[list_indonesia] [ppiindia] Pendidikan Tinggi: Pilihlah Aku

** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **

Lampung Post 
Kamis, 14 April 2005


Pendidikan Tinggi: Pilihlah Aku 
* Rudy Situmeang, Staf Pengajar Kimia FMIPA Unila


Komersialisasi dunia pendidikan kini menjadi tren pengelola swasta bahkan 
negeri dalam menjaring peminat untuk menimba ilmu di tempat yang mereka pimpin. 
Katalog, brosur, spanduk, selebaran, bahkan media massa menjadi alat bantu 
promosi.

Beberapa informasi yang diberikan kepada masyarakat dan sangat memengaruhi 
animo orangtua peminat adalah lama studi rata-rata, kurikulum yang ditawarkan, 
bahasa pengantar kuliah, IPK (indeks prestasi kumulatif) yang dicapai 
lulusannya, status akreditasi perguruan tinggi dan biaya yang dibutuhkan per 
semester atau tahun.

Bahkan, tidak sedikit perguruan tinggi yang menyertakan fasilitas laboratorium, 
perpustakaan, ruang kuliah ber-AC, alat bantu pengajaran seperti komputer, LCD 
dan/atau OHP atau sistem pengajaran e-learning, staf pengajar dan kampus yang 
asri dalam promosinya. Mendekati akhir ujian nasional SMA, nuansa dan suasana 
promosi muncul kembali.
Pendidikan itu sendiri, sesungguhnya, suatu proses pembelajaran yang tidak 
berakhir dalam mencapai martabat kehidupan umat manusia yang adil dan beradab. 
Definisi tersebut jelas terkesan ideal dan sakral meskipun pencapaiannya harus 
melalui banyak tahap.


Salah satu tahap yang diharapkan setiap anak didik maupun orangtuanya setelah 
selesai menjalani pendidikan di perguruan tinggi adalah mendapatkan pekerjaan. 
Tahap esensial pendidikan tersebut, yang bukan hanya bekerja di suatu tempat, 
tetapi juga yang dapat menyediakan pekerjaan bagi yang lain, sering menjadi 
bumerang bagi iklan yang dicanangkan. Meskipun, keberhasilan menyelesaikan 
pendidikan berkorelasi cukup kompleks dengan lapangan kerja yang tersedia.

Keluhan masyarakat baik orangtua maupun hasil peserta didik tentang susahnya 
mencari dan mendapatkan kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan sering kita 
dengar.
Dalam arisan rukun tetangga (RT) atau keluarga, seorang ibu bercerita tentang 
anaknya yang lulus dari suatu perguruan tinggi dengan IPK melebihi 3,5, tetapi 
hampir setahun belum bekerja. Ibu yang lain menceritakan salah satu anaknya, 
lulusan perguruan tinggi ternama, kelihatan stres karena sudah 1,5 tahun 
menganggur dan persyaratan bisa melamar saja tidak bisa dipenuhi, yaitu IPK 
minimum 2,75.


Kemudian mereka bercerita, dulu, orang tamat SMA saja mudah mendapatkan 
pekerjaan, tetapi sekarang untuk dapat bekerja saja harus punya ijazah ini, 
sertifikat itu, pengalaman ini, dan banyak lainnya. Belum lagi keluhan pemakai 
tenaga kerja yang sangat kecewa dengan kemampuan kerja keluaran perguruan 
tinggi tertentu meskipun IPK-nya sangat tinggi.
Memang membandingkan zaman dulu dan kini sangat tidak relevan meskipun topiknya 
sama pekerjaan, banyak hal yang dapat ditarik dari situasi ini untuk 
introspeksi pendidikan dan sistem penerimaan pegawai di bumi tercinta ini. 
Perbaikan pendidikan secara menyeluruh, pada dasarnya, selalu dilakukan 
Departemen Pendidikan Nasional dan Pemerintah Daerah melalui pemberian 
dana-bantuan, kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan untuk menjaga dan 
meningkatkan kualitas layanan anak didik dan peningkatan kualitas staf pendidik.

Masalahnya, sejauh mana realisasi yang dilakukan perguruan tinggi penerima dana 
bantuan peningkatan kualitas tersebut dan efektifkah penggunaannya? Serta, 
seberapa besar dan yang dialokasikan bagi pendidikan oleh pemerintah pusat dan 
daerah?


Sistem penerimaan pegawai yang diterapkan perusahaan swasta dan negeri, jelas 
sangat memengaruhi angkatan kerja baru yang tertampung meskipun kuantitasnya 
bergantung situasi politik dan kondisi ekonomi global serta persaingan dengan 
angkatan kerja asing jika AFTA sudah diberlakukan.

Kini, kemampuan akademik yang seharusnya tercermin melalui IPK lulusan (seperti 
IPK 3) dijadikan salah satu prasyarat untuk melamar kerja. Meskipun persyaratan 
tersebut tampaknya sangat baik untuk mendapatkan kandidat yang potensial atau 
berkualitas, kenyataan yang didapatkan hampir pasti tidak demikian.
Mengapa ini terjadi? Sebab, dasar dan perincian nilai perkuliahan yang 
diterapkan setiap perguruan tinggi (negeri dan swasta) dan rentang nilai untuk 
mutu A, B, C, D, dan E tidak sama.
Sering menjadi rahasia umum jika IPK 3 dari perguruan tinggi "salahnya" 
dibandingkan IPK 2 dari perguruan tinggi "susahlu" kira-kira miriplah.


Belum lagi kabar burung adanya "permainan" untuk diterima kerja di perusahaan 
"anuono" harus ada surat katebelece atau sejumlah "pelicin" pada zaman 
reformasi ini. Tentunya, sangatlah tak etis membicarakan siapa yang salah. 
Pastinya, perbaiki sistem penerimaan angkatan kerja dengan salah satu 
persyaratan umum sarjana "bidang ilmu" lalu adakan ujian kelayakan kemampuan 
akademik dari pelamar kerja tersebut.

Selanjutnya, umumkan nama pelamar, asal perguruan tingginya dan nilai ujian 
yang diperoleh. Maka selain transparansi penerimaan pegawai tercermin juga 
kualitas perguruan tinggi terlihat. Maka secara perlahan, sudah pasti, 
perguruan tinggi akan memperbaiki diri setelah mengevaluasi hasil yang 
diberikan luarannya di tengah masyarakat.
Memang benar perbaikan kualitas suatu perguruan tinggi tidak dapat diperoleh 
seperti membalikkan telapak tangan (likes a magic), tetapi diperoleh melalui 
proses dan dengan kerja keras yang berkesinambungan. Masyarakat umumnya 
memperhatikan kegiatan suatu perguruan tinggi melalui aktivitas para 
mahasiswanya di kampus.


Salah satu indikator yang mencerminkan kualitas suatu perguruan tinggi adalah 
aktivitas mahasiswanya. Dengan argumentasi apa pun, suatu perguruan tinggi yang 
notabene tidak mempunyai fakultas seni dan musik, selalu menggelar aktivitas 
"pesta musik" di kampusnya atau mahasiswa fakultas sains selalu mengadakan 
bazar untuk aktivitasnya, perlu dipertanyakan kompetensinya.

Selayaknya, kegiatan mahasiswa tiap bidang ilmu di setiap perguruan tinggi 
mengacu disiplin ilmu yang diminati meskipun konteksnya interaksi dengan 
masyarakat. Lebih jelasnya, sebagai contoh, mahasiswa bidang ilmu komputer 
selayaknya melakukan aktivitas kemahasiswaannya yang berkaitan perkembangan 
komputer (software and hardwares) baik hasil penelitian perguruan tingginya 
maupun lainnya, seperti program game, sosialisasi internet, program 
pembukuan/ekonomi, perbaikan komputer atau program terpadu peralatan dengan 
komputer.


Jika seseorang memperhatikan secara saksama suatu perguruan tinggi yang 
berkualitas, jelas terlihat bahwa sarana, prasarana, dan sumber daya manusia 
yang tersedia (civitas akademia dan kesejahteraannya), kurikulum, lingkungan 
internal dan eksternal (penekanan pada hubungan), sistem manajemen administrasi 
dan keuangan yang diterapkan, lama tunggu mendapatkan kerja bagi lulusan, 
kesesuaian lapangan kerja dengan bidang ilmu lulusan menjadi faktor penentu 
dalam keberhasilan pengelolaan suatu perguruan tinggi di samping seberapa 
banyak dana riset yang dapat ditarik, seberapa banyak tulisan ilmiah yang 
terpublikasi internasional dari dan seberapa banyak produk komersial (paten 
terpakai) yang dihasilkan perguruan tinggi bersangkutan untuk mempertahankan 
atau meningkatkan kualitasnya.
Tentunya, visi dan misi pencapaiannya bergantung sejauh mana bangsa kita, dalam 
hal ini pengelola pendidikan dan anak didik, memahami arti pendidikan.

Persyaratan yang harus dipenuhi suatu perguruan tinggi untuk mampu menjadi 
perguruan tinggi berkualitas tentunya tidak sedikit dana yang harus 
diinvestasikan. Di negara-negara maju, yang pembagian wilayahnya berdasarkan 
provinsi atau state, jelas terlihat, hanya ada beberapa perguruan tinggi 
(swasta dan negeri). Sebagai contoh, di State Oregon, Amerika Serikat, di mana 
pabrik Intel, pabrik komputer Hewlett-Packard dan instrumen laboratorium berada 
di samping agroindustri hanya mempunyai beberapa universitas, 2 negeri dan 2 
swasta (Oregon State University, University of Oregon, Willamette University, 
dan Portland State University), dan beberapa colleges (setingkat diploma 
seperti MacMeannville College di MacMeannville, tempat penyemakan kulit, 
penghasil tas, ikat pinggang, dan dompet merek terkenal Coward). Semua 
perguruan tinggi tersebut tidak terletak dalam kota atau kabupaten yang sama. 
Hal serupa dijumpai juga di negara-negara Eropa (asal pendidikan modern).


Lalu, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Provinsi Lampung yang memiliki 64 
buah perguruan tinggi (63 buah perguruan tinggi swasta dan 1 buah perguruan 
tinggi negeri) sedangkan jumlah lulusan SMA hanya 20.000 orang per tahun dan 
paling banyak pada rentang 50%--70% dari siswa yang lulus SMA dapat melanjutkan 
pendidikannya karena alasan ekonomi.

Sasaran tempat pendidikan tentu saja beragam mulai Lampung, provinsi lain di 
Pulau Sumatera, hingga provinsi-provinsi di Pulau Jawa dengan jenjang 
pendidikan yang ingin ditempuh adalah strata 1 atau diploma.
Tentu persaingan antara perguruan tinggi di Lampung, untuk mendapatkan peminat 
yang ada, sangat tinggi meskipun belum sejalan dengan kualitas masukannya 
karena putra terbaik Provinsi Lampung sudah diambil perguruan tinggi ternama di 
Pulau Jawa. Keadaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola perguruan 
tinggi, Kopertis, pendidikan tinggi nasional, dan Pemda Lampung serta Dewan 
Pendidikan Daerah.


Sebagai tambahan, tendensi dengan menyatakan perguruan tinggi negeri mengambil 
jatah peminat perguruan tinggi swasta telah terdengar (Lampung Post, 4, 5, dan 
6 April 2005). Bagaimana solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut di 
atas?.

Ada beberapa faktor yang dapat dipakai sebagai acuan, yaitu (1) memperoleh 
pendidikan yang baik adalah hak setiap warga negara, sehingga sangatlah tidak 
pantas kita membatasi keinginan peminat dapat memasuki perguruan tinggi yang 
diminati atau relatif berkualitas, dengan alasan yang dikemukan pengelola 
perguruan tinggi pangsa pasar terbatas. (2) Hasrat peserta didik tidak semuanya 
ingin ke universitas, tetapi tidak sedikit yang hanya ingin mengikuti program 
diploma.

(3) Moto "bukan kuantitas tetapi kualitas" harusnya menjadi panutan pembangunan 
sumber daya manusia di Provinsi Lampung. (4) Idealitas suatu daerah provinsi 
memiliki hanya beberapa perguruan tinggi (negeri dan swasta) sebaiknya dimaknai 
sebagai usaha pencapaian kualitas. (5) Pendidikan bukan bisnis murni langsung 
melainkan bisnis masa depan.
Maka perguruan tinggi harusnya merupakan tempat untuk menghasilkan sumber daya 
manusia berkualitas dan mengeluarkan produk paten terpakai yang menciptakan 
lapangan kerja baru. (6) Pendidikan bukan hanya tanggung jawab institusi 
pendidikan melainkan seluruh komponen masyarakat (pemda, pemerintah, orang tua 
mahasiswa, dan perusahaan). Sebaiknya dimaknai sebagai sumbangsih pemikiran dan 
dana untuk memajukan pendidikan itu sendiri.

Jika faktor-faktor tersebut ditempatkan pada proporsinya, kebijakan layaknya 
perguruan tinggi yang ada di Provinsi Lampung dalam mencapai pendidikan 
berkualitas akan diterima dengan lapang dada. Dengan demikian, slogan-slogan 
yang bermakna pilihlah aku tersebut tidaklah menjadi penyesat atau pembual 
seperti kebanyakan iklan-iklan produk yang ditayangkan media elektronik maupun 
media massa. Selanjutnya, kompetisi sehat dalam menjaring lulusan SMA akan 
menjadi suatu iklim yang menggembirakan.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **

Other related posts: