[nasional_list] [ppiindia] 'Anak Cucu Naga' Merusak Sungai

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.indomedia.com/bpost/102005/1/opini/opini1.htm


'Anak Cucu Naga' Merusak Sungai
Oleh: 
Ahmad Barjie B 

BPost edisi Sabtu 24 Sepetember 2005 menurunkan tulisan Marko Mahin berjudul 
'Menunggu Naga Di Sungai Martapura'. Sebagai pengajar Agama-Budaya Dayak di 
Sekolah Tinggi Teologi GKE dan Antropologi di FKIP Unlam, bung Marko memang pas 
dan kompeten menyoal misteri naga secara mitologis dan antropologis. Saya 
tertarik menanggapi dan menyambung tulisan Marko, karena menurut saya, mitos 
naga penting direaktualisasi sekarang. Tidak saja dalam bentuk seremoni lomba 
jukung hias atau atraksi perahu naga yang marak digelar Pemko Banjarmasin 
bersama BPost dan sponsor lain dalam rangkaian hari jadi kota, tetapi lebih 
daripada itu. Naga harus lebih dihargai dari sisi esensi.

Diceritakan Marko, paling tidak ada tiga etnis yang sangat berkaitan dengan 
mitos naga, yaitu Cina, Banjar dan Dayak. Pertama, etnis Cina (Tionghoa) paling 
dominan dalam urusan mitologi naga. Dalam budaya Cina, naga merupakan makhluk 
legendaris yang menakjubkan. Ia ruh atau dewa air yang selalu membasahi bumi, 
bahkan ada kalangan etnis Cina beranggapan mereka adalah keturunan atau titisan 
naga. Itu sebabnya, untuk menghormatinya ada Tahun Naga dalam penanggalan 
Imlek. Dapat ditambahkan dalam rangkaian Hari Raya Peh Tjun (Twan), terdapat 
lomba perahu naga (Peh Liong Tjun) yang ditandai dengan bergembira di sungai, 
pinggir pantai, makan-makan, bernyanyi, menari, bermain catur sambil menikmati 
atau ikut lomba perahu naga. Selain tempat ibadah (klenteng) yang berhias naga, 
berbagai produk kerajinan tempo dulu seperti tembikar, keramik dan sejenisnya 
hampir selalu berhias naga. Hingga kini barang antik seperti itu bernilai 
historis, magis dan berharga tinggi.

Kedua, etnis Banjar dalam mitos klasik adalah keturunan Putri Junjung Buih 
(istri Pangeran Suryanata) titisan dari Jata, makhluk misterius penguasa alam 
bawah air. Ia adalah naga penyangga bumi. Di balik riak dan gelombang, di situ 
Jata bertahta. Jata merupakan naga utama, dan punya bawahan sejumlah naga lain. 
Apabila Jata marah dan menggeliat, bisa terjadi gempa bumi, banjir dan bencana 
lain. Cuma misteri naga di kalangan etnis Banjar juga dicampur dengan misteri 
buaya kuning, datu dan ikan Nun yang pernah menelan dan menyelamatkan Nabi 
Yunus. Ikan Nun dipercaya sekarang tetap ada dan menyangga bumi. Bila ia 
menggeliat, walau sekadar menggerakkan ekor karena kecapean, akan terjadi 
gempa. Bila penghuni bumi (manusia) gemar bermaksiat, beban bumi semakin berat. 
Saat terjadi gempa dan tsunami Aceh, ada orang tua berpendapat itu adalah 
geliatnya ikan Nun. 

Ketiga, suku Dayak, terutama Dayak Ngaju di Kalteng menurut Marko juga memiliki 
misteri naga. Konon di Sungai Katingan ada seseorang yang berubah menjadi naga 
bernama Naga Andoh, dan di Sungai Kahayan juga ada seseorang menjelma menjadi 
naga dengan nama Naga Tambing. Pulau Nusa Tambing dekat Tumbang Nusa, dipercaya 
berasal dari bangkai naga yang mati karena menggigit dirinya sendiri yang 
semula dikira musuh.

Dari tiga mitos di atas dapat disimpulkan, ketiga etnis; Cina, Banjar dan Dayak 
merupakan keturunan 'naga'. Naga tersebut merupakan penghuni alam bawah air, 
yaitu sungai, delta, telaga, rawa dan berbagai daerah berair. Sungai yang dalam 
(Banjar: lu-uk) merupakan tempat naga senang bersarang dan hidup dengan tenang. 
Menjadi menarik dipertanyakan sekarang: Masihkah anak cucu ketiga suku 
keturunan naga ini setia kepada leluhurnya? Dengan rusaknya sungai sekarang, 
tidakkah itu berarti mereka telah merusak kediaman dan tempat pertapaan 
leluhur? Mempersoalkan suku di sini tentu bukan menghidupkan SARA, tetapi 
semata untuk renungan dan kebaikan bersama.

Semakin tidak peduli

Kita mulai dengan etnis Cina (Tionghoa). Walau asal muasal mereka di negeri 
leluhur merupakan pekerja agraris, tetapi setelah merantau ke Indonesia 
berabad-abad silam, lebih memilih bergerak di sektor perdagangan dan industri. 
Termasuk yang berdomisili di Banjarmasin, sejak lama menggeluti sektor ekonomi 
bisnis. Kampung Pecinan di Indonesia termasuk di Banjarmasin, identik dengan 
kawasan bisnis. Konsekuensi profesi ini, etnis Tionghoa berlomba membangun 
toko, rumah toko dan pusat bisnis. Bila kita amati di berbagai sudut kota dan 
sepanjang Jl Jend Ahmad Yani, banyak sekali ruko milik etnis Tionghoa. Dengan 
kemampuan keuangan yang lebih unggul, mereka mampu membeli tanah di tempat 
strategis dan pinggir jalan raya, yang semuanya hampir selalu ada anak sungai 
atau paritnya. Dari hari ke hari mereka makin agresif pula membangun mal dan 
pusat belanja besar. Kondisi Banjarmasin yang sudah jenuh dengan pasar terus 
diramaikan dengan pasar baru.

Sayang sekali bangunan itu banyak memakan daerah rawa yang semula berfungsi 
sebagai serapan air. Hampir semuanya membangun dengan teknis uruk. Nyaris tidak 
ada yang membangun dengan sistem rumah panggung seperti dulu disarankan Pemko 
Banjarmasin dan Pemprop Kalsel, agar bisa menyerap air. Mengingat makin 
meroketnya harga tanah, sungai semakin terdesak, baik sungai besar, kecil 
maupun parit. Akibatnya, Banjarmasin semakin sering banjir. Hujan lebat 
satu-dua jam saja sudah cukup membuat banjir di sana-sini, sebab tidak ada lagi 
tempat air berlari. 

Sama dan serupa dengan sikap etnis Banjar. Selain ikut berpacu membangun 
perumahan, toko dan ruko, gudang dan pusat belanja, urang Banjar juga paling 
ahli dalam mematikan sungai. Mula-mula mereka membangun rumah/gubuk di tepi 
atau bantaran sungai, lalu sungai menjadi sempit. Di saat sama, mereka 
menjadikan sungai sebagai tong sampah raksasa. Akhirnya secara berangsur sungai 
menjadi mati. Maka Banjarmasin yang sempat berjuluk Kota Seribu Sungai, kini 
mungkin hanya tinggal seratus atau sepuluh sungai yang masih berfungsi baik dan 
lancar. Selebihnya sungai tidak kondusif lagi untuk dilayari, dan dijadikan 
tempat mandi. Beberapa bulan lalu, rombongan Alvin Lie dari DPR-RI ingin 
mengelilingi Banjarmasin lewat sungai karena tertarik menikmati kota sungai 
ini. Tetapi setelah melihat kondisi sungai yang sangat jorok, ia membatalkan 
niatnya. Ia heran mengapa ciri khas Banjarmasin sebagai kota sungai justru 
dimatikan oleh penduduk Banjar sendiri. Dari ketiga etnis, barangkali hanya Day
 ak yang masih tinggi kepeduliannya terhadap sungai.

Akumulasi antara kepentingan sebagian pengusaha dan masyarakat yang tidak ramah 
terhadap sungai, akhirnya tidak sekadar membuat hilangnya fungsi dan keindahan 
sungai, tetapi mengantar kepada kehidupan sosial ekonomi dan kesehatan yang 
berat. Ratusan keluarga di sekitar tempat tinggal penulis menjerit, karena 
sungai yang mereka tempati tidak lagi fungsional. Adanya bangunan raksasa 
perbelanjaan di kawasan Jl Jend A Yani, membuat sungai mereka mati dan berhenti 
mengalir. Ibu-ibu pedagang kecil yang biasanya menyisir rumah penduduk dengan 
jukung tidak ada lagi, karena tidak ada tempat lewat. Pasang surut yang semula 
menjadi harapan pembawa sirkulasi air tidak berjalan lagi. Airnya berbau dan 
hitam pekat seperti oli (andai bisa jadi oli, tinggal dicabuk, mumpung BBM lagi 
mahal). Ikan dan mikroba tidak sanggup hidup, sehingga limbah masyarakat lambat 
hancur. Akibatnya masyarakat setempat tidak bisa lagi MCK di sungai tersebut. 
Beban ekonomi mereka yang sudah susah bertambah berat,
  karena setiap hari harus membeli air leding untuk MCK. Protes masyarakat 
belum mendapat tanggapan memadai dari manajemen perusahaan. Padahal sekiranya 
perusahaan mau menanganinya dengan alat berat, bukan manual, masalah ini masih 
dapat diatasi, mumpung belum musim banjir. Kalau musim banjir, dampaknya makin 
fatal. Kita tidak dapat lagi memprediksi, sebab saat aliran sungai masih 
lancar, banjir menjadi langganan.

Tidak Sekadar Simbol

Sungai sesungguhnya sangat vital. Ia adalah aliran darah bagi kehidupan 
masyarakat. Begitu aliran darah tersendat, otomatis mekanisme tubuh terganggu 
dan akhirnya sakit. Rusaknya sungai sangat berisiko, tidak saja terhadap 
lingkungan hidup, kesehatan, sanitasi dan keindahan, tetapi juga sosial 
ekonomi. Baru sebagian kecil dari 700 ribu penduduk Kota Banjarmasin yang 
berlangganan air PDAM. Selebihnya masih menggunakan air sungai untuk berbagai 
keperluan, kecuali minum dan masak. Bahkan bagi yang sungainya relatif steril, 
air sungai masih dapat diendapkan untuk dimasak.

Karena itu meski sudah terlambat, kita tetap berharap agar semua pihak baik 
pemerintah, pengusaha maupun masyarakat benar-benar konsen dan punya komitmen 
tinggi untuk memelihara sungai. Aruh dan atraksi budaya sungai yang digelar 
saban tahun, sudah bagus karena itu bagian dari khazanah budaya. Tetapi 
hendaknya dibarengi dengan pemaknaan esensi dan substansi sungai. BPost dan 
media lain harus terus gencar melakukan publikasi dan pressure agar sungai di 
kota ini tetap terjaga. Aparat harus betul-betul menegakkan aturan secara 
konsisten dan tidak silau terhadap duit, sekiranya ada yang mau menyogok dengan 
kompensasi rusak dan terdesaknya sungai. Fatwa MUI Kalsel tentang haramnya 
merusak sungai dan membangun di bantaran sungai sudah positif, tetapi akan 
lebih mengena jika juga disosialisasi oleh dai dan tokoh masyarakat. 

Alangkah eloknya pejabat kota, pengusaha dan aktivis peduli lingkungan rajin 
turun ke pelosok kota, memeriksa sungai lalu menindaklanjuti dan mengatasi 
sungai yang bermasalah. Jangan hanya bangga melihat Sungai Martapura sambil 
menyaksikan lomba jukung hias dan perahu naga. Sebab sungai di Banjarmasin 
bukan hanya Sungai Martapura, tetapi ada ratusan anak sungainya yang kini 
sekarat dan merana. Kerusakan sungai yang demikian parah cukup menjadi alasan 
marahnya dewa naga dan penghuni alam bawah air. Tetapi yang kita takutkan dan 
prihatinkan bukan amuk naga, karena itu hanya legenda. Melainkan rusaknya 
sungai juga riskan membawa wabah penyakit, derita masyarakat dan banjir yang 
akan menenggelamkan kota.

Pemerhati masalah kemasyarakatan, tinggal di Banjarmasin 
e-mail: barjie_b@xxxxxxxxx

 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: