[ak93-feua] sekedar u/ direnungkan...

Gadis Dengan Setangkai Mawar

John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun
Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6
kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yg
dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya,
seorang gadis dengan setangkai mawar.

Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang
dipinjam dari Perpustakaan. Rasa ingin tahunya
terpancing saat ia melihat coretan tangan 
yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku
tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon.
Hollis tinggal di New York dan John diFlorida. John
mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk 
saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim
ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling
menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat 
seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur
dalam hati masing2 dan jalinan cinta merekapun tumbuh.

John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya
sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata
sang gadis "Kalau perasaan cintamu tulus,John,
bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu,
kalau saya cantik, selama hidup saya akan
bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya
karena saya cantik saja, kalau saya biasa2 atau
cenderung jelek, 
saya takut kamu akan terus menulis hanya karena
kesepian dan tidak ada orang lain lagi dimana kamu
bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu 
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York
nanti kita akan bertemu muka. Pada saat itu kita akan
bebas untuk menentukan apa yang akan kita lakukan."

Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun
Pusat di New York pukul 6 sore setelah perang usai.
"Kamu akan mengenali saya, John, karena 
saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada
kera bajuku", kata Nona Hollis.

Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin
gelisah, tiba2 jantungnya hampir copot, dilihatnya
seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau 
lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang
bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa
cantiknya.... Sang perwira mulai menyusul sang gadis,
dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang
gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah
disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi kemudian John
melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan
sekumtum mawar merah di kerahya. "O.... itu
Hollis!!!!"

Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis
berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira
mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar sang gadis
cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati
Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya selama
perang. Tanpa berpikir panjang, John berjalan
menghampiri wanita yang berusia setengah  baya itu dan

menyapanya "Nama saya John Blanford, anda tentu saja
Nona Hollis, bahagia sekali bisa bertemu dengan anda,
maukah anda makan malam bersama saya?" Sang wanita
tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak
tahu apa artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang
berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk
mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau 
anda mengajak saya makan maka saya diminta untuk
memberitahu anda bahwa dia menunggu anda di restoran
di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin 
menguji anda." (NN)

Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda
bernama John Blanford di atas akan menarik semua
perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di 
tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang
benar ternyata Nona Hollis hanyalah seorang wanita
gemuk dengan rambut hampir beruban. Untunglah 
John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia
bisa saja berpikir pasti dapat mengeluarkan sebuah
alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan 
tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak
akan ada.

Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk
mengikuti mata jasmani dan mengabaikan kata hati.
Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat dan 
sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di
sentuh oleh hatinya. Ini adalah salah satu titik
kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya 
sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik
melihat sebuah senyuman manis, dari pada sikap hati.
Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan bening
ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih
menyukai wajah rupawan dari pada karakter yang bagus.
Singkat kata, kita semua lebih menyukai hal-hal yang
bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. 
Itulah sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah
kita sendiri!


__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business $15K Web Design Giveaway 
http://promotions.yahoo.com/design_giveaway/

Other related posts: