[list_indonesia] [ppiindia] Jebak Semua Koruptor: beranikah jurnalis kita?

** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
Prelude:

Saya heran mengapa jebakan yg dilakukan pada Mulyana jadi kontroversial sep=
utar etis tak etisnya cara tsb. Bagi saya, apapun caranya menangkap tikus, =
yg terpenting hasilnya (saya memiliki banyak cara menangkap tikus asli dan =
terbukti efektif, tp untuk tikus koruptor blum dicoba).

Di India, sistem jebakan ini tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan mel=
alui CBI (central bureau intelligence - mirip FBI amrik) yg sering menggele=
dah mendadak rumah2 pejabat tidak hanya pejabat eselon (1,2,3 dst) tapi jug=
a para menteri.

Jebakan di India juga dilakukan oleh jurnalis. Editor media portal www.tehe=
lka.com pernah berpura2 berperan sebagai broker senjata mancanegara. yg jad=
i sasaran tak main2: menteri pertahanan! waktu itu era Atal Bihari jadi PM.=
 ternyata sang menteri yg di shoot via hidden camera itu mau menerima suap.=
 yg terbaru dilakukan oleh jurnalis lain dan yg jadi target ketua partai BJ=
P (yg setahun lalu sedang berkuasa). akhirnya baik menteri pertahanan dan k=
etua BJP ini mundur diri.

ngomong2, kira2 beranikah jurnalis kita berbuat serupa?

salam,




Jebak Semua Koruptor=20


Denny Indrayana

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/23/Fokus/1699956.htm

TIKUS adalah hewan yang harus diberantas. Ia membawa penyakit, kotor, dan m=
erusak rumah tinggal. Namun, menangkap tikus bukanlah pekerjaan mudah. Ia g=
esit dan pandai berkelit. Penangkap tikus yang hanya menggunakan tangan kos=
ong harus siap kecewa. Tikus akan lebih mudah ditangkap dengan jebakan.

SAMA halnya dengan tikus, koruptor harus diberantas. Ia amat merusak dan me=
mbahayakan kehidupan kita berbangsa. Namun, menangkap koruptor amatlah suli=
t. Terlebih manakala korupsi sudah pula menjadi praktik keseharian aparat p=
eradilan.

Mafia peradilanlah yang justru mengatur alur penyelewengan hukum agar para =
koruptor terlepas dari jerat-jerat keadilan. Mafia peradilanlah, dengan par=
a koruptor, yang akhirnya melahirkan mafia koruptor.

Maka, diperlukan inisiatif cerdas dan tegas untuk mendobrak kesolidan mafia=
 koruptor. Inisiatif itu harus disusun terencana, rapi, sistematis, dan pad=
a akhirnya menjebak agar sang tikus koruptor tidak berkutik.

Wajib

Argumentasi bahwa pengungkapan korupsi tidak boleh direncanakan dalam suatu=
 skenario penjebakan adalah argumentasi yang menyesatkan. Korupsi adalah ka=
sus amat terencana, rapi, dan sistematis dan sering dilakukan oleh orang-or=
ang terpelajar.

Kasus korupsi berjamaah, yang sekarang marak terjadi, konon dilakukan oleh =
kepala pemerintahan daerah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), =
orang-orang yang ahli hukum (baca: kriminolog) yang mungkin bergelar profes=
or dan doktor. Karena itu, Bernard de Speville dalam bukunya, Hong Kong: Po=
licy Initiatives Against Corruption, secara tegas mengatakan bahwa korupsi =
adalah salah satu kejahatan yang paling sulit dideteksi, diinvestigasi, apa=
lagi dibuktikan.

Menghadapi kejahatan terencana oleh orang-orang terpelajar dan berkuasa dem=
ikian, proses investigasinya haruslah progresif. Penjebakan adalah salah sa=
tu bentuk progresivitas itu.

Metode penjebakan jelas bukanlah barang haram. Ia justru cara paling efekti=
f untuk mengungkapkan kasus-kasus kejahatan tingkat tinggi sejenis korupsi.=
 Metode ini bahkan sudah menjadi standar pengungkapan kasus-kasus sulit di =
banyak negara maju. Salah satu metode penjebakan itu biasanya menggunakan p=
enyamaran identitas (undercover).

Di Amerika Serikat, menurut The Attorney General=92s Guidelines on Federal =
Bureau of Investigation Undercover Investigation, penyamaran dilakukan oleh=
 agen Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk mendeteksi dan m=
engantisipasi kasus-kasus korupsi, terorisme, dan kejahatan-kejahatan teror=
ganisasi lainnya.

Dalam makalahnya, di seminar internasional perang melawan korupsi di Bangko=
k tahun 2000, Ralph Horton berpendapat bahwa penyamaran dan penjebakan adal=
ah cara paling efektif untuk membongkar kasus korupsi.

Berkait dengan penyelidikan kasus korupsi dengan cara menjebak ini, baru-ba=
ru ini, pada bulan September 2004, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah m=
engeluarkan buku petunjuk Practical Anti-Corruption Measures for Prosecutor=
s and Investigators.=20

Pada Bab 10 buku tersebut dibahas secara khusus teknik, tata cara, dan stra=
tegi operasi penyamaran untuk membongkar kasus-kasus korupsi. Menurut buku =
ini, operasi penyamaran (undercover operations) adalah pelaksanaan Pasal 50=
 tentang teknik investigasi khusus kasus korupsi yang diatur dalam United N=
ation Convention Against Corruption (Konvensi PBB untuk Pemberantasan Korup=
si).

Sejalan dengan argumentasi Profesor Satjipto Rahardjo yang menegaskan diper=
lukannya cara-cara luar biasa untuk memberantas korupsi, buku PBB di atas m=
enegaskan perlunya teknik investigasi khusus guna mengumpulkan bukti-bukti =
kasus korupsi. Ditegaskan pula, ketika proses penjebakan dilakukan, perleng=
kapan-perlengkapan semacam audio-video adalah peralatan standar yang diperl=
ukan guna memproduksi alat bukti.

Di Indonesia, penggunaan teknologi untuk memproduksi bukti korupsi dengan t=
eknologi audio-video itu terbuka lebar karena Pasal 12 Undang-Undang tentan=
g Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan, dalam melaksanakan tugas penyeli=
dikan, penyidikan, dan penuntutan, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang m=
elakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.

Contoh kasus sukses

Salah satu contoh cerita sukses penjebakan kasus korupsi tingkat tinggi dil=
akukan oleh FBI melalui operasi yang dinamakan "Broken Faith".

Dalam kasus penjebakan yang direncanakan secara matang itu, seorang saksi p=
elapor (cooperating witness) bekerja sama dengan FBI untuk menjebak 12 poli=
si korup di Washington DC, ibu kota AS. Para polisi ini menerima suap untuk=
 melindungi dan bahkan terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang.

Proses penjebakan direncanakan secara matang, terencana, dan sistematis dim=
ulai pada bulan Mei 1992. Dalam melakukan penjebakan, sang saksi pelapor ti=
dak hanya merekam seluruh pembicaraan, berpura-pura melakukan negosiasi den=
gan para polisi-misalnya dengan bertemu di hotel-hotel-tetapi lebih jauh sa=
ng saksi pelapor bahkan juga berpura-pura menyogok ke-12 polisi korup denga=
n berbagai macam pemberian.

Salah satunya dengan menyuap setiap polisi sebuah hand phone sehingga keber=
adaan mereka mudah dideteksi. Tentu saja semua proses penjebakan itu bukanl=
ah pekerjaan mudah. Terlebih lagi yang akan dijebak adalah para polisi yang=
 seharusnya amat mengetahui teknik-strategi penjebakan.

Namun, dengan teknik kerja yang luar biasa, akhirnya terkumpullah bukti-buk=
ti tingkah polah penyuapan dan korupsi ke-12 polisi tersebut. Pada akhirnya=
, setelah enam bulan melakukan upaya penjebakan, FBI menangkap para polisi =
korup tersebut setelah semuanya berhasil ditelepon untuk hadir di Hotel Mar=
riott, suatu pertemuan yang diatur seakan-akan untuk mempersiapkan perdagan=
gan kokain yang dilindungi para polisi itu.

Dalam proses selanjutnya, karena sudah tertangkap tangan, dan banyaknya buk=
ti yang dapat dikumpulkan selama proses penjebakan, ke-12 polisi korup itu =
akhirnya dapat digiring ke hotel prodeo, sembilan di antara mereka mengaku =
bersalah dan tiga sisanya terbukti bersalah dalam proses persidangan.

Pentingnya saksi pelapor

Dari contoh kasus di atas, terlihat jelas bahwa saksi pelapor yang mau berp=
ura-pura bernegosiasi-bahkan menyuap-dan berinisiatif menjebak para polisi =
korup tersebut mempunyai peran yang teramat strategis.

Pertama, saksi pelapor inilah yang memberikan informasi awal tentang adanya=
 praktik korup yang dilakukan para polisi tersebut. Selanjutnya, saksi pela=
por itu pula yang menjadi aktor pahlawan utama dalam proses penjebakan untu=
k menghasilkan bukti-bukti korupsi yang tak terbantahkan.

Saking pentingnya posisi saksi pelapor itu, peran-peran "peniup peluit" (wh=
istleblower) kasus korupsi seharusnya amat diperhatikan sebagai salah satu =
elemen yang harus ada-dan wajib dilindungi-dalam upaya pemberantasan korups=
i.

Sudah merupakan lagu lama bahwa saksi pelapor atau saksi korban yang dengan=
 gagah berani berinisiatif melaporkan kasus korupsi justru akan dijadikan p=
esakitan oleh jaringan mafia korupsi.

Modus operandi gugatan balik pencemaran nama baik, teror fisik maupun menta=
l, penjatuhan sanksi oleh atasan dan sejenisnya adalah lagu-lagu lama yang =
sering dihadapi oleh pahlawan-pahlawan pembongkar kasus korupsi ini.

Oleh karena itu, Pasal 33 Konvensi PBB untuk Pemberantasan Korupsi secara t=
egas mengatur tentang perlunya perlindungan bagi para pahlawan korupsi ters=
ebut. Atau dalam konteks Indonesia, teramat penting penyegeraan diberlakuka=
nnya undang-undang perlindungan saksi yang drafnya masih saja menggantung d=
i parlemen.

Dalam kasus Khairiansyah, upaya-upaya untuk justru menghukum, menggugat den=
gan dalih pencemaran nama baik, memberikan sanksi, menyatakan dia "pahlawan=
 kesiangan" adalah tindakan-tindakan yang justru koruptif. Alih-alih menjad=
i pendorong pemberantasan korupsi, tindakan demikian justru akan membuat pe=
laku korupsi tertawa terbahak-bahak.

Khairiansyah adalah manusia setengah malaikat di negeri korup. Ia adalah "u=
stadz di kampung maling". Memukuli ustadz justru akan membuat para maling t=
ersenyum lebar. Indonesia justru perlu duplikasi masif Khairiansyah-Khairia=
nsyah yang berani melakukan jebakan-jebakan cerdas atas semua koruptor di n=
egeri ini. Kepada Khairiansyah bukan sanksi yang harus diberikan, tetapi ap=
resiasi telah berprestasi. Terima kasih pahlawan Khairiansyah!

Denny Indrayana Anggota Dewan Etik Indonesian Court Monitoring; Pengajar Fa=
kultas Hukum Universitas Gadjah Mada


Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

--=20
India.com free e-mail - www.india.com.=20
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail =
storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospit=
al's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20



** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **

Other related posts: