[nasional_list] [ppiindia] [40thn. G30S '65 ] Pemberangusan Lagu Kemerdekaan Manusia
- From: Mira Wijaya Kusuma <la_luta@xxxxxxxxx>
- To: "Kolektif (i)nfo Coup d'etat 65" <kolic65@xxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 30 Sep 2005 16:46:34 -0700 (PDT)
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Pemberangusan Lagu Kemerdekaan Manusia
Tingkap : Sekitar Tembok Berlin (23)
Oleh : A. Kohar Ibrahim
Taktik-trik «kill of hope », « rotten apple » dan « teori domino » dalam rangka
global strategi dengan pengobaran Perang Dingin yang panas oleh kaum nekolim
dengan kolaborator di negeri-negara bersangkutan memang kebiadabannya luar
biasa. Seperti di bagian-bagian kawasan Dunia Ketiga lainnya, di negeri kita
pun terjadilah apa yang disebut Noam Chomsky sebagai « gulag archipelago » yang
bersimbah darah, keringat dan air mata.
Tindakan penghancur-binasaan yang mereka lakukan terhadap yang dianggap musuh
dan dijadikan sasaran itu bukan hanya secara politis, juga psikis dan bahkan
fisik. Termasuk diantaranya tindakan pembungkaman dan pemberangusan terhadap
beragam bentuk ekspresi kreativitas dan penggelapan ingatan sejarah. Sebagai
kebalikannya, sang penguasa secara sewenang-wenang menyebarkan ketakutan,
dusta, fitnah dan pembodohan. Semuanya dilakukan secara intensif dengan
memanfaatkan sarana media massa yang dihegemoninya dan jaringan pengajaran dari
berbagai tingkat serta berbagai forum apa saja yang bisa menguntungkan atau
mengamankan kekuasaannya.
Demikianlah yang dilakukan sang penguasa Orba dan kaum orbais ? baik semasa
jaya-jayanya maupun setelah sang Kepala lengser. Seperti contoh tipikalnya
berupa kasus Pramoedya yang masyhur secara nasional maupun internasional.
Seperti juga macam kasus Ribka Tjiptaning Proletariati dengan bukunya yang
menggemparkan berjudul « Aku Bangga Jadi Anak PKI ». Yang penerbitannya
ditentang oleh elit politik yang tak kurang sedang berkedudukan sebagai RI-2.
Yakni Wakil Presiden Hamzah Haz. Yang meminta Kejaksaan Agung menyita dan
menyelidiki karya Ribka sang Anak Tapol itu.
Kasus Ribka terjadi tahun 2002, sedangkan kasus Pramoedya yang berkaitan dengan
pengungkap-hidupan ingatan sejarah terjadi pada tahun 1995. Seperti diberitakan
oleh Kompas Minggu 14 Mei tahun itu, berjudul : « Jaksa Agung Larang Buku
?Nyanyi Sunyi ? Karya Pramoedya ».
Dalam Kreasi nomor 24 1995 saya turunkan catatan budaya berkenaan dengan
penerbitan buku terbaru Pram sampai tahun itu. Sebagai suatu evenement yang
berkaitan pula dengan hari ulang tahunnya yang ke-70 sekaligus sebagai kado
ultah perkawinannya yang ke-40 dengan Maemunah Thamrin.
Buku yang berupa catatan-catatan dari Pulau Buru itu telah diterbitkan di
Belanda dengan judul « Lied van een Stomme » (hasil penerjemah A. van der Helm
dan Angela Rookmaker) oleh penerbit Manus Amici--Het Wereldvenster pada tahun
1988-1989.
Pada hari ultah ke-70 dan peluncuran buku yang berlangsung di rumahnya sendiri
itu, di antara para seniman, aktivis dan tamu-tamu asing yang hadir tampak
Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Rendra, Princen dan Mochtar Pabottinggi.
Pada kesempatan itu Pram menjelaskan, bahwa catatan dan surat-surat yang
terhimpun dalam buku itu, ditulis terburu-buru tanpa diperiksa kembali. Kecuali
beberapa bagian. Semua ditulis setelah 1973, tahun penulis mendapat izin
menulis. Dan dia berterimakasih yang tak berhingga kepada semua dan tiap orang.
Mereka yang karena solidaritas internasional dan manusiawinya memungkinkan
adanya kelonggaran penulis dalam pembuangan sejak Juli 1973, khususnya Amnesti
Internasional, Komite Indonesia, Prof. Dr WF Wertheim dan Carmel Boediardjo.
Dalam Catatan atas Catatan, Pram menandaskan, bahwa penerbitan buku itu, «
didasarkan pada pertimbangan : apa dan bagaimana pun pengalaman indrawi dan
batin seorang pribadi, apalagi dituliskan, ia jadi bagian dari pengalaman suatu
bangsa dan umat manusia pada umumnya. »
Sebagaimana lazimnya, tulis saya ketika itu, kaum intelegensia dan pers
Indonesia telah membuta-tuli atas adanya penerbitan sebuah dokumen sosial
sekaligus pembuktian dari korban kezaliman banditkrasi Orde Baru tersebut.
Kecuali segelintir saja, di antaranya catatan ringkas di Kompas, artikel di
Forum Keadilan dan Independen mewawancarai Pramoedya. Sebaliknya, pers
luarnegeri, terutama Asiaweek dan Far Eastern Economic Revieuw menyiarkan
komentar cukup panjang.
Pramoedya dengan tegas menyatakan, bahwa maksud penerbitan buku « Nyanyi Sunyi
Seorang Bisu » itu antara lain adalah agar « jangan sampai ada korupsi sejarah
».
Tetapi arogansi kekuasaan yang memang korup, sekali lagi telah memperlihatkan
watak kezaliman sekaligus ketakutan akan kebenaran dan keadilan dengan
melakukan larangan atas buku tersebut. Sesungguhnyalah, karena arogansi yang
teriring ketakutan sendiri itulah penguasa Orde Baru membuang sebanyak 10.000
tapol ke dalam kamp konsentrasi Pulau Buru. Termasuk di antaranya kaum
intelektual, budayawan, jurnalis, seniman, penyair dan sastrawan.
Dari kalangan sastrawan dan penyair, selain Pramoedya Ananta Toer, juga HR
Bandaharo, Boejoeng Saleh, Rivai Apin, S. Anantaguna, Samanjaya (Oei Haidjoen),
Nusananta, Setiawan Hs, Amarzan Ismail Hamid, Sutikno Ws, JT Rahma, Benny
Tjhung , James Kaihatu.
Dari kalangan wartawan, antara lain : M Naibaho, Hasjim Rahman, Tom Anwar,
Habib Azhari, Sumartono Mertoloyo, Samodra, Hariyudi, Kadi.
Dari kalangan seni film dan seni drama : Basuki Effendy, Bachtiar Siagian. Dari
kalangan ludruk dan ketoprak : Shamsuddin, Buwang, Dasul, Badawi.
Dari kalangan seni rupa : Permadi Lyosta, Gultom, Sumardjo.
Sedangkan dari kalangan seni musik : Subronto K Atmodjo, M Yunanta, Go Giok
Liong.
Sederetan nama-nama tapol Pulau Buru itu tertera dalam buku tipis susunan
eks-tapol Hersri S alias Setiawan Hs berjudul « Dunia Yang Belum Sudah »
(1993). Yang menunjukkan antara lain, bahwa dalam keadaan bagaimana pun
sulitnya, kaum pekerja kebudayaan dan seniman, sastrawan dan penyair tetap
bukan saja bisa bertahan dalam mengayomi hidup dan kehidupannya, tapi juga
senantiasa melakukan aktivitas dan kreativitas seninya.
Bahkan, di dalam kamp Pulau Buru pun, kata Hersri : « sensor militer terhadap
hasil daya cipta tapol, baik di atas panggung hiburan maupun di tengah tempat
kerja, berlaku sangat keras. Dengan sekedar bertujuan untuk memperlihatkan
kekuasaan, dan atas dasar itu menjatuhkan hukuman bagi tapol bersangkutan,
terkadang sesuatu alasan terasa benar-benar di-ada-ada-kan belaka. »
Hersri dalam makalahnya itu mengutarakan beberapa contoh. Seperti yang dialami
seorang aktor yang juga sutradara film Basuki Effendy yang disiksa hanya karena
menyanyikan lagu « Come Back To Sorento ». Sang penguasa mengartikannya bahwa
Basuki sedang melakukan agitasi untuk « meng-kam-bek-kan PKI ». Begitu juga Lie
Bok Hoo yang ditempelengi militer hanya lantaran bernyanyi menyanyikan lagu «
Larilah, Hai Kudaku », yang dicurigai memberikan isyarat kepada para tapol
untuk melarikan diri dari Pulau Buru.
Selain itu, bahkan, juga di Pulau Buru pelarangan diberlakukan bagi lagu «
Genjer-Genjer ». Padahal lagu tersebut bukanlah semacam lagu perjuangan seperti
« Maju Tak Gentar », « Nasakom Bersatu », « Resopim », « Darah Rakyat » atau «
Internasional », melainkan lagu rakyat. Lagu yang hanya melukiskan keadaan
sehari-hari rakyat biasa yang hidup sederhana dan menikmati tanaman berupa
genjer. Tetapi toh lagu itu ditakuti dan oleh karenanya juga termasuk hasil
karya yang terlarang.
Kenapa Orde Baru ketakutan ? Karena « Orde Baru adalah orde yang sakit jiwa »,
kata Hersri kemudian dalam tulisannya di majalah Kreasi nomor 3, 2001. Pesakit
kejiwaan itu, « timbul dari komunisto fobi yang amat parah, sehingga menjadi
angst psychose yang traumatis terhadap bahaya komunis. Karena itu jika orang
bertanya mengapa Orde Baru, yang memiliki perangkat militer ?gagah perkasa?,
takut pada lagu Genjer-Genjer, seribu satu alasan bisa dikemukakan. » Dan
Hersri pun menunjukkan lagu lainnya yang menjadi momok para penguasa, yakni
lagu « Hidup Di Bui ». Oleh Kopkamtib, pada tahun 70-an lagu tersebut sempat
dilarang baik di dalam penjara Tangerang, maupun di luar itu.
Kita pun kemudian mendengar khabar, bahwa dalam menghadapi segala macam siksa
dan penghinaan lainnya, ada masanya kaum wanita tapol di Penjara Bukit Duri
menyanyi serentak dengan lantangnya lagu « Darah Rakyat ». « Darah Rakyat masih
berjalan? » Yang membikin panik para penguasa penjara Orde Baru. Maka,
bagaimanakah bila lagu « Internasional » pun dikumandangkan? ***
(seri Tingkap: Sekitar Tembok Berlin ini bersambung sampai jilit 25)
* A. KOHAR IBRAHIM lahir di Jakarta, 1942. Bermukim di Brussel, Belgia.
Jurnalis, Penulis, Pelukis. Anggota dewan redaksi ?Zaman Baru?, yang Dewan
Redaksinya dipimpin oleh Rivai Apin dan pemimpin umumnya S. Anantaguna. Sejak
tahun 1950-an sampai sekarang karya tulisan dimuat diberbagai media massa cetak
dan elektronika a.l.Seri karya tulisan IMPRESI DARI EROPA
(http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewcat&cid=67), Kolom
BUNG KOHAR
(http://kolom.depokmetro.com/v2/view.php?kat_id=1&rubrik_id=23&id=3808)
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] [40thn. G30S '65 ] Pemberangusan Lagu Kemerdekaan Manusia