[list_indonesia] [ppiindia] Senyum Koruptor
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 15 Apr 2005 22:08:31 +0200
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
Media Indonesia
Sabtu, 16 April 2005
Senyum Koruptor
Danarto, Budayawan
MENGAPA para koruptor yang tertangkap dan diadili tampak tersenyum manis?
Kenapa? Boleh jadi hanya Niniek L Karim dan Fuad Hassan, sebagai psikolog, yang
tahu persis, mampu mengorek rahasia senyum manis mereka. Namun demikian,
bolehlah kita menduga-duga arti senyum manis para jawara penilap uang negara
itu.
1) Para koruptor meyakini bahwa uang negara yang berada di bawah kekuasaannya
adalah uangnya. (2) Para koruptor meyakini bahwa gaji yang cupet mengantar
keluarga menuju jurang kehancuran sehingga harus diburu upaya-upaya radikal
untuk mengatasinya. (3) Para koruptor meyakini bahwa kedudukannya sebagai
pejabat merupakan berkah yang memberi peluang untuk memperkaya diri sendiri,
sementara negara tidak mungkin mampu menjamin kesejahteraan warganya. (4) Para
koruptor meyakini bahwa setiap orang adalah koruptor sehingga apa salahnya
untuk tidak berbeda dengan sesamanya. (5) Para koruptor meyakini bahwa bagi
Indonesia sudah tak ada harapan lagi mampu melewati krisis dasamuka ini
sehingga setiap pejabat harus cukup bijaksana untuk mengambil tindakan-tindakan
seperlunya untuk memperlambat kehancuran itu dengan menggerogotinya
perlahan-lahan supaya tidak sakit-sakit amat sekaratnya.
Ya, di Indonesia, hanya orang gila tidak korupsi. Jadi, setiap orang jadi
tertuduh korupsi. Jika setiap orang jadi tertuduh koruptor, betapa sehatnya
orang Indonesia. Hanya orang-orang sehat yang mampu korupsi. Jika seseorang
sakit-sakitan, korupsinya tidak meyakinkan sehingga tidak pantas mendapat
sebutan koruptor.
Lebih-lebih lagi segala tindakan para koruptor mengatasnamakan dan demi
kejayaan bangsa dan negara. Dus, tak akan ada penghalang lagi dalam
melaksanakan cita-cita itu. Untuk bangsa dan negara, segala daya harus
habis-habisan disumbangkan. Jika tidak, sungguh tak pantas disebut koruptor.
Begitulah, setiap koruptor berlomba untuk berjasa bagi bangsa dan negara.
Dengan demikian, mereka harus tampak tersenyum manis supaya memikat segenap
rakyat. Senyum adalah identik dengan koruptor.
Senyum Abdullah Puteh, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, tampak pipinya
terangkat montok dan manis sekali, jauh lebih manis daripada senyum yang ia
berikan kepada istrinya. Senyum itu begitu telak menonjok kita hingga kita
terkapar, masih juga ia menambah celetukan dengan: 'Emangnya gue kagak tahu
kalo korupsi Loe lebih gede!' Memang, kita harus mengakui bahwa korupsi kita
jauh lebih gede ratusan kali dari dia yang cuma tiga miliar rupiah lebih
sedikit. Senyum yang sinis dan begitu tampak bijaksana tak membawa-bawa nama
kita secuil pun. Bahkan, ia sudah bersumpah di bawah kitab suci Alquran (yang
kita tentu takut melakukannya) bahwa ia tidak bersalah dan sama sekali tidak
melakukan tindakan korupsi.
Dalam senyum sehari-harinya ketika masih memegang jabatannya, ia tak segitu
manisnya. Khusus dalam peristiwa yang bersejarah itu, ia telah memberikan
senyumnya begitu syahdu sehingga kita mengalami pencerahan. Rasanya, jika kita
tak mampu mengendalikan diri, kita akan serempak berteriak menyambutnya,
'Korupsi kami jauh lebih gila!'
Senyum Mulyana W Kusumah merebak ketika ia diseret oleh petugas. Meski tampak
lelah dan kuyu, senyum yang begitu penuh pengertian atas segala sesuatu yang
penuh rahasia itu tetap terpancar. Ia yang paling muda dan bersedia jadi
martir, tentu hal itu merupakan sikap hidup yang penuh keteladanan. Ia mafhum
bahwa jika uang yang amblas sekitar 90 miliar rupiah, bagaimana mungkin
seseorang yang bisa menyelamatkan seluruh jajarannya cuma minta 150 juta
rupiah. Sungguh hal yang mustahil.
Apakah kita punya keberanian untuk menjadi martir, menjebakkan diri di sarang
macan, dengan risiko yang begitu besar, karier dan keluarga hancur, demi
kebenaran. Dibanding Puteh dan Mulyana, kita cuma macan kertas. Secara mental
dan tingkah laku, kita ini tak lebih dari jiwa budak-mental kere, dan hal itu
tampak begitu jelas bagai siang bolong dalam senyum Puteh yang penuh pelecehan
terhadap jiwa kita. Betapa lemahnya kita!
Sementara itu, tataplah senyum sepuluh orang bekas anggota DPRD Solo
(1999-2004) yang dikerangkeng dalam kasus Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara 2003. Senyum mereka yang penuh kebanggaan diri. Senyum mereka yang
menohok dada kita dengan penuh kesadaran diri. Kesepuluh orang itu tampak
tersenyum ngobrol santai di balik kerangkeng yang bersih, yang bukan tidak
mungkin memaki-maki kita dengan: ''Bangkai, kalian!''
Sungguh, betapa kerdil kita dalam mengikuti gerak hidup yang rutin, miskin, dan
menyedihkan. Kita membiarkan tubuh dan jiwa kita terseok-seok tanpa mampu
membela dan meningkatkan diri untuk sekadar hidup pantas di tengah kemewahan
yang melangit. Menapaki zaman gila, zaman bangsat, di mana kejujuran jadi tinja
yang menempel di aspal jalanan sehingga banyak orang kecipratan sampai
belepotan dan bau itu dibawa ke mana-mana. Bau busuk kita yang tanpa kita
sadari mencoba menjunjung hidup secara adil dan manusiawi, yang hasilnya cuma
menggelikan di mata para raksasa yang memamah biak batang-batang kayu
gelondongan.
Dan senyum kita, sungguh senyum yang tidak dibuat-buat meski menjengkelkan
karena tampak begitu tolol. Begitu tolol di hadapan para penguasa dan pejabat
yang sangat lihai memainkan perannya dalam memanipulasi nilai-nilai yang kita
agungkan sebagai penjelmaan yang ilahiah.
Masih banyak ragam senyum dari sejumlah senyum yang belum tampak di dalam layar
monitor. Masih harus menunggu berapa lama lagi. Senyum para raksasa yang
gigi-giginya sebesar gajah, tentu senyum yang sangat berbahaya bagi keselamatan
hidup kita. Berbahaya bagi keselamatan bangsa dan negara. Kita, rakyat kecil,
yang ketakutan yang bisanya cuma menangis. Namun, tangis rakyat kecil adalah
tangis kesejatian. Tangis kesejatian yang tak mungkin dimiliki para raksasa
yang sudah telanjur kepentok jalan buntu.***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [list_indonesia] [ppiindia] Senyum Koruptor