[list_indonesia] [ppiindia] Protestanisme Islam dan Reformasi Protestan
- From: "Khairur Razi" <rozie@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sat, 16 Apr 2005 12:28:17 +0500
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
Protestanisme Islam dan Reformasi Protestan=20
Tanggapan untuk Sukidi
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/06/Bentara/1661648.htm
Robert W Hefner
SALAH satu karakteristik utama budaya Islam di Indonesia modern terletak pa=
da kemampuannya melahirkan sarjana dan aktivis Muslim yang punya kapabilita=
s intelektual tinggi dalam menanggapi tantangan politik, ekonomi, dan buday=
a di dunia modern. Entah itu Kiai Haji Achmad Dahlan (1910-an), Kiai Hasyim=
Asy=92ari (1920-an), entah Nurcholish Madjid, Harun Nasution, dan Abdurrah=
man Wahid (1990-an), para pemimpin Muslim Indonesia telah menunjukkan kemam=
puan luar biasa melihat tradisi Islam secara mendalam dan mengontekstualkan=
wawasan-wawasan keislaman yang relevan dalam menjawab tantangan dunia mode=
rn.
MEMANG sejumlah pengamat menilai bahwa kemampuan mengontekstualkan pesan Is=
lam di dunia modern adalah suatu fenomena yang terjadi dalam sejarah Muslim=
di berbagai belahan dunia Islam. Para Muslim revivalis dan reformis benar-=
benar telah muncul di banyak negara. Meskipun demikian, ada semacam kekhasa=
n tersendiri untuk model Indonesia. Ini bukan saja fakta bahwa Indonesia te=
lah memunculkan para pemikir Muslim, tetapi juga ide-ide dan gagasan pemiki=
ran yang mereka kembangkan mendapat perhatian hangat di dalam segmen masyar=
akat Indonesia yang luas. Hasilnya, sebagian ide dan gagasan pemikiran inte=
lektual mereka diikuti oleh publik luas, bahkan dipakai sebagai peranti unt=
uk meningkatkan dinamika intelektual masyarakat Muslim Indonesia.
Kita hanya perlu membandingkan penerimaan publik atas ide-ide pembaharuan k=
eislaman seorang figur seperti Muhammad Abduh di Mesir dengan Achmad Dahlan=
di Indonesia untuk menyadari adanya kekhasan tersendiri model pembaharuan =
keislaman di Indonesia. Dengan segenap pertimbangan, Abduh adalah satu dari=
sekian pembaharu Muslim terbesar di dunia modern. Meskipun ditunjuk sebaga=
i mufti besar di Mesir, Abduh sepanjang hidupnya menghadapi oposisi tak ken=
al henti atas ide-idenya dari institusi keagamaan, tak terkecuali institusi=
pendidikan Al-Azhar itu sendiri. Beberapa pembaharuan pendidikannya pada a=
khirnya memang dimasukkan ke dalam kurikulum Al-Azhar, tetapi tidak demikia=
n halnya dengan ide-ide besarnya dalam pembaharuan keislaman.
Sama pentingnya, meskipun Abduh berharap mempersiapkan jalan bagi kepemimpi=
nan baru dan organisasi kemasyarakatan bagi Muslim Mesir, oposisi dari para=
pemimpin keagamaan di negeri tersebut meyakinkan bahwa ia tidak akan perna=
h bisa melakukannya. Hingga sekarang pun bahkan tak ada yang mampu (di Mesi=
r) menyamai pencapaian luar biasa Muhammadiyah yang digagas Achmad Dahlan. =
Organisasi massa Muslim terbesar di Mesir, Ikhwan al-Muslimun, yang dipelop=
ori Hasan al-Banna pada mulanya memang mengikuti sedikit di antara ide-ide =
Abduh ini. Namun, sejak dasawarsa 1930-an, Ikhwan telah berpaling dari cita=
-cita ideal Abduh tentang pembaharuan keislaman dan sebaliknya justru menga=
mbil komitmen merebut kekuasaan di Mesir. Sebaliknya di Indonesia, Achmad D=
ahlan relatif berhasil mengembangkan organisasi pembaharuan keislaman yang =
berspiritkan, meminjam ungkapan terkenal Amien Rais, "politik tingkat tingg=
i" di bidang pemikiran, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Hasilnya, org=
anisasi keislaman yang skala dan visi besarnya tak ada bandingannya di Timu=
r Tengah.
Perbedaan seperti ini tidak hanya terbatas di Mesir dan Indonesia. Meskipun=
ide-idenya masih termasuk kategori reformisme Sunni yang utama, pembaharu =
Muslim asal Pakistan, Fazlur Rahman, dipaksa meninggalkan Pakistan dan meng=
habiskan sisa hidupnya mengajar dan menulis di Universitas Chicago, Amerika=
Serikat. Sekarang ini ide-ide pembaharuan keislaman Rahman didiskusikan le=
bih luas dan bebas di Indonesia ketimbang di negerinya sendiri. Persis deng=
an kasus Rahman, ide-ide pembaharuan keislaman reformis besar asal Suriah, =
Muhammad Shahrour, juga lebih bebas didiskusikan di Indonesia. Namun, di ne=
gerinya sendiri pembaharuan Shahrour menghadapi tentangan yang begitu sengi=
t dari segelintir kaum militan hingga pemikir yang berbahasa halus ini dipa=
ksa menjauhi kegiatan-kegiatan publik dan harus ditemani pengawal saban bep=
ergian ke luar.
Masyarakat Muslim di Indonesia modern tentu saja tak luput dari kontroversi=
, bahkan kekerasan. Namun, ketika melihat lanskap penuh abad XX, orang dike=
jutkan dengan fakta bahwa sekalipun disibukkan dengan kontroversi dan keker=
asan, masyarakat Muslim Indonesia secara konsisten kembali berada di jalan =
lurus moderasi, pluralisme, dan debat berspirit kebebasan. Meskipun organis=
asi-organisasi keislaman seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama digoda ol=
eh rayuan politik kekuasaan, faktanya mereka secara konsisten kembali pada =
garis moderat, pluralisme, dan nasionalisme keagamaan.
DALAM era keterbukaan masyarakat Muslim di Indonesia yang ditandai dengan s=
uburnya ide-ide pembaharuan dan rekontekstualisasi wacana keislaman itulah =
esai Sukidi (Lembaran Bentara, Kompas, 2/3/2005) yang cemerlang tentang ser=
uan pada pentingnya gagasan Protestanisme Islam membangkitkan butir-butir s=
angat penting untuk refleksi pembaharuan keagamaan ke depan. Beberapa butir=
penting sebaiknya ditekankan sejak awal.
Pertama, mutu esai Sukidi sendiri yang bagus dan fakta bahwa esai tersebut =
telah merangsang diskursus keislaman yang hangat dalam komunitas Muslim den=
gan sendirinya mengilustrasikan keterbukaan yang terus-menerus berlangsung =
di kalangan Muslim Indonesia.
Kedua, dan sedikit agak menyadarkan, sebagian alasan mengapa esai Sukidi me=
ngundang debat adalah bahwa ada kekhawatiran yang terus berkembang di lingk=
aran intelektual Muslim bahwa sejak akhir rezim Orde Baru masyarakat Muslim=
telah kehilangan beberapa elemen keadaban dan energi intelektualnya sebaga=
i akibat dari percekcokan publik dan tindakan intimidasi beberapa individu =
yang berpikiran radikal. Berdasarkan percakapan dengan kawan-kawan di Indon=
esia, saya percaya bahwa persepsi inilah yang menyebabkan para intelektual =
muda berpikir mengenai apakah Indonesia juga membutuhkan hal-hal yang didis=
kusikan oleh Sukidi dengan sangat baik dalam esainya: sebuah reformasi Prot=
estan Islam yang mampu merangsang kehidupan intelektual dan organisasi sosi=
al masyarakat Muslim secara keseluruhan.
Catatan Sukidi berhasil dengan cemerlang menggarisbawahi tuntutan gagasan P=
rotestanisme Islam yang diserukan Jamal al-Din al-Afghani, Ali Shariati, da=
n Hashem Aghajari. Ketiga pemikir Muslim ini tentu saja orang-orang Iran. K=
etiganya, seperti ditunjukkan Sukidi, menyerukan pentingnya Protestanisme I=
slam sebagai usaha meneguhkan komitmen masyarakat Muslim terhadap kemajuan,=
rasionalitas keagamaan, dan di atas semua itu adalah suatu keyakinan bahwa=
setiap Muslim menjadi "Imam bagi dirinya sendiri". Ide-ide pembaharuan sep=
erti itu telah muncul dan muncul kembali di dunia Islam modern. Dengan makn=
a demikian, Protestanisme Islam benar-benar memiliki beberapa karakteristik=
terjadinya suatu "pengembaraan gagasan".
Bagaimanapun juga sangat bermanfaat untuk diingat, sesungguhnya ide Protest=
anisme Islam telah menjadi subyek diskusi yang lebih hangat di Iran dewasa =
ini ketimbang di dunia Muslim Sunni. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin perta=
nyaan ini akan sedikit terbantu dengan cara menambahkan travelling theory E=
drward Said dengan beberapa isu dari sejarah sosial Islam di Iran.
Pada abad XVIII dan XIX Islam Shi=92ah Iran mengalami transformasi doktrin =
dan organisasi yang tak ada bandingannya dengan yang terjadi di dunia Sunni=
. Secara lebih khusus, setelah konflik antara mazhab Akhbari dan Ushuli, se=
buah konsensus baru lahir di antara para intelektual agama yang berpusat pa=
da kewajiban semua mukmin untuk menaati doktrin tentang marja=92. Menurut k=
onsep ini, setiap Muslim saleh diwajibkan tunduk kepada seorang mujtahid ya=
ng berfungsi sebagai marja=92 taklidnya, rujukan keagamaannya. Beberapa dek=
ade setelah doktrin marja=92 disebarluaskan, otoritas keagamaan di Iran Shi=
=92ah mengalami evolusi lebih jauh. Perubahan itu berpusat pada ide bahwa t=
idak hanya setiap orang awam yang harus memiliki sebuah marja=92, tetapi ju=
ga harus ada sebuah marja=92 tunggal tempat para intelektual Muslim bersand=
ar. Yang paling terhormat adalah seseorang yang disebut sebagai Ayatullah, =
secara literal berarti =92tanda Tuhan=92.
Dalam konteks ini Shi=92ah abad XIX mengembangkan beberapa karakteristik ya=
ng hierarkis dan sentralistik yang secara umum lebih dekat diasosiasikan de=
ngan Kristen di Barat ketimbang Islam. Namun, tak dapat disangkal pula bahw=
a struktur hierarkis Shi=92ah Iran tak sekental dan sehierarkis Gereja Kato=
lik Roma. Seorang intelektual menjadi seorang Ayatullah bukan karena dipili=
h atau diangkat oleh ulama, melainkan melalui sebuah proses intelektual inf=
ormal dan pendapat publik. Namun, dalam 200 tahun terakhir, Islam Shi=92ah =
telah mengembangkan tingkat hierarki intelektual dan sentralisasi yang jauh=
lebih kompleks ketimbang tipikal Islam Sunni. Fakta inilah, ketimbang fakt=
or lain, yang membantu menjelaskan mengapa di saat-saat krisis sosial-polit=
ik beberapa orang di Iran menjadi tidak sabar dengan status quo Shi=92ah da=
n seperti Afghani, Shariati, dan Aghajari, mereka mulai mengimpikan Shi=92a=
h yang mirip dengan Reformasi Protestan.
Tak ada satu negara pun di kalangan Islam Sunni yang mengambil jalan sebaga=
imana ditempuh kaum Shi=92ah Iran dengan mandat hierarki marja=92 dan kepat=
uhan buta. Kecenderungan utama dalam otoritas keagamaan abad XIX dan XX di =
dunia Sunni ternyata bukanlah hierarki mandat keagamaan, tetapi lebih perju=
angan kelompok-kelompok Muslim tentang hubungan yang sebaiknya dimiliki ant=
ara ulama dan umat dalam kaitannya dengan negara. Tentu saja ada sejarah pa=
njang atas perdebatan-perdebatan seperti itu di Islam Sunni. Selama apa yan=
g dikenal sebagai "inkuisisi" atau mihna di masa kekuasaan Khalifah Abasiya=
h al-Ma=92mun (813-833) dan diteruskan pada Khalifah al-Wathiq (842-847), p=
ara pejabat kekhalifahan mencoba memaksa kehendaknya kepada para ulama. Kon=
flik terutama terpusat pada masalah keterciptaan Alquran. Namun, yang menye=
dot pusat perhatian dalam konflik mihna adalah pertanyaan tentang siapa yan=
g memiliki otoritas terakhir untuk membicarakan masalah-masalah keislaman: =
ulama atau khalifah (penguasa). Kegagalan khalifah memenangi misi perjuanga=
nnya menandai suatu kemenangan definitif bagi ulama dan menobatkan ulama se=
bagai pemegang otoritas prinsipiil dalam masalah teologi Islam dan hukum.
Kegagalan mihna juga meniscayakan bahwa tradisi sentral di Islam Sunni teta=
p menjadi sebuah pola "multipusat" otoritas keagamaan, tidak terpusat pada =
satu otoritas keagamaan. Yang saya maksudkan dengan hal ini adalah komunita=
s intelektual dan orang beriman secara lebih luas, ketimbang hanya seorang =
pendeta, khalifah, atau seorang Ayatullah yang bertanggung jawab dalam masa=
lah-masalah keagamaan. Di awal Kekhalifahan Utsmani, beberapa negara Muslim=
modern telah berusaha menolak pendahulu Sunni ini dan menghubungkan komuni=
tas ulama lebih dekat kepada gerbong kekuasaan. Beberapa Islamis sekarang j=
uga berpendapat adanya kemiripan etatisasi otoritas keagamaan. Meskipun ada=
upaya-upaya demikian, titik sentral otoritas keagamaan di Islam Sunni masi=
h bersifat multipusat dan komunitarian, tidak tersentralisasi, otoritarian,=
ataupun hierarkis.
Inilah perbedaan mendasar antara Sunni dan Shi=92ah yang membantu menjelask=
an mengapa ide Protestanisme Islam menjadi sedemikian populer di Shi=92ah I=
ran dan kurang bergema di dunia Sunni. Kristen prareformasi diorganisasikan=
di atas struktur Imam gereja yang hierarkis dan terkontrol secara terpusat=
, yang status dan otoritas keimamannya telah ditentukan bukan berdasarkan k=
onsensus intelektual dan komunitas yang bersifat informal, melainkan melalu=
i struktur formal institusi dan komando. Karena otoritas keagamaan di Krist=
en Roma diatur melalui cara yang korporatis seperti ini, maka Luther dan pa=
ra pendukungnya merasa terpanggil memisahkan diri secara keseluruhan dari G=
ereja Katolik Roma dan mendirikan Gereja tersendiri yang sepenuhnya terpisa=
h. Islam Sunni kurang rentan terhadap perpecahan sektarian seperti ini kare=
na, ketimbang hierarkis eklesiastikal, Islam Sunni memiliki sebuah pola pus=
at yang beragam dari otoritas keagamaan.
ARTIKEL Sukidi mengangkat satu isu terpenting lain mengenai relevansi ide P=
rotestanisme untuk perkembangan Islam kontemporer. Sukidi dengan benar menu=
njukkan bahwa Afghani, Shariati, dan Aghajari menekankan bahwa Reformasi Pr=
otestan sangat penting bagi modernisasi Eropa. Afghani melihat konservatism=
e ulama sebagai penyebab utama jatuhnya peradaban Islam setelah masa keemas=
an Nabi Muhammad dan masa kekhalifahan empat (khulafaurrasyidin). Dijiwai o=
leh keyakinan demikian, cukup mudah bagi Afghani menyimpulkan bahwa Islam a=
kan meraih manfaat positif jika Ia juga mengalami reformasi sebagai alterna=
tif pembaharuan atas konservatisme ulama. Aghajari telah memberikan kritik =
selangkah lebih maju dengan menegaskan bahwa ulama tidak harus diperlakukan=
sebagai komunitas yang sakral dan setiap Muslim seharusnya menjadi imam ba=
gi dirinya sendiri.
Pandangan Afghani tentang Reformasi Protestan, seperti diungkapkan Sukidi, =
dipengaruhi oleh sejarawan Perancis, Francois Guizot (1787-1874), yang juga=
berasal dari keluarga Protestan. Jika kita menilai relevansi Reformasi Pro=
testan terhadap Muslim modern bagaimanapun juga kita perlu bertanya apakah =
pernyataan-pernyataan Guizot mengenai reformasi pada kenyataannya akurat se=
cara historis. Apakah Reformasi menjadi batu loncatan penting bagi pembahar=
uan intelektual dan politik Eropa? Jika jawaban atas pertanyaan itu adalah =
ya, maka Guizot dan Afghani benar dan Protestanisme barangkali benar-benar =
menawarkan pelajaran yang berharga bagi Muslim Modern. Namun sebaliknya, ji=
ka jawabannya adalah tidak, relevansi Protestanisme barangkali lebih terbat=
as.
Terhadap pertanyaan tentang sumbangan Reformasi Protestan terhadap peradaba=
n Eropa, para sejarawan Barat telah menuliskan catatan yang lebih teliti ke=
timbang yang dilakukan Guizot, bahkan sekalipun dibandingkan dengan yang di=
lakukan sosiolog besar Jerman, Max Weber. Reformasi Protestan bukan sekadar=
pencapaian intelektual yang mendorong para penganut agama untuk lebih bert=
anggung jawab terhadap iman mereka masing-masing. Reformasi Protestan juga =
merupakan peristiwa politik yang kompleks, yang memicu krisis politik dan k=
ultural yang besar. Pendukung tulen toleransi dalam usia mudanya, seperti t=
erekam dalam On Secular Authority (1523), Martin Luther menjadi kurang tole=
ran pada tahun-tahun belakangan. Pecahnya the Peasants War di Jerman tahun =
1524 dan meningkatnya popularitas Protestanisme radikal menginspirasi Luthe=
r mengambil kesimpulan bahwa otoritas negara memiliki kewajiban bertindak a=
tau menghukum secara tegas para penghujat dan pemberontak agama. Eropa send=
iri menyaksikan pecahnya kekerasan massal yang dahsyat dan pembersihan etni=
k-keagamaan beberapa dekade setelah Reformasi.
Disetujui di wilayah Jerman pada tahun 1555, Perjanjian Augsburg berupaya m=
engakhiri perang Katolik-Protestan dengan mewajibkan setiap orang dalam set=
iap teritori mengikuti agama dari raja yang berkuasa di daerahnya. Sambil m=
engakomodasi pluralisme agama yang sedang tumbuh di Eropa, perjanjian itu j=
uga memperkuat hubungan antara Gereja dan negara, dan mempertebal komitmen =
para pejabat negara untuk menegakkan ortodoksi keagamaan. Di kedua belah pi=
hak, baik Katolik maupun Protestan Eropa, ribuan pemikir yang (dianggap) me=
nyimpang dikutuk sebagai "orang-orang bidah" dan dieksekusi. Seabad setelah=
Reformasi juga ditandai dengan serangan yang mengerikan kapada orang Yahud=
i, juga para pemikir yang menyimpang dan orang-orang eksentrik dari berbaga=
i agama yang secara umum dikenal sebagai "para penyihir". Serangan terhadap=
orang-orang yang secara sosial dikategorikan eksentrik ini berlangsung dar=
i tahun 1560 hingga tahun 1660 dan mengakibatkan korban jiwa yang lebih par=
ah dari kampanye antibidah. Perkiraan yang konservatif memperkirakan korban=
jiwa 30.000 orang di Eropa Barat. Namun, perkiraan lain menyatakan jumlahn=
ya tiga hingga empat kali lebih besar dari angka tersebut.
Dari akibat kekerasan Reformasi inilah beberapa penguasa di Republik Beland=
a, Prusia, Inggris, dan Wales menyimpulkan bahwa di tangan kepentingan poli=
tik mereka terletak kekuasaan meminimalkan rangsangan Reformasi menuju puri=
fikasi agama dan untuk mengizinkan para penganut berbagai sekte keagamaan d=
alam wilayah kekuasaan mereka. Argumen-argumen untuk hal demikian sering ka=
li bersifat pragmatis. Di Prusia, misalnya, raja yang berkuasa mempromosika=
n multikonfesionalisme (multiekspresi keberagamaan) sebagai metode untuk me=
mikat daya tarik orang-orang kaya dan industri. Di Belanda dan Inggris tole=
ransi terhadap agama minoritas ditegakkan dengan adanya kesadaran yang sema=
kin tumbuh bahwa upaya-upaya negara menegakkan konformitas agama telah meng=
akibatkan korban jiwa yang dahsyat. Berkat tumbuhnya toleransi pasca-Reform=
asi dan hilangnya program purifikasi agama yang dipaksakan oleh negara, mak=
a hal itu memungkinkan ilmu pengetahuan Eropa maju dengan pesat, bisnis ber=
kembang, dan orang dari berbagai latar agama dan etnis hidup berdampingan s=
ecara damai.
Karena itu, ada sejumlah dasar untuk lebih berhati-hati mengambil secara li=
teral seruan Protestanisme Islam Afghani, Shariati, dan Aghajari. Sudah pas=
ti, seseorang dapat memahami daya tarik gagasan Protestanisme Islam, sebaga=
imana terjadi di Iran modern, tempat tradisi marja' dipakai untuk membungka=
m para sarjana kritis dan pendukung pembaharuan keagamaan. Dalam masyarakat=
Sunni, ajakan reformasi model Protestan barangkali kurang terkait dengan h=
ierarki otoritas keagamaan per se, tetapi lebih karena rasa frustasi pada k=
onservatisme ulama tertentu dalam Islam. Sebab itu, cukup dapat dipahami ba=
hwa beberapa intelektual Muslim dan ulama menyerukan Reformasi Protestan da=
lam Islam karena mereka merasakan kolaborasi yang terlampau dekat antara ul=
ama dan penguasa justru mendiskreditkan agama Islam itu sendiri.
Kendatipun permasalahan terakhir ini barangkali cukup serius di sejumlah ne=
gara, dalam pengertian literal, Reformasi Protestan tampaknya tidak akan me=
nyelesaikan masalah itu. Reformasi Protestan memang berhasil membersihkan K=
risten Barat dari beberapa inovasi (bidah) abad pertengahan, dan mendorong =
individu beriman untuk bertanggung jawab atas imannya masing-masing. Namun,=
semangat melakukan purifikasi skripturalis juga meningkatkan tekanan akan =
adanya konformitas keagamaan dan menghilangkan gelombang persekusi dan pemb=
ersihan etnik-keagamaan. Tentu ini bukanlah Protestanisme yang terekam dala=
m pemikiran Afghani, Shariati, dan Aghajari. Namun, sejarah yang lebih luas=
tentang Reformasi Protestan mengingatkan kita bahwa pembaharuan agama yang=
dilakukan dengan niat mulia pun dapat memudarkan semangat irreligius ketik=
a otoritas keagamaan bercampur baur atau di bawah kekuasaan negara. Bagi pe=
ngikut Islam Sunni, upaya pertahanan terbaik melawan ancaman ini barangkali=
kurang terletak pada pembaharuan iman seperti pada Reformasi Protestan, me=
lainkan lebih pada pendalaman iman tentang pluralisme dan pemikiran yang me=
njadi ciri utama kaum Islam Sunni sejak dahulu kala, tetapi justru telah di=
rusak oleh mereka yang mengingkari warisan besar tradisi Islam Sunni.
Robert W Hefner Profesor Antropologi Agama di Universitas Boston, Amerika S=
erikat; Penulis Buku Civil Islam, [Princeton, 2000]; dan Editor Tamu pada N=
ew Cambridge History of Islam, Volume VI
=20
Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India
--=20
India.com free e-mail - www.india.com.=20
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail =
storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!
Powered by Outblaze
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Give underprivileged students the materials they need to learn.=20
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [list_indonesia] [ppiindia] Protestanisme Islam dan Reformasi Protestan