[list_indonesia] [ppiindia] Dinamisasi Vs ''Fosil'' Pendidikan

** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/4/16/o2.htm


Sabtu Pon, 16 April 2005 
 Artikel


Untuk memperbarui pendidikan di Indonesia, sehingga menjadi institusi yang 
dinamis dan modern, yang paling mendasar adalah perlunya melakukan regenerasi. 
Regenerasi yang berjalan selama ini hanya berlaku secara alamiah, sesuai dengan 
pergantian usia.
-----------------------------------------


Dinamisasi Vs ''Fosil'' Pendidikan
Oleh I Wayan Artika 


TIDAK mudah tampaknya memberi kepercayaan kepada pendidikan tradisional-negara 
bahwa institusi ini memang fleksibel atau dinamis. Gagasan-gagasan baru yang 
dituangkan dalam berbagai kebijakan pendidikan, tidak pernah memberi kontribusi 
yang signifikan. Tradisi pendidikan tradisional-negara tampaknya sedemikian 
stagnan dan sulit diubah, sulit diperbarui. Seperti dikatakan oleh para pakar 
pendidikan, pada umumnya tradisi pendidikan di dunia ketiga adalah sangat 
politis. Jejaknya dapat dilacak kembali pada sejarah pendidikan bersangkutan di 
negara tersebut, yang dirintis di tengah-tengah kolonialisasi dan dikembangkan 
dengan idealisme untuk mencapai pembebasan atau kemerdekaan. Jadi, awal sejarah 
tradisi pendidikan di dunia ketiga bukan untuk humanisme tetapi sebagai bagian 
dari perjuangan bangsa, membebaskan diri dari penindasan. Hal ini dibuktikan 
oleh banyaknya para pembrontak yang lahir dari golongan terpelajar bangsa 
jajahan.


Ketika kemerdekaan sudah dicapai, pendidikan boleh saja dilupakan dan semangat 
menjadikan pendidikan sebagai bagian dari kegiatan politik pun tetap 
dijalankan. Jarang sekali ada kebijakan mendasar untuk mengubah kebijakan 
pendidikan, dari kebijakan semasa penjajahan dengan kebijakan pendidikan semasa 
kemerdekaan. Hal ini merupakan keterlambatan dan berdampak fatal bagi masa 
depan sebuah bangsa. Di Indonesia, sejak kemerdekaan, kebijakan pendidikan 
sangat sistemik dan sentralistik. Pendidikan adalah departemen negara dan 
dibangun menjadi sebuah bentuk subnegara, yang warganya adalah para pelajar di 
seluruh Indonesia. Pola-pola penyelenggaraan negara Orba, misalnya, yang sangat 
represif dan monolitik, ditemukan dalam tradisi tiga dekade pendidikan negara 
Orba. Membaca pikiran Paolo Freire, sehubungan dengan bagaimana kaitan 
pendidikan dengan kebijakan negara, ditemukan, semasa Orba, betapa politisnya 
kegiatan pendidikan di Indonesia. Dari kondisi ini sebenarnya telah lahir kons
 ep negara sekolah atau negara pendidikan. Sistem pemerintahannya sangat mirip 
dengan sistem pemerintahan negara yang sebenarnya, yaitu Indonesia Orba. Salah 
satu contoh yang paling menonjol adalah sistem tunggal dan terpusat, yang 
dicapai secara gemilang lewat Ebtanas atau mata pelajaran politik negara, yaitu 
P4 dan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa).

Kini banyak sekali praktisi pendidikan di Indonesia, para guru dan kepala 
sekolah, serta mereka yang bekerja di Dinas-dinas Pendidikan, yang pernah cukup 
lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan Orba. Hal ini adalah kendala untuk 
berubah dan merupakan benteng yang sangat kuat, untuk tidak beranjak dari 
kemapanan lama. Pada diri guru-guru dan kepala sekolah yang sedemikian ini, 
pendidikan tidak memiliki alternatif. Pendidikan hari ini sama saja bagi mereka 
dengan pendidikan di awal dekade 1970-an. Bahkan, cenderung mereka mengungkap 
kembali masa silam sebagai acuan pendidikan dewasa ini. Inilah cikal-bakal 
''fosil pendidikan''.

Regenerasi dan Dinamisasi
Untuk memperbarui pendidikan di Indonesia, sehingga menjadi institusi yang 
dinamis dan modern, yang paling mendasar adalah perlunya melakukan regenerasi. 
Regenerasi yang berjalan selama ini hanya berlaku secara alamiah, sesuai dengan 
pergantian usia. Memang sangat sulit mendirikan sekolah-sekolah yang semua 
tenaganya adalah orang-orang baru, para guru lulusan tahun terakhir dari FKIP 
atau IKIP. Seorang guru baru yang inovatif dengan wawasan baru, biasanya ketika 
masuk di dunia sekolah, tempatnya bekerja,  merasa asing dan tertekan. Dirinya 
lain sendiri dan hal ini cukup menyulitkan karena yang terjadi adalah tradisi 
lama di sekolah tersebut sedemikian kuat, sehingga membuat dirinya sendiri 
terpojok. Bisa jadi guru seperti ini sangat frustrasi dan dalam kondisi ini ia 
tidak mungkin berbuat apa-apa. Belum lagi ketika orang lama di sekolah tersebut 
mengklaim bahwa guru baru tidak cukup punya andil di sekolah tersebut. Hal ini 
bukankah sangat domestik, menyikapi institusi sekolah
  sebagai rumah tangga saja? 


Kekhawatiran lain, pihak sekolah sangat berhati-hati melakukan gebrakan karena 
akan menimbulkan keterkejutan atau guncangan pada diri siswa dan masyarakat. 
Perubahan pun lambat sekali dan nyaris tidak terasa. Alasan ini juga yang 
menghalangi inovasi-inovasi baru di sekolah-sekolah lokal, yang mungkin 
dimotori oleh dua atau hanya seorang guru baru di tempat tersebut. Pihak 
sekolah tidak mau ada dualisme di sekolah. Salah satu alasannya, anak-anak akan 
bingung dan bagaimana kalau orangtua siswa menuntut penjelasan. Mengenai hal 
ini mesti dicoba dan pihak sekolah harus percaya diri bahwa yang paling 
mengerti penyelenggaraan pendidikan adalah sekolah sendiri. Ini kewenangan dan 
menghadapi tuntutan atau pertanggungjawaban masyarakat, sekolah bisa berdiri di 
atas kewenangan tersebut. Masyarakat pasti bisa mengerti sepanjang dibangun 
komunikasi, seperti dikemukakan oleh Wlodkowski dan Jaynes (2004:63).


Fosilisasi pendidikan adalah kondisi yang amat beku pada diri pekerja 
pendidikan. Mereka hanya menjalankan apa yang ditugasi dari atasan. Umumnya 
guru memilih cara berpikir ini. Mereka takut salah. Padahal pembaruan-pembaruan 
mikro, pada tataran teknik mengajar misalnya, sangat dibutuhkan oleh anak 
didik, sehingga ada variasi dalam belajar, terasa suasana agak segar dan 
memberi motivasi. Ketakutan seperti itu, yang berkaitan dengan pencarian rasa 
aman agar terhindar dari klaim bahwa dirinya menyimpangi aturan yang berlaku, 
adalah potensi-potensi pembekuan kinerja pada diri guru-guru di persekolahan. 
Selanjutnya, mereka pun mentransfer sekian rasa muak dan rasa bosan kepada anak 
didik.

Fosil pendidikan adalah kendala perubahan. Tidak cukup melakukan perubahan 
sistem pendidikan hanya dari atas. Perubahan harus dimulai dengan penyiapan 
kondisi di akar atau di bawah, yaitu pada diri pekerja pendidikan. Pada bagian 
inilah fosil itu terbentuk. Kebijakan boleh bagus tetapi jika yang dihadapi 
adalah fosil, pasti tidak ada gunanya. Pembaruan-pembaruan pendidikan di 
Indonesia lebih kepada bukan orangnya. Artinya, lebih kepada sistem.

Misalnya perubahan kurikulum atau perubahan sistem evaluasi. Seharusnya 
pembaruan pendidikan dimulai dari praktisinya. Para pekerja pendidikan mesti 
diajak berubah dan hal ini harus dilakukan secara sadar. Memang pekerjaan 
semacam ini membutuhkan dana dan tenaga yang sangat besar. Walaupun demikian 
mesti dicoba. Pencairan fosil pendidikan yang dapat diidentikkan dengan 
kebekuan etos kerja pada diri guru, bisa dilakukan secara terus-menerus oleh 
kepala sekolah dan timnya. Kepala sekolah terlebih dahulu harus tahu orientasi 
pendidikan yang sedang dibutuhkan. Kepala sekolah ditunut berani menyalahkan 
guru-guru yang beku itu. Sebaliknya, pihak guru juga harus mengerti, misi 
kepala sekolah. Tindakan tersebut adalah dalam kerangka profesionalisme semata 
dan sama sekali bukan urusan-urusan domestik. Guru tidak boleh apriori dengan 
teguran atau penilaian kepala sekolah. Guru tidak boleh sombong bahwa dirinya 
pintar dan mesti siap dikritik, demi peningkatan kualitas diri. 


Untuk memecah fosil-fosil pendidikan itu, para pekerja pendidikan juga harus 
mau melakukan evaluasi diri. Hal ini dilakukan dengan sepenuh hati dan jiwa 
besar. Tanpa rasa rendah diri dan ketakutan. Dengan demikian, seorang guru 
tidak angkuh. Hanya dengan pikiran dan sikap seperti itu, perubahan-perubahan 
dalam pendidikan akan berjalan. Tanpa kesediaan dan komitmen guru, pendidikan 
ini tidak akan maju.  

Penulis, dosen pada IKIP Negeri Singaraja

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **

Other related posts: