten. Kubu tersebut kemudian dikenal dengan 
sebutan De Fluit (De Haan 1935:104).

Sebutan Fluit yang berubah menjadi Pluit, ternyata berlanjut sampai dewasa ini, 
mengingatkan kita pada suasana sekitar pertengahan abad ke-17.

Pondok Cina
Merupakan sebutan nama untuk kampung yang ada di perbatasan Jakarta dengan 
daerah Depok Jawa Barat. Menurut sejarah nama Pondok Cina berasal dari sebutan 
tempat tinggal sementara bagi orang – orang Cina yang mengelola tanah pertanian 
yang ada disekitar Depok. Karena jarak Depok dengan Batavia cukup jauh, maka 
diperlukan pemondokan sementara bagi pekerja penggarap tanah partiklelir 
tersebut. Pondokan itu dibangun dilokasi kampung Pondok Cina sekarang.

Kemudian dilokasi pemondokan ini oleh orang Cina dibangun rumah besar yang 
cukup bagus dan oleh masyarakat disebut dengan Pondok Cina.

Pondok Gede
Merupakan penyebutan wilayah yang ada dipinggiran sebelah Timur Jakarta yang 
berbatasan dengan daerah Bekasi. Yang tersisa sekarang adalah penyebutan untuk 
Pasar Pondok Gede. Nama Pondok Gede berasal dari sebuah bangunan besar yang 
disebut dengan Landhuis. Bangunan Landhuis adalah rumah besar yang terletak 
dipinggiran kota sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat pengurus 
usaha pertanian dan peternakan.

Sekitar tahun 1775 lokasi ini adalah lahan pertanian dan peternakan yang 
disebut juga dengan anderneming. Pondok Gede adalah milik tuan tanah yang 
bernama Johannes Hoojiman yang kaya raya. Bangunan pondok gede merupakan satu – 
satunya bangunan rumah besar yang ada dilokasi tersebut dan bagi masyarakat 
pribumi sering disebut pondok gede.

Pondok Labu
Kawasan Pondok Labu dewasa ini menjadi sebuah Kelurahan dengan nama yang sama, 
termasuk wilayah Kecamatan Cilandak Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama kawasan itu diambil dari kata majemukondok dan labu. Pondok berarti 
“gubuk”, atau “dangau – dangau tempat pemondokan atau ‘ tempat penginapan 
sementara”. Labu adalah nama beberapa macam tanaman merambat, antara lain labu 
yang bahasa ilmiahnya Lagenaria hispida Ser.

Famili Cucurbitaceae, yaitu labu besar yang biasa dimakan (Fillet 1888: 193). 
Kata majemuk pondok- labu dapat berarti “pondok atau gubuk yang dirambati ( 
tanaman) labu”

Kawasan Pondok Labu baru disebut – sebut pada tahun 1803 sebagai milik Pieter 
Walbeck, disamping Cinere dan Lebak Bulus yang pada jaman dulu oleh orang – 
orang Belanda biasa Simplicitas (baca Simplisitas). Di kawasan Pondok Labu tuan 
tanah tesebut mempunyai penggilingan padi dan sebuah rumah peristirahatan yang 
diberi nama Simplicitas (De Haan 1910, (I):103). Pada peta yang dibuat oleh 
Topographisch Bureau, Batavia 1900, penggilingan padi dan rumah peristirahatan 
itu terletak tidak begitu jauh dari Kali Pesanggrahan sebelah utara Rempoa.

Pondok Rangon
Merupakan nama kampung yang ada diperbatasan Jakarta dengan Bekasi di Kecamatan 
Pasar Rebo Jakarta Timur. Wilayah Pondok Rangon cukup luas dengan batasnya:
-Sebelah Utara berbatasan dengan markas Hankam Cilangkap
-Sebelah Barat berbatasan dengan jalan Jagorawi dan
-Sebelah Timur berbatasan dengan Kali Sunter dan Pondok Gede

Asal – Usul nama Kampung Pondok Rangon berdasarkan cerita lisan masyarakat 
adalah sebagai berikut. Pada masa lalu ada seorang lelaki tua (aki – aki) yang 
bermukim disuatu tempat dengan seorang nenek – nenek yang ditemukan ditempat 
tersebut tanpa melalui perkimpoian. Bagi masyarakat Sunda menyebut kehidupan 
kakek nenek itu dengan istilah Rangon. Karena kakek nenek itu tinggal disuatu 
pondok, maka masyarakat menyebut tempat itu dengan nama pondok rangon.

Ragunan
Kawasan Ragunan dewasa ini menjadi sebuah Kelurahan, Kelurahan Ragunan, 
termasuk wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama Ragunan berasal dari Pangeran Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan 
tanah pertama kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari 
Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, yang biasa disebut Sultan Haji, putra 
Sultan Ageng Tirtayasa.

Menarik untuk disimak, bagaimana seorang Belanda kelahiran Steenwijk, 
dianugerahi gelar begitu tinggi oleh Sultan Banten, musuh Belanda. Sekilas, 
rangkaian peristiwanya mungkin dapat digambarkan sebagai berikut.

Pada tahun 1675 dari Banten terbetik berita, bahwa sebagian dari Keraton 
Surasowan, tempat bertahtanya Sultan Ageng Tirtayasa, terbakar Dua bulan 
setelah kebakaran itu datanglah Hendrik Lucaasz. Cardeel, seorang juru 
bangunan, mengaku melarikan diri dari Batavia, karena ingin memeluk agama Islam 
dan membaktikan dirinya kepada Sultan Banten bak pucuk dicinta, ulam tiba, 
Sultan sedang membutuhkan ahli bangunan berpengalaman, tanpa dicari dating 
sendiri. Kemudian Cardeel ditugasi memimpin pembangunan istana, dan kemudian 
bangunan – bangunan lainnya, termasuk bendungan dan istana peristirahatan si 
sebelah hulu CiBanten, yang kemudian dikenal dengan sebutan bendungan dan 
istana Tirtayasa.

Seluruh perhatian sultan Tirtayasa seolah – olah tersita kegiatan pembangunan 
yang dilaksanakan oleh Cardeel. Rupanya tidak sedikit pun terlintas dalam 
pikirannya untuk melakukan suatu gerakan militer ke Batavia, ketika sebagian 
besar kekuatan Kompeni sedang dikerahkan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam 
rangka “membantu” Mataram menghadapi Pangeran Trunijoyo, dari tahun 1677 sampai 
akhir tahun 1681.

Dalam pada itu Sultan Haji terus – menerus mendesak agar dia segera dinobatkan 
menjadi Sultan. Akhirnya terjadilah perang perebutan tahta antara ayah dan 
anak. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia , untuk 
meminta bantuan Kompeni. Dengan bantuan Kompeni akhirnya Sultan Haji berhasil 
menduduki tahta Kesultanan Banten, sudah barang tentu dengan keharusan memenuhi 
segala tuntutan penolongnya, Belanda.

Adapun yang diutus ke Batavia, untuk meminta bantuan itu, tidak lain tidak 
bukan, adalah Kiai Aria Wiraguna, alias Cardeel. Atas jasanya itu, Cardeel 
ditingkatkan gelarannya, menjadi Pangeran Wiraguna.

Beberapa tahun kemudian oleh Pangeran Wiraguna Kesultanan Banten terasa sempit, 
karena semakin banyak yang tidak menyukainya. Pada tahun 1689 Cardeel pamit 
kepada Sultan, dengan dalih akan pulang dahulu kenegerinya. Tetapi ternyata dia 
terus menetap di Batavia, kembali memeluk agama Kristen dan menjadi tuan tanah 
yang kaya raya. Tanahnya yang terluas adalah dikawasan yang namanya sampai 
dewasa ini mengingatkan kita pada seseorang Belanda jaman VOC yang sangat 
beruntung, Hendrik Lucaasz Cardeel bergelar Pangeran Wiraguna, yang makamnya 
oleh sementara orang bangsa Indonesia dikeramatkan

Jalan Cengkeh
Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor Pos, di samping 
sebelah timur Pasar Pisang.

Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum 
juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis. 
Kawasan sekitar batu prasasti Puernawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung 
Batutumbuh.

Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang 
waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang – 
orang Portugis, yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang – 
orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan 
perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan Portugis yang 
dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada 
tanggal 21 Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana. Raja 
Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja 
Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di 
Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang dating akan diberi muatan 
lada yang harus ditukar dengan barang – barang keperluan yang diminta oleh 
pihak Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 
karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang – barang yang dibutuhkan 
(Sumber: Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983)


Japat
Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa, termasuk wilayah 
Kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang mengatakan, kata 
jaagpad berarti “Jalan setapak yang biasa digunakan untuk berburu” . Katanya 
jaag, dari jagen, artinya “berburu” Pad, artinya “jalan setapak” padahal, kata 
jaagpad tidak ada sangkut pautnya dengan berburu, melainkan sebuah istilah 
dalam pelayaran perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu yang 
melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada jaman Kompeni Belanda, 
bahkan beberapa dasawarsa sebelum pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal – kapal 
(layar) yang cukup besar bila berlabuh dipelabuhan Batavia, yang sekarang 
menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti sekarang, melainkan biasa 
membuang sauh masih jauh dilaut lepas. Pengangkutan orang dan barang dari kapal 
biasa dilakukan dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah rimur 
Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan khusus untuk perahu – perahu 
pendarat. Terutama
 di musim hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi lumpur dari 
darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu kecil pun sulit melewatinya. 
Apalagi perahu besar, berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju 
harus dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di depan perahu, 
sebelah kiri dan kanan terusan.

Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang sulit untuk 
melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad yang berubah menjadi japat, 
sebagai nama dari kawasan tersebut.


Jatinegara
Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan Jatinegara, 
Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota Jakarta yang multipusat itu.

Nama Jatinegara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada 
awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai 
pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada 
pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu 
kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, 
pulau Banda. Setelah tanah tumpah – darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, 
pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. 
Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu 
mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam 
bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa 
dipanggil mester, yang berarti “tuan guru”. Hutan yang dibukanya juga dikenal 
dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat 
menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum 
digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan 
kota).

Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang 
menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh 
Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester 
Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai 
tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente 
Batavia.

Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis 
dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 
kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang 
(Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).
Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti 
menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, 
bersama – sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, 
Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, 
Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke 
Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu 
wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144)


Jatinegara Kaum
Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Jatinegara Kaum, 
Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena 
di sana terdapat kaum, dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa 
Sunda, yang berarti “tempat timggal penghulu agama beserta bawahannya” 
(Satjadibrata, 1949:149). Sampai tahun tigapuluh abad yang lalu, penduduk 
Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman 1933:10).

Dahulu Jatinegara kaum merupakan bagian dari kawasan Jatinegara yang meliputi 
hamper seluruh wilayah Kecamatan Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah 
Kecamatan Cakung sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara, 
yaitu Kelurahan Jatinegara.

Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut bernama demikian, 
belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang jelas nama kawasan tersebut baru 
disebut – sebut pada tahun 1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil 
Batavia, waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para pengikutnya. 
Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan 
Banten yang digulingkan dari tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, 
dengan bantuan kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran 
Purbaya beserta saudara – saudaranya yang lain, seperti Pangeran Sake dan 
Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam benteng Batavia. Kemudian , ditugaskan 
untuk memimpin para pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti 
Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan Cikalong.

Orang – orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya dipimpin oleh 
Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker, 
kekuasaan Pangeran Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680 
diserahkan kepada Kiai aria Surawinata, mantan bupati Sampora, kesultanan 
Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah kepada kompeni diangkat menjadi 
Letnan, di bawah Pangeran Sangiang. Sampai tahun 1689.Surawinata masih bermukim 
di Luarbatang . Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan putusan 
Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27 Oktober 1699, sebagai 
penggantinya adalah putranya, Mas Muahmmad yang Panca wafat, sebagai 
penggantinya ditunjuk salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada waktu para bupati 
Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di wilayahnya masing – masing, penyerahan 
hasil pertanian itu dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas 
nama Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas
 nama Mas Ahmad. Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati 
Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul, kurang lebih 14.650 kg.


Kebantenan
Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk wilayah Kelurahan 
Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara.

Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak tahun 1685 
dijadikan salah satu tempat pemukiman orang – orang Banten, dibawah pimpinan 
Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang 
keberadaan orang – orang Banten dikawasan tersebut, sekilas dapat diterangkan 
sebagai berikut.

Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar ) mendapat bantuan kompeni yang 
antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, sampai 
terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi – abdinya yang masih 
setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka menyerahkan 
diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada 
Letnan Untung (Untung Surapati).

Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan benteng. Kemudian 
Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi – abdinya diberi tempat pemukiman, 
yaitu di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.

Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan 
adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, 
sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan 
kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 
Maret 1732.

Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara itu, ada pula 
Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara 
Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat 
kediaman Pangeran Purbaya yang berada di baratdaya Bekasi itu ditemukan lima 
buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang 
ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan Sejarah Jawa Barat.


Kampung Ambon
Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama 
ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai Gubernur 
Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat 
angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah 
pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan orang 
Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambom, terletak didaerah Rawamangun, 
Jakarta Timur.

Kampung Bali
Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang menyandang nama 
Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas atau kedelapanbelas dijadikan 
pemukiman orang – orang Bali, yang masing – masing dipimpin kelompok etnisnya. 
Untuk membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi dengan nama 
kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup banyak dikenal. Seperti Kampung 
Bali dekat Jatinegara yang dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester, 
Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Balimester tercatat sebagai perkampungan orang – orang Bali sejak tahun 1667.

Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang 
dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan 
dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 – 1780), dimana dibangun 
sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional.

Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta 
Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat 
di dalamnya, dibangun pada 25 Sya’ban 1174 atau 2 April 1761. Dihalaman depan 
masjid itu terdapat kuburan antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari 
Pontianak yang riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli 1858. 
Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al- Anwar atau Masjid Angke.

Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang – orang Bali di bawah 
pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang pemukimannya berseberangan dengan pemukiman 
orang – orang Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran 
Tubagus Angke sekarang . Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan sebutan Kampung 
Gusti
(Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van Diesen 1989).


Kampung Bandan
Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan Sunda Kelapa atau 
masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta (Batavia) Berdasarkan informasi yang 
dapat dikumpulkan terdapat beberapa versi asal – usul nama Kampung Bandan.

1. Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang ada di daerah 
Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu ( periode kota Batavia) daerah ini 
pernah dihuni oleh masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah 
lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti penyebutan nama kampung 
Cina disebut Pecinan. Tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean dan 
Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (arab), dan lain – lain.

2. Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti ikatan Kata Banda 
dengan tambahan awalan di (dibanda) mempunyai arti pasif yaitu diikat. Hal ini 
dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering dilihat masyarakat pada 
periode Jepang, yaitu pasukan Jepang membaw pemberontak dengan tangan terikat 
melewati kampung ini menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak 
tersebut.

3. Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa lalu di kampung 
ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Kampung 
Pandan


Kampung Bugis
Tempat – tempat atau kawasan yang bernama atau pernah disebut Kampung Bugis 
awalnya dijadikan perkampungan atau pemukiman sekelompok orang – orang Bugis. 
Salah satunya adalah Kampung Bugis di Kelurahan Penjaringan. Kotamadya Jakarta 
Utara.

Kampung Bugis yang terletak di sebelah utara Jalan Pangeran Tubagus Angke, 
seberang Kampung Gusti, yang dahulu menjadi tempat pemukiman orang – orang Bali 
dibawah pimpinan Gusti Ktut Badalu, pada tahun 1687 secara resmi diserahkan 
oleh pimpinanVOC di Batavia kepada Aru Palaka dari Kerajaan Sopeng Sulawesi 
Selatan. Aru Palaka rupanya memilih menjadi sekutu Kompeni daripada bersatu 
dengan Kerajaan Gowa dibawah pimpinan Sultan Hasannudin.

Kampung Bugis yang terletak di sebelah utara Jalan Pangeran Jayakarta, sebelah 
barat tahun 1690, sama seperti Kampung Bugis yang terletak di dekat Patuakan, 
di ujung sebelah utara Jembatan lima.

Tidak semua pemukiman kelompok orang – orang Bugis dinamai Kampung Bugis. 
Kawasan disebelah utara Tanah Abang yang dahulu dijadikan pemukiman orang – 
orang Bugis dibawah pimpinan Aru Patuju dikenal dengan sebutan Petojo.


Kampung Gedong
Dewasa ini kawasan Kampung Gedong mejadi sebuah kelurahan. Kelurahan Tengah, 
termasuk wilayah Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.
Sebutan Kampung Gedong bagi kawasan tersebut, karena di sana berdiri sebuah 
gedung peristirahatan (landhuis) tuan tana, pemilik tanah partikelir Tanjoeng 
Oost (Tanjung Timur). Gedung beserta halamannya yang sangat luas. Oleh 
pemiliknya dahulu diberi nama Goeneveld, yang berarti lapangan hijau, sesuai 
dengan panorama sekelilingnya yang hijau royo – royo. Dari gedung itu sampai 
tempat yang sekarang menjadi perempatan Pasar Rebo, Jalan Raya Bogor, 
terbentang jalan yang dahulu kanan kirinya ditanam pohon asem (Tamarindus 
indica), menambah keasrian pemandangan sekitarnya.

Tuan tanah pertama dari kawasan itu adalah Pieter van de Velde asal Amersfoort, 
yang pada pertengahan abad ke-18 berhasil memupuk kekayaan berkat berbagai 
kedudukannya yang selalu menguntungkan. Setelah peristiwa pemberontakan Cina 
pada tahun 1740, dia berhasil mengusai tanah – tanah Kapten Ni Hu-Kong, yang 
terletak di selatan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) sebelah timur Sungai 
Ciliwung. Kemudian di tambah dengan tanah – tanah lainnya yang di belinya 
sekitar tahun 1750, maka terbentuklah Tanah Partikelir Tanjoeng Oost. Di situ 
ia membangun gedung tersebut selesai dibangun. Pemilik kedua adalah Adrian 
Jubels. Setelah ia meninggal pada tahun 1763, Tanah tanjung Oost dibeli oleh 
Jacobus Johannes Craan, yang terkenal dengan seleranya yang tinggi. Pemilik 
baru itu mendandani gedung peristirahatan dengan dekorasi berlanggam Lodewijk 
XV, ditambah dengan hiasan – hiasan yang bersuasana Cina. Sampai terbakar pada 
tahun 1985 sebagian dari ukiran –
 ukiran penghias gedung itu masih dapat disaksikan.

Setelah Craan meninggal, Tanjoeng Oost dibeli oleh menantunya Willem Vincent 
Helvetius van Riemsdjik, putra Gubernur Jendral Jeremies van Riemsdjik (1775 – 
1777).

Sampai pecahnya Perang Dunia Kedua, gedung Groeneveld dikuasai turun- temurun 
oleh para ahli warisnya, keturunan Vincent Helvetius van Riemsdjik.
Willem Vincent Helvetius sendiri sejak muda sudah menduduki jabatan yang 
menguntungkan, antara lain pada usia 17 tahun sudah menjabat sebagai 
administrator Pulau Onrust, jabatan yang menjadi incaran banyak orang, karena 
konon sangat “basah” banyak memberi kesempatan untuk memupuk kekayaan. 
Kedudukan ayahnya sebagai gubernur Jenderal dimanfaatkan dengan sangat baik, 
sehingga kekayaannya makin berkembang. Pada tahun sembilanpuluhan abad ke-18, 
tanah – tanah miliknya tersebar antara lain di Tanahabang, Cibinong, Cimanggis, 
Ciampea, Cibungbulan, Sadeng, dan dengan sendirinya Tandkoeng Oost atau Tanjung 
Timur.

Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat pada waktu dikuasai oleh 
Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan 
peternakan. Setelah ia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik 
putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjalling Ament, asal 
Kota Dokkum, Belanda Utara. Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan 
usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan 
TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi. Produksi susunya sangat 
terkenal di Batavia.

Sampai tahun 1942 Groeneveld turun – temurun dihuni keturunan Van Riemsdjik, 
dan kawasan itu sampai sekarang disebut Kampung Gedong.

Sumber : Kaskus
Tags: artikel, indonesia
Prev: Love Song
Next: "Pssst! Rokok itu ternyata tidak berbahaya.....



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Other related posts:

  • » [nasional_list] [ppiindia] Asal Usul Nama Daerah.... - Mira Wijaya Kusuma