[nasional_list] [ppiindia] Anak Perawan di Sarang Tabloid

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Anak Perawan di Sarang Tabloid

BANGUNAN berlantai dua seperti rumah tinggal itu agak menjorok ke dalam 
dari Jalan Laga Raya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Pada Selasa siang 
akhir Februari lalu, kantor tanpa papan nama itu tampak lengang. Dua satpam 
berseragam biru bersiaga dalam garasi di depan gerbang utama.

Itu kantor Lipstik, salah satu tabloid yang tampil berani dengan foto-foto 
erotis dan kisah-kisah seks. Saat Tempo mendorong gerbang dan melangkah 
masuk, seorang satpam langsung mendekat. ?Cari siapa, Mas?? sapanya penuh 
selidik. Dijawab ingin bertemu Natly Amir, pemimpin perusahaan tabloid itu, 
si penjaga malah bertanya balik, ?Sudah buat janji??

Untung, Natly segera muncul. ?Kami lagi tiarap. Sudah tiga minggu,? 
katanya. Sejak Kepolisian Daerah Metro Jaya merazia tabloid ?syur? pada 
awal Februari lalu, Lipstik berhenti terbit.

Kantor sepi. Di lantai bawah, ruang pemasaran dan iklan, cuma seorang staf 
wanita asyik bekerja. Selebihnya, meja-meja berkomputer di balik kaca gelap 
setinggi bahu itu melompong. Di lantai atas ruang duduk idem dito. Ruang 
reporter hanya diisi sekretaris redaksi. Dua staf tampak sibuk di ruang 
tata letak.

Perang terhadap media erotis membuat Natly pusing. Tiga minggu tidak 
terbit, ia kehilangan Rp 60 juta dari pemasang iklan. Keuntungan dari 
penjualan sekitar 40 ribu eksemplar per minggu pun lenyap. Padahal 18 
karyawan plus 11 staf redaksi dan penata letak tetap harus digaji.

Sementara Lipstik masih mempertahankan karyawannya, Exotica tidak. Tak kuat 
karena tak ada pemasukan, beberapa waktu lalu media yang berkantor di Jalan 
Haji Samali, Jakarta Selatan, itu merumahkan 15 dari 30 karyawannya. 
?Bagaimana mereka kami bayar?? kata Fuad Rohimi, Pimpinan Redaksi Exotica.

Di agen-agen majalah, tak tampak lagi ada media erotis yang beredar dalam 
sebulan terakhir. Padahal, sebelumnya, di jalur ini ada 16 pemain. Selain 
Lipstik dan Exotica, antara lain ada Bos Bes, Dugem, Online, Buah Bibir, 
Prahara, Metropolis, Girls, dan Asmara.

Sebagian besar media itu sulit dilacak kantornya. Ada yang ?bersembunyi? 
sambil menunggu situasi aman. Tapi sebagian, sejak awal, memang sudah 
merahasiakan markasnya.

Pada Februari lalu, ketika mencari kantor Buah Bibir di Jalan Gajah Mada, 
Jakarta Pusat, Tempo bertemu laki-laki setengah baya, seorang penjual 
minyak tanah. Dia berniat membeli Buar Bibir edisi terdahulu yang tak 
sempat dibelinya. ?Habis, kalau lihat tabloid ini langsung keringatan sih,? 
ujarnya terkekeh. Tapi lelaki itu kecewa: kantor Buah Bibir tak ketemu. 
Sedangkan mencari tabloid itu di agen sudah sulit. Tabloid-tabloid syur 
sudah telanjur menghilang.

***
TABLOID yang dengan foto-foto sensual untuk kalangan dewasa mulai muncul 
pada 1998, bersamaan dengan tumbangnya rezim Orde Baru. ?Melihat ada 
peluang, ya kami jalan,? ujar Slamet Wiyono.

Slamet adalah pengelola Pop. Tabloid dengan logo apel digigit itu adalah 
perintis genre tabloid ?syur?. Pertama terbit dengan 20 ribu eksemplar, Pop 
terus berkembang. Pada puncaknya, tahun 2000, oplahnya pernah mencapai 125 
ribu.

Setelah itu, penjualan Pop terus menurun. Beberapa jurnalis yang semula 
bekerja di Pop mengundurkan diri dan membuat tabloid sejenis. Natly, yang 
kini memimpin Lipstik, dulunya adalah penata letak Pop. Dia dikontrak untuk 
tiga edisi perdana.

Melimpahnya pembaca di jalur inilah yang membuat tabloid erotik tumbuh 
subur. Apalagi ternyata untuk memulai bisnis ini tidak diperlukan biaya 
besar. ?Dengan Rp 50 juta, jalan kok,? ujar Slamet. Cuma butuh dua komputer 
untuk mengetik dan mengerjakan desain, sebuah printer, pemindai, satu-dua 
reporter, dan seorang fotografer, bisnis ini bisa jalan.

Daya tarik utama tabloid ini adalah foto erotis. Itu pun tak susah dibuat. 
Sangat gampang mencari model yang mau tampil sensual. Malah banyak 
menawarkan diri difoto secara sukarela, dengan berbagai tujuan. ?Kalau 
sudah lama nggak tampil di tabloid, ibu saya malah yang tanya, ?Kok, sudah 
lama sih nggak difoto?,? kata Vika Tania, 22 tahun, seorang model erotis.

Pemotretan sering dilakukan di luar ruang, biasanya di vila atau kolam 
renang. Untuk tempat ini pun kerap tak perlu keluar uang. Asalkan dalam 
setiap foto yang tampil lokasi pemotretan disebutkan, pemilik vila biasanya 
sudah senang. Makanya, biaya operasional redaksi jadi sangat rendah. 
Lisptik, menurut Natly, hanya butuh Rp 3 juta untuk biaya operasional 
redaksi untuk empat penerbitan dalam sebulan.

Agar lebih menarik, selalu ada cerita tentang model-model yang jadi cover. 
Kadang bentuknya narasi, kadang wawancara panjang yang ditampilkan dalam 
bentuk tanya-jawab. Dialognya bisa sangat sensual. Perhatikan dialog dengan 
Sisi, model cover Lipstik dalam edisi 24-30 November 2005.

Lipstik: Kalau kita lakukan dengan cara aman, gimana? Masih mau nggak?
Sisi: Idih..., usaha! Tapi, kalau aku kepepet, mau juga kali ya.... Soalnya 
banyak yang bilang enak sih. Hi-hi-hi?, bercanda lho! Tuh kan, kamu sudah 
mulai kelihatan tegang.?

Porno? Pemimpin Redaksi Exotica, Fuad Rohimi, menolaknya. ?Ini memang 
sensual. Tapi porno? Definisi porno itu apa sih?? ujarnya. Lagi pula, dia 
menambahkan, tabloid mereka ditujukan untuk orang dewasa.

Natly lain lagi. Dia malah mempertanyakan kenapa baru sekarang kehadiran 
mereka dipersoalkan. Lipstik terbit sejak tahun 2000. Dulu kantor mereka di 
Jalan Biak, Roxy, Jakarta Pusat. Tempat itu sangat dekat dengan markas 
Front Pembela Islam (FPI) di Tanah Abang. Lokasi kantor keduanya hanya 
dipisahkan Kali Cideng. ?Nyatanya, mereka tidak pernah mendemo kami,? 
ujarnya. Front Pembela Islam adalah organisasi massa yang rajin memprotes 
media lher atau tempat hiburan malam.

Cuma, kata Natly, setiap menjelang puasa FPI dan Front Mujahidin mengirim 
faks, minta agar bulan puasa dihormati. Tabloid mereka diminta tak 
menampilkan bikini. Imbauan itu diikuti. Sebagai gantinya, saat-saat 
seperti itu mereka memakai model yang lebih terkenal. Misalnya, mereka 
pernah menampilkan Denada pada edisi Lebaran tahun 2003. Beruntung, bintang 
terkenal tetap mau dikasih honor ala kadar oleh tabloid esek-esek ini.

Protes terhadap gerakan antipornografi juga datang dari kalangan model. 
?Aku pengen banget lho dipanggil ke Polda supaya bisa mengeluarkan semua 
argumenku tentang RUU Antipornografi itu,? kata Sisi, seorang model. Sisi 
adalah remaja yang langganan jadi cover tabloid. Di usia 14 ia sudah 
memermak payudaranya agar bisa laku jadi model (lihat Gadis itu Melahap 
Malam). ?Susah mengukurnya, apalagi kalau yang berkaitan dengan seni. Itu 
kan kebebasan berekspresi,? kata Sisi menggebu.

Model protes, pengelola tabloid tak kapok--meski untuk itu beberapa dari 
mereka sudah digelandang ke kantor polisi. Bisnis ini, menurut Slamet, 
memang menggiurkan. ?Paling tidak, nggak rugilah,? ujarnya. Slamet sendiri 
mengaku keluar dari bisnis ini karena permintaan keluarga. Ia hengkang 
beberapa bulan sebelum Pop bubar pada awal 2004.

Data yang diperoleh Tempo dari beberapa agen menyebutkan oplah 
tabloid-tabloid ini 25 ribu sampai 45 ribu eksemplar. Distribusinya lumayan 
luas: sebagian tabloid bahkan tersebar hingga Papua. Beberapa malah sampai 
ke Malaysia untuk konsumsi para pekerja migran asal Indonesia di sana.

Di samping keuntungan langsung dari penjualan yang bisa mencapai Rp 1.500 
per eksemplar, pemasukan juga datang dari iklan. Kebanyakan iklan party 
line, jamu, serta obat-obatan multivitamin. ?Setiap minggu ada 15-20 iklan, 
sekitar Rp 20 juta,? ujar Natly.

Maka jangan heran, ketika menerbitkan Pop, menurut Slamet, modal sudah 
kembali pada edisi ke-13. Lipstik lebih cepat lagi, cuma dua setengah bulan 
alias 10 edisi. Exotica, yang baru terbit pada akhir 2003, meski beberapa 
saat terakhir cuma beroplah 25 ribu, juga tak lagi pernah mengeruk kantong 
investornya. ?Paling tidak untuk biaya operasional, cetak, dan bayar gaji, 
sudah bisalah,? ujar Fuad.

***
KINI situasi tak menentu. Kalaupun mereka nekat terbit lagi, tak ada guna. 
Agen pun untuk sementara ?tiarap?. Lalu bagaimana nasib tabloid erotis 
selanjutnya? ?Entahlah,? ujar Fuad. ?Padahal ini bacaan dewasa, seharusnya 
tidak dilarang.?

Yang perlu, menurut Fuad, menjaga agar jangan sampai tabloid ini dijual ke 
anak-anak di bawah umur. Soal penjualan inilah yang harus diatur oleh 
undang-undang, bukannya melarang tabloid erotis. Toh dia tak mau nekat. 
?Sementara Exotica menunggulah,? ujarnya.

Tak seperti Exotica yang hanya menunggu, Lipstik selangkah lebih maju. Pada 
awal Maret lalu mereka terbit lagi dengan nama Star Lipstik. Sesuai dengan 
judulnya, tak ada lagi model kencur. Semuanya selebriti. Konsep fotonya pun 
berubah, tak ada lagi swim suit.

Edisi pertama mereka akan menampilkan artis dangdut Yessy Vibrantor. 
Cover-nya foto Yessy mengenakan kaus ketat tanpa lengan bermotif macan 
tutul. Bawahannya celana jins lusuh.

Mengingkari pembaca? ?Tidak juga,? ujar Natly. ?Meski konsep fotonya 
berubah, isi berita tetap, tentang seksualitas.? Tetap bisa bikin orang 
keringatan. Simak saja rencana judul edisi perdana Star Lipstik, ?Yessy: 
Kuat 'ML' Tiap Hari??. Tidak khawatir digasak lagi? ?Lho, yang 
dipermasalahkan kan fotonya, kenapa yang lain harus kami ubah?? ujar Natly.

Philipus Parera, Olivia K. Sinaga, Titis Setianingtyas
(Majalah Tempo, 20 Maret 2006)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: