[list_indonesia] [ppiindia] The Passion of Democracy / Beri EMA kesempatan Re: [apakabar] The Passion of The Little People

** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **

Aku pingin komentarin kedua-duanya sekaligus. Lagi ada waktu. :-)) Untuk 
menghindari salah paham, dan benci hati, mohon nikmati jawaban saya ini dengan 
semangat sersan = serius dan santai. As a friend lah.

JASP <jasp@xxxxxxxxxx> wrote:
Kok analisa macam begini yah ? Sebagaimana dikenal : agama adalah kepercayaan: 
jadi percaya ... bukan terus dianalisa oleh orang yang agamanya lain, lho 
namanya kepercayaan . Kalau analisa itu semacam ilmu pengetahuan atau Science , 
yah nggak gathuk ! Orang Kristen percaya bahwa Jesus disalib dan disiksa , itu 
kan suatu simbol kepercayaan .... namanya aja simbol agama ....

Bobby B wrote:
yah analisa macam apa saja ya boleh. Emang sih analisanya rada nggak level, 
cilakanya juga terasa arogan, menghina. .. 
yah tapi bagaimana inilah negara demokrasi, bukan negara teokratis ala Saudi 
atau Iran atau Negara Kristen jaman abad pertengahan, yang bisa tangkap orang 
jika ngomongin Nabi Muhammad atau Yesus seenaknya. Di sini berlaku hukum 
demokrasi humanis, bukan kekalifahan.
 
Tapi aku gak setuju bahwa science dan agama harus dipisahkan. Jesus disalib dan 
disiksa itu bukan simbol tok, tapi menurut ajran Kristen resmi hal ini terjadi 
betul-betul.
 
JASP:
Amerika adalah negara SEKULER , jadi nggak ada urusan yang dicampur adukkan ... 
George Bush presiden Amerika bukan presiden Negara kristen ... jadi waktu WTC 
dibom oleh orang fanatik fundamentalis .... yah presiden negara sekuler yang 
namanya negara Amerika Serikat ... bukan melakukan sebagai orang Kristen ... 
lho namanya negara dan agama dipisahkan ... yah ngikuti Undang Undang aja ... 
nggak kayak negara ambur adul yang mencampur adukkan urusan agama dan urusan 
negara .... ini namanya negara Sektarian .... 
 
Bobby B:
Bush juga mencoba mencampur adukkan agama dgn politik. Bush membahayakan 
demokrasi itu sendiri. Perilaku Bush tidak ubah dgn partai-partai agama di 
Indonesia, mereka mengeksploitasi agama untuk kekuasaan.

 
JASP:
Jadi memakai otak untuk analisa beginian yah .. seenaknya saja ..... karena 
itulah banyak <apakabarian> nggak menyukai diskusi agama ... nggak ada mutunya 
dan logika jungkir balik ... segala sesuatu dihubungkan dengan Propaganda agama 
... segala sesuatu menganggap agamanya paling benar sendiri .... nggak mikir 
bahwa agama merupakan kepercayaan ... percaya titik, kalau pakai analisa macam 
ilmu science ... kemudian memakai rumus-rumus dan logika cetek ... jadinya 
agama menjadi Ilmu Science .... ini cuma ada dinegara terbelakang yang 
fanatikusnya mau menang sendiri ... analisa seenaknya dan kampungan banget yah ?

Bobby B:
Benar karena mailing list itu memang isinya bisa siapa saja. Yang propesor, 
yang wartawan, yang sastrawan, yang sariawan semua bisa ikut. Lah pantas kalau 
ada yg logikanya jungkir balik. 
 
Mesti ditekankan, logika jungkir balik ini bukan monopoli Islam Fundamentalis 
saja loh. Dan Fundamentalisme tidak menjangkiti umat Islam saja loh. Bahkan di 
luar umat agamapun ada yg fundamentalis. Yang scientis ateispun bisa 
fundamentalistis, ini namanya Sientisme.
 
 
JASP:
Membikin film semacam itu , tentu beayanya mahal dan lagi peralatan canggih 
serta otak pembuat filmya kan ada kelasnya ... apa negara-negara sektarian 
punya orang macam begitu ? Film Hollywood kan memang hebat , ada sejarahnya 
Bung .... film Bollywood aja juga hebat ... sedangkan dinegara ini ... filmnya 
diproduksi oleh orang keturunan India .... sekali lagi logika cetek kampungan 
dan menghubungkan kesnggupan bikin film bermutu ..... belum tentu bisa 
dilakukan oleh orang-orang fanatik yang pikirannya cetek banget ... itulah 
faktanya bung , bukan karena ... alasan ini itu ... atau nggak perlu bikin film 
.... lho film industri itu kerjanya yah ... cari duit ... bukan propaganda 
agama .... cari duit .... beaya besar, keuntungan besar dan pakai OTAK cerdas 
serta keuletan dengan mikir teliti ... jadilah film bermutu .... yang nggak 
akan mampu dibikin oleh sektarian .... sektarian kan kerjanya cuma ngurusin 
menjelekan agama lain !

Bobby B:
Menurutku filmnya terlalu banyak kekerasan. Aku sengaja nggak nongtong pilem 
itu karena ada anak-anak yg masih kecil.  Si Mel Gibson ini bikin film gituan, 
kok ya kaya bikin film Lethal Weapon. Tapi penggambaran konfliknya cukup bagus. 

---------------JASP & BB selesai.----------------------

dilanjutkan dgn BB & emabdalah (EMA)

At 04:59 PM 3/30/2005, emabdalah wrote:
The Passion of The Little People
...........deleted...................
Sebagai sutradara yang masih belajar, Mel Gibson tampaknya tahu betul selera 
pasar. Pangsa pasar film adalah mata, bukan hati nurani. 
 
Bobby B wrote:
Huebat bener ini orang tahu hati nurani penonton seluruh dunia. 
 
emabdalah (EMA):
Jadi tokoh-tokoh yang membintangi film TPTC digambarkan sebagai orang yang 
ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Yesus digambarkan berjenaggut tipis. Padahal 
jaman itu, saya yakin belum ada salon yang bisa merapikan janggut lelaki. Sebab 
kalau janggutnya lebat, gak keliatan dong gantengnya Yesus. Janggut dibikin 
tipis, sehingga para penonton bisa dengan cepat jatuh kasihan melihat wajah 
lugu itu. 

 
Bobby B:
Lah memang orang Yahudi itu banyak yg cantik-cantik dan ganteng. 
Mancung-mancung. biar fair: orang arab juga banyak yg cantik dan ganteng.  
Cuman katanya mambu... he...he... (eh.. kalau ada yg arab, sorry ya ... cuman 
guyon.... mambune cewek arab sih aku jg seneng)
 
Lah mosok wajah yg dipake kaya Nabi Muhammad kan nanti dikira film arab. Atau 
wajah kaya Dracula nanti jadi film "Dracula dihajar massa" ...he..he..

 
EMA:
Sang bunda Maria pun digambarkan sebagai wanita yang cantik jelita. Bibir merah 
merona, wajah tanpa guratan ketuaan sedikitpun. Tampangya lebih muda dari sang 
anak. 
 
Bobby B:
Ah dasar elunya mata keranjang. Muke kaya gitu aja naksir. Dasar hobinya Tante 
Tante. ..he..he.. guyon loh..  Tapi serius, aku nonton juga loh, jujur deh, 
kayanya dalam hal memilih wajah, si Mel lebih pinter daripada elu.
 
EMA:
Yah, mau bagaimana lagi, itulah dagangan film. Penonton suka melihat yang 
indah-indah. Kalau bintangnya diwakili orang jelek, tua, gak laku dong.
 
Bobby B:
Lah udah tahu kok masih banyak ngoceh.  Menurut penilaianku, ya.. itu sampeyan 
lebih bodo deh milih aktor dan aktris dibanding ama si Mel Gibson. Yah tapi 
jangan sedih lah.. la wong si Mel emang udah bolak balik main film yg laris.. 
nggak kaya sampeyan. Kite-kite maklum kok.

EMA:
Itulah sebenarnya inti daripada ajaran Kristen, yang desebarkan oleh para 
pengikut Yesus, menonjolkan keindahan fisik. Coba, kalau bunda Maria 
digambarkan seperti ibu-ibu yang gembrot, dan Yesus berkulit hitam legam 
seperti pengemis jalanan, saya yakin gereja akan semakin sepi. Walaupun Yesus 
(Nabi Isa) dan ibunya adalah orang Timur Tengah yang nota bene berkulit gelap, 
di patung-patungnya selalu digambarkan berkulit putih seperti orang Eropa. 

Bobby B:
Lah sampeyan meniko kepripun toh..  ngomonge dadi makin pating pecotot.  La 
kalau si ibunya gembrot dan si anak hitam legam seperti pengemis jalanan....  
itu mah filem "Ratapan Anak Tiri" , Ibunya makmur anaknya keleleran...  
he..he..he..  
 
Kepripun sampeyan? Kebanyakan nonton sinetron kali ye!
 
Kritik sampeyan mengenai patung-patung kulit putih itu bener. Aku setuju. Tapi 
nggak semua gitu.
 
 
EMA:
Dengan melihat wajah yang cantik, rupa yang ganteng dan innocent, para pengikut 
akan berdoa lebih khusyu. Tuhan jadi kalah pamor dengan penampilan sang anak.

Bobby B:
Lah itu mah khayalanmu sendiri. Kalau sampeyan khusyu karena rupa ganteng dan 
cantik, jangan samain orang lain dong. Itu mah maksain selera sampeyan ke orang 
lain.
 
Daku jelek-jelek gini sih cita-citanya bisa berdoa khusyu di mana saja. 
Almarhum Romo Mangun dulu jg gitu, beliau berdoa dan berkarya di mana saja. Di 
kali code beliau juga berkarya untuk saudara-saudari yg muslim. Mereka happy 
dan tetap muslim.
 
Tapi ndak papa. Dalam ilmu komunikasi ada istilah Proyeksi dan Seleksi. Jadi 
kalau sampeyan memproyeksikan khayalan sampeyan ke orang-orang yg nonton film 
itu, ya itu fenomena manusiawi. Tapi jujur aja itu tidak obeyktif, alias 
ngelamun bukan berpikir. Jangan terlalu sedih deh. Profesor aja masih banyak yg 
gitu.
 
 
EMA:
Kembali ke film TPTC. Nampaknya di film itu, ajaran Yesus hanya berkisar pada 
penyalipan saja, dan mengajarkan kita bagaimana kalau suatu saat nanti 
"disalib". Di film itu Yesus sudah rela disiksa demi menebus 
kesalahan-kesalahan anak manusia. Dengan kata lain, para pengikut Yesus sudah 
dilapangkan jalannya menuju sorga, dan tak perlu bersusah payah mengerjakan 
amal soleh. Karena toh pada akhirnya, Yesus sudah mengampuni dosa-dosa mereka. 
Enak tenaaan.
 
Bobby B:
Lah kalau sampeyan tahu itu enak, kok ya protes. Iri ni ye!!!  he..he.. tapi 
serius deh...  sampeyan salah paham lagi.
 

EMA:
Dalam hati saya bertanya-tanya, apa betul drama penyiksaan Yesus seperti itu? 
Dari awal sampai akhir disiksa tiada habisnya. Kalau betul demikian, sungguh 
memang betul-betul kejam orang-orang Yahudi, yang meminta Yesus disalib dan 
disiksa.
Kalau hal itu memang aslinya demikian, barangkali saja Yesus ingin 
mempraktekkan secara "realty show" ajarannya. Sebagai anak Tuhan yang mempunyai 
"kesaktian" menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, tentu bukan 
barang aneh, kalau beliau bisa tidak merasa sakit disiksa. (Apalagi 
sempat-sempatnya beliau membawa salib sendiri ke padang penyaliban. Orang mau 
disalib kok, bawa sendiri salibnya. Kalau saya yang mau disalib, ogah ah 
bawa-bawa salibnya. Mau bunuh, ya, bunuh aja, pake diwajibkan bawa salib 
sendiri. Yeee.). Dengan kata lain, beliau hanya berpura-pura saja merasa 
kesakitan ketika ditendang, dicambuk, dll. "Aduuh!" , "Aaa!", "Oh". 
Ini hanya analisa saya berdasarkan logika loh, jangan marah dulu. Sebab pada 
akhirnya toh dia bangkit lagi, hidup lagi setelah mati disiksa dan disalib. 
Seperti film fiksi tentang alien, ditembak, luka, sembuh lagi. Dibom, mati, 
hidup lagi.

Bobby B:
Ndak papa kok mbak atau mas. Aku sih nggak marah. La wong sampeyan make logika 
(kurnia Tuhan bagi manusia), masak kite marah. Kite mah malah teng kyu.
 
Penggambaran pengadilan dan jalan salib oleh si Mel Gibson emang menurut logika 
dan rasa ku rada terlalu seperti film-film dia sebelumnya, seperti Lethal 
Weapon. Film-film action Mel sering kali ada penyiksaan thd jagoannya. 
Penyiksaan diskenariokan begitu kejam tapi terus akhrinya jagoannya bisa 
bertahan dan menang. Dalam film ini kayanya si Mel jg nggak lepas dari pakem 
itu.
 
Kalau mengenai penjelasan teologis jalan salib dan penyaliban si Yesus, 
tampaknya terlalu panjang di sini untuk diuraikan. Yang jelas kebanyakan umat 
Kristen yg saya tahu nggak meyakini kisah penderitaan Yesus seperti kisah fiksi 
tentang alien. Pendeknya inti penderitaan Yesus menurut saya adalah bahwa Tuhan 
itu adalah cinta kasih. Tuhan mencintai kita semua anak-anaknya dengan 
sungguh-sungguh. So bertumbuhlah dewasa, kembangkan imanmu, bergaulah dengan 
siapa saja, jalanilah rahmatan 'lil alamin bukan bicara saja.
 
 
OK mbak atau mas emabdalah, daku merasa terima kasih atas opininya. Walaupun 
teman-teman ada yang merasa terhina. Bukan saja yg Kristen, tapi yang ISLAM (di 
milis PPI India) juga ada yg merasa terhina atas kualitas opini anda. Tapi 
nggak papa kok, coba saja terus beropini, suatu waktu pasti ada kemajuan. 
Lagipula nggak akan ada yang memfatwa mati anda, bahkan jika anda nyamain Yesus 
dengan Alien. Inilah indahnya demokrasi. Tidak seperti sistem kekalifahan.
 
Seandainya sampeyan mau serius mengerti apa itu Kristen, kalau menurut seleraku 
sampeyan bisa baca buku-buku Tony de Mello SJ. Walaupun si Tony nggak disukai 
Kardinal Ratzinger (tangan kanan Paus di Vatikan) tapi menurutku si Tony cukup 
banyak diterima umat Katolik di seluruh dunia. Atau buku klasik Huston Smith 
"Agama Agama Manusia" percetakan Yayasan Obor Indonesia, buku ini malah komplit 
membahas hampir semua agama besar dunia.
 
Buat pendukung Yesus, santai aja kenapa? Love man, LOVE!!!
 
Buat pendukung sistem kekalifahan di Indonesia, gimana terbukti kan baiknya 
sistem demokrasi, kalian bisa bebas berbicara. Jangan ditelikung yah sistem 
ini, itu kan pengecut, mau nikmati demokrasi tapi tidak mau mengakuinya....  
emang kalian lagi main sinetron berjudul, Serigala Berbulu Domba? atau Kuda 
Troya Islam Indonesia???
 
Weleh...weleh...  Kalau pengecut begini, aku yakin Nabi Muhammad pun juga malu 
ama kalian.
 
Salam Demokrasi
Bobby Budiarto


                
---------------------------------
Yahoo! Messenger
 Show us what our next emoticon should look like. Join the fun.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **

Other related posts: