[list_indonesia] [ppiindia] Memahami Kerancuan Orientasi Budaya
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 1 Apr 2005 00:38:02 +0200
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
Media Indonesia
Jum'at, 01 April 2005
Memahami Kerancuan Orientasi Budaya
Mudji Sutrisno, Budayawan
KONDISI kacau acuan nilai dan persaingan guru-guru kultural yang ikut
menentukan pembentukan identitas keindonesiaan harus dicermati dan diterima
sebagai penyadaran akan realitas nyata. Kacau acuan nilai menggejala dalam
beberapa fenomena.
Fenomena pertama. Disorientasi mengenai apa yang baik, yang indah dan yang
benar berubah dahsyat dari komunalisme pembatinan nilai-nilai secara personal
yang dilakukan lewat dongeng sebelum tidur, permainan afektif dan narasi
kepahlawanan yang dikisahkan kakek-nenek ke cucu atau orang tua ke anak dalam
tradisi agraris yang akrab menyentuh telah digeser oleh tradisi lisan kedua
yang anonim lewat 'presenter' dalam citraan-citraan yang meleburkan antara
bayangan dan kenyataan. Sehingga tangkapan visual yang masuk ke imaji tak
pernah mendapatkan ruang pengolahan, pendalaman dan pengendapan.
Fenomena kedua. Berdampingnya produsen barang dagang konsumtif dari makan minum
sampai aksesoris gengsi dan gaya hidup dengan produsen makna dan simbol-simbol
dari agama, pendidikan, cerlang budaya (local genius) yang kerap bersaing untuk
dipilih hingga bingung mana yang pembendaan dan mana yang pembatinan.
Fenomena ketiga. Ketika nilai sebuah hasil karya kreatif manusia dari nilai
intrinsik estetis guna dibendakan hanya menjadi nilai tukar dalam wujud uang,
maka terjadilah apa yang disebut oleh Gramsci (dan kemudian dilanjutkan Marx)
sebagai materialisasi/pembendaan dan fetisisme/pemberhalaan serta
reifikasi/pereduksian dari yang otentik guna spiritual menjadi sekadar enak
dipakai, tak enak dibuang. Pada fenomena inilah pendulum ekstrem spiritualisasi
sebagai upaya untuk tidak krisis dalam yang serbamaterial mau diberi wujud
fundamentalisme dan eskapisme dari dunia nyata yang mengancam ke ritual-ritual
yang ekstasis lepas dari kepedulian soal-soal sosial dunia.
Fenomena keempat. Pudarnya sentralisme penafsiran kebenaran menuju
desentralisasi perayaan keragaman tafsir kebenaran dan keabsahan keanekaan
penghayatan hidup menurut keyakinannya masing-masing. Gejala ini muncul
bersamaan dengan pemikiran post-strukturalis yang berpendapat bahwa konstruksi
bahasa membentuk keragaman arti dan meaning of life dari keragaman sudut
pandang tiap orang yang menafsirkan kehidupan sebagai teks. Artinya tidak ada
kemutlakan makna pusat dan arti hidup yang paling benar karena yang ada ialah
bacaan tiap orang; tiap lembaga yang dengan kekuasaan menafsir lewat kuasanya
mengenai yang benar, yang baik dan yang indah.
Fenomena kelima. Kebudayaan dan media masa menjadi lebih berkuasa dan
menentukan dalam hidup masyarakat daripada sebelumnya. Guru-guru nilai
beringsut dari orang tua di keluarga menuju sekolah lalu ke guru-guru informasi
tulis, elektronik dan tayangan virtual. Perbedaan pokok dengan yang sebelumnya
yaitu hilangnya sentuhan pribadi dan afektif dari sang guru hingga yang terjadi
hanyalah mekanisasi dan visualisasi yang serba di permukaan.
Fenomena keenam. Imaji dan ruang pencecapan dan pengenalannya bergeser antara
konstruksi narasi dan sejarah menuju antisejarah dan antinarasi. Artinya yang
lalu dicampur dengan yang sekarang, mimpi dan kenyataan diramu menjadi ironi
dan parodi dengan menampilkan campur baur selera pop yang menekankan eksotisme
hari ini yang terus diperpanjang.
Akibatnya lagi untuk memancing ingin tahu dan selera serbabaru dibuatlah
tayangan dari yang keras, lebih keras dan sangat keras dengan bumbu horor dan
masokisme sadis agar terjadi suspens kala melihat darah mengucur.
Konsekuensinya adalah dampak bagi publik yang tidak siap menyeleksi dan membuat
filter nilai akan kebanjiran imaji yang mencampur antara eksotisme dan sadisme
hanya untuk menyedot rating publik.
Fenomena ketujuh. Hidup ekonomi dan sosial dipusatkan pada konsumsi simbol dan
gaya hidup lebih daripada produksi barang untuk kebutuhan sehari-hari menurut
yang diperlukan. I consume therefore I exist menjadi gaya hidup yang dipacu
oleh naluri purba yang terus diprovokasi iklan hingga bukan kebutuhan yang jadi
patokan, melainkan selera basic instinct yang menjadi dasar. Proses
identifikasi kepribadian macam apakah yang akan terjadi?
Fenomena kedelapan. Terjadinya hibrida klasifikasi dan penggolongan kultural
yang menggantikan batas-batas kaku dan klasifikasi ketat dalam wujud campuran
mestizo model Brasil dimana perayaan karnaval tidak hanya merupakan katarsis
dan ekstasis sensual, kultural, tetapi juga ungkapan identitas campurnya
asal-usul keturunan darah, tradisi budaya maupun warna kulit. Contoh lain
adalah perpaduan ke-indo-an antara kuno dan baru, modern dan tradisional, lokal
dan global.
Dari delapan fenomena di atas, bila seluruh anggota masyarakat sebuah bangsa
serius mengambil bagian sebagai peserta dan bertanggung jawab untuk identitas
keindonesiaan, pasti akan menempuh tiga jalan yang oleh para Indonesianis dan
budayawan seperti Zoetmulder, Umar Kayam, Geertz, dan Denys Lombard disebut
sintesis, transformasi, dan osmosis.
Sintesis adalah proses yang dibuat oleh pelaku budaya ketika mengolah
unsur-unsur nilai dari tradisi yang menjadi kekuatan hidup selama ini sebagai
tesis berhadapan dengan masuknya antitesis nilai-nilai baru yang menantang dan
mengoyak integrasi yang terjadi sekaligus memuat nilai-nilai baru yang memberi
daya survival ke masa depan, untuk diambil yang positif dari masing-masing
hingga menemukan ramuan sintetik baru yang akan menjadi tesis baru guna proses
dialektika perubahan.
Persoalan proses mengindonesia menuntut studi mendalam dan penelitian untuk
mencatat dan melihat bagaimana proses osmosis dari nilai lokalitas yang
dihayati dengan intuisi dan pembelajaran hormat pada perbedaan menjadi
klasifikasi sistemik dalam sistem nilai lalu ke tahap berikut menjadi sistem
nilai budaya lokal dan akhirnya diproses secara politis maupun kultural oleh
teks sejarah 1908; 1928; 1945; 1966; dan 1998 sampai sekarang.
Dari kerendahan hati belajar memetakan dan live in kedelapan fenomena
pergulatan dan tantangan kebudayaan di atas, diharapkan kerja-kerja visioner
kebudayaan dan laku-laku budaya dalam kantong-kantong pendidikan hingga proses
saling menyediakan ruang bagi tiap generasi hingga mereka sendiri bisa bersikap
dan bercara pandang bahwa perbedaan itu memperkaya daripada menghancurkan.
Untuk itu belajar saling lintas daerah dan saling lintas kerja yang selama ini
sudah menumbuhkan integrasi harus lebih diperkuat. Sementara model-model
politik pengotakan, SARA, diskriminasi golongan atau penyusun keindonesiaan
harus ditinggalkan. Dengan kata lain dibutuhkan kerja tahap visi, kerja
penelitian, kerja pendidikan, sosialisasi, dan internalisasi. Dan yang paling
penting ialah konsientisasi serta laku budaya hingga bhinneka tunggal ika tidak
hanya merupakan slogan yang mengajar, tetapi diberi kesaksian keteladanan
dengan saling belajar antar tradisi penyusun ke-Indonesia-an.
Tolok ukur paling jelas adalah membaca teks proses mengindonesia dengan tiga
pertanyaan berikut ini: Pertama, mengarah ke makin beradabnya kita bersama?
Kedua, menuju anarki dan kebiadabankah? Ketiga, berani menyadari kerancuan,
perubahan dan krisis nilai yang tengah berlangsung lalu menghadapinya dengan
cerdas dan bijaksana? ***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [list_indonesia] [ppiindia] Memahami Kerancuan Orientasi Budaya