[list_indonesia] [ppiindia] Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 14 Apr 2005 22:28:43 +0200
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
http://www.indomedia.com/bpost/042005/15/opini/opini1.htm
Jumat, 15 April 2005 01:43
Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas
Oleh: Ahmad Barjie B
Busana muslimah tidak hentinya menjadi berita. Di negeri barat
sekuler fanatik, muslimah musti berjuang ekstrakeras dan tidak jarang harus
melalui pengadilan untuk bisa memakai jilbab. Jilbab dianggap simbol agama,
yang tidak semestinya dipakai di ruang publik. Kalau mau memakainya, cukup
di rumah atau saat beribadah. Pascaperistiwa 11 September 2001, pemakai
jilbab (jubah dan jenggot) juga dicurigai terkait terorisme.
Sayangnya di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, pemakaian jilbab
juga tidak mulus. Kita tentu masih ingat di era orde baru, betapa banyaknya
siswi berjilbab menjadi korban kebijakan sekolah, yang atas nama uniformitas
tidak mengakui eksistensi jilbab. Kini di era reformasi kondisinya sudah
banyak berubah. Pemerintah melalui sekolah, umumnya sudah menoleransi
pemakaian jilbab, meskipun secara kasuistik masih ada lembaga pendidikan dan
instansi yang mempersoalkannya.
Di banyak perusahaan swasta, khususnya supermarket, dealer kendaraan
bermotor, karyawati berjilbab kelihatannya belum mendapat tempat. Tidak itu
saja, oleh perusahaan --termasuk yang mengerahkan sales girl- sepertinya ada
tuntutan agar mereka memakai rok di atas lutut, supaya paha yang dianggap
sebagai salah satu daya tarik konsumen bisa kelihatan. Tak heran, karyawati
yang fanatik pergi dan pulang pakai jilbab, tapi di tempat kerja terpaksa
dilepas.
Sebuah fenomena yang cukup mengharuskan, saat ini sejumlah sekolah umum di
Banjarmasin seperti SMP dan SMA juga memberlakukan jilbab bagi siswinya,
meski jilbab dimaksud belum begitu ideal. Ini karena dalam manajemen
pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat, sekolah diberi kewenangan
mengatur pakaian seragam siswa yang bersinergi dengan nilai sosio-religius
yang hidup di lingkungan masyarakat setempat.
Kelihatannya memang terjadi lompatan kemajuan signifikan sosialisasi jilbab
dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dipicu pula oleh penampilan sejumlah artis
beken yang ikut menyosialisasikan jilbab ke tengah khalayak. Inneke
Koesherawati, Marissa Haque, Dewi Hughes adalah beberapa di antara artis
jilbabwati yang semakin populer karena komitmennya terhadap jilbab. Menyusul
pendahulunya seperti Ida Royani, Ida Leman, Dewi Yull atau peragawati Ratih
Sanggarwati. Artis ini bukannya tenggelam setelah berjilbab, seperti
dikhawatirkan beberapa kalangan, tapi namanya tetap berkibar dan rezekinya
terus mengalir deras.
Tampilnya artis di garda terdepan dalam pemakaian jilbab, patut disambut
gembira. Seperti dikomando, di masyarakat kegandrungan terhadap busana
muslimah, termasuk jilbab semakin menguat. Meski jilbab mereka belum begitu
ideal, karena cenderung jilbab model dan jilbab gaul, paling tidak sudah
mendekati target ideal.
Sayang, pemakaian jilbab di kalangan sementara artis belum konsisten.
Seperti banyak diberitakan di acara infotainmen, sejumlah artis baru-baru
ini nekat menanggalkan jilbabnya, setelah sekian tahun mengakrabinya. Tya
Soebiyakto dan Trie Utami adalah di antara artis yang disorot. Banyak publik
menyesalkan inkonsistensi mereka terhadap jilbab. Namun ada yang mencoba
berhipotesis, bahwa penanggalan jilbab tersebut boleh jadi karena Tya dan
Trie baru bercerai dengan suaminya. Tetapi hipotesis ini tertolak, karena
Dewi Hughes dan Cheche Kirani atau Dewi Yull yang juga bermasalah dalam
rumah tangganya justru tetap konsisten dengan jilbab.
Konversi Agama
Melengkapi keprihatinan publik, ada pula ustadz muda yang sangat
menyayangkan inskonsistensi artis memakai jilbab. Menurut ia, hal ini
dikhawatirkan termasuk kategori mempermainkan ajaran agama. Agama seolah
jadi sekadar pakaian, bisa dikenakan dan ditanggalkan sewaktu-waktu.
Saya memaklumi keprihatian publik terhadap masalah ini. Bagaimana pun artis
adalah publik figur, sehingga sikap dan cara berpakaian mereka sangat
berpengaruh terhadap masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat kita
termasuk filming society, masyarakat yang suka menonton film, iklan dan
sinetron di tivi, membaca majalah hiburan dan sejenisnya, lantas menirunya.
Suka atau tidak dan terlepas dari berbagai kontroversi, artis dapat
dijadikan sebagai iklan Islam. Tidak hanya di bulan puasa artis ramai-ramai
berdakwah, tetapi juga dalam keseharian mereka.
Kalangan ahli sosiologi agama, membagi konversi dalam dua macam. Pertama,
change from one state, dan kedua, change from one religion to another. Yang
pertama adalah berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, namun tetap
dalam agamanya. Artis muslimah yang dulunya senang buka-bukaan, lantas
memakai jilbab atau sebaliknya, termasuk kategori pertama. Rhoma Irama yang
dulu produktif dengan lagu cinta, lalu berubah ke tema dakwah. Motenggo
Bosye yang di kala mudanya produktif dengan novel cinta dan agak porno,
tetapi di akhir hayatnya justru beralih ke novel sufistik, juga masuk di
sini. Sedangkan artis nonmuslim yang masuk Islam, seperti WS Rendra, Ray
Sahetapy, Cindy Claudia Harahap, Dewi Hughes, Marini Zumarnis, Tamara
Bleszinsky, Lulu Tobing, dan masih banyak lagi, tergolong konversi agama
jenis kedua. Begitu pula Nafa Urbach yang masuk Islam lalu konon balik lagi
ke agama semula, juga masuk golongan ini.
Tetapi apa pun jenisnya, para ahli menyatakan konversi tidak berdiri
sendiri. Beberapa variable dominan itu terjadi karena: a) pengaruh
supernatural berupa hidayah Allah, pengetahuan, penyelidikan, perenungan,
sehingga seseorang menemukan cahaya kebenaran; b) pengaruh eksternal dari
pergaulan, kegiatan rutin, anjuran teman, pengaruh pemimpin keagamaan,
kolega dan teman prpfesi; c) faktor internal seperti keretakan dan
permasalahan dalam keluarga, perubahan status perkawinan, pekerjaan dan
sejenisnya. Jadi masalah dalam keluarga, seperti perceraian, hanya salah
satu variable yang tidak begitu dominan.
Bukan Jilbab Hati
Terhadap tarik ulur pemakaian jilbab ini akan lebih baik bila kita
menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagi yang mau berjilbab, kita
ucapkan selamat dan terimakasih, karena ia mengamalkan sebagian agamanya.
Wanita berjilbab tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga orang
lain. Tersalurnya hasrat lelaki secara liar dan merebaknya fantasi syahwat
mereka, justru karena memandang wanita yang suka membuka aurat. Wanita
jangan menyalahkan lelaki dalam soal ini, sebab 'dari sononya' lelaki
ditakdirkan menyenangi wanita (QS 3: 14). Kalau lelaki tidak lagi menyenangi
wanita, itu justru abnormal seperti menimpa kaum Nabi Luth di negeri Sodom,
dan itu sangat terkutuk.
Agama seseorang lebih selamat bila ia konsisten berjilbab. Seperti
diberitakan sebuah media, gara-gara memakai jilbab seorang wanita bersama
keluarganya urung termakan makanan haram di sebuah res toran di Jakarta.
Melihat si wanita berjilbab, pelayannya yang jujur menyatakan bahwa makanan
yang dipesan mengandung unsur haram. Lantas si ibu bertanya kepada pelayan,
bagaimana kalau pembelinya tidak berjilbab. Dijawab, itulah susahnya, sulit
diketahui mana yang muslim dan non muslim.
Bagi yang belum berjibab, diharapkan suatu saat mau berjilbab atau apa pun
jenis pakaiannya asalkan menutup aurat. Perlu dicegah adalah adanya anggapan
miring terhadap pemakaian jilbab. Katanya, biar tidak berjilbab, yang
penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji.
Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan begini perlu diluruskan.
Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup
aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar.
Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab. Memang
tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral.
Heboh VCD porno 'Mataram Terbuka', pelakunya juga wanita berjilbab. Tetapi
itu bisa saja direkayasa dengan maksud melecehkan, atau ada siswi/mahasiswa
berjilbab yang terperosok dalam gaul bebas dan seks pranikah. Meski
demikian, bukan berarti jilbab tidak penting dan boleh ditanggalkan begitu
saja. Aturan hukum agama tidak boleh dibalik dan dikunyah-kunyah. Tidak ada
manusia sempurna, tapi minimal dengan berjilbab aurat sudah terpelihara.
Jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama. Ada pun hati (qalbu)
memang perlu dimanej lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini
memerlukan waktu lama.
Mengacu kepada teori konversi, kesadaran dan komitmen memakai jilbab erat
kaitannya dengan faktor eksternal. Karena itu, para orangtua hendaknya
menyuruh anak wanitanya dan para suami hendaknya menyuruh istrinya menutup
aurat. Patut disesalkan, karena ternyata tren buka-bukaan dan pakaian ketat
yang mewabah selama ini, tidak hanya kehendak si wanita, tapi justru
ditoleransi bahkan disuruh oleh orangtua atau suaminya. Nah.
Pemerhati masalah sosial, tinggal di Banjarmasin e-mail: barjie_b@xxxxxxxxx
Jumat, 15 April 2005 01:43
Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas
Oleh: Ahmad Barjie B
Busana muslimah tidak hentinya menjadi berita. Di negeri barat
sekuler fanatik, muslimah musti berjuang ekstrakeras dan tidak jarang harus
melalui pengadilan untuk bisa memakai jilbab. Jilbab dianggap simbol agama,
yang tidak semestinya dipakai di ruang publik. Kalau mau memakainya, cukup
di rumah atau saat beribadah. Pascaperistiwa 11 September 2001, pemakai
jilbab (jubah dan jenggot) juga dicurigai terkait terorisme.
Sayangnya di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, pemakaian jilbab
juga tidak mulus. Kita tentu masih ingat di era orde baru, betapa banyaknya
siswi berjilbab menjadi korban kebijakan sekolah, yang atas nama uniformitas
tidak mengakui eksistensi jilbab. Kini di era reformasi kondisinya sudah
banyak berubah. Pemerintah melalui sekolah, umumnya sudah menoleransi
pemakaian jilbab, meskipun secara kasuistik masih ada lembaga pendidikan dan
instansi yang mempersoalkannya.
Di banyak perusahaan swasta, khususnya supermarket, dealer kendaraan
bermotor, karyawati berjilbab kelihatannya belum mendapat tempat. Tidak itu
saja, oleh perusahaan --termasuk yang mengerahkan sales girl- sepertinya ada
tuntutan agar mereka memakai rok di atas lutut, supaya paha yang dianggap
sebagai salah satu daya tarik konsumen bisa kelihatan. Tak heran, karyawati
yang fanatik pergi dan pulang pakai jilbab, tapi di tempat kerja terpaksa
dilepas.
Sebuah fenomena yang cukup mengharuskan, saat ini sejumlah sekolah umum di
Banjarmasin seperti SMP dan SMA juga memberlakukan jilbab bagi siswinya,
meski jilbab dimaksud belum begitu ideal. Ini karena dalam manajemen
pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat, sekolah diberi kewenangan
mengatur pakaian seragam siswa yang bersinergi dengan nilai sosio-religius
yang hidup di lingkungan masyarakat setempat.
Kelihatannya memang terjadi lompatan kemajuan signifikan sosialisasi jilbab
dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dipicu pula oleh penampilan sejumlah artis
beken yang ikut menyosialisasikan jilbab ke tengah khalayak. Inneke
Koesherawati, Marissa Haque, Dewi Hughes adalah beberapa di antara artis
jilbabwati yang semakin populer karena komitmennya terhadap jilbab. Menyusul
pendahulunya seperti Ida Royani, Ida Leman, Dewi Yull atau peragawati Ratih
Sanggarwati. Artis ini bukannya tenggelam setelah berjilbab, seperti
dikhawatirkan beberapa kalangan, tapi namanya tetap berkibar dan rezekinya
terus mengalir deras.
Tampilnya artis di garda terdepan dalam pemakaian jilbab, patut disambut
gembira. Seperti dikomando, di masyarakat kegandrungan terhadap busana
muslimah, termasuk jilbab semakin menguat. Meski jilbab mereka belum begitu
ideal, karena cenderung jilbab model dan jilbab gaul, paling tidak sudah
mendekati target ideal.
Sayang, pemakaian jilbab di kalangan sementara artis belum konsisten.
Seperti banyak diberitakan di acara infotainmen, sejumlah artis baru-baru
ini nekat menanggalkan jilbabnya, setelah sekian tahun mengakrabinya. Tya
Soebiyakto dan Trie Utami adalah di antara artis yang disorot. Banyak publik
menyesalkan inkonsistensi mereka terhadap jilbab. Namun ada yang mencoba
berhipotesis, bahwa penanggalan jilbab tersebut boleh jadi karena Tya dan
Trie baru bercerai dengan suaminya. Tetapi hipotesis ini tertolak, karena
Dewi Hughes dan Cheche Kirani atau Dewi Yull yang juga bermasalah dalam
rumah tangganya justru tetap konsisten dengan jilbab.
Konversi Agama
Melengkapi keprihatinan publik, ada pula ustadz muda yang sangat
menyayangkan inskonsistensi artis memakai jilbab. Menurut ia, hal ini
dikhawatirkan termasuk kategori mempermainkan ajaran agama. Agama seolah
jadi sekadar pakaian, bisa dikenakan dan ditanggalkan sewaktu-waktu.
Saya memaklumi keprihatian publik terhadap masalah ini. Bagaimana pun artis
adalah publik figur, sehingga sikap dan cara berpakaian mereka sangat
berpengaruh terhadap masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat kita
termasuk filming society, masyarakat yang suka menonton film, iklan dan
sinetron di tivi, membaca majalah hiburan dan sejenisnya, lantas menirunya.
Suka atau tidak dan terlepas dari berbagai kontroversi, artis dapat
dijadikan sebagai iklan Islam. Tidak hanya di bulan puasa artis ramai-ramai
berdakwah, tetapi juga dalam keseharian mereka.
Kalangan ahli sosiologi agama, membagi konversi dalam dua macam. Pertama,
change from one state, dan kedua, change from one religion to another. Yang
pertama adalah berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, namun tetap
dalam agamanya. Artis muslimah yang dulunya senang buka-bukaan, lantas
memakai jilbab atau sebaliknya, termasuk kategori pertama. Rhoma Irama yang
dulu produktif dengan lagu cinta, lalu berubah ke tema dakwah. Motenggo
Bosye yang di kala mudanya produktif dengan novel cinta dan agak porno,
tetapi di akhir hayatnya justru beralih ke novel sufistik, juga masuk di
sini. Sedangkan artis nonmuslim yang masuk Islam, seperti WS Rendra, Ray
Sahetapy, Cindy Claudia Harahap, Dewi Hughes, Marini Zumarnis, Tamara
Bleszinsky, Lulu Tobing, dan masih banyak lagi, tergolong konversi agama
jenis kedua. Begitu pula Nafa Urbach yang masuk Islam lalu konon balik lagi
ke agama semula, juga masuk golongan ini.
Tetapi apa pun jenisnya, para ahli menyatakan konversi tidak berdiri
sendiri. Beberapa variable dominan itu terjadi karena: a) pengaruh
supernatural berupa hidayah Allah, pengetahuan, penyelidikan, perenungan,
sehingga seseorang menemukan cahaya kebenaran; b) pengaruh eksternal dari
pergaulan, kegiatan rutin, anjuran teman, pengaruh pemimpin keagamaan,
kolega dan teman prpfesi; c) faktor internal seperti keretakan dan
permasalahan dalam keluarga, perubahan status perkawinan, pekerjaan dan
sejenisnya. Jadi masalah dalam keluarga, seperti perceraian, hanya salah
satu variable yang tidak begitu dominan.
Bukan Jilbab Hati
Terhadap tarik ulur pemakaian jilbab ini akan lebih baik bila kita
menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagi yang mau berjilbab, kita
ucapkan selamat dan terimakasih, karena ia mengamalkan sebagian agamanya.
Wanita berjilbab tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga orang
lain. Tersalurnya hasrat lelaki secara liar dan merebaknya fantasi syahwat
mereka, justru karena memandang wanita yang suka membuka aurat. Wanita
jangan menyalahkan lelaki dalam soal ini, sebab 'dari sononya' lelaki
ditakdirkan menyenangi wanita (QS 3: 14). Kalau lelaki tidak lagi menyenangi
wanita, itu justru abnormal seperti menimpa kaum Nabi Luth di negeri Sodom,
dan itu sangat terkutuk.
Agama seseorang lebih selamat bila ia konsisten berjilbab. Seperti
diberitakan sebuah media, gara-gara memakai jilbab seorang wanita bersama
keluarganya urung termakan makanan haram di sebuah res toran di Jakarta.
Melihat si wanita berjilbab, pelayannya yang jujur menyatakan bahwa makanan
yang dipesan mengandung unsur haram. Lantas si ibu bertanya kepada pelayan,
bagaimana kalau pembelinya tidak berjilbab. Dijawab, itulah susahnya, sulit
diketahui mana yang muslim dan non muslim.
Bagi yang belum berjibab, diharapkan suatu saat mau berjilbab atau apa pun
jenis pakaiannya asalkan menutup aurat. Perlu dicegah adalah adanya anggapan
miring terhadap pemakaian jilbab. Katanya, biar tidak berjilbab, yang
penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji.
Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan begini perlu diluruskan.
Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup
aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar.
Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab. Memang
tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral.
Heboh VCD porno 'Mataram Terbuka', pelakunya juga wanita berjilbab. Tetapi
itu bisa saja direkayasa dengan maksud melecehkan, atau ada siswi/mahasiswa
berjilbab yang terperosok dalam gaul bebas dan seks pranikah. Meski
demikian, bukan berarti jilbab tidak penting dan boleh ditanggalkan begitu
saja. Aturan hukum agama tidak boleh dibalik dan dikunyah-kunyah. Tidak ada
manusia sempurna, tapi minimal dengan berjilbab aurat sudah terpelihara.
Jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama. Ada pun hati (qalbu)
memang perlu dimanej lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini
memerlukan waktu lama.
Mengacu kepada teori konversi, kesadaran dan komitmen memakai jilbab erat
kaitannya dengan faktor eksternal. Karena itu, para orangtua hendaknya
menyuruh anak wanitanya dan para suami hendaknya menyuruh istrinya menutup
aurat. Patut disesalkan, karena ternyata tren buka-bukaan dan pakaian ketat
yang mewabah selama ini, tidak hanya kehendak si wanita, tapi justru
ditoleransi bahkan disuruh oleh orangtua atau suaminya. Nah.
Pemerhati masalah sosial, tinggal di Banjarmasin
e-mail: barjie_b@xxxxxxxxx
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [list_indonesia] [ppiindia] Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas