[list_indonesia] [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 15 Apr 2005 07:43:36 +0200
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.da.ru **
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=802
Alquran Sebagai Mitos
Oleh Rony Subayu
11/04/2005
Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna denotatif
Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang cuma
diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna konotatifnya.
Ketika Mohammed Arkoun membangun proyek prestisiusnya, "kritik akal Islam",
yang terwakili dalam karyanya "Pour de la raison Islamique" (Menuju Kritik Akal
Islam), yang dalam edisi Arabnya berjudul "Tarikhiyyat al-Fikr al-Araby
al-Islamy," ia mengajukan tiga term yang sangat asing di telinga para sarjana
muslim dalam rangka membedah sejarah sistem pemikiran Arab-Islam, yaitu "yang
terpikirkan" (le pensable/thinkable), "yang tak terpikirkan"
(l`impinse/unthinkable) dan "yang belum terpikirkan" (l`impensable/not yet
thought). Apa yang dimaksud dengan "thinkable" adalah hal-hal yang mungkin
sudah dipikirkan umat Islam, karena jelas dan boleh dipikirkan. Sedang
"unthinkable" adalah hal-hal menyangkut praktik kehidupan yang tidak ada
kaitannya dengan ajaran agama. Dan "not yet thought" adalah hal-hal yang belum
pernah dipikirkan umat Islam.
Menurut Arkoun, ketika Alquran tampil dalam bentuk oral dan belum terjelma ke
dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang dan direspon sebagai thinkable.
Namun, keadaan berubah drastis manakala Alquran di-vermak menjadi korpus resmi
tertutup atau mushaf resmi Usmani di bawah pengawasan Khalifah Usman serta
adanya upaya sistematisasi konsep sunah dan pembakuan ushul fiqh oleh Imam
Syafi`i kepada standar tertentu. Pada era itu, ranah-ranah yang tadinya
thinkable berubah menjadi unthinkable.
Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah terjadinya proses "penjarakan"
antara Alquran dengan realitas. Akibatnya, Alquran menjadi macan ompong yang
gagap merespon tantangan modernitas dengan pelbagai persoalan yang
ditimbulkannya. Alquran hanya diperas dalam tumpukan literatur tafsir yang cuma
bisa menjelaskan dunia, tapi tak mampu mengubahnya. Alquran tidak lebih dari
"warisan antik" dari abad VII M yang sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan
dan diperingati dalam seremoni-seremoni. Alquran sudah beranjak jauh dari
tujuannya semula sebagai "kitab pencerahan" (kitab munir). Dan tragisnya -kata
Arkoun lagi-, daerah "yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.
Mushaf Usmani yang menonjolkan bahasa Quraisy dan bercirikan mono-bacaan
(Qira`at Hafish an Ashim) pada gilirannya menyimpan cacat tersendiri, yaitu
hilangnya kemungkinan menafsir atau membaca Alquran dari pelbagai optik; projek
penafsiran Alquran tidak diperkenankan keluar dari koridor mushaf Usmani. Oleh
karenanya, kitab-kitab tafsir yang tersebar di dunia Islam secara massif
diproduksi dengan merujuk mushaf Usmani sebagai patokan. Situasi ini semakin
pelik manakala Syafi`i membuat rumusan sistem hukum Islam kepada Alquran,
sunah, ijmak dan qiyas. Untuk menentukan sebuah makna atau hukum dalam Alquran,
seseorang harus melewati prosedur ini secara hierarkis. Ketika Alquran tidak
memberikan informasi, sunah menjadi rujukan, berikutnya ijmak, qiyas dan
seterusnya.
Bersandar pada mushaf Usmani dan kaidah konvensional yang dibuat Syafi`i dalam
kegiatan penafsiran merupakan prosedur legal-konvensional yang secara hampir
sepakat diyakini umat Islam. Kemungkinan pendekatan atau mekanisme lain di luar
prosedur legal dipandang sebagai bid`ah dan harus ditolak.
Di sinilah titik kegelisahan Arkoun, dengan konsepnya tentang "yang tak
terpikirkan", ia hendak mencairkan kebekuan prosedur legal-konvensional ini.
Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan pendekatan lain dalam
pembacaan Alquran seperti antropologi, sosiologi, psikologi, hermeneutika,
semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu belum pernah ada atau
digunakan di era skolastik Islam. Untuk sekedar turut berpartisipasi
mempersempit area unthinkable ini, saya mencoba menawarkan sebuah pendekatan
baru yang sangat berbau modern, yaitu membaca Alquran sebagai mitos.
Sebelum Alquran dikenai sebuah pendekatan, menentukan kedudukan Alquran secara
ontologis merupakan suatu hal yang sangat perlu. Apa itu Alquran? Ini adalah
pertanyaan ontologis yang sempat diajukan oleh Arkoun dan Abu Zayd sebelum
melangkah lebih jauh pada penerapan sebuah metodologi pembacaan Alquran baru
yang hendak diusungnya. Bagi saya, Alquran adalah mitos. Apa yang saya maksud
dengan "mitos" di sini bukanlah cerita tentang kehidupan dewa-dewi yang
abstrak, irasional dan penuh hayal, melainkan mitos dalam arti Barthesian,
yakni sebuah tipe wacana atau tuturan. Bagi Barthes, Myth is a social usage of
language. (Barthes: 1983). Dalam konsepsi Barthesian, wacana (discourse) adalah
tipe penggunaan bahasa yang bisa mengambil bentuk lisan (parole) maupun tulisan
(langue). Jadi, Alquran dalam bentuknya yang oral maupun tekstual (mushaf)
sama-sama merupakan mitos.
Mitos adalah sebuah wacana khas yang hendak menyampaikan pesan secara tak
langsung. Atau dalam bahasa semiotisnya, menyampaikan makna konotatif sebuah
tanda melalui unsur denotatifnya. Apa yang diacu atau signifikan dalam mitos
adalah segi konotatifnya. Sedang unsur denotatifnya hanyalah tanda perantara
sekunder yang berfungsi sebagai jembatan untuk mengantar kepada makna
konotatif. Sebagai mitos, literalisme Alquran (baik dalam bentuk parole atau
langue) yang biasa dibaca, dilantunkan dan dijadikan dalil oleh umat Islam pada
umumnya, tidak lebih merupakan "pembungkus" semata dari pesan Tuhan yang
sesungguhnya. Dus, pesan universal Alquran tidaklah terletak pada makna
literalnya, tapi makna yang bersemayam di balik yang literal itu.
Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna denotatif
Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang cuma
diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna konotatifnya.
Sebagai misal, perintah jilbab dalam Alquran sebagaimana diisyaratkan oleh
makna denotatifnya, tidaklah berarti bahwa seluruh umat Islam wajib memakai
jilbab, tapi makna konotatif dari perintah tersebut adalah: Pertama, pemakaian
busana untuk menutup aurat ditentukan oleh standar "kepantasan" budaya
masing-masing layaknya jilbab yang menjadi standar kepantasan masyarakat Arab
waktu itu. Ini makna konotatif yang mungkin kita temukan pada lapisan pertama.
Kedua, keharusan umat Islam "menghormati tradisinya" masing-masing sebagaimana
masyarakat Arab memandang jilbab sebagai tradisi. Dan ini makna yang bersemayam
pada lapisan berikutnya. Kedua makna konotatif inilah -untuk sementara wakt
u- yang merepresentasikan universalitas ayat jilbab. Tentu, masih diandaikan
adanya tumpukan makna yang terendap dan harus terus digali dalam ayat jilbab
ini.
Bila dicari padananya dalam khazanah keilmuan tafsir, konsep mitos a la
Barthesian ini analog saja dengan konsep ta`wil yang modus operandi-nya
menggali makna di balik yang tersurat (bathin). Namun ada benang merah yang
tetap membedakan antara mitos dengan ta`wil: Pertama, ta`wil umumnya hanya
beroperasi pada ayat-ayat yang teridentifikasi sebagai mutasyabihat. Sementara
mitos beroperasi pada semua yang disebut "tanda" (sign), termasuk kategori
muhkamat atau mutasyabihat dalam Alquran. Kedua, dalam dunia penafsiran, ta`wil
lebih akrab digunakan oleh kaum sufi. Memang, ta`wil di tangan kaum sufi
diaplikasikan sepenuhnya pada ayat yang muhkamat maupun mutsyabihat. Hanya saja
makna bathin yang diacu kerap kali berhenti pada lapisan pertama. Sedangkan
mitos tidak berhenti pada makna di lapisan pertama, tapi mengungkap terus
kemungkinan makna terdalam yang mengendap dalam lapisan geologis tanda; dalam
hal ini ialah mengungkap makna yang paling dalam dari Alquran.
Semua ayat, baik yang bernuansa hukum, teologis, eskatologis, kosmologis maupun
yang berkategori makiyah-madaniyah, muhkam-mutasyabih, muthlaq-muqayyad,
nasikh-mansukh dan seterusnya masih diandaikan menyimpan setumpuk makna menurut
konsepsi mitos. Di sinilah, saya kira, kelebihan dan efektivitas pendekatan
teori mitos pada pembacaan Alquran. Dengan mitos, pintu pluralisme penafsiran
akan terus terbuka lebar dan tidak terjadi lagi "restriksi makna" dalam
kalimatullah yang konon tidak akan pernah habis ditulis dengan tujuh lautan
tinta sekalipun.[]
Rony Subayu, adalah Direktur The Qoweng Institute Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Mailing-List Indonesia Nasional Milis PPI-India www.ppi-india.uni.cc **
- Follow-Ups:
- [list_indonesia] Re: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- From: Samsul Bachri
Other related posts:
- » [list_indonesia] [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- » [list_indonesia] Re: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- » [list_indonesia] Re: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- [list_indonesia] Re: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
- From: Samsul Bachri